Pot itu tampak lebih miring dibanding kemarin. Aku berjongkok, berniat meluruskannya agar tidak jatuh.
Begitu kusentuh, tanah di bawahnya ternyata sudah rapuh. Pot tua itu bergeser dari pijakannya, lalu…
PRAK!
Pot bunga itu pecah menjadi beberapa bagian.
“Astaga…”
Aku panik. Baru sehari tinggal di sana, sudah merusak barang milik ibu kos.
Aku segera berlutut untuk memungut pecahan-pecahannya. Namun ketika tanganku menyingkirkan tanah kering yang selama ini tertutup dasar pot…
Aku membeku.
Di bawahnya bukan semen.
Bukan pula tanah biasa.
Ada sebuah pelat besi kecil berbentuk persegi, berkarat, dengan sebuah cincin besi sebagai pegangan.
Jantungku langsung berdegup keras.

“Apa ini?”
Rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Aku mencengkeram cincin itu dan menariknya perlahan.
Awalnya sangat berat.
Setelah beberapa kali menarik, terdengar bunyi gesekan logam.
Kreeeek…
Pelat itu terangkat.
Di bawahnya tampak sebuah lubang sempit dengan tangga beton yang mengarah ke bawah tanah.
Udara dingin langsung menyembur keluar, membawa aroma lembap yang sangat tua, seolah tempat itu sudah puluhan tahun tidak pernah dibuka.
Aku menyorotkan senter ponsel ke dalam.
Tangga itu turun sekitar tiga meter, lalu menghilang dalam kegelapan.
Aku menelan ludah.
Rumah kos biasa… kenapa memiliki ruang bawah tanah?
Sepanjang hari pikiranku terus memikirkan lubang itu.
Aku ingin bertanya kepada ibu kos, tetapi entah kenapa aku memilih diam.
Malam harinya, sekitar pukul delapan, ibu kos datang membawa sepiring nasi goreng.
“Sebagai ucapan selamat datang,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengucapkan terima kasih.
Saat beliau hendak pergi, aku mencoba bertanya dengan santai.
“Bu… rumah ini sudah lama ya?”
Senyumnya langsung memudar.
“Sudah.”
“Pernah direnovasi?”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
Lalu tanpa sengaja aku berkata,
“Di belakang tadi saya tidak sengaja memecahkan pot bunga.”
Wajahnya berubah dalam sekejap.
Matanya membesar.
“Apa… kamu bilang?”
“Pot bunganya pecah…”
Beliau langsung menjatuhkan piring kosong yang sedang dibawanya.
Brak!
“Kamu… memindahkannya?”
“Iya… tadi…”
Tanpa menjawab, beliau berlari ke belakang rumah jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan bisa dilakukan wanita seusianya.
Aku mengejarnya.
Begitu melihat pelat besi yang sudah terbuka, wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
Dengan tangan gemetar beliau langsung menutupnya kembali.
“Siapa yang menyuruhmu membuka ini?”
“Tidak ada… saya cuma penasaran.”
Beliau memegang lenganku erat.
“Sekarang dengarkan baik-baik.”
“Mulai malam ini, apa pun suara yang kamu dengar dari belakang rumah… jangan pernah keluar.”
“Kalau ada yang mengetuk pintu…”
“Jangan buka.”
“Kalau mendengar seseorang memanggil namamu…”
“Jangan jawab.”
Aku mencoba tertawa.
“Ibu bercanda ya?”
Namun beliau sama sekali tidak tersenyum.
“Orang yang tinggal sebelum kamu…”
Beliau berhenti bicara.
“Kenapa, Bu?”
“Dia juga membuka tempat itu.”
“Lalu?”
Beliau menatapku lama.
“Sampai hari ini… dia belum pernah ditemukan.”
Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur.
Jam menunjukkan pukul 00.47 ketika suara yang semalam kembali terdengar.
Klak… klak…
Namun kali ini lebih jelas.
Bukan di pintu belakang.
Melainkan…
Dari bawah lantai kamarku.
Seolah ada seseorang yang sedang mengetuk dari bawah tanah.
Aku memegang selimut erat.
“Tenang… cuma tikus.”
Aku berusaha meyakinkan diri.
Tetapi beberapa detik kemudian terdengar suara lain.
Pelan.
Serak.
Sangat dekat.
“…Raka…”
Aku langsung membeku.
Itu namaku.
Tidak mungkin ibu kos sedang bercanda.
Suara itu kembali terdengar.
“…Raka… tolong buka…”
Napas dinginku tercekat.
Aku belum pernah memberi tahu siapa pun di rumah kos itu siapa namaku.
Bahkan di formulir pendaftaran aku hanya menulis nama lengkap tanpa pernah mengucapkannya.
Lalu…
Siapa yang sedang memanggilku dari bawah tanah?
Belum sempat aku bergerak, layar ponselku tiba-tiba menyala sendiri.
Tanpa ada panggilan masuk.
Tanpa notifikasi.
Hanya satu kalimat yang muncul dengan huruf putih di layar hitam:
“JANGAN PERCAYA SUARA DI BAWAH. LIHAT KE JENDELA. SEKARANG.”
Tanganku gemetar saat perlahan menoleh ke arah jendela.
Di balik tirai tipis…
Ada seorang pria kurus dengan pakaian lusuh berdiri diam menatapku.
Wajahnya penuh tanah.
Dan di tangannya…
Ia memegang sebuah pot bunga kamboja yang utuh.
