Dia salah mengirim pesan kepada seorang miliarder untuk meminjam Rp800 ribu demi membeli susu formula bayi…

Clara memucat.

Tangannya refleks hendak menutup pintu.

“Maaf… saya tidak mengenal Anda.”

“Dan saya tidak menerima bantuan dari orang asing.”

Arka mengangguk pelan.

“Kalau saya jadi Anda, saya juga akan berkata begitu.”

Ia tidak bergerak maju.

Tidak memaksa.

Ia hanya mengangkat kantong belanja di tangannya.

“Kaleng susu formula ini masih tersegel.”

“Kalau Anda tidak percaya kepada saya… ambil susunya saja. Saya akan langsung pergi.”

Tangisan Lilya kembali terdengar.

Kali ini lebih lemah.

Clara menunduk melihat putrinya.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Beberapa detik kemudian, ia melepas rantai pengaman.

Pintu terbuka.

“A… silakan masuk sebentar.”

Apartemen itu hanya sekitar dua puluh meter persegi.

Kasur lipat berada di sudut ruangan.

Meja plastik kecil menjadi meja makan sekaligus meja kerja.

Kulkas mini hampir kosong.

Di dalamnya hanya ada sebotol air, dua butir telur, dan sedikit saus sambal.

Arka tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya memperhatikan.

Kemiskinan selalu memiliki bau yang sama.

Bukan bau kotor.

Melainkan bau ruangan yang terlalu lama dihuni tanpa harapan.

Dimas meletakkan semua kantong belanja di atas meja.

Saat Clara melihat isinya, ia terdiam.

Tiga kaleng susu formula.

Empat bungkus popok.

Bubur bayi.

Vitamin.

Buah.

Ayam panggang.

Roti.

Susu.

Beras lima kilogram.

Bahkan ada boneka kecil berbentuk kelinci.

“Ini…”

Suara Clara tercekat.

“Ini terlalu banyak.”

Arka menjawab singkat.

“Tidak ada bayi yang pernah makan terlalu banyak.”

Clara menggigit bibir.

“Apa… apa saya harus menandatangani sesuatu?”

“Tidak.”

“Harus membayar nanti?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa Anda melakukan ini?”

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.

Arka memandang Lilya.

Bayi kecil itu masih mengisap jarinya sendiri karena lapar.

“Karena dulu… saya pernah menjadi anak seperti dia.”

Lima belas menit kemudian.

Clara membuat sebotol susu.

Tangannya gemetar saat menuangkan bubuk susu pertama ke dalam botol.

Ia bahkan menangis ketika mengocoknya.

Begitu dot menyentuh bibir Lilya…

Bayi itu langsung menyusu dengan lahap.

Suara isapan kecil memenuhi ruangan.

Clara menutup mulutnya agar tidak menangis keras.

“Maafkan Ibu…”

“Maaf…”

Arka memalingkan wajah.

Ia teringat ibunya.

Andaikan tiga puluh tahun lalu…

Ada seseorang yang datang membawa satu kaleng susu.

Mungkin hidup mereka akan berbeda.

Setelah Lilya tertidur kenyang untuk pertama kalinya dalam dua hari terakhir, Clara menyeduhkan teh.

Hanya teh celup murah.

“Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa.”

Arka menerima cangkir itu.

“Mulailah dengan menceritakan kenapa seorang akuntan bisa jatuh sampai seperti ini.”

Clara terdiam.

Ia sebenarnya sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menceritakan kisah itu lagi.

Namun entah mengapa…

Pria di depannya terlihat benar-benar ingin mendengar.

Ia mulai bercerita.

Tentang pekerjaannya di Nusantara Finance.

Tentang transaksi mencurigakan.

Tentang vendor palsu.

Tentang uang miliaran rupiah yang menghilang sedikit demi sedikit.

Tentang bagaimana ia hanya mengirim satu email kepada atasannya.

Dan seminggu kemudian…

Ia dipecat.

Tanpa pesangon.

Tanpa penjelasan.

“Semua orang di kantor langsung menjauh.”

“Mereka bahkan tidak berani menyapa saya.”

“Saya pikir… mungkin saya memang melakukan kesalahan.”

Arka mengangkat kepala.

“Vendor palsu itu.”

“Masih ingat namanya?”

Clara berpikir sejenak.

“PT Langit Biru Konsultan.”

“PT Cakra Nusindo.”

“Ada satu lagi… PT Sentra Prima Solusi.”

Arka tidak lagi menyentuh tehnya.

Tatapannya berubah tajam.

Ia mengenal nama-nama itu.

Bukan karena pernah bekerja sama.

Tetapi karena tiga perusahaan tersebut sedang diselidiki secara diam-diam oleh tim audit internal salah satu bank investasi yang baru saja menghubunginya minggu lalu.

Perusahaan-perusahaan itu hanyalah perusahaan cangkang.

Tidak memiliki kantor nyata.

Digunakan untuk mencuci uang.

Arka menatap Clara.

“Apakah Anda menyimpan bukti?”

Clara menggeleng pelan.

“Laptop kantor langsung diambil.”

“Tapi…”

Ia berhenti.

“Ada satu hal.”

Arka menunggu.

“Saya selalu punya kebiasaan mencatat semua angka aneh di buku kecil.”

“Bukan dokumen resmi.”

“Hanya catatan pribadi supaya tidak lupa memeriksanya lagi.”

“Saya masih menyimpannya.”

Jantung Arka berdetak lebih cepat.

“Di mana?”

Clara menunjuk sebuah kardus tua di bawah kasur.

Ia mengeluarkan buku catatan kecil berwarna biru yang sampulnya sudah lusuh.

Halaman-halamannya penuh angka.

Tanggal.

Nomor rekening.

Kode pembayaran.

Nama vendor.

Arka membuka beberapa halaman.

Ekspresinya berubah.

Semakin lama…

Semakin serius.

Dimas yang berdiri di sampingnya ikut melihat.

Matanya membelalak.

“Pak…”

“Nomor rekening ini…”

“Itu rekening yang sama dengan yang muncul dalam laporan investigasi kemarin.”

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Clara memandang mereka bergantian.

“Ada apa?”

Arka menutup buku itu perlahan.

“Clara.”

“Saya rasa…”

“Tanpa sadar, Anda mungkin memegang bukti yang nilainya bukan lagi ratusan juta.”

“Mungkin ratusan miliar rupiah.”

Wajah Clara kehilangan warna.

“A… apa maksud Anda?”

Sebelum Arka sempat menjawab…

Ponsel Clara berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkatnya.

“Halo?”

Tidak ada sapaan.

Hanya suara pria.

Pelan.

Dingin.

“Kami tahu buku itu masih ada padamu.”

“Kalau masih ingin melihat anakmu tumbuh besar… bakar buku itu malam ini juga.”

Klik.

Sambungan terputus.

Clara membeku.

Ponselnya terlepas dari tangan.

Arka perlahan berdiri.

Tatapannya berubah menjadi sangat tenang.

Namun Dimas tahu ekspresi itu.

Itu adalah wajah Arka ketika seseorang baru saja menyatakan perang.

Di luar apartemen…

Sebuah sedan hitam tanpa pelat depan sudah terparkir sejak lima belas menit yang lalu.

Dan seseorang di dalam mobil sedang memotret setiap jendela apartemen Clara.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang