Mobil sedan hitam yang membawa mereka berhenti di depan ballroom Hotel Nusantara Grand, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta.
Ironisnya, hotel itu juga milik Nusantara Horizon Group.
Tak seorang pun di sana mengetahui bahwa wanita berseragam pembantu yang turun dari pintu belakang mobil adalah pemilik sebenarnya.
Begitu memasuki area belakang ballroom, seorang supervisor katering langsung menghampiri.
“Kamu staf tambahan?”
Alya mengangguk pelan.
“Iya.”
“Bagus. Ambil baki ini. Tugasmu melayani tamu VIP.”

Alya menerima baki berisi gelas sampanye tanpa banyak bicara.
Ia berjalan melewati lorong panjang menuju ballroom.
Lampu kristal bergantung megah di langit-langit.
Karpet merah membentang.
Lebih dari lima ratus tamu hadir malam itu.
Direktur perusahaan.
Pejabat pemerintah.
Investor asing.
Media bisnis.
Di atas panggung terpampang tulisan besar.
CONGRATULATIONS
RAKA PRATAMA
VICE PRESIDENT OF SALES INDONESIA
Alya tersenyum tipis.
Ia bahkan yang menyetujui anggaran pesta ini seminggu lalu melalui laporan keuangan grup.
Namun namanya tak pernah muncul.
Memang sejak awal semua saham perusahaan ditempatkan di bawah yayasan keluarga, sementara identitas pemilik utama dirahasiakan dari publik.
…
Di meja utama, Raka berdiri percaya diri.
Di sampingnya Nadia mengenakan gaun merah menyala.
Kalung zamrud keluarga Pramesti berkilau di lehernya.
“Aku ingin memperkenalkan seseorang yang selalu mendukung karierku,” kata Raka sambil memegang tangan Nadia.
Para tamu bertepuk tangan.
“Dialah wanita yang paling mengerti aku.”
Nadia tersipu malu.
“Terima kasih, Sayang.”
Beberapa rekan kerja mulai berbisik.
“Bukankah Raka sudah menikah?”
“Aku dengar istrinya tidak pernah muncul.”
“Mungkin sudah cerai.”
Raka hanya tersenyum.
Ia tidak membantah.
Bahkan membiarkan semua orang berpikir Nadia adalah istrinya.
Saat itu Alya datang membawa baki.
“Permisi, Pak.”
Raka menoleh.
Tatapannya langsung berubah dingin.
“Eh… pembantu.”
Semua orang melihat.
“Kenapa kamu lama sekali?”
“Maaf.”
“Apa kamu tidak tahu tamu penting sedang haus?”
Ia mengambil satu gelas lalu sengaja mendorong baki Alya.
PRANG!
Beberapa gelas jatuh dan pecah.
Suasana mendadak sunyi.
“Astaga.”
“Dasar ceroboh.”
Raka menggeleng kecewa.
“Kamu memang cuma cocok jadi pelayan.”
Nadia ikut tertawa.
“Kalau seperti ini, gajinya dipotong saja.”
Beberapa tamu ikut tersenyum sinis.
Tak ada yang membela.
Alya hanya berjongkok memungut pecahan kaca.
Tangannya tersayat.
Darah menetes di lantai marmer.
Namun tak satu pun dari mereka peduli.
…
Di saat itulah pintu ballroom kembali terbuka.
Empat pria berbadan tegap masuk lebih dulu.
Mereka mengenakan setelan hitam dengan pin emas berbentuk kompas.
Semua orang yang mengenal dunia bisnis langsung saling berpandangan.
“Itu…”
“Tim Executive Office Nusantara Horizon.”
“Mengapa mereka datang?”
Di belakang mereka berjalan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Rambutnya mulai memutih.
Tatapannya tajam.
Namanya dikenal hampir seluruh Indonesia.
Bima Adiwangsa.
Presiden Direktur Nusantara Horizon Group.
Orang yang selama ini dianggap sebagai pemimpin tertinggi kerajaan bisnis tersebut.
Melihat kedatangannya, seluruh direksi perusahaan langsung berdiri.
Raka ikut berdiri tergesa-gesa.
“Wah…”
“Pak Bima hadir sendiri.”
“Ini kehormatan besar.”
Raka buru-buru merapikan jasnya.
Ia melangkah cepat menyambut.
“Selamat datang, Pak Presiden Direktur.”
“Sungguh suatu kehormatan Bapak bisa hadir.”
Namun…
Bima bahkan tidak meliriknya.
Ia terus berjalan melewati Raka.
Langkahnya berhenti tepat di depan seorang wanita yang masih mengenakan seragam pembantu.
Alya.
Ballroom menjadi hening.
Bima menundukkan kepala dengan penuh hormat.
Lebih rendah daripada yang pernah dilakukan siapa pun di ruangan itu.
Lalu dengan suara tenang namun jelas terdengar ke seluruh ballroom, ia berkata,
“Maaf membuat Anda menunggu, Nyonya Presiden.”
Semua tamu membeku.
Raka berkedip beberapa kali.
Nadia tertawa kecil.
“Pak Bima pasti salah orang.”
Namun tidak ada seorang pun dari rombongan eksekutif yang tertawa.
Sebaliknya…
Mereka semua serempak membungkuk.
“Selamat malam, Nyonya Presiden.”
Ruangan yang semula riuh berubah sunyi total.
Wajah Raka perlahan kehilangan warna.
“Apa… apa maksud semua ini?”
Bima akhirnya menoleh kepadanya.
Tatapannya berubah dingin.
“Saya kira Anda mengenal istri Anda sendiri, Pak Raka.”
“Tapi tampaknya… Anda bahkan tidak tahu kepada siapa selama ini Anda bekerja.”
