Siang hari, aku adalah pengacara paling terkenal di kota ini. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah membiarkan perasaan mengalahkan logika. Namun setiap kali tukang kayu itu menggenggam tanganku, semua prinsip yang kubangun runtuh seketika.

Namaku Amara, dan selama lebih dari sepuluh tahun aku hidup dengan satu keyakinan sederhana: segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika.

Cinta, menurutku, hanyalah keputusan buruk yang dibungkus hormon.

Kesedihan adalah gangguan konsentrasi.

Dan rasa takut hanyalah informasi yang belum dianalisis dengan benar.

Sampai aku bertemu Damar.

Sejak kejadian balok kayu itu, aku mulai semakin sering datang ke rumah tua peninggalan kakekku.

Awalnya aku selalu membawa alasan.

Memeriksa anggaran.

Mengecek kualitas kayu.

Memastikan jadwal renovasi tidak terlambat.

Lama-lama aku bahkan tidak repot mencari alasan.

Aku datang karena ingin melihat Damar.

Sore itu, ia sedang memasang jendela di ruang belakang ketika aku tiba membawa dua gelas kopi.

“Tumben,” katanya sambil tersenyum. “Pengacara terkenal bawa kopi sendiri.”

Aku menyerahkan satu gelas kepadanya.

“Jangan besar kepala. Barista-nya salah membuat pesanan.”

Damar menerima kopi itu sambil terkekeh.

“Kebetulan sekali salahnya sesuai selera saya.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu selalu banyak bicara?”

“Kalau sama orang yang terlalu sedikit bicara, iya.”

Entah kenapa aku tertawa.

Suara tawaku sendiri terasa asing.

Sudah lama sekali aku tidak tertawa tanpa alasan.

Hari-hari berikutnya, hubungan kami tumbuh tanpa pernah benar-benar dibicarakan.

Damar tidak pernah bertanya berapa penghasilanku.

Tidak pernah terlihat terkesan dengan mobilku.

Tidak pernah memujiku karena namaku sering muncul di berita.

Ia justru lebih tertarik mengetahui kenapa aku selalu memesan kopi tanpa gula dan kenapa aku membenci hujan.

“Aku tidak membenci hujan,” protesku suatu malam.

Kami duduk di teras rumah yang setengah selesai.

“Setiap hujan, wajahmu berubah.”

Aku terdiam.

Ibuku meninggal pada malam hujan.

Serangan jantung.

Aku sedang mempersiapkan sidang besar dan tidak mengangkat tiga panggilannya.

Ketika akhirnya aku menelepon balik, seorang perawat yang menjawab.

Sejak malam itu, aku tidak pernah menceritakan kisah tersebut kepada siapa pun.

Tetapi kepada Damar, entah bagaimana, kata-katanya keluar begitu saja.

“Aku tidak sempat mengatakan selamat tinggal.”

Damar tidak memberi nasihat.

Tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ia hanya meletakkan tangannya di samping tanganku.

Tidak menyentuh.

Hanya cukup dekat untuk memberiku pilihan.

Beberapa detik kemudian, akulah yang menggenggam tangannya.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku menangis di depan orang lain.

Damar tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya tinggal.

Sejak malam itu, aku tahu hubungan kami bukan lagi sekadar antara pemilik rumah dan tukang kayu.

Namun kehidupan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang tanpa harga.

Dua minggu kemudian, aku menerima perkara terbesar dalam karierku.

Sebuah perusahaan properti bernama Mahardika Land dituduh menggusur puluhan keluarga menggunakan dokumen kepemilikan tanah yang diduga dipalsukan.

Nilai proyeknya mencapai triliunan rupiah.

Mereka meminta firma hukumku menjadi kuasa hukum.

Bosku, Pak Adrian, bahkan datang sendiri ke ruanganku.

“Kalau kita menang,” katanya, “nama firma ini naik satu tingkat lagi.”

Aku membuka berkas.

“Dan kalau mereka benar-benar memalsukan dokumen?”

Pak Adrian tersenyum tipis.

“Tugas kita bukan menentukan mereka baik atau buruk. Tugas kita membuat hakim melihat hukum.”

Kalimat itu adalah kalimat yang selama bertahun-tahun kupercayai.

Aku menerima kasus itu.

Malamnya, aku membawa beberapa dokumen pulang ke rumah tua.

Damar masih bekerja.

Ketika melihat logo Mahardika Land pada map di tanganku, wajahnya berubah.

“Kamu menangani mereka?”

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

Damar meletakkan amplasnya.

“Karena mereka yang menghancurkan rumah keluargaku.”

Aku membeku.

Ia kemudian menceritakan semuanya.

Enam tahun lalu, ayahnya tinggal di sebuah kampung kecil di pinggiran Jakarta. Mahardika Land datang membawa proyek kawasan komersial. Warga menolak menjual.

Beberapa bulan kemudian muncul sertifikat baru.

Secara hukum, tanah itu tiba-tiba bukan lagi milik warga.

Ayah Damar berjuang.

Mengadu.

Mencari pengacara.

Tidak ada yang mau melawan perusahaan sebesar itu.

Rumah mereka akhirnya diratakan.

Ayahnya jatuh sakit tak lama setelahnya dan meninggal setahun kemudian.

“Jadi sekarang kamu akan membela mereka?” suara Damar tenang, tetapi matanya penuh luka.

“Aku membela posisi hukum klienku.”

“Bahkan kalau mereka salah?”

Aku menarik napas.

“Aku belum tahu mereka salah.”

Damar menatapku lama.

“Kadang-kadang, Amara, seseorang bisa punya dokumen lengkap dan tetap mencuri.”

Aku tersinggung.

“Dan kadang seseorang bisa merasa menjadi korban tetapi tidak memahami hukum.”

Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal.

Wajah Damar berubah.

Ia tidak membalas.

Ia hanya mengambil jaketnya.

“Besok saya tidak datang.”

“Damar.”

“Saya butuh satu hari.”

Ia pergi.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, aku mulai membaca seluruh berkas Mahardika Land.

Bukan seperti pengacara yang mencari cara menang.

Tetapi seperti anak perempuan yang pernah kehilangan kesempatan mengatakan selamat tinggal.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Beberapa sertifikat memiliki nomor pencatatan yang berurutan meskipun diterbitkan pada tanggal berbeda.

Tanda tangan seorang pejabat pertanahan muncul pada dokumen yang dibuat tiga bulan setelah pejabat itu pensiun.

Aku menggali lebih dalam.

Semakin jauh aku mencari, semakin buruk temuan itu.

Aku kemudian menemukan nama seorang notaris, Surya Hamdan.

Nama yang terasa familiar.

Setelah hampir satu jam mencari arsip perkara lama, aku akhirnya menemukannya.

Surya pernah menjadi saksi dalam salah satu kasus pertamaku.

Dan ada satu hal yang membuat darahku dingin.

Surya sudah meninggal lima tahun lalu.

Tetapi tanda tangannya muncul di dokumen Mahardika Land yang diterbitkan tiga tahun lalu.

Aku langsung menemui Pak Adrian.

“Kita harus mundur dari kasus ini.”

Ia menutup pintu ruangannya.

“Jangan emosional.”

“Ada indikasi pemalsuan.”

“Ada indikasi. Bukan bukti.”

“Aku akan menemukan buktinya.”

Pak Adrian menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Jangan.”

Hanya satu kata.

Tetapi cukup.

Saat itulah aku sadar.

Ia tahu.

“Sejak kapan?”

Pak Adrian diam.

“Sejak kapan Anda tahu?”

Ia berdiri.

“Amara, ada hal-hal yang lebih besar daripada idealisme. Firma ini punya tiga ratus pegawai. Satu keputusanmu bisa menghancurkan semuanya.”

“Berapa?”

“Apa?”

“Berapa mereka membayar Anda?”

Wajahnya mengeras.

“Keluar.”

Aku keluar.

Malamnya, seseorang membobol apartemenku.

Tidak ada barang berharga yang hilang.

Hanya laptop kerja dan satu map Mahardika Land.

Aku segera menelepon polisi.

Kemudian aku pergi ke rumah tua.

Damar sedang ada di sana.

Begitu melihat wajahku, ia tidak bertanya apa-apa.

Ia langsung membuka pintu.

Aku menceritakan semuanya.

Damar mendengarkan.

“Aku salah,” kataku. “Tentang keluargamu.”

Ia menatapku.

“Bukan itu yang penting sekarang.”

“Aku akan membongkar mereka.”

“Kalau itu membahayakanmu?”

“Kalau aku berhenti karena takut, berarti selama ini semua orang benar. Aku memang cuma batu.”

Damar mendekat.

“Tidak.”

Ia menggenggam tanganku.

“Kamu bukan batu. Kamu cuma terlalu lama belajar bagaimana tidak merasa sakit.”

Untuk sesaat, semua suara di sekelilingku seolah menghilang.

Kemudian Damar berkata sesuatu yang mengubah seluruh kasus.

“Ayah saya menyimpan sesuatu.”

Kami pergi ke rumah kakaknya di Bekasi malam itu.

Di gudang sempit, Damar membuka sebuah peti kayu tua.

Di dalamnya terdapat puluhan surat, foto, salinan sertifikat, dan sebuah flashdisk.

Ayahnya ternyata telah mengumpulkan bukti selama bertahun-tahun.

Ada rekaman pertemuan warga.

Ada foto alat berat yang masuk sebelum putusan pengadilan keluar.

Dan yang paling penting, sebuah rekaman suara antara eksekutif Mahardika Land dan seseorang dari firma hukuku.

Suara itu milik Pak Adrian.

Aku mendengarkannya dua kali.

Tanganku gemetar.

Ia bukan hanya tahu.

Ia membantu mereka.

Aku menyerahkan semua bukti kepada penyidik dan mengundurkan diri dari firma keesokan harinya.

Berita meledak.

Ratu Tanpa Air Mata Mengkhianati Firmanya Sendiri.

Begitulah salah satu judul berita.

Pak Adrian membalas dengan menuduhku mencuri dokumen rahasia klien.

Aku bahkan sempat diperiksa.

Selama tiga minggu, karier yang kubangun sepuluh tahun hampir runtuh.

Klien meninggalkanku.

Rekan-rekan menghindar.

Namaku dihina di media sosial.

Damar tetap tinggal.

Setiap hari.

Suatu malam aku berkata kepadanya, “Kamu seharusnya pergi. Hidupmu akan lebih mudah.”

Ia sedang memperbaiki rak buku.

“Kayu yang retak tidak dibuang kalau masih bisa diperbaiki.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu selalu punya perumpamaan kayu?”

“Profesionalisme.”

Kasus itu akhirnya masuk pengadilan.

Bukan aku sebagai pengacara Mahardika Land.

Aku menjadi saksi.

Pak Adrian duduk di sisi terdakwa.

Ketika rekaman diputar, ruangan hening.

Bukti dari ayah Damar membuka rangkaian transaksi, pemalsuan sertifikat, dan suap yang melibatkan beberapa pejabat.

Mahardika Land kalah.

Beberapa eksekutif dan pihak yang terlibat kemudian diproses secara pidana.

Puluhan keluarga menerima kompensasi dan sebagian hak tanah mereka dikembalikan.

Aku kehilangan pekerjaanku.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kalah.

Enam bulan kemudian, rumah tua kakek selesai direnovasi.

Damar mengajakku melihat satu ruangan yang selama ini selalu ia kunci.

“Apa ini?”

“Masuk saja.”

Aku membuka pintu.

Ruangan itu menjadi perpustakaan kecil.

Rak kayu memenuhi dinding.

Di tengah ruangan ada meja milik kakekku yang telah direstorasi.

Aku menyentuh permukaannya.

“Kamu menemukan meja ini di mana?”

“Gudang belakang.”

Kemudian aku melihat sesuatu.

Sebuah laci kecil.

Di dalamnya terdapat amplop tua dengan namaku.

Tulisan tangan kakek.

Aku membukanya.

Isinya hanya satu lembar surat.

Amara, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti rumah ini masih berdiri. Rumah bukan tentang dinding. Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu terus-menerus menjadi kuat.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Air mataku jatuh.

Damar berdiri di belakangku.

“Ada satu lagi.”

Ia menunjuk bagian bawah laci.

Sebuah ukiran kecil tersembunyi di kayunya.

Dua huruf.

A dan D.

Aku menoleh tajam.

“Kamu mengukir ini?”

Damar menggeleng.

“Itu sudah ada sejak saya menemukan mejanya.”

Aku menyentuh ukiran tersebut.

“Tidak mungkin.”

Damar tersenyum kecil.

“Saya juga berpikir begitu.”

Beberapa hari kemudian, aku membawa foto ukiran itu kepada bibiku.

Ia tertawa begitu melihatnya.

“Itu bukan Amara dan Damar.”

Aku mengernyit.

“Lalu?”

“Arman dan Dahlia.”

Nama kakek dan nenekku.

Aku terdiam.

Bibiku kemudian berkata, “Kakekmu membuat meja itu sendiri sebelum menikahi nenekmu. Dia juga tukang kayu.”

Aku pulang dalam keadaan hampir tidak bisa berkata-kata.

Damar sedang berdiri di teras ketika aku datang.

Aku menatap tangannya.

Kasar.

Penuh luka kecil.

Sama seperti cerita tentang kakek yang baru kuketahui.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku menghampirinya.

Kemudian, untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu dia menggenggam tanganku.

Aku yang lebih dulu meraih tangannya.

“Damar.”

“Ya?”

“Aku rasa rumah ini memang bisa bicara.”

Ia tersenyum.

“Dan dia bilang apa?”

Aku menatap rumah tua yang kini hidup kembali.

Lalu aku menatap pria di depanku.

“Katanya aku terlalu lama pulang.”

Setahun kemudian, aku membuka firma hukum sendiri.

Aku memilih perkara dengan cara berbeda.

Aku tetap menggunakan bukti.

Tetap menggunakan logika.

Tetapi aku berhenti berpura-pura bahwa perasaan adalah kelemahan.

Di ruang kerjaku ada sebuah papan kayu buatan Damar.

Hanya satu kalimat terukir di sana.

Kebenaran membutuhkan kepala yang dingin, tetapi keadilan membutuhkan hati yang masih hidup.

Orang-orang masih memanggilku Ratu Tanpa Air Mata.

Aku tidak pernah repot membantah.

Karena sekarang aku tahu sesuatu yang dulu tidak kupahami.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah retak.

Kadang justru dari retakan itulah cahaya akhirnya menemukan jalan masuk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang