Namaku Kirana.
Selama sembilan tahun menikah dengan Raka, aku sudah terlalu sering mengucapkan kalimat yang sama.
“Ini terakhir kali.”
Pertama, ketika dia menggunakan tabungan persalinanku untuk menutup utang bengkel tanpa bicara kepadaku.
Kedua, saat dia berbohong tentang perempuan yang terus menelepon tengah malam.
Ketiga, ketika dia menandatangani pinjaman atas nama kami berdua hanya karena ibunya meminta.
Setiap kali tertangkap, Raka akan duduk di lantai dekat kakiku.
Wajahnya kusut.

Suaranya mengecil.
“Aku salah.”
“Kasih aku satu kesempatan lagi.”
Dan aku selalu memberikannya.
Bukan karena aku bodoh.
Setidaknya, dulu aku tidak merasa begitu.
Aku hanya masih mengingat laki-laki yang pernah menjual sepeda motornya agar aku bisa menjalani operasi usus buntu. Laki-laki yang tidur di kursi rumah sakit selama tiga malam. Laki-laki yang setiap pagi mengepang rambut putri kami meski hasilnya selalu miring.
Aku percaya orang yang pernah begitu baik masih layak diselamatkan.
Yang tidak kusadari, di dalam rumah tangga kami ada seseorang yang terus memastikan setiap kesempatan kedua berubah menjadi luka baru.
Namanya Bu Ratna.
Ibu Raka.
Di depan orang lain, beliau selalu memujiku.
“Menantu saya paling sabar.”
“Kalau bukan Kirana, mungkin Raka tidak akan jadi apa-apa.”
Tetapi saat hanya ada kami berdua, kalimatnya berbeda.
“Seorang istri jangan terlalu banyak menghitung kesalahan suami.”
“Laki-laki itu memang kadang harus bohong agar rumah tetap tenang.”
“Raka sejak kecil tidak pernah tahan ditekan. Kamu harus mengalah.”
Awalnya kutelan semua itu.
Aku dibesarkan dalam keluarga yang menganggap menghormati orang tua jauh lebih penting daripada membela diri.
Jadi, ketika Bu Ratna mengambil kunci cadangan rumah kami tanpa izin, aku diam.
Saat beliau masuk ke kamar dan memeriksa lemari, aku diam.
Ketika uang belanja hilang lalu beliau bilang mungkin aku lupa meletakkannya, aku juga diam.
Aku tidak ingin menjadi menantu yang dianggap kasar.
Kesalahan terbesarku memang sering dimulai dari keinginan terlihat baik.
Malam ketika semuanya terbuka, Raka pulang hampir pukul dua pagi.
Bajunya kusut.
Ada aroma parfum perempuan di bagian bahunya.
Aku sedang duduk di meja makan.
Lampu dapur sengaja tidak kunyalakan.
Begitu dia masuk, aku bertanya,
“Dari mana?”
Raka berhenti di dekat pintu.
“Bengkel.”
“Bengkel tutup jam sembilan.”
“Tadi ada pelanggan darurat.”
“Perempuan?”
Dia langsung menatapku.
Aku tahu tatapan itu.
Bukan tatapan orang jujur yang tersinggung karena dituduh.
Itu tatapan orang yang sedang menghitung kebohongan mana yang paling aman untuk dipakai.
“Kirana, jangan mulai.”
Aku berdiri.
“Parfum siapa?”
Raka mengusap wajah.
“Aku capek.”
“Aku juga.”
“Kita bicara besok.”
“Tidak. Malam ini.”
Untuk beberapa detik, rumah kami sunyi.
Dari kamar, suara pendingin udara terdengar pelan. Putri kami, Livia, sudah tertidur sejak pukul sembilan.
Aku menahan suaraku agar tidak membangunkannya.
“Siapa perempuan itu?”
Raka akhirnya menjatuhkan kunci mobil ke meja.
“Cuma teman.”
Aku tertawa kecil.
Aneh sekali rasanya tertawa ketika dada terasa seperti dilubangi.
“Teman yang parfumnya menempel di bajumu jam dua pagi?”
“Dia lagi punya masalah. Aku antar pulang.”
“Siapa namanya?”
Raka tidak menjawab.
Saat itulah ponselnya bergetar.
Satu pesan muncul di layar.
Makasih sudah datang. Besok jangan lupa bicara sama Ibu soal uangnya.
Aku sempat membaca nama pengirimnya.
Mira.
Nama itu tidak asing.
Dua tahun lalu, Mira pernah menelepon Raka berkali-kali tengah malam. Saat kutanya, Raka bilang dia hanya mantan pegawai bengkel yang sedang kesulitan.
Aku mengambil ponselnya.
Raka langsung merebutnya.
“Jangan sentuh barangku.”
Kalimat itu membuatku diam.
Bukan karena takut.
Karena untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam diriku terasa berhenti.
Selama sembilan tahun aku membayar cicilan bersama, memasak, merawat anak, membantu pembukuan bengkel, menutup utangnya, bahkan menjual perhiasan pemberian ibuku saat usahanya hampir bangkrut.
Tetapi ponselnya adalah barangnya.
Masalahnya adalah masalahku.
Utangnya adalah utang kami.
Kebohongannya harus kumaklumi.
Aku menatapnya lama.
“Besok aku mau lihat semua rekening kita.”
Raka mendadak pucat.
Hanya sedikit.
Tapi aku melihatnya.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Kalau tidak ada, kenapa takut?”
“Aku nggak takut.”
“Bagus. Besok kita buka semuanya.”
Raka mengambil napas panjang.
Lalu, seperti biasa, dia mendekat.
“Kirana…”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan.”
Dia berhenti.
“Jangan duduk di lantai. Jangan bilang kamu salah. Jangan minta kesempatan lagi. Aku sudah hafal.”
Malam itu aku tidur di kamar Livia.
Raka tidak menyusul.
Paginya, sebelum matahari benar-benar naik, suara pagar rumah kami terdengar.
Bu Ratna datang.
Aku bahkan belum menghubunginya.
Itu hal pertama yang membuatku curiga.
Beliau masuk tanpa mengetuk, membawa sekotak bubur ayam dan wajah yang terlalu tenang.
“Raka cerita kalian bertengkar.”
Aku menatap Raka yang berdiri di belakangnya.
Cepat sekali.
Belum tujuh jam sejak dia pulang.
Bu Ratna menaruh makanan di meja.
“Kirana, rumah tangga itu jangan dibesar-besarkan cuma gara-gara laki-laki pulang malam.”
“Bukan cuma soal pulang malam, Bu.”
“Lalu apa?”
“Uang.”
Raut wajahnya berubah sepersekian detik.
Cukup untuk membuatku semakin yakin.
“Aku mau lihat rekening bersama kami.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kamu istri, jangan seperti auditor.”
Aku tidak menjawab.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Saldo rekening utama kami tinggal dua juta tiga ratus ribu rupiah.
Aku menatap layar beberapa kali.
Dua bulan sebelumnya, jumlahnya masih lebih dari seratus delapan puluh juta.
Uang itu bukan sekadar tabungan.
Sebagian adalah dana pendidikan Livia.
Sebagian adalah uang muka rumah kecil yang kami rencanakan.
Tanganku dingin.
“Raka.”
Dia menunduk.
“Uangnya ke mana?”
Tidak ada jawaban.
“Raka.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Tolong jelaskan.”
Bu Ratna menyela.
“Jangan teriak.”
“Aku belum teriak, Bu.”
Beliau terdiam.
Aku membuka riwayat transaksi.
Ada puluhan transfer.
Nominalnya lima juta, sepuluh juta, dua puluh juta.
Tujuannya berbeda-beda.
Tetapi satu nama muncul berulang kali.
Ratna Wulandari.
Ibu mertuaku.
Aku menatapnya.
“Ini apa?”
Beliau tidak langsung menjawab.
Aku menghitung cepat.
Lebih dari seratus juta rupiah sudah berpindah ke rekeningnya dalam enam bulan.
“Bu?”
“Itu bukan dicuri.”
“Aku tidak bilang dicuri.”
“Kamu menatap Ibu seperti pencuri.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Raka memegang lenganku.
Aku menarik diri.
“Aku tanya Ibu.”
Bu Ratna menghela napas.
“Kakaknya Raka sedang kesulitan.”
Aku hampir tidak percaya.
“Mas Deni?”
“Iya.”
“Kesulitan apa?”
“Usahanya.”
“Bukannya usahanya baru beli mobil?”
Bu Ratna terdiam.
Aku beralih menatap Raka.
“Untuk apa uangnya?”
Raka mengusap tengkuk.
“Investasi.”
“Investasi apa?”
“Tanah.”
“Tanah siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku merasa seolah berdiri di tengah ruangan yang perlahan kehilangan udara.
“Tanah siapa?”
Akhirnya Bu Ratna berkata,
“Atas nama Ibu.”
Aku tersenyum.
Bukan karena lucu.
Karena aku sudah terlalu terkejut untuk marah.
“Jadi uang tabungan anak saya dipakai membeli tanah atas nama Ibu?”
“Jangan ngomong begitu. Tanah itu nanti juga untuk keluarga.”
“Keluarga siapa?”
“Keluarga kita.”
“Nama saya ada?”
Tidak.
“Nama Livia?”
Tidak.
Aku menatap Raka.
“Nama kamu?”
Dia menunduk.
Tidak juga.
Tanah itu hanya atas nama Bu Ratna.
“Aku tidak percaya.”
Bu Ratna mulai meninggikan suara.
“Kirana, semua ini dilakukan untuk masa depan.”
“Masa depan siapa?”
“Ibu ini orang tua Raka.”
“Dan saya istrinya.”
“Kamu jangan merasa paling berhak.”
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Raka langsung berkata pelan,
“Bu…”
Tetapi Bu Ratna sudah berdiri.
“Sejak menikah kamu selalu merasa Raka milikmu. Uangnya harus kamu tahu. Keputusannya harus kamu tahu. Dia mau bantu ibunya saja harus izin.”
Aku menatap perempuan yang selama sembilan tahun kupanggil Ibu.
“Karena kami menikah.”
“Justru karena menikah, kamu harus tahu posisi. Ibu yang melahirkan dia.”
Aku tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa masalah kami tidak pernah hanya tentang uang.
Bu Ratna tidak sekadar meminta bantuan anaknya.
Beliau menganggap seluruh hidup Raka tetap menjadi miliknya.
Dan Raka membiarkannya.
Aku mengambil tas.
“Aku antar Livia sekolah.”
Raka mengejarku sampai teras.
“Kirana, nanti kita bicara baik-baik.”
Aku berhenti.
“Transfer itu kamu lakukan sendiri?”
Dia diam.
“Jawab.”
“Iya.”
“Tanpa bilang aku?”
“Ibu bilang nanti tanahnya untuk kita juga.”
“Dan kamu percaya?”
Dia menunduk.
Aku tertawa hambar.
“Kamu lebih percaya ibumu daripada istrimu.”
Bukan tuduhan.
Itu kesimpulan.
Selama tiga hari berikutnya, aku tidak membahas apa pun.
Aku bekerja seperti biasa di kantor arsitektur tempatku menjadi staf administrasi proyek. Aku menjemput Livia. Memasak. Mencuci.
Raka mulai gelisah.
Diamku ternyata lebih menakutkan daripada kemarahanku.
Pada hari keempat, sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.
Seorang laki-laki memperkenalkan diri sebagai petugas dari perusahaan pembiayaan.
“Ibu Kirana?”
“Iya.”
“Kami ingin mengonfirmasi tunggakan pinjaman kendaraan atas nama Ibu dan Bapak Raka.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Kendaraan apa?”
“Toyota Fortuner.”
Kami tidak punya Fortuner.
Raka mengendarai mobil bekas tujuh tahun yang lalu.
Aku meminta detail.
Pinjaman itu diajukan delapan bulan sebelumnya.
Nama kami berdua digunakan sebagai penjamin.
Tanda tanganku ada.
Padahal aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Malamnya, aku menunggu Raka pulang.
Kali ini aku tidak bertanya dari mana.
Aku langsung meletakkan fotokopi dokumen yang dikirim perusahaan pembiayaan di meja.
“Ini tanda tangan siapa?”
Raka melihatnya.
Wajahnya langsung pucat.
“Kirana…”
“Siapa yang tanda tangan?”
“Aku bisa jelaskan.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalimat itu lagi.”
Raka duduk.
“Mobilnya untuk Mas Deni.”
“Kenapa nama kita?”
“Dia nggak lolos kredit.”
“Dan tanda tanganku?”
Raka diam.
Aku menatapnya.
“Raka.”
“Ibu yang urus.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Maksudmu?”
“Ibu punya fotokopi KTP kamu.”
Aku mendadak teringat sesuatu.
Dua tahun lalu, Bu Ratna pernah meminta fotokopi KTP dan kartu keluarga. Katanya untuk mengurus administrasi BPJS keluarga.
Aku memberikannya.
Tanpa curiga.
“Jadi ibumu memalsukan tanda tanganku?”
Raka buru-buru berkata,
“Jangan bilang memalsukan. Waktu itu cuma—”
Aku berdiri.
“Jangan.”
Suaraku gemetar.
“Jangan berani menyebutnya dengan nama lain.”
Raka ikut berdiri.
“Aku akan bereskan.”
“Kapan? Setelah rumah kita disita?”
“Nggak sampai begitu.”
“Kamu tahu pinjaman ini menunggak empat bulan?”
Dia membeku.
Ternyata dia juga tidak tahu.
Pagi berikutnya, aku mendatangi Bu Ratna.
Beliau sedang menyiram tanaman di halaman.
Begitu melihatku, beliau tersenyum.
“Kok pagi-pagi?”
Aku menyerahkan dokumen itu.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat?”
Pertanyaan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Ibu yang tanda tangan?”
Beliau meletakkan selang.
“Kirana, dengar dulu.”
“Cuma jawab iya atau tidak.”
Beliau menatapku tajam.
“Semua ini untuk membantu keluarga.”
“Dengan memalsukan tanda tangan saya?”
“Mas Deni sedang susah.”
“Jadi saya boleh dikorbankan?”
“Jangan pakai kata-kata besar.”
Aku tertawa kecil.
“Seratus juta tabungan kami hilang. Nama saya dipakai untuk utang. Tanda tangan saya dipalsukan. Menurut Ibu, kata apa yang cukup kecil?”
Wajah Bu Ratna mengeras.
“Kalau kamu benar-benar istri yang baik, kamu tidak akan mempermalukan suamimu karena hal beginian.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi Ibu tidak merasa salah?”
Beliau tidak menjawab.
Sebaliknya, beliau berkata,
“Raka sudah banyak berkorban buat kamu.”
Kalimat itu menusuk tepat pada kelemahanku.
Selama bertahun-tahun, itulah alasan aku bertahan.
Operasiku.
Motor yang dijual.
Malam-malam di rumah sakit.
Semua kebaikan lama yang terus kugunakan untuk membayar kesalahan baru.
Bu Ratna tahu itu.
Dan kemudian beliau mengatakan sesuatu yang membuat semuanya berubah.
“Kalau dulu bukan karena Ibu, Raka tidak mungkin menjual motornya untuk operasi kamu.”
Aku mengernyit.
“Apa maksud Ibu?”
Beliau sepertinya sadar telah bicara terlalu jauh.
Tetapi terlambat.
“Ibu cuma bilang…”
“Apa maksud Ibu?”
Bu Ratna membuang wajah.
Aku mendekat.
“Bu.”
Akhirnya beliau berkata dengan kesal,
“Waktu itu uang operasimu sebenarnya dari Ibu. Bukan dari hasil jual motor.”
Dunia terasa sunyi.
“Tidak.”
“Raka malu bilang dia minta uang ke Ibu.”
“Motornya dijual.”
“Dijual ke adiknya Ibu. Setelah kamu pulang rumah sakit, motornya dikembalikan lagi.”
Aku mundur satu langkah.
Kenangan yang selama ini menjadi fondasi seluruh pernikahanku mendadak retak.
“Tiga malam dia tidur di rumah sakit.”
“Itu benar.”
“Tapi soal motor…”
“Dia cuma ingin kamu merasa dia berkorban besar.”
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Kebohongan Raka.
Atau kenyataan bahwa Bu Ratna menyimpan kebohongan itu selama sembilan tahun dan baru membongkarnya ketika ingin menyakitiku.
Aku pulang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membuka lemari dan mengambil koper tanpa menangis.
Raka pulang lebih awal ketika melihat pakaianku sudah hampir habis dari gantungan.
“Kirana, kamu mau ke mana?”
“Aku dan Livia tinggal sementara di rumah kakakku.”
Dia panik.
“Jangan bawa Livia.”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
“Dia anakku juga.”
“Betul. Dan aku tidak menghalangi kamu bertemu dia.”
Raka menutup pintu kamar.
“Kita bisa perbaiki.”
“Aku sudah sembilan tahun memperbaiki.”
“Aku janji akan berubah.”
“Aku percaya kamu akan berubah.”
Raka terdiam.
Mungkin dia mengira kalimat itu pertanda baik.
Aku melanjutkan,
“Tapi aku tidak mau menunggu untuk melihatnya.”
Matanya memerah.
“Kamu mau cerai?”
Aku tidak langsung menjawab.
Ada bagian kecil dalam diriku yang masih ingin memeluknya.
Laki-laki ini tetap ayah Livia.
Tetap orang yang pernah membuatku tertawa sampai sakit perut.
Tetap seseorang yang sembilan tahun lalu menggenggam tanganku di depan penghulu dan berjanji akan menjagaku.
Masalahnya, cinta tidak selalu hilang ketika kepercayaan mati.
Kadang cinta masih ada.
Hanya saja ia tidak lagi cukup.
“Aku mau menyelamatkan diriku sendiri.”
Dua minggu kemudian, aku berkonsultasi dengan pengacara.
Aku membawa rekening, dokumen pinjaman, bukti transfer, percakapan, dan salinan tanda tangan palsu.
Raka datang ke kantor kakakku malam itu.
Dia duduk di ruang tamu sambil menangis.
“Aku sudah bicara sama Ibu.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Tanahnya akan dijual.”
“Bagus.”
“Utangnya juga akan aku lunasi.”
“Bagus.”
“Kirana…”
Aku menunggu.
“Aku pilih kamu.”
Kalimat itu seharusnya menjadi kalimat yang selama bertahun-tahun ingin kudengar.
Anehnya, saat akhirnya keluar, aku tidak merasakan apa-apa.
“Aku tidak pernah minta kamu memilih antara aku dan ibumu.”
“Tapi sekarang aku memilih kamu.”
“Masalahnya bukan siapa yang kamu pilih.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya kamu baru mau punya pendirian setelah aku pergi.”
Raka menunduk.
Tiga bulan berlalu.
Kasus pinjaman diselesaikan tanpa membawa Bu Ratna ke proses hukum panjang karena utangnya akhirnya dilunasi dan dokumennya diperbaiki. Aku tetap memproses perceraian.
Bu Ratna tidak pernah meminta maaf.
Setidaknya tidak kepadaku.
Beliau justru bercerita kepada keluarga besar bahwa aku meninggalkan Raka hanya karena uang.
Beberapa orang menelepon.
“Namanya juga orang tua.”
“Maafkan saja.”
“Jangan pisahkan anak dari ayahnya.”
Aku berhenti menjelaskan.
Orang yang hanya melihat satu hari dalam hidup kita akan selalu merasa punya jawaban mudah untuk luka bertahun-tahun.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Raka tetap bertemu Livia setiap akhir pekan.
Anehnya, setelah kami berpisah, dia justru menjadi ayah yang lebih baik.
Dia mulai mengatur keuangan sendiri.
Menjual sebagian kepemilikan bengkelnya untuk menutup utang.
Dan untuk pertama kalinya, dia berani menolak ibunya.
Suatu sore, dia mengantar Livia pulang.
Sebelum pergi, Raka berdiri cukup lama di depan pintu.
“Kirana.”
“Ya?”
“Aku baru sadar sesuatu.”
Aku menunggu.
“Selama ini aku selalu bilang kamu terlalu keras sama Ibu.”
Aku diam.
“Ternyata bukan kamu yang keras.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku yang terlalu lemah.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Mungkin tidak semua permintaan maaf membutuhkan balasan.
Setahun setelah perceraian kami, aku menerima sebuah amplop.
Pengirimnya Bu Ratna.
Di dalamnya ada sertifikat deposito atas nama Livia.
Jumlahnya seratus delapan puluh juta rupiah.
Sama persis dengan jumlah tabungan yang dulu hilang.
Ada secarik kertas.
Tulisan tangan beliau hanya empat baris.
Kirana.
Ibu tidak meminta kamu memaafkan.
Ibu hanya baru mengerti bahwa selama ini Ibu bukan sedang melindungi anak laki-laki Ibu.
Ibu sedang mengajarinya menjadi pengecut.
Aku membaca surat itu tiga kali.
Lalu menyimpannya.
Aku tidak menangis.
Aku juga tidak menelepon.
Beberapa hari kemudian, Raka memberitahuku bahwa Bu Ratna menjual tanah yang dulu dibeli memakai uang kami. Sebagian uangnya dikembalikan untuk Livia. Sisanya digunakan membayar utang Mas Deni.
“Dia tanya apa kamu sudah baca suratnya,” kata Raka.
“Sudah.”
“Dia tanya kamu maafin dia atau belum.”
Aku terdiam cukup lama.
Kemudian aku menjawab,
“Belum.”
Raka mengangguk.
Tidak membela.
Tidak meminta.
Tidak memaksaku.
Dan mungkin justru saat itulah aku tahu dia benar-benar mulai berubah.
Dulu aku mengira memaafkan adalah kewajiban orang baik.
Ternyata tidak.
Ada luka yang bisa kita lepaskan tanpa harus menghapus tanggung jawab orang yang membuatnya.
Ada orang yang bisa kita pahami tanpa harus mengizinkan mereka kembali masuk ke hidup kita seperti dulu.
Aku sudah memaafkan Raka berkali-kali sampai hampir kehilangan diriku sendiri.
Tetapi orang pertama yang akhirnya tidak mampu kumaafkan dengan segera justru adalah ibunya.
Bukan karena kesalahannya paling besar.
Melainkan karena Bu Ratna adalah orang yang mengajariku sesuatu yang tidak pernah kupahami selama sembilan tahun.
Bahwa memaafkan seseorang tidak berarti kita harus tetap tinggal di tempat yang sama.
Dan terkadang, bentuk pengampunan paling sehat bukan membuka pintu kembali.
Melainkan menutupnya tanpa kebencian, lalu berjalan pergi.
