IBU PACAR SAYA MENGUSIR SAYA DARI RUMAH HANYA KARENA SAYA TIDAK SENGAJA MENUMPAHKAN SEGELAS AIR DI MEJA MAKAN. SAYA JUGA MUNTAH DI KURSI BELAKANG MOBILNYA KARENA TERLALU LELAH, TAPI KETIKA DOKTER MENYERAHKAN HASIL PEMERIKSAAN, JUSTRU IBUNYA YANG TIDAK SANGGUP BERDIRI…

Namaku Laras.

Dan malam itu, aku belajar bahwa seseorang bisa diusir dari sebuah rumah hanya karena satu gelas air.

Bukan karena mencuri.

Bukan karena berbuat kasar.

Bukan karena menghina siapa pun.

Hanya karena tanganku gemetar saat menuangkan air.

Aku sudah berpacaran dengan Dimas hampir tiga tahun. Hubungan kami tidak selalu mudah, terutama karena ibunya, Ratna, tidak pernah benar-benar menyukaiku.

Menurutnya, aku berasal dari keluarga biasa.

Ayahku sudah lama meninggal. Ibuku hanya membuka warung kecil di dekat rumah. Aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik sejak lulus kuliah.

Sementara keluarga Dimas memiliki beberapa toko bahan bangunan dan perusahaan distribusi yang cukup besar di kota kami.

Aku tahu perbedaannya.

Karena itu, setiap datang ke rumah mereka, aku selalu berusaha menjaga sikap.

Malam itu pun begitu.

Aku bahkan membawa kue cokelat yang kubuat sendiri sepulang kerja.

Ratna hanya melirik kotaknya.

“Beli?”

“Bukan, Bu. Saya buat sendiri.”

“Oh.”

Hanya itu.

Makan malam berlangsung dalam suasana yang aneh. Ayah Dimas lebih banyak diam, sementara Dimas sesekali mengajakku bicara agar aku tidak merasa terlalu canggung.

Sebenarnya sejak sore tubuhku sudah terasa tidak enak.

Kepalaku berat. Perutku mual. Beberapa minggu terakhir aku juga mudah sekali lelah.

Aku mengira semuanya karena pekerjaan.

Saat hendak mengambil gelas, tanganku tiba-tiba gemetar.

Gelas itu terlepas.

Air tumpah membasahi taplak meja.

Semua orang terdiam.

“Maaf, Bu.”

Aku buru-buru mengambil tisu.

“Saya tidak sengaja.”

Ratna menatap meja, lalu menatapku.

“Kamu bahkan tidak bisa memegang gelas dengan benar?”

Aku menunduk.

“Maaf.”

“Ma, cuma air,” kata Dimas.

“Jangan ikut campur.”

Aku terus membersihkan meja.

Namun ketika tanganku hendak mengambil piring Ratna agar bagian bawahnya bisa dilap, perempuan itu tiba-tiba menarik piringnya.

“Sudah.”

Aku berhenti.

Ratna berdiri.

“Pulang saja.”

Aku mengira salah dengar.

“Bu?”

“Kamu kelihatan tidak sehat, bikin suasana makan malam berantakan, sekarang meja saya juga basah. Pulang.”

Wajahku panas.

Dimas langsung berdiri.

“Ma, serius?”

“Sangat serius.”

“Tapi Laras tamu kita.”

Ratna tertawa pendek.

“Tamu tahu bagaimana bersikap di rumah orang.”

Aku menggenggam tisu di tanganku.

Untuk sesaat, aku ingin membela diri. Aku ingin mengatakan bahwa aku datang setelah bekerja sembilan jam. Aku ingin mengatakan aku membuat kue itu sampai hampir tengah malam kemarin karena Dimas bilang ibunya menyukai cokelat.

Tapi aku terlalu lelah untuk bertengkar.

Aku mengambil tas.

“Tidak apa-apa, Mas. Aku pulang.”

“Aku antar.”

“Dimas.”

Suara Ratna menghentikannya.

“Kamu tetap di sini.”

Dimas menatap ibunya, lalu menatapku.

Dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun kami bersama, aku melihat keraguan di wajahnya.

Keraguan kecil itu justru lebih menyakitkan daripada ucapan Ratna.

Aku tersenyum tipis.

“Tidak perlu. Aku bisa pesan taksi online.”

Aku baru berjalan beberapa langkah menuju pintu ketika dunia terasa berputar.

Aku berpegangan pada dinding.

“Laras?”

Dimas berlari menghampiriku.

“Aku tidak apa-apa.”

“Kamu pucat banget.”

“Aku cuma capek.”

Akhirnya Dimas tetap mengantarku meski ibunya jelas tidak senang.

Kami belum sampai lima belas menit di perjalanan ketika rasa mual menyerang.

“Mas, berhenti.”

“Apa?”

“Berhenti dulu.”

Dimas belum sempat menepi.

Aku muntah di kursi belakang mobil.

Aku langsung menangis karena malu.

“Ya Tuhan… Mas, maaf.”

Dimas memarkir mobil.

Dia turun dan membukakan pintu belakang.

“Sudah, jangan pikirin mobil.”

“Aku bersihkan.”

“Kamu bahkan susah berdiri.”

Aku menatap jok mobil yang kotor.

Mobil itu milik Ratna.

Dan aku langsung tahu masalah baru akan datang.

Benar saja.

Ponsel Dimas berdering.

Ibunya.

Dimas mengangkat telepon.

“Iya, Ma?”

Entah bagaimana, Ratna mendengar apa yang terjadi.

Mungkin karena Dimas tanpa sengaja mengatakan bahwa aku muntah.

Suara Ratna terdengar sampai ke tempatku duduk.

“Apa? Di mobil Mama?”

Dimas menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Ma, Laras sakit.”

“Itu mobil baru!”

“Besok aku bawa ke salon mobil.”

“Suruh dia bayar!”

Aku menutup mata.

Air mataku jatuh.

Saat itu aku tidak lagi tahu apakah aku menangis karena sakit atau karena merasa begitu kecil di mata keluarga itu.

Dimas menutup telepon.

“Mas.”

“Hm?”

“Antar aku pulang saja.”

“Tidak.”

Dia menatapku.

“Kita ke rumah sakit.”

“Aku cuma kecapekan.”

“Sudah beberapa minggu kamu begini.”

Aku terdiam.

Dimas benar.

Haidku juga terlambat.

Aku menghitung cepat dalam kepala.

Lima minggu.

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Aku belum pernah mengatakan apa pun kepada Dimas karena siklus menstruasiku memang kadang tidak teratur.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan muncul.

Kami pergi ke sebuah rumah sakit swasta yang tidak terlalu jauh.

Dokter memeriksaku dan meminta beberapa tes.

Dimas duduk di sampingku sepanjang waktu.

Sekitar satu jam kemudian, dokter kembali membawa hasil pemeriksaan.

Dia tersenyum.

“Selamat.”

Aku menahan napas.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan Ibu Laras sedang hamil.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku menatap dokter.

“Hamil?”

“Kurang lebih tujuh minggu.”

Tanganku langsung menutup mulut.

Dimas tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia menggenggam tanganku.

Matanya berkaca-kaca.

“Lar…”

Aku menatapnya.

Ada kebahagiaan di wajahnya, tetapi juga ketakutan.

Aku tahu ketakutan itu berasal dari orang yang sama.

Ratna.

“Kondisi kehamilannya bagaimana, Dok?” tanya Dimas.

“Untuk saat ini cukup baik. Tetapi Ibu Laras terlihat kelelahan. Tekanan darahnya juga agak rendah. Harus banyak istirahat, makan teratur, dan jangan terlalu stres.”

Kalimat terakhir dokter membuatku hampir tertawa pahit.

Jangan terlalu stres.

Kalau saja dokter tahu bagaimana makan malamku tadi.

Dimas menghubungi ayahnya lebih dulu.

Namun entah bagaimana, Ratna akhirnya ikut datang ke rumah sakit.

Begitu melihatku, dia tidak bertanya bagaimana kondisiku.

Pertanyaan pertamanya justru,

“Mobilnya bagaimana?”

Dimas menatap ibunya tidak percaya.

“Ma.”

“Apa?”

“Laras hamil.”

Ratna membeku.

Wajahnya berubah.

“Hamil?”

“Tujuh minggu.”

Ratna perlahan duduk.

Tatapannya berpindah dari Dimas kepadaku.

Bukannya bahagia, wajahnya justru semakin tegang.

“Kalian…”

Dia menelan ludah.

“Sudah berapa lama tahu?”

“Baru malam ini,” jawabku.

Ratna tidak sanggup mengatakan apa pun lagi.

Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Ayah Dimas, Pak Surya, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, tiba-tiba memegang bahu istrinya.

“Kamu kenapa?”

Ratna terlihat sangat pucat.

“Aku…”

Dia mencoba berdiri.

Tapi lututnya lemas.

Tubuhnya hampir jatuh kalau Pak Surya tidak menangkapnya.

“Ibu!”

Perawat bergegas menghampiri.

Aku terkejut.

Ratna dibaringkan di kursi roda.

Awalnya aku mengira dia hanya syok karena mendengar kehamilanku.

Ternyata bukan itu.

Ketika perawat membawanya ke ruang pemeriksaan, Pak Surya tetap berdiri di lorong dengan wajah yang sulit dijelaskan.

Dimas menghampirinya.

“Papa tahu sesuatu?”

Pak Surya tidak langsung menjawab.

“Pa?”

Akhirnya dia menatap anaknya.

“Ibumu mungkin bukan terkejut karena Laras hamil.”

“Lalu?”

Pak Surya menghela napas panjang.

“Karena dia tahu apa arti kehamilan itu.”

Aku semakin bingung.

Beberapa menit kemudian, Ratna kembali. Dokter mengatakan tekanan darahnya naik drastis karena stres.

Ratna meminta bicara denganku sendirian.

Dimas menolak.

“Kalau Mama mau bicara sama Laras, aku tetap di sini.”

Ratna menatap anaknya cukup lama.

Lalu dia menyerah.

“Ada sesuatu yang belum pernah Mama ceritakan.”

Tangannya gemetar.

“Dua puluh enam tahun lalu, Mama juga hamil sebelum menikah.”

Dimas membeku.

Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraan itu.

Ratna melanjutkan.

“Keluarga Papa waktu itu kaya. Keluarga Mama tidak punya apa-apa.”

Pak Surya menunduk.

“Ibu Papa menganggap Mama perempuan yang cuma mengejar uang.”

Aku mulai memahami.

Ratna tersenyum pahit.

“Suatu malam, Mama makan di rumah keluarga Papa. Mama sedang hamil muda, tapi belum ada yang tahu. Mama mual dan tanpa sengaja muntah di ruang makan.”

Mataku membesar.

Ratna menatapku.

“Besoknya Mama diusir.”

Tidak ada seorang pun berbicara.

“Dia bilang perempuan miskin seperti Mama tidak pantas masuk keluarga mereka.”

Air mata mulai memenuhi mata Ratna.

“Papa Dimas memilih Mama. Kami menikah meski keluarganya menentang.”

Pak Surya memalingkan wajah.

Ratna menangis.

“Dan malam ini… Mama melakukan hal yang hampir sama kepadamu.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Perempuan yang selama bertahun-tahun merendahkanku ternyata pernah berdiri tepat di tempatku.

“Aku selalu berpikir,” katanya pelan, “kalau suatu hari Dimas punya pasangan, perempuan itu harus berasal dari keluarga yang setara. Aku tidak mau anakku mengalami kesulitan seperti kami dulu.”

“Tapi akhirnya Mama menjadi orang yang dulu menyakiti Mama sendiri,” kata Dimas.

Ratna menunduk.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun.

Aku melihat perempuan yang selama ini tampak begitu kuat akhirnya menangis tanpa bisa menahan diri.

Dia menatapku.

“Laras, Mama minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena memaafkan bukan berarti luka tiba-tiba hilang.

“Aku bisa memaafkan Ibu,” kataku akhirnya.

Ratna mengangkat wajah.

“Tapi saya tidak ingin anak saya nanti tumbuh di lingkungan yang menganggap nilai seseorang ditentukan dari uang atau keluarganya.”

Ratna terdiam.

“Kalau suatu hari Ibu menjadi nenek dari anak ini, saya ingin anak saya merasa dicintai. Bukan dinilai.”

Dia mengangguk perlahan.

“Kamu benar.”

Dimas menggenggam tanganku.

“Aku juga salah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tadi waktu Mama menyuruh kamu pulang, aku sempat diam. Aku seharusnya langsung berdiri di sampingmu.”

Aku tidak menyangkalnya.

Karena cinta tidak hanya diuji ketika semuanya nyaman.

Kadang cinta diuji hanya dalam beberapa detik, ketika seseorang harus memilih antara diam atau membela orang yang ia cintai.

Tiga hari kemudian, sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Ratna datang ke rumah ibuku.

Bukan dengan mobil mewah dan sopir.

Dia datang sendirian.

Ibuku sedang menjaga warung ketika Ratna berdiri di depannya membawa sebuah kotak.

Aku yang sedang membantu menyusun barang langsung terdiam.

Ratna menyerahkan kotak itu kepada ibuku.

“Ini apa, Bu?” tanya ibuku.

“Kue.”

Ibuku tersenyum bingung.

Ratna melirikku.

“Saya coba bikin sendiri.”

Aku hampir tidak percaya.

Kuenya sedikit gosong.

Bentuknya juga tidak terlalu bagus.

Tapi aku tahu persis mengapa dia membawanya.

Ratna kemudian meminta maaf kepada ibuku atas caranya memperlakukanku selama ini.

Ibuku hanya berkata sederhana,

“Anak saya memang tidak punya banyak harta, Bu. Tapi sejak kecil saya ajarkan dia jangan pernah merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari siapa pun.”

Ratna menunduk.

“Saya justru baru belajar itu sekarang.”

Beberapa bulan kemudian, Dimas dan aku menikah secara sederhana.

Bukan karena kehamilan memaksa kami.

Tetapi karena setelah kejadian malam itu, kami bicara panjang tentang masa depan, tanggung jawab, ketakutan, dan jenis keluarga seperti apa yang ingin kami bangun.

Ratna berubah perlahan.

Tidak sempurna.

Kadang sifat lamanya masih muncul.

Namun sekarang dia belajar meminta maaf.

Dan bagiku, itu jauh lebih berarti daripada berpura-pura menjadi manusia tanpa kesalahan.

Pada hari putri kami lahir, Ratna menjadi orang kedua setelah Dimas yang menangis paling keras.

Dia menggendong cucunya dengan tangan gemetar.

“Apa namanya?”

Aku tersenyum.

“Arunika.”

“Artinya?”

“Cahaya pagi.”

Ratna menatap wajah kecil cucunya.

Lalu air matanya jatuh.

“Mudah-mudahan dia tumbuh jadi perempuan yang tidak pernah membiarkan orang lain menentukan nilainya.”

Aku tersenyum.

“Itu juga doa saya.”

Ratna menatapku cukup lama.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutnya.

“Dan mudah-mudahan kalau suatu hari Mama lupa lagi bagaimana menghargai orang, Laras berani mengingatkan Mama.”

Aku mengangguk.

Karena pada akhirnya, satu gelas air yang tumpah memang pernah membuatku diusir dari sebuah rumah.

Tetapi malam itu juga menumpahkan sesuatu yang jauh lebih lama disembunyikan.

Luka lama.

Kesombongan.

Ketakutan.

Dan sebuah rahasia yang membuat Ratna sadar bahwa selama bertahun-tahun, tanpa disadarinya, dia telah berubah menjadi orang yang dulu paling dia benci.

Aku tidak pernah percaya bahwa manusia berubah hanya karena satu kejadian.

Manusia berubah ketika akhirnya berani melihat dirinya sendiri tanpa alasan dan tanpa pembenaran.

Dan terkadang, cermin itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana.

Seorang perempuan yang kelelahan.

Sebuah meja makan.

Satu gelas air yang tumpah.

Dan seorang calon ibu yang menolak mewariskan luka yang sama kepada anaknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang