“Saya bukan nenekmu!”
Suara Ratih Wijaya menggema di seluruh kamar.
“Saya membutuhkan tenaga profesional. Bukan kurir makanan yang sedang bermain menjadi pahlawan!”
Bu Rini berdiri di sudut ruangan sambil menahan napas. Biasanya, pada titik seperti ini, pelamar akan meminta maaf lalu pergi.
Namun Dimas tidak bergerak.
Ia justru menarik sebuah kursi dan duduk beberapa langkah dari ranjang Ratih.
Ratih mengernyit.

“Kamu tidak dengar saya?”
“Dengar.”
“Lalu kenapa belum pergi?”
“Karena Ibu belum benar-benar menyuruh saya pergi.”
Tatapan Ratih berubah tajam.
“Keluar.”
Dimas berdiri.
Namun sebelum berbalik, ia melihat segelas air di meja kecil di samping ranjang. Sedotan panjangnya terjatuh terlalu jauh dari wajah Ratih.
Perempuan itu mencoba menggerakkan kepala untuk mencapainya, tetapi tidak berhasil.
Dimas mengambil gelas tersebut dan mendekatkannya.
“Saya tidak minta bantuan.”
“Saya tahu.”
“Taruh kembali!”
Dimas menurut.
Ia meletakkan gelas tepat di posisi semula.
Kemudian ia berjalan menuju pintu.
Baru tiga langkah, suara Ratih terdengar lagi.
“Berhenti.”
Dimas menoleh.
Ratih menatap gelas itu, kemudian menatapnya.
“Dekatkan sedikit.”
Dimas melakukannya tanpa tersenyum dan tanpa menunjukkan kemenangan.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Ratih terdiam.
“Mulai hari ini,” katanya akhirnya. “Tiga hari masa percobaan. Kalau kamu membuat satu kesalahan saja, kamu keluar.”
Dimas mengangguk.
Hari pertama terasa seperti neraka.
Ratih menolak hampir semua yang dilakukan Dimas.
Air terlalu dingin.
Bantal terlalu tinggi.
Tirai terlalu terbuka.
Sup terlalu asin.
Posisi kursi roda salah.
Bahkan cara Dimas melipat handuk pun dianggap mengganggu.
“Sudutnya tidak sama!”
Dimas membuka kembali lipatan itu.
“Baik.”
“Kamu tidak marah?”
“Kalau saya marah karena handuk, hidup saya akan capek sekali, Bu.”
Bu Rini yang sedang berdiri di pintu hampir tertawa.
Ratih langsung melotot.
Namun sudut bibirnya bergerak sedikit sebelum kembali kaku.
Pada hari kedua, Dimas mulai memahami sesuatu.
Ratih bukan sekadar perempuan pemarah.
Ia takut.
Setiap kali tubuhnya dipindahkan dari ranjang ke kursi roda, napasnya berubah cepat.
Setiap kali seseorang menyentuh bahunya tanpa memberi tahu terlebih dahulu, wajahnya menegang.
Ketika Dimas hendak membantu membersihkan tubuhnya, Ratih tiba-tiba berteriak.
“Jangan sentuh saya!”
Dimas langsung berhenti.
“Baik.”
Ratih menatapnya dengan napas terengah-engah.
“Kamu tidak akan memaksa?”
“Tubuh Ibu tetap milik Ibu. Saya hanya membantu. Kalau Ibu belum siap, saya tunggu.”
Kalimat sederhana itu membuat Ratih membeku.
Sudah berbulan-bulan orang-orang membicarakan tubuhnya seolah tubuh itu hanyalah pekerjaan.
Miringkan pasien.
Angkat pasien.
Bersihkan pasien.
Pindahkan pasien.
Tidak ada yang bertanya apakah ia siap.
Ratih memalingkan wajah ke jendela.
“Lima menit.”
Dimas mengangguk.
“Saya tunggu.”
Sejak kecelakaan mobil dua tahun sebelumnya, Ratih mengalami cedera tulang belakang servikal yang membuat keempat anggota tubuhnya mengalami kelumpuhan berat.
Sebelum kecelakaan itu, Ratih adalah direktur utama Wijaya Medika Group, perusahaan keluarga yang memiliki beberapa klinik dan laboratorium kesehatan.
Ia terbiasa masuk ke ruangan dan membuat semua orang berdiri.
Ia terbiasa mengambil keputusan bernilai miliaran rupiah dalam hitungan menit.
Kemudian dalam satu malam, ia bahkan tidak mampu menggaruk pipinya sendiri ketika terasa gatal.
Yang lebih menyakitkan, suaminya meninggal dalam kecelakaan yang sama.
Anak tunggalnya, Adrian, tinggal di Singapura dan semakin jarang pulang.
Ratih kehilangan tubuh yang dulu ia kendalikan.
Kehilangan suaminya.
Kehilangan pekerjaannya.
Dan perlahan merasa kehilangan alasan untuk bangun setiap pagi.
Kemarahan menjadi satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.
Dimas memahami itu bukan dari cerita siapa pun.
Ia melihatnya sendiri.
Malam ketiga, ia menemukan Ratih menangis.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada hinaan.
Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya.
Dimas mengambil tisu dan mengusap air mata itu setelah meminta izin.
“Jangan bilang kepada Rini.”
“Tidak akan.”
“Dan jangan kasihan kepada saya.”
“Saya juga tidak kasihan.”
Ratih menatapnya.
“Kamu berani sekali.”
Dimas tersenyum tipis.
“Saya cuma tahu Ibu tidak butuh dikasihani.”
“Lalu saya butuh apa?”
“Diperlakukan seperti manusia biasa.”
Ratih terdiam lama.
Hari ketiga berlalu.
Kemudian hari keempat.
Seminggu.
Dua minggu.
Untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, seorang caregiver bertahan.
Dimas mulai mempelajari teknik perawatan yang benar. Bu Rini membantu mencarikan pelatihan caregiver. Seorang fisioterapis lama Ratih bahkan mengajarinya teknik pemindahan pasien agar aman.
Dimas mencatat semuanya di buku kecil.
Jadwal obat.
Tekanan darah.
Latihan pernapasan.
Peregangan.
Posisi tidur untuk mencegah luka tekan.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah ditulisnya.
Setiap sore pukul empat, ia membawa Ratih ke taman belakang.
Awalnya Ratih menolak.
“Panas.”
Besoknya Dimas memasang payung.
“Banyak nyamuk.”
Besoknya ia membawa obat antinyamuk.
“Bosan.”
Besoknya Dimas membawa speaker kecil dan memutar lagu-lagu lama.
Ratih akhirnya menyerah.
Suatu sore, ia bahkan tertawa ketika Dimas bercerita bagaimana motornya mogok tepat ketika sedang membawa dua puluh kotak ayam geprek.
Tawa itu membuat Bu Rini yang melihat dari jendela dapur diam-diam menangis.
Namun perubahan itu tidak berlangsung tanpa masalah.
Suatu siang, sebuah Mercedes hitam berhenti di halaman.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun turun bersama seorang perempuan berpenampilan rapi.
Adrian Wijaya.
Putra Ratih.
Begitu memasuki ruang perawatan, wajah Adrian berubah ketika melihat Dimas.
“Siapa dia?”
“Caregiver baru Ibu,” jawab Ratih.
Adrian tertawa pendek.
“Dia?”
Dimas mengenali tatapan itu.
Tatapan yang sama seperti ketika orang melihat jaket kurir dan menganggap mereka tidak memiliki kehidupan selain mengantarkan makanan.
Adrian meminta berbicara dengan Bu Rini.
Tidak sampai satu jam kemudian, Dimas dipanggil.
“Saya akan memberikan pesangon satu bulan,” kata Adrian. “Mulai besok kamu tidak perlu datang.”
“Adrian!”
Ratih membentak.
“Ibu, dia tidak punya sertifikasi medis yang memadai.”
“Dia caregiver, bukan dokter.”
“Kita bisa membayar tenaga terbaik di Jakarta.”
Ratih tertawa pahit.
“Tenaga terbaikmu sudah delapan orang keluar dalam tiga hari.”
Adrian menghela napas.
“Ibu tidak berpikir jernih. Orang seperti dia bisa memanfaatkan keadaan.”
Dimas mengepalkan tangan, tetapi memilih diam.
Ratih justru menatap putranya.
“Orang seperti dia?”
Adrian tidak menjawab.
“Ketika kamu sibuk di Singapura, orang seperti dia yang menyuapi Ibu. Orang seperti dia yang membersihkan tubuh Ibu. Orang seperti dia yang duduk di samping Ibu ketika Ibu tidak bisa tidur.”
“Ibu tahu saya bekerja.”
“Saya tahu.”
Suara Ratih melemah.
“Itulah masalahnya. Semua orang selalu punya alasan untuk pergi.”
Adrian terdiam.
Malam itu ia tetap memecat Dimas.
Dimas menerima keputusan tersebut tanpa berdebat.
Sebelum pergi, ia mendekati Ratih.
“Obat malam jam sembilan. Jangan pura-pura tidur supaya Bu Rini lupa.”
Ratih tidak tersenyum.
Matanya merah.
“Kamu benar-benar mau pergi?”
“Ini rumah keluarga Ibu.”
“Kamu pengecut.”
“Mungkin.”
Dimas membungkuk sedikit.
“Terima kasih sudah memberi saya pekerjaan.”
Ia pergi.
Tiga hari kemudian, kondisi Ratih memburuk.
Ia tidak mau makan.
Menolak fisioterapi.
Tidurnya terganggu.
Tekanan darahnya beberapa kali melonjak.
Adrian akhirnya memperpanjang kunjungannya.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia benar-benar berada di rumah bersama ibunya.
Pada malam keempat, ia mendengar Ratih menangis dari kamar.
Adrian berdiri di balik pintu.
“Ibu?”
“Pergi.”
Biasanya Adrian akan menurut.
Namun kali itu ia masuk.
Ratih menatapnya dengan mata sembap.
“Ayahmu meninggal di samping Ibu.”
Adrian membeku.
Ratih hampir tidak pernah membicarakan kecelakaan itu.
“Setelah mobil berhenti berputar, Ibu sadar. Ayahmu masih bernapas. Ibu ingin memegang tangannya.”
Suara Ratih pecah.
“Tapi tangan Ibu tidak bisa bergerak.”
Adrian menunduk.
“Selama dua tahun, setiap kali seseorang menyentuh tubuh Ibu, Ibu teringat malam itu. Ibu ingin bergerak. Ibu ingin menolong. Tapi tubuh ini tidak mau menurut.”
Air mata Adrian jatuh.
Barulah ia memahami bahwa kemarahan ibunya bukan kebencian.
Itu adalah duka yang tidak pernah mendapatkan tempat.
Keesokan paginya, Adrian pergi ke Bekasi.
Ia menemukan Dimas sedang memperbaiki motornya di depan rumah kontrakan.
Dimas terkejut.
“Saya tidak datang untuk meminta maaf,” kata Adrian.
Dimas mengangkat alis.
“Saya datang karena Ibu tidak mau makan sejak kamu pergi.”
“Itu terdengar seperti permintaan maaf yang sangat buruk.”
Untuk pertama kalinya, Adrian tertawa.
“Baik. Saya minta maaf.”
Dimas kembali ke Pondok Indah sore itu.
Begitu mendengar suaranya, Ratih memalingkan wajah.
“Kamu kembali karena dia membayarmu lebih mahal?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Bu Rini bilang Ibu sudah tiga hari tidak makan dengan benar.”
“Bukan urusanmu.”
Dimas meletakkan semangkuk bubur di meja.
“Benar. Tapi insulin ibu saya juga bukan urusan Ibu. Kita impas.”
Ratih menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa.
Tawa yang kali ini terdengar sampai ke lorong.
Bulan-bulan berikutnya mengubah banyak hal.
Adrian mulai lebih sering pulang.
Ratih kembali menjalani fisioterapi secara rutin.
Ia bahkan mulai mengikuti rapat perusahaan melalui video conference dari kursi rodanya.
Dimas menyelesaikan pelatihan caregiver profesional yang diam-diam dibayarkan Ratih.
Namun kemudian datang sebuah pagi ketika semuanya berubah.
Dimas menerima telepon dari rumah sakit.
Ibunya ditemukan tidak sadarkan diri.
Komplikasi diabetes menyebabkan Bu Sari harus dirawat intensif.
Biaya pengobatan membengkak.
Dimas berhenti bekerja sementara dan menjual motornya.
Ketika Ratih mengetahui hal itu, ia langsung meminta Adrian mengurus seluruh biaya rumah sakit.
Dimas menolak.
“Saya tidak mau menerima belas kasihan.”
Ratih menatapnya tajam.
“Siapa bilang ini belas kasihan?”
“Saya tidak mampu mengembalikannya.”
“Kamu sudah mengembalikannya.”
Dimas menggeleng.
Ratih meminta Bu Rini membuka laci meja.
Di dalamnya ada sebuah map.
Adrian menyerahkannya kepada Dimas.
Isinya dokumen pendirian sebuah yayasan baru di bawah Wijaya Medika Group.
Program itu menyediakan pelatihan caregiver gratis bagi keluarga pasien dengan disabilitas berat dan bantuan perawatan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Di halaman pertama tertulis nama program tersebut.
Pratama Care Initiative.
Dimas terdiam.
“Kenapa pakai nama saya?”
Ratih tersenyum.
“Bukan namamu.”
Dimas menatapnya bingung.
Ratih mengarahkan pandangan ke arah Bu Sari yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Nama ibumu.”
Dimas tidak mampu berkata-kata.
Ratih melanjutkan pelan.
“Perusahaan saya selama bertahun-tahun menghabiskan miliaran untuk membeli alat kesehatan. Tapi saya baru memahami satu hal setelah menjadi pasien. Teknologi bisa membantu tubuh seseorang bertahan hidup. Tetapi manusia membutuhkan manusia lain agar merasa hidup.”
Dimas menundukkan kepala.
Air matanya jatuh ke atas dokumen.
Setahun kemudian, sebuah foto terpajang di lobi utama pusat pelatihan caregiver baru milik yayasan tersebut.
Bukan foto Ratih.
Bukan foto Adrian.
Bukan pula foto Dimas.
Foto itu memperlihatkan dua tangan tua milik Bu Sari sedang menggenggam tangan Ratih.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
Kadang pintu menuju hidup yang baru terbuka justru di tempat yang paling tidak ingin kita masuki.
Pada hari peresmian, seorang wartawan bertanya kepada Ratih siapa sebenarnya Dimas Pratama.
Apakah dia karyawan?
Caregiver?
Sahabat keluarga?
Ratih memandang ke seberang ruangan.
Dimas sedang membantu seorang peserta pelatihan mempelajari cara memindahkan pasien dari ranjang ke kursi roda.
Ratih tersenyum.
“Dulu dia datang ke rumah saya sebagai kurir.”
Ia berhenti sebentar.
“Semua orang yang datang sebelum dia mencoba membuat saya bisa hidup seperti dulu. Hanya Dimas yang mengajari saya bahwa saya tetap bisa memiliki kehidupan baru.”
Dimas mendengar kalimat itu.
Ia menoleh dan tersenyum.
Ratih membalas senyumnya.
Dua tahun sebelumnya, semua orang mengira perempuan lumpuh itu membutuhkan seseorang yang cukup kuat untuk merawatnya.
Ternyata mereka salah.
Yang ia butuhkan hanyalah seseorang yang cukup sabar untuk tetap tinggal ketika seluruh dunia memilih pergi.
