Malam ketika ibu Farhan datang, hujan turun begitu deras hingga suara air menenggelamkan bunyi kendaraan di jalan depan rumah.
Arini sedang menidurkan Bima ketika terdengar ketukan keras di pintu.
Begitu pintu dibuka, Ratna, mantan ibu mertuanya, berdiri dengan pakaian basah dan wajah tegang.
“Kamu benar-benar tega membuat Farhan kehilangan segalanya?”
Arini menatap perempuan yang dahulu dipanggilnya Ibu itu dengan tidak percaya.
“Saya tidak mengambil apa pun dari Farhan. Justru dia yang mengambil semuanya dari saya.”
Ratna mendorong pintu dan masuk tanpa izin.

“Jangan pura-pura suci. Farhan bilang kamu sekarang dekat dengan orang kaya pemilik tanah ini. Kamu sengaja menunggu sampai ada laki-laki lain yang bisa membiayai hidupmu.”
Arini mengepalkan tangan.
Ia hampir membalas ketika Bima muncul dari kamar.
“Nenek?”
Ekspresi Ratna langsung berubah.
Ia berjongkok dan membuka kedua tangannya.
“Bima, ikut Nenek. Ayahmu merindukanmu.”
Bima justru bersembunyi di belakang Arini.
“Aku nggak mau.”
Wajah Ratna mengeras.
“Dia cucuku. Kamu tidak bisa menjauhkannya dari keluarga kami.”
“Saya tidak pernah menjauhkan Bima dari siapa pun. Tapi saya juga tidak akan memaksanya pergi bersama orang yang membuatnya takut.”
Ratna berdiri.
Tatapannya menyapu rumah tua itu sebelum berhenti pada pintu belakang yang mengarah ke kebun.
“Kamu akan menyesal, Arini.”
Ia pergi sambil membanting pintu.
Arini mengira ancaman itu hanya luapan emosi.
Ternyata ia salah.
Pagi berikutnya, Hendra ditemukan tergeletak di pondok kecilnya.
Arini yang mengantarkan sarapan melihat tubuh pria itu terkulai di lantai dengan napas sangat lemah.
“Pak Hendra!”
Arini segera memanggil ambulans.
Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi Hendra memburuk drastis. Penyakit yang selama ini dideritanya telah menyebabkan komplikasi serius.
Ketika Hendra sadar beberapa jam kemudian, Arini duduk di samping tempat tidurnya.
“Kenapa Bapak tidak pernah bilang kalau kondisinya separah ini?”
Hendra tersenyum tipis.
“Kalau saya bilang, kamu pasti sibuk mengurus saya.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena hidupmu sudah cukup berat.”
Arini menunduk.
Hendra lalu meraih tangannya.
“Ada sesuatu di kebun yang belum kamu temukan.”
Arini terdiam.
“Kapsul itu?”
Hendra menggeleng pelan.
“Kapsul hanya petunjuk pertama.”
Sebelum Arini sempat bertanya lebih jauh, seorang perawat masuk dan meminta Hendra beristirahat.
Arini pulang dengan pikiran penuh pertanyaan.
Sesampainya di rumah, ia menemukan Bima sedang berdiri di halaman belakang sambil memandangi tanah.
“Bima?”
Anak itu menunjuk pohon tua tempat kapsul pertama ditemukan.
“Bu, tanahnya berasap.”
Arini mendekat.
Memang ada uap tipis keluar dari sela-sela tanah.
Namun sebelum Arini sempat memeriksanya, ponselnya berdering.
Telepon dari rumah sakit.
Kondisi Hendra kembali menurun.
Arini bergegas masuk rumah untuk mengambil tas.
Ia tidak menyadari Bima mengambil cangkul kecilnya.
Anak itu ingin menemukan apa yang dimaksud Hendra.
Bima menggali di sekitar akar pohon.
Lima menit kemudian, cangkulnya membentur logam.
Bukan kapsul kecil seperti sebelumnya.
Benda itu jauh lebih besar.
Bima membersihkan tanah di sekelilingnya hingga terlihat sebuah tabung logam sepanjang hampir satu meter.
Pada permukaannya terdapat tulisan yang sudah memudar.
Laboratorium Geologi Nusantara.
Bima mencoba menarik tutupnya.
Tiba-tiba terdengar suara mendesis.
Gas berbau tajam keluar dari celah tabung.
Bima mundur sambil batuk.
Pandangan anak itu mulai kabur.
“Bu…”
Tubuhnya roboh di antara rerumputan.
Arini yang baru keluar rumah menjerit.
“Bima!”
Ia berlari dan mengangkat tubuh anaknya.
Wajah Bima pucat.
Napasnya tersengal.
Dalam kepanikan, Arini membawanya ke rumah sakit yang sama tempat Hendra dirawat.
Dokter langsung membawa Bima ke IGD.
Arini berdiri di depan pintu sambil menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, Farhan muncul.
Di belakangnya ada Ratna.
“Kamu apakan anak saya?” bentak Farhan.
Arini menatapnya dengan mata merah.
“Dia menemukan sesuatu di kebun.”
Farhan tertawa sinis.
“Sudah kubilang tempat itu tidak layak untuk anak.”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Saya akan menggunakan kejadian ini untuk mengambil hak asuh Bima.”
Arini menatapnya tak percaya.
“Anakmu sedang berjuang di dalam, dan yang kamu pikirkan cuma hak asuh?”
Farhan terdiam sejenak, tetapi kemudian berkata dingin, “Setidaknya dia akan aman bersama saya.”
Tiba-tiba suara lemah terdengar dari belakang.
“Belum tentu.”
Hendra berdiri di lorong dengan kursi roda didorong seorang perawat.
Farhan menoleh.
Hendra memandangnya tanpa ekspresi.
“Saya tahu apa yang ditemukan Bima.”
Semua terdiam.
Hendra meminta dokter memeriksa benda yang dibawa dari kebun.
Beberapa jam kemudian, tim dari sebuah universitas datang bersama petugas lingkungan.
Mereka memeriksa tabung tersebut.
Hasilnya mengejutkan.
Tabung itu bukan limbah beracun.
Gas yang keluar memang menyebabkan reaksi sesak sementara akibat konsentrasi mineral tertentu yang tersimpan puluhan tahun di ruang tertutup, tetapi dokter memastikan Bima tidak mengalami kerusakan permanen.
Yang lebih mengejutkan justru isi tabung.
Di dalamnya tersimpan sampel batuan, catatan penelitian, dan peta lapisan tanah.
Hendra akhirnya menceritakan semuanya.
Tiga puluh tahun sebelumnya, ayah Hendra adalah seorang ahli geologi.
Ia menemukan bahwa tanah di kawasan tersebut memiliki mata air mineral alami yang sangat langka.
Namun penelitiannya dihentikan setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.
Sebelum meninggal, ayah Hendra menyimpan seluruh hasil penelitian dalam tabung logam di kebun.
Hendra baru mengetahui keberadaan tabung itu dari surat lama yang ditemukan beberapa bulan sebelumnya.
“Itulah alasan saya tidak menjual tanah ini,” kata Hendra.
Arini memandangnya.
“Jadi air sumur…”
Hendra mengangguk.
“Berasal dari lapisan mineral yang sama.”
Penelitian lebih lanjut dilakukan.
Beberapa minggu kemudian, hasil laboratorium keluar.
Air tanah tersebut memiliki komposisi mineral yang unik dan aman dikonsumsi setelah melalui pengolahan sesuai standar.
Nilai tanah itu melonjak drastis.
Sebuah perusahaan air mineral bahkan mengajukan kerja sama penelitian dan pengembangan sumber air secara resmi.
Ketika berita mengenai tanah itu mulai tersebar, Farhan kembali datang.
Kali ini ia membawa pengacara.
“Tanah ini bisa bernilai puluhan miliar,” katanya kepada Arini.
Arini menatapnya dingin.
“Lalu?”
Farhan tersenyum.
“Kita bisa berdamai. Saya batalkan tuntutan hak asuh. Kamu beri saya bagian dari bisnis ini.”
Arini hampir tertawa.
“Kamu bahkan tidak punya hubungan dengan tanah ini.”
“Saya ayah Bima.”
“Jangan gunakan Bima sebagai tiket untuk mendapatkan uang.”
Farhan kehilangan kesabaran.
Ia menunjuk Hendra.
“Dan kamu pikir laki-laki ini tulus? Tidak ada orang kaya memberikan rumah kepada perempuan asing tanpa alasan.”
Kalimat itu membuat Arini terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya, pertanyaan yang sama memang pernah muncul.
Mengapa Hendra memilihnya?
Mengapa ada lukisan dirinya bahkan sebelum ia mengenal pria itu?
Hendra menatap Farhan.
“Keluar.”
Farhan tertawa.
“Sebelum saya pergi, mungkin Arini sebaiknya tahu siapa sebenarnya Anda.”
Ia mengeluarkan sebuah dokumen.
Arini mengambilnya.
Itu laporan perusahaan lama milik Hendra.
Nama salah satu komisaris membuat jantung Arini seakan berhenti.
Surya Pratama.
Nama ayah Arini.
Arini menoleh kepada Hendra.
“Bapak kenal ayah saya?”
Wajah Hendra berubah.
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat benar-benar takut.
Farhan tersenyum puas.
“Silakan kalian selesaikan rahasia keluarga ini.”
Ia pergi.
Arini menatap Hendra.
“Jawab saya.”
Hendra menutup mata beberapa detik.
“Ayahmu adalah orang yang menyelamatkan hidup saya.”
Arini membeku.
Hendra mulai bercerita.
Dua puluh dua tahun sebelumnya, perusahaan keluarganya hampir bangkrut akibat penggelapan dana.
Ayah Arini, Surya, adalah akuntan yang menemukan kecurangan tersebut.
Surya memiliki kesempatan membawa bukti itu dan menjualnya kepada pesaing.
Namun ia memilih menyerahkannya kepada keluarga Hendra.
Perusahaan selamat.
Beberapa bulan kemudian, Surya meninggal karena kecelakaan.
“Sejak saat itu saya mencari keluarganya,” ujar Hendra.
“Tapi kamu dan ibumu pindah. Saya kehilangan jejak.”
Arini merasa dadanya sesak.
“Lalu lukisan-lukisan itu?”
Hendra tersenyum pahit.
“Saya melukis sejak muda. Saat melihatmu di depan pengadilan, saya merasa wajahmu familiar. Setelah agen menyerahkan salinan identitas penyewa, saya melihat nama ayahmu.”
“Jadi Bapak tahu siapa saya sejak awal?”
Hendra mengangguk.
“Ya.”
Air mata Arini jatuh.
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena saya tidak ingin kebaikan yang saya berikan terasa seperti pembayaran utang.”
Arini tidak mampu menjawab.
Beberapa hari kemudian, Bima diperbolehkan pulang.
Anak itu langsung meminta menemui Hendra.
Namun ketika mereka sampai di kamar rawat, tempat tidur Hendra kosong.
Arini panik.
Seorang dokter menghampirinya.
“Pak Hendra dipindahkan ke ruang intensif tadi malam.”
Kondisinya memburuk.
Malam itu, Hendra meminta bertemu Arini dan Bima.
Bima memegang tangan pria itu.
“Om Hendra harus sembuh. Rumah burung kita belum selesai.”
Hendra tersenyum lemah.
“Kalau Om tidak sempat, Bima yang selesaikan.”
“Enggak. Harus bareng.”
Hendra menoleh kepada Arini.
“Di studio ada satu amplop putih.”
Arini menggeleng.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Dengarkan dulu.”
Hendra menarik napas.
“Saya sudah mengurus semuanya secara hukum. Rumah dan tanah itu akan masuk ke sebuah yayasan. Kamu menjadi pengelolanya.”
“Yayasan?”
“Untuk membantu ibu dan anak yang kehilangan tempat tinggal setelah perceraian atau kekerasan dalam keluarga.”
Arini terdiam.
Hendra tersenyum.
“Saya tidak ingin tanah itu membuat orang berebut uang. Saya ingin tanah itu memberi orang kesempatan kedua.”
Air mata Arini mengalir.
Tiga hari kemudian, Hendra meninggal dunia.
Bima menangis paling keras.
Farhan tidak datang ke pemakaman.
Beberapa bulan berlalu.
Kerja sama pengelolaan sumber air akhirnya berjalan.
Sebagian keuntungan digunakan untuk membangun rumah singgah dan pusat keterampilan bagi perempuan.
Arini kembali mengajar piano.
Namun kali ini, ruang musiknya berada di rumah yang dahulu hampir roboh itu.
Bima menyelesaikan rumah burung bersama seorang tukang.
Ia menggantungnya di pohon tua tempat kapsul pertama ditemukan.
Suatu sore, ketika membersihkan studio Hendra, Arini menemukan amplop putih yang disebut Hendra.
Di dalamnya ada satu surat dan sebuah foto lama.
Arini membuka foto itu.
Tangannya langsung gemetar.
Foto tersebut memperlihatkan ayahnya berdiri di samping seorang Hendra muda.
Di belakang mereka terdapat pohon tua yang sama.
Namun ada satu orang lagi dalam foto.
Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.
Arini mengenali perempuan itu.
Ibunya.
Di balik foto terdapat tulisan tangan ayahnya.
Jika suatu hari aku tidak ada, jagalah Arini bila takdir mempertemukan kalian lagi.
Arini menutup mulut.
Air matanya jatuh ke foto.
Ternyata Hendra tidak pernah memilihnya karena kasihan.
Pertemuan mereka bukan dimulai di depan pengadilan.
Janji itu telah dibuat jauh sebelum Arini cukup dewasa untuk mengingatnya.
Bima masuk ke studio.
“Ibu kenapa nangis?”
Arini segera memeluk anaknya.
“Karena ternyata ada orang yang menepati janji selama lebih dari dua puluh tahun.”
Bima memandang foto itu.
“Om Hendra?”
Arini mengangguk.
Dari luar terdengar suara burung hinggap di rumah kecil buatan Bima dan Hendra.
Arini berjalan menuju jendela.
Untuk pertama kalinya sejak hari Farhan mengambil rumah, mobil, tabungan, dan hampir seluruh rasa percaya dirinya, Arini tidak lagi merasa kehilangan.
Ia akhirnya mengerti bahwa harta terbesar yang diwariskan Hendra bukan tanah bernilai puluhan miliar, bukan sumber air mineral, dan bukan rumah tua itu.
Melainkan sebuah kesempatan untuk membangun kehidupan tanpa rasa takut.
Setahun kemudian, Farhan kembali mengajukan permohonan untuk bertemu Bima.
Kali ini ia datang sendirian.
Tidak ada pengacara.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tuntutan uang.
Arini membiarkan keputusan itu berada di tangan Bima.
Bima memilih bertemu ayahnya di taman selama satu jam.
Arini menunggu dari kejauhan.
Ia tidak tahu apakah Farhan benar-benar berubah.
Namun ia juga tidak lagi membutuhkan jawabannya.
Saat pulang, Bima menggenggam tangan ibunya.
“Bu, aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Waktu Ayah mengambil rumah kita, aku kira kita kehilangan semuanya.”
Arini tersenyum.
“Sekarang?”
Bima menoleh ke arah rumah tua yang terlihat di kejauhan.
Di halamannya, beberapa perempuan sedang belajar menjahit, dua anak sedang bermain, dan dari ruang musik terdengar suara piano.
“Sekarang aku tahu kita cuma pindah ke tempat di mana hidup kita yang sebenarnya dimulai.”
Arini memeluk bahu anaknya.
Di bawah pohon tua, tanah masih terasa hangat seperti hari pertama mereka datang.
Namun kini Arini tidak lagi menganggapnya aneh.
Ada hal-hal yang terkubur di dalam kehidupan bukan untuk disembunyikan selamanya.
Kadang-kadang, sesuatu harus hilang lebih dulu agar manusia berani menggali lebih dalam dan menemukan apa yang sebenarnya telah menunggunya selama ini.
