SAYA MENEMUKAN TUNANGAN SAYA MENGAGETKAN PELAYAN KAMI YANG PINGSAN DENGAN BEKAS LUKA DI DAHI! SAYA MEMANGGIL AMBULANS DAN MENYIMPAN KUNCI KUNINGAN RAHASIA!

Pukul 03.47 dini hari, Arya Wijaya berdiri membeku di samping ranjang Bi Siti ketika suara Hendra terdengar dari ponselnya.

“Pria ini mengaku bernama Rendy Wijaya.”

Untuk beberapa detik, Arya merasa seluruh suara di Rumah Sakit Medistra menghilang. Bunyi monitor, langkah perawat, bahkan dengung pendingin ruangan seolah menjauh.

“Apa katamu?”

“Dia bilang dia adik Bapak. Wajahnya memang… mirip sekali dengan foto Pak Rendy yang ada di ruang kerja almarhum.”

Arya menoleh kepada Bi Siti.

Perempuan itu sudah menangis.

“Jangan biarkan siapa pun menyentuh dia,” kata Arya akhirnya. “Kunci ruang kerja. Jangan telepon keluarga. Saya pulang sekarang.”

“Mas Arya.”

Bi Siti memanggilnya sebelum ia mencapai pintu.

Arya berhenti.

“Kunci ini.”

Bi Siti menyodorkan kunci kuningan kecil yang tadi dikeluarkannya.

“Jangan berikan kepada siapa pun. Bahkan kalau orang itu mengaku sebagai Mas Rendy.”

Arya menatapnya heran.

“Kenapa?”

“Karena saya sendiri belum tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan Arya kembali ke Pondok Indah.

Langit Jakarta masih gelap ketika mobilnya memasuki halaman rumah. Dua petugas keamanan berjaga di depan ruang kerja mendiang ayahnya.

Hendra segera menghampiri.

“Dia di dalam.”

Arya membuka pintu.

Seorang pria berdiri membelakanginya di dekat rak buku.

Tubuhnya lebih kurus dibandingkan enam tahun lalu. Rambutnya sedikit panjang dan ada bekas luka di sisi kanan lehernya.

Namun ketika pria itu berbalik, napas Arya tercekat.

Mata itu.

Arya mengenal mata itu sejak mereka masih anak-anak.

“Mas.”

Hanya satu kata.

Tetapi suara itu cukup membuat pertahanan Arya runtuh.

“Rendy?”

Pria itu tersenyum getir.

“Aku pikir setelah enam tahun, kamu sudah lupa wajah adikmu.”

Arya berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah di depannya.

“Aku menghadiri pemakamanmu.”

“Aku tahu.”

“Ibu meninggal karena tidak pernah pulih setelah kehilanganmu.”

Senyum Rendy lenyap.

“Aku juga tahu.”

Arya menghantam wajahnya.

Rendy jatuh menabrak meja.

Hendra hendak masuk, tetapi Arya mengangkat tangan.

“Keluar.”

Pintu tertutup kembali.

Rendy menyeka darah di sudut bibirnya.

“Aku pantas menerima itu.”

“Enam tahun, Rendy! Enam tahun kami mengira kamu mati!”

“Aku tidak punya pilihan.”

“Selalu ada pilihan!”

“Kalau aku pulang, kalian semua bisa mati!”

Arya terdiam.

Rendy menarik napas panjang.

“Enam tahun lalu aku menemukan pembayaran fiktif dari Wijaya Group ke tujuh perusahaan cangkang. Totalnya hampir delapan puluh enam miliar rupiah. Semua transaksi memakai otorisasi elektronikmu.”

“Aku tidak pernah mengotorisasi transaksi sebesar itu.”

“Aku tahu.”

Rendy berjalan menuju rak buku dan mengambil sebuah foto keluarga lama.

“Aku awalnya mengira ada orang bagian keuangan yang mencuri spesimen tanda tanganmu. Tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang lebih buruk. Mereka tidak sekadar mencuri uang perusahaan. Mereka sedang mengalihkan kepemilikan.”

“Siapa mereka?”

Rendy menatapnya.

“Aku belum bisa menyebut nama sebelum kita membuka tempat yang dikunci dengan kunci yang dibawa Siti.”

Jantung Arya berdegup lebih cepat.

“Kenapa Bi Siti memiliki kuncinya?”

“Karena dia satu-satunya orang yang tidak pernah diperhitungkan keluarga kita.”

Rendy tertawa pahit.

“Orang kaya selalu punya kelemahan yang sama, Mas. Mereka mengira orang yang menyajikan kopi tidak mendengar percakapan mereka.”

Arya mengeluarkan kunci kuningan dari sakunya.

Mata Rendy langsung berubah.

“Jadi Siti berhasil menemukannya.”

“Menemukan apa?”

“Sesuatu yang Ayah sembunyikan sebelum meninggal.”

Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka.

Maya berdiri di sana.

Gaun hijau tuanya telah berganti dengan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya masih berantakan.

Matanya langsung tertuju kepada Rendy.

“Astaga.”

Rendy menatapnya dingin.

“Sudah lama, Maya.”

Arya perlahan menoleh.

“Kalian saling kenal?”

Maya tidak menjawab.

Rendy justru tertawa kecil.

“Bukan cuma kenal.”

“Diam!” bentak Maya.

“Apa maksudnya?” desak Arya.

Maya memandang tunangannya.

“Arya, dengarkan aku. Orang ini berbahaya. Dia memalsukan kematiannya sendiri, meninggalkan keluarganya, lalu tiba-tiba muncul tiga minggu sebelum pernikahan kita. Kamu tidak merasa aneh?”

“Jawab pertanyaanku. Kamu mengenal Rendy sejak kapan?”

Maya menelan ludah.

“Sejak sebelum aku mengenalmu.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Rendy meletakkan foto keluarga itu.

“Enam tahun lalu Maya bekerja sebagai staf junior di kantor konsultan hukum yang menangani restrukturisasi Wijaya Group.”

Arya menatap Maya.

“Kamu bilang kita pertama kali bertemu lima tahun lalu dan sebelumnya kamu bekerja di Singapura.”

“Aku memang pernah bekerja di Singapura.”

“Setelah bekerja untuk Wijaya Group,” sahut Rendy.

“Cukup!”

Maya berteriak.

Untuk pertama kalinya, Arya melihat sesuatu di balik wajah perempuan yang hendak dinikahinya.

Bukan ketakutan.

Kebencian.

Maya menatap Rendy seolah enam tahun kemarahan meledak sekaligus.

“Kamu menghancurkan hidup semua orang lalu sekarang datang seperti pahlawan?”

“Aku pergi karena seseorang mencoba membunuhku.”

“Tidak ada yang mencoba membunuhmu!”

Rendy membuka kerah kemejanya.

Bekas luka panjang terlihat dari leher menuju bahu.

“Kapal itu tidak meledak karena kecelakaan.”

Maya terdiam.

Arya menggenggam kunci kuningan semakin erat.

“Cukup. Kita buka apa pun yang dikunci benda ini.”

Rendy menunjuk cermin antik di lorong.

Mereka bertiga berjalan ke sana.

Cermin yang retak itu sudah bergeser sedikit akibat kejadian sebelumnya. Rendy meraba bagian belakang bingkai kayunya lalu menekan ukiran kecil berbentuk bunga.

Terdengar bunyi klik.

Sebuah panel tipis terbuka.

Di baliknya terdapat lubang kunci.

Arya memasukkan kunci kuningan.

Sekali putar.

Bagian dinding di samping cermin bergeser beberapa sentimeter.

Maya mundur.

Di dalamnya terdapat ruang sempit yang bahkan Arya tidak pernah tahu keberadaannya.

Ada brankas kecil, beberapa map dokumen, hard disk, dan sebuah kotak kayu.

Rendy mengambil map pertama.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya ada akta kelahiran.

Nama anak: Rian Pratama.

Nama ibu: Siti Rahmawati.

Nama ayah: Rendy Wijaya.

Arya menatap adiknya.

“Jadi Rian benar-benar anakmu?”

Rendy mengangguk.

“Siti dan aku menikah secara agama tujuh tahun lalu.”

Arya hampir tidak percaya.

“Kenapa keluarga tidak tahu?”

“Karena Ayah menolak hubungan kami. Menurutnya Siti tidak cocok menjadi bagian keluarga Wijaya.”

Rendy menunduk.

“Ketika dia hamil, aku berniat keluar dari perusahaan. Tepat saat itulah aku menemukan penggelapan dana.”

Maya tiba-tiba mengambil satu langkah ke belakang.

Arya melihatnya.

“Mau ke mana?”

“Aku tidak tahan berada di sini.”

“Kamu belum boleh pergi.”

“Arya, kamu menahanku?”

“Bi Siti ditemukan tidak sadar dengan dua jari patah saat bersamamu.”

“Aku sudah bilang dia menyerangku!”

“Kalau begitu polisi yang akan menentukan.”

Wajah Maya menegang.

Rendy membuka map kedua.

Ada lembaran transaksi, surat kuasa, dan salinan korespondensi.

Lalu ia berhenti.

“Aneh.”

“Apa?”

“Dokumen utamanya tidak ada.”

“Dokumen apa?”

“Daftar penerima akhir uang itu.”

Tiba-tiba seluruh lampu rumah padam.

Gelap total.

Terdengar suara Maya berteriak.

Kemudian bunyi benda jatuh.

“Hendra!” teriak Arya.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian lampu darurat menyala redup.

Maya sudah tidak ada.

Pintu depan terbuka.

Arya berlari keluar, tetapi mobil Maya telah melesat meninggalkan gerbang.

“Biarkan,” kata Rendy dari belakang. “Kalau dia memang terlibat, kita justru perlu tahu dia akan menemui siapa.”

Arya menoleh.

“Kamu sudah merencanakan ini?”

“Aku belajar enam tahun untuk berhenti bertindak terburu-buru.”

Mereka memeriksa CCTV.

Anehnya, sistem keamanan mati tepat dua menit sebelum listrik padam.

Hanya satu kamera independen di garasi yang masih merekam.

Mobil Maya terlihat keluar.

Namun beberapa detik sebelumnya, ada sebuah SUV hitam yang sudah menunggunya di seberang jalan.

Arya memperbesar rekaman.

Nomor pelat tidak terlihat.

Tetapi Rendy langsung mengenali mobil itu.

“Mobil operasional lama kantor pusat.”

Arya memandangnya.

“Siapa yang biasa memakainya?”

Rendy tidak menjawab.

Ponsel Arya tiba-tiba berbunyi.

Bi Siti.

“Mas Arya…”

Suaranya terdengar panik.

“Bi?”

“Ada orang masuk ke kamar saya.”

Arya berdiri.

“Tekan tombol panggil perawat!”

Terdengar suara benturan.

Sambungan terputus.

Arya dan Rendy langsung berlari menuju mobil.

Ketika mereka tiba di rumah sakit sekitar dua puluh menit kemudian, lorong lantai tiga dipenuhi petugas keamanan.

Bi Siti masih berada di kamar.

Selamat.

Seorang laki-laki berpakaian seperti petugas kebersihan ditangkap ketika mencoba mengambil ponselnya.

Yang mengejutkan, lelaki itu bukan orang asing.

“Pak Surya?”

Arya mengenalinya sebagai sopir pribadi pamannya, Bambang Wijaya, Komisaris Utama Wijaya Group.

Surya menolak bicara.

Namun di sakunya ditemukan ponsel kedua.

Pesan terakhir hanya berisi dua kalimat.

Ambil ponselnya.

Pastikan dia tidak bicara tentang anak itu.

Nomor pengirim tidak tersimpan.

Polisi mulai dilibatkan.

Pagi itu, Arya meminta seluruh rapat perusahaan dibatalkan.

Tidak ada lagi pernikahan yang ia pikirkan.

Tidak ada gala.

Tidak ada reputasi keluarga.

Yang ada hanya satu pertanyaan.

Siapa yang selama enam tahun berusaha menghapus Rendy dan Rian?

Menjelang siang, polisi berhasil menemukan Maya di sebuah apartemen kawasan Kuningan.

Ia tidak melarikan diri ke luar kota.

Ia justru sedang menunggu Arya.

“Aku akan bicara hanya denganmu,” katanya.

Arya duduk di hadapannya dengan dua penyidik menunggu di ruangan sebelah.

Maya tampak lelah.

“Aku memang bekerja untuk konsultan hukum Wijaya Group,” katanya. “Aku juga tahu Rendy menemukan penggelapan itu.”

“Apakah kamu menyerang Bi Siti?”

Maya menggeleng.

“Siti menyerangku lebih dulu karena mengira aku hendak mengambil dokumen. Kami berebut. Dia jatuh mengenai cermin. Aku panik.”

“Kenapa kamu menyeretnya?”

“Aku ingin membawanya menjauh dari cermin sebelum seseorang menemukan ruang rahasia.”

Arya mengernyit.

“Kamu melindungi ruang itu?”

Maya menatapnya.

“Aku melindungi kamu.”

“Dari siapa?”

Maya mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari dalam tasnya.

“Dari orang yang selama ini kamu percaya.”

Flashdisk itu berisi rekaman suara.

Suara pertama milik mendiang ayah Arya.

Suara kedua membuat darah Arya seakan berhenti mengalir.

Suara ibunya.

Dalam rekaman enam tahun lalu, kedua orang tua mereka sedang bertengkar.

“Kamu tidak bisa terus menggunakan tanda tangan Arya,” suara ibunya terdengar gemetar.

“Aku melakukannya untuk keluarga.”

“Delapan puluh enam miliar bukan untuk keluarga!”

Arya mematikan rekaman.

Tangannya gemetar.

“Tidak.”

Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Orang yang menguras dana perusahaan bukan Bambang. Bukan aku. Bahkan bukan Rendy.”

Arya menatap layar.

“Ayah?”

Maya mengangguk.

“Ayahmu memindahkan uang karena Wijaya Group sebenarnya sudah berada di ambang gagal bayar. Dia membuat perusahaan cangkang untuk menyembunyikan kerugian dan menggunakan tanda tanganmu supaya jika semuanya terbongkar, secara hukum kamulah yang pertama jatuh.”

Arya merasa mual.

“Lalu Ibu?”

“Ibumu mengetahuinya. Dia meminta Rendy mengumpulkan bukti.”

Arya membeku.

“Jadi Ibu tahu Rendy masih hidup?”

“Ya.”

Kata itu lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun.

Maya melanjutkan.

“Kecelakaan kapal Rendy memang direncanakan, tetapi bukan untuk membunuhnya. Ibumu yang membantu memalsukan kematiannya agar dia bisa membawa bukti keluar dari Indonesia.”

Arya berdiri.

“Rendy mengatakan seseorang mencoba membunuhnya.”

“Karena setelah rencana itu dijalankan, seseorang benar-benar memasang bahan bakar tambahan dan membuat ledakannya jauh lebih besar dari yang direncanakan.”

“Siapa?”

Maya menggeleng.

“Itulah yang belum pernah kami temukan.”

Sore harinya, Arya kembali menemui Rendy.

Ia membawa flashdisk tersebut.

Setelah mendengarkan rekaman, wajah Rendy berubah.

“Ibu tidak pernah mengatakan Ayah memakai tanda tanganmu.”

“Kamu tahu Ibu membantu pelarianmu?”

Rendy mengangguk perlahan.

Arya tertawa hambar.

“Semua orang melindungiku dengan cara berbohong kepadaku.”

Rendy tidak membela diri.

“Maaf.”

Saat itulah Bi Siti masuk dengan kursi roda didorong perawat.

Di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki kecil.

Rian.

Arya menatap wajah anak itu.

Ada sesuatu yang sangat familier pada garis rahangnya.

Rendy berlutut dan memeluk putranya erat.

Untuk sesaat, seluruh misteri perusahaan terasa tidak berarti dibandingkan seorang ayah yang akhirnya bisa memeluk anaknya tanpa bersembunyi.

Namun Rian kemudian berjalan menuju Arya.

“Om Arya?”

Arya tersenyum.

“Iya.”

Anak itu mengeluarkan amplop lusuh dari tas kecilnya.

“Nenek dulu kasih ini ke Mama. Katanya kalau Om Rendy pulang, harus diberikan ke Om Arya.”

Arya membuka amplop tersebut.

Tulisan tangan ibunya memenuhi dua lembar kertas.

Di halaman terakhir hanya ada satu kalimat yang digarisbawahi.

Arya, jangan percaya cerita tentang saham sebelum kamu membaca hasil pemeriksaan DNA yang kusimpan bersama surat ini.

Semua orang membeku.

Di dalam amplop terdapat hasil pemeriksaan laboratorium lama.

Arya membacanya dua kali.

Kemudian tiga kali.

Nama Rian tercantum jelas.

Tetapi pada kolom hubungan biologis, nama ayahnya bukan Rendy Wijaya.

Arya mengangkat kepala.

Bi Siti menangis.

Rendy berdiri perlahan.

“Sit?”

Perempuan itu menutup wajahnya.

“Aku minta maaf.”

Arya kembali membaca nama yang tercantum pada laporan tersebut.

Bambang Wijaya.

Pamannya sendiri.

Rendy mundur seolah baru ditampar.

“Tidak mungkin.”

Bi Siti terisak.

“Pak Bambang memaksa saya bertahun-tahun lalu. Saya takut. Ketika saya hamil, Mas Rendy memilih mengakui Rian sebagai anaknya agar saya tidak dihancurkan keluarga.”

Arya akhirnya memahami semuanya.

Hak 31% saham itu bukan sekadar warisan.

Itulah alasan seseorang ingin Rian tidak pernah muncul.

Jika hasil DNA terbuka, bukan hanya klaim saham Rendy yang runtuh. Rahasia terbesar Bambang juga akan terbongkar.

Saat polisi memeriksa kembali ponsel Surya, nomor pengirim akhirnya terlacak.

Bambang Wijaya ditangkap malam itu di Bandara Soekarno-Hatta ketika mencoba terbang ke Singapura.

Penyelidikan berikutnya mengungkap bahwa Bambanglah yang mengetahui rencana pemalsuan kecelakaan Rendy enam tahun sebelumnya dan mengubahnya menjadi percobaan pembunuhan sungguhan. Ia juga memanfaatkan kekacauan keuangan yang dibuat ayah Arya untuk mengalihkan sebagian dana ke rekening miliknya sendiri.

Pernikahan Arya dan Maya dibatalkan.

Bukan karena Maya terbukti menjadi dalang, melainkan karena keduanya sadar hubungan yang dibangun di atas terlalu banyak rahasia tidak mungkin dilanjutkan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Rendy memilih tidak menuntut saham atas nama Rian.

Sebaliknya, ia menyerahkan seluruh dokumen kepada penyidik dan kembali ke Jakarta secara resmi setelah enam tahun hidup dalam bayang-bayang.

Beberapa bulan kemudian, Arya berdiri di depan cermin antik yang telah diperbaiki.

Bekas retaknya masih terlihat samar.

Ia sengaja meminta pengrajin tidak menghilangkannya.

Bi Siti pernah bertanya mengapa.

Arya hanya tersenyum.

“Supaya saya ingat bahwa sesuatu yang terlihat sempurna dari luar bisa menyimpan retakan bertahun-tahun.”

Di halaman belakang, Rian sedang tertawa bersama Rendy.

Untuk pertama kalinya rumah besar keluarga Wijaya tidak terasa seperti museum yang penuh rahasia.

Arya memegang kunci kuningan kecil itu sekali lagi sebelum memasukkannya ke sebuah kotak.

Selama bertahun-tahun keluarganya mengira kekayaan terbesar mereka adalah saham, perusahaan, dan nama Wijaya.

Ternyata mereka keliru.

Yang hampir menghancurkan keluarga itu bukan hilangnya delapan puluh enam miliar rupiah.

Melainkan kebiasaan menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan nama baik.

Dan pada akhirnya, sebuah kunci kecil yang disimpan oleh perempuan yang selama bertahun-tahun mereka anggap hanya sebagai pembantu rumah tangga justru membuka satu-satunya pintu yang selama ini tidak pernah berani mereka buka.

Pintu menuju kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang