EMPAT BULAN SETELAH AKU MENARIK SUAMIKU KELUAR DARI RUMAH YANG TERBAKAR, AKU PULANG DARI OPERASI TUJUH JAM DENGAN WAJAH TERBALUT PERBAN—MALAM ITU IA MENYERET KOPER KE PINTU DAN BERKATA, “TELEPON ORANG TUAMU, AKU HARUS PERGI,” TANPA TAHU AKU AKAN BERHENTI MENUNGGUNYA SELAMANYA

Aku tidak pernah membayangkan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal akan membuat rasa sakit bekas luka bakarku terasa seperti bukan apa-apa.

“Ibu yakin tidak pernah menandatangani dokumen itu?” tanya perempuan di seberang telepon.

Aku menelan ludah. “Saya yakin.”

“Kalau begitu, Bu Nadira, sebaiknya Ibu jangan menghubungi Pak Arga dulu. Saya dari bagian klaim perusahaan asuransi yang menangani polis terkait rumah dan perlindungan keluarga Ibu. Ada beberapa hal yang perlu diverifikasi.”

Aku menatap Bapak. Wajahnya langsung berubah serius.

“Berapa nilai pencairannya?” tanyaku.

Perempuan itu terdiam sebentar.

“Total pengajuan hampir dua miliar rupiah.”

Aku merasa lututku melemas.

Ibu segera memegang pinggangku sebelum aku jatuh.

“Hampir dua miliar?”

“Sebagian merupakan manfaat kerusakan properti, sebagian lagi berasal dari perlindungan tambahan yang didaftarkan sebelum kebakaran. Yang menjadi masalah, ada permohonan perubahan rekening penerima dan beberapa dokumen persetujuan atas nama Ibu.”

Aku memejamkan mata.

Selama empat bulan aku mengira perubahan Arga terjadi karena wajahku.

Aku mengira ia jijik melihat bekas luka.

Aku mengira perempuan lain telah mengambil tempatku.

Ternyata mungkin ada sesuatu yang jauh lebih buruk.

“Besok saya datang,” kataku.

Malam itu aku pulang ke rumah orang tuaku.

Bapak mengambil ponsel kedua Arga dan menyimpannya tanpa membuka apa pun lagi.

“Jangan hapus pesan. Jangan balas siapa pun,” katanya.

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidur di kamar masa kecilku.

Ibu mengganti sarung bantal dengan yang lebih lembut agar perbanku tidak bergesekan. Bapak meletakkan air minum dan obat di meja kecil.

Hal-hal sederhana itu justru membuat dadaku sesak.

Selama ini aku meminta begitu sedikit dari Arga sampai perhatian paling dasar terasa seperti kemewahan.

Keesokan paginya, Bapak mengantarku menemui pihak asuransi.

Seorang perempuan bernama Ratri sudah menunggu.

Begitu melihatku, ekspresinya berubah.

“Bu Nadira?”

“Iya.”

Sepertinya baru saat itu ia memahami siapa perempuan yang namanya selama berminggu-minggu hanya dilihatnya di atas dokumen.

Kami masuk ke ruang rapat kecil.

Ratri meletakkan beberapa salinan berkas di hadapanku.

Aku melihat namaku.

Nomor identitasku.

Alamat rumah.

Dan tanda tangan yang bentuknya sangat mirip dengan tanda tanganku.

Tapi itu bukan milikku.

“Ada yang lebih aneh,” kata Ratri.

Ia membuka halaman berikutnya.

“Perubahan penerima manfaat diajukan sebelas hari sebelum kebakaran.”

Aku mengangkat kepala.

“Sebelum?”

“Iya.”

Ruangan mendadak terasa terlalu dingin.

Bapak yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, “Maksudnya polis itu diubah sebelum rumah mereka terbakar?”

Ratri mengangguk.

“Rekening pencairan utama dialihkan ke rekening yang terhubung dengan perusahaan milik Pak Arga.”

Aku tidak langsung memahami maknanya.

Lalu sebuah ingatan muncul.

Dua minggu sebelum kebakaran, Arga pernah memintaku mengirim foto KTP.

Katanya untuk memperbarui dokumen kontrakan.

Aku memberikannya tanpa curiga.

“Apakah tanda tangan digital bisa dibuat tanpa kehadiran saya?”

“Secara prosedural seharusnya tidak.”

“Seharusnya?”

Ratri menarik napas.

“Itulah alasan kami menahan pencairannya.”

Aku menatap lembaran itu lama.

Lalu aku teringat sesuatu lagi.

Malam sebelum kebakaran, Arga pulang hampir pukul satu.

Katanya bertemu klien.

Ketika aku bertanya kenapa bajunya berbau bensin, ia menjawab mobil salah satu rekannya mogok.

Saat itu aku percaya.

Sekarang bulu kudukku berdiri.

“Bu Ratri,” kataku perlahan, “penyebab kebakaran rumah kami apa?”

“Menurut laporan awal yang kami terima, dugaan korsleting listrik.”

“Dugaan?”

“Investigasinya belum sepenuhnya ditutup karena ada beberapa ketidaksesuaian.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Aku takut jawabannya akan menghancurkan sisa hidup yang masih kukenal.

Keluar dari gedung itu, aku duduk di mobil tanpa bicara.

Bapak tidak menyalakan mesin.

“Dir.”

Aku menatap jendela.

“Kalau ternyata dia…”

Suaraku patah.

Bapak tidak menyelesaikan kalimatku.

“Jangan membuat kesimpulan sebelum ada bukti.”

Aku mengangguk.

Namun dalam hati, sebuah pintu sudah terbuka.

Dan di baliknya ada terlalu banyak hal yang selama ini sengaja tidak kulihat.

Arga baru menelepon malam harinya.

“Kamu di mana?”

Nada suaranya terdengar kesal.

“Rumah orang tuaku.”

“Kenapa nggak bilang?”

Aku hampir tertawa.

“Kamu sendiri yang menyuruhku menelepon mereka.”

Ia diam.

Lalu bertanya, “Kamu lihat HP hitamku?”

Aku menatap Bapak yang duduk di seberang meja.

“Nggak tahu.”

Untuk pertama kalinya selama menikah, aku berbohong kepada Arga tanpa merasa bersalah.

“Nadira, coba cari. Penting.”

“Bukannya kamu di Bandung?”

“Iya.”

“Klien apa?”

“Apa maksud kamu?”

“Nama kliennya.”

Hening.

“Kamu kenapa sih?”

Aku tersenyum pahit.

Kalimat itu lagi.

Setiap kali pertanyaanku mendekati sesuatu yang tidak ingin ia jawab, masalahnya selalu dikembalikan kepadaku.

“Aku capek, Ga.”

“Ya sudah. Istirahat.”

Ia menutup telepon.

Tiga hari kemudian, aku mendapat kabar dari penyidik asuransi.

Rekaman kamera keamanan sebuah minimarket di dekat rumah kami masih tersimpan.

Pada pukul 00.47 malam sebelum kebakaran, sebuah mobil yang identik dengan mobil Arga terlihat berhenti.

Seseorang turun membeli dua botol air mineral, korek api, dan sebuah jeriken kecil bahan bakar untuk keadaan darurat.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Namun pakaian dan jam tangannya menyerupai milik Arga.

Aku muntah setelah mendengar kabar itu.

Bukan karena aku sudah yakin Arga membakar rumah.

Tetapi karena untuk pertama kalinya kemungkinan itu terasa nyata.

Aku menyeretnya keluar dari api.

Aku melindungi kepalanya dengan tubuhku.

Aku kehilangan sebagian wajahku.

Dan mungkin api itu bukan kecelakaan.

Dua hari setelahnya, Arga pulang.

Ia datang ke rumah orang tuaku menjelang malam.

Wajahnya tampak lelah.

“Nadira, kita perlu bicara.”

Bapak ingin tetap berada di ruang tamu, tetapi aku memintanya memberi kami waktu.

Aku dan Arga duduk berhadapan.

Matanya beberapa kali jatuh pada perban di wajahku, lalu menghindar.

“HP-ku ada sama kamu?”

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya aku meletakkan fotokopi dokumen asuransi di meja.

Wajah Arga langsung pucat.

“Ini dari mana?”

Pertanyaan itu menjawab lebih banyak daripada penjelasan apa pun.

“Kenapa tanda tanganku ada di sini?”

“Nadira, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Ia mengusap wajah.

“Itu cuma urusan administrasi.”

“Dua miliar rupiah disebut administrasi?”

“Uang itu untuk kita.”

“Kenapa rekeningnya rekening perusahaanmu?”

“Aku sedang punya masalah arus kas.”

Aku menatapnya.

“Dan perubahan itu dibuat sebelum kebakaran.”

Arga terdiam.

Aku mendengar jam dinding berdetak.

“Apakah kamu membakar rumah kita?”

Wajahnya berubah.

“Nadira!”

“Jawab.”

“Kamu gila?”

Aku hampir tersenyum.

Empat bulan sebelumnya mungkin aku akan langsung meminta maaf setelah disebut gila.

Malam itu tidak.

“Apakah kamu membakar rumah kita?”

“Nggak!”

“Kenapa malam itu bajumu bau bensin?”

Ia berdiri.

“Aku nggak mau ikut permainan ini.”

“Duduk.”

Arga menatapku.

Entah karena nada suaraku atau karena ia menyadari Bapak berada di ruangan sebelah, ia akhirnya duduk kembali.

“Aku nggak membakar rumah,” katanya lebih pelan. “Tapi aku memang mengubah polis.”

“Memalsukan tanda tanganku.”

“Aku panik. Bisnis lagi kacau.”

“Jadi kamu mengambil dokumenku.”

“Aku berniat mengembalikan semuanya.”

“Setelah uang cair?”

Ia tidak menjawab.

Aku merasa sesuatu di dalam diriku akhirnya mati.

Bukan cinta.

Mungkin harapan.

Lalu ponselnya berbunyi.

Arga melihat layar dan langsung menolaknya.

Aku sempat melihat nama yang muncul.

Selina.

“Siapa Selina?”

“Rekan kerja.”

Aku mengambil ponsel hitamnya dari laci meja.

“Apa dia juga rekan kerja?”

Wajah Arga benar-benar kehilangan warna.

“Kenapa HP itu ada di kamu?”

Ponsel tersebut tiba-tiba berdering.

Nomor Selina.

Aku mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.

“Ga?” Suara perempuan terdengar terburu-buru. “Kamu sudah bicara sama Nadira? Aku nggak mau terus diseret dalam masalah polis ini. Kamu bilang kebakaran itu cuma akan merusak bagian bawah rumah. Kamu bilang nggak akan ada orang yang terluka.”

Tidak ada satu pun dari kami bergerak.

Suara Selina kembali terdengar.

“Ga?”

Aku memandang Arga.

Ia menatap telepon seperti sedang melihat bom.

“Selina,” kataku.

Perempuan itu langsung diam.

“Ini Nadira.”

Telepon terputus.

Arga berdiri.

“Nadira, dengar dulu.”

Aku mundur.

Jangan sentuh aku.”

“Nggak seperti yang kamu pikir.”

“Lalu seperti apa?”

“Aku cuma mau membuat klaim kerusakan. Api seharusnya kecil. Aku sudah memastikan jalurnya…”

Ia berhenti.

Terlambat.

Aku melihat ketakutan di matanya ketika ia sadar apa yang baru saja dikatakan.

“Memastikan jalurnya apa?”

“Nadira…”

“Kamu tahu akan ada api.”

Ia memegang kepalanya.

“Aku punya utang. Aku terdesak.”

“Jadi kamu membakar rumah?”

“Aku nggak bermaksud melukai kamu!”

Suara itu menggema di ruang tamu.

Bapak keluar dari ruangan sebelah.

Arga langsung diam.

Bapak memegang ponselnya.

“Aku merekam percakapan ini.”

Arga melangkah mundur.

Untuk pertama kalinya, aku melihat pria yang selama empat tahun kupanggil suami bukan sebagai seseorang yang kehilangan cinta kepadaku.

Aku melihatnya sebagai orang asing.

Dan ternyata kebenaran yang paling menyakitkan belum selesai.

Penyelidikan berikutnya menemukan bahwa Arga memang merencanakan kebakaran kecil untuk mendapatkan klaim. Ia mengira aku sedang menginap di rumah orang tuaku malam itu karena dua hari sebelumnya kami sempat membicarakan rencana tersebut.

Namun aku membatalkannya karena harus bekerja pagi-pagi.

Arga tidak tahu.

Ia pulang dalam keadaan mabuk setelah bertemu Selina, kemudian tertidur karena pengaruh obat penenang yang dikonsumsinya.

Api yang seharusnya hanya mengenai area penyimpanan merambat jauh lebih cepat.

Rencana penipuan yang ia buat hampir membunuh dirinya sendiri.

Dan aku, orang yang seharusnya tidak berada di sana menurut rencananya, justru kembali masuk ke rumah yang terbakar untuk menyelamatkannya.

Selina akhirnya memberikan keterangan.

Ia bukan sekadar selingkuhan.

Ia pernah bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan asuransi dan membantu Arga memahami celah dokumen.

Namun ketika mengetahui aku terluka parah, ia ketakutan dan menarik diri.

Itulah alasan ia terus menelepon ponsel kedua Arga.

Beberapa bulan berikutnya terasa seperti hidup milik orang lain.

Ada pemeriksaan.

Pengacara.

Terapi.

Operasi keempat.

Kemudian proses perceraian.

Arga beberapa kali mengirim pesan melalui keluarganya.

Katanya ia menyesal.

Katanya ia masih mencintaiku.

Katanya semua bermula karena utang dan keputusan bodoh.

Aku tidak pernah membalas.

Setahun kemudian, aku berdiri di depan cermin di ruang rehabilitasi.

Bekas luka di sisi kiri wajahku masih terlihat jelas.

Gerakan tangan kiriku belum kembali seratus persen.

Dokter mengatakan mungkin tidak akan pernah.

Dulu aku akan menangis mendengar itu.

Hari itu aku hanya mengangkat tangan perlahan dan menyentuh pipiku.

Seorang perempuan muda yang baru menjalani operasi luka bakar berdiri beberapa meter di belakangku.

Ia menunduk dan berusaha menutupi wajah dengan rambut.

Aku mengenali tatapan itu.

Tatapan seseorang yang merasa hidupnya sudah selesai hanya karena wajahnya berubah.

Aku mendekatinya.

“Kak,” katanya pelan, “bekas lukanya nanti bisa hilang?”

Aku tidak berbohong.

“Mungkin nggak sepenuhnya.”

Matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum.

“Tapi suatu hari kamu akan sadar, yang harus hilang bukan selalu bekas lukanya.”

Ia menatapku.

“Kadang yang harus hilang adalah keyakinan bahwa nilai kita bergantung pada bagaimana orang lain melihat kita.”

Malam itu aku pulang ke apartemen kecil yang kubeli dari tabunganku sendiri.

Di meja ada sebuah amplop dari pengacara.

Proses perceraianku telah selesai.

Aku membuka dokumen terakhir dan membaca namaku.

Nadira Prameswari.

Tidak ada lagi nama Arga di sampingnya.

Aku berjalan ke balkon.

Jakarta masih berisik seperti biasa.

Lampu kendaraan memenuhi jalan.

Orang-orang bergegas pulang kepada seseorang atau menuju tempat yang mereka sebut rumah.

Aku menyentuh sisi wajahku yang tidak lagi tertutup perban.

Empat belas bulan sebelumnya aku berlari ke dalam api karena takut kehilangan suamiku.

Aku keluar dengan wajah yang berbeda dan tubuh penuh luka.

Selama berbulan-bulan aku mengira itulah harga yang kubayar untuk menyelamatkannya.

Ternyata aku salah.

Api itu memang mengambil sebagian kulitku.

Mengambil sebagian gerak tanganku.

Mengambil rumahku.

Namun api itu juga membakar sebuah kebohongan yang mungkin akan kutinggali seumur hidup jika malam itu tidak pernah terjadi.

Aku tidak kehilangan wajahku demi Arga.

Aku menemukan wajahku sendiri setelah berhenti hidup demi seseorang yang tidak pantas diselamatkan dua kali.

Dan untuk pertama kalinya sejak kebakaran, ketika melihat pantulanku di kaca balkon, aku tidak bertanya apakah seseorang masih bisa mencintaiku dengan wajah seperti ini.

Aku hanya bertanya kepada perempuan di dalam pantulan itu satu hal.

“Besok kita mau hidup seperti apa?”

Lalu aku tersenyum.

Karena kali ini, jawabannya sepenuhnya milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang