“Aku cuma mau Bima tidur sebentar.”
Kalimat Maya menggantung di udara seperti sesuatu yang tak mungkin ditarik kembali.
Aku menatap kakakku tanpa berkedip. Di belakangnya, lampu ambulans memantul di pagar rumah kami. Para tetangga mulai berdiri di depan rumah masing-masing, tetapi polisi meminta mereka menjauh.
“Tidur sebentar?” suaraku nyaris tidak keluar. “Nayla juga tidak sadarkan diri.”
Maya menggeleng cepat.
“Bukan begitu, Lar. Aku enggak tahu Nayla bakal pulang cepat.”
“Kenapa kamu tahu Bima ada di rumah?”

Maya tidak menjawab.
Seorang polisi bernama Inspektur Ardi meminta dua petugas menutup gerbang kompleks di depan blok kami. Tidak ada kendaraan yang boleh keluar sampai pemeriksaan awal selesai.
Maya langsung panik.
“Aku harus pergi.”
“Tidak, Bu,” kata Ardi. “Ibu tetap di sini.”
“Aku enggak melakukan apa-apa.”
Ardi mengangkat amplop yang ditemukan di garasi.
“Kalau begitu, Ibu bisa menjelaskan ini.”
Maya menatap amplop itu.
Wajahnya seketika pucat.
Aku ingin menerjangnya, mengguncang bahunya, memaksanya mengatakan apa yang terjadi. Namun dari belakang terdengar paramedis memanggil namaku.
“Bu Laras, kami harus berangkat sekarang.”
Nayla.
Aku langsung berbalik.
Aku meninggalkan Maya bersama polisi dan naik ke ambulans.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan Nayla terasa dingin di genggamanku. Masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya. Seorang paramedis memeriksa tekanan darahnya berulang kali.
Aku terus memanggil namanya.
“Nayla, Mama di sini.”
Kelopak matanya bergerak.
“Ma…”
“Iya.”
“Air…”
Aku hampir mengambil botol dari tasku ketika paramedis menahanku.
“Jangan diberi minum dulu, Bu.”
Aku teringat ucapan Nayla sebelumnya.
Jangan minum.
“Nayla, tadi kamu bilang jangan minum. Maksudnya apa?”
Matanya terbuka sedikit.
“Air jeruk…”
Lalu ia kembali kehilangan kesadaran.
Di rumah sakit, aku mendapat penjelasan awal bahwa kondisi Bima lebih berat dibandingkan Nayla. Dokter menduga ada zat tertentu yang masuk ke tubuh mereka, tetapi pemeriksaan laboratorium masih diperlukan.
Aku duduk di lorong IGD dengan kedua tangan gemetar.
Dalam waktu kurang dari satu jam, rumah yang selama sebelas tahun kuanggap paling aman berubah menjadi tempat kejadian perkara.
Dan orang yang mungkin mengetahui alasannya adalah kakakku sendiri.
Sekitar pukul enam sore, Inspektur Ardi datang ke rumah sakit.
“Mbak Maya sedang kami mintai keterangan.”
Aku langsung berdiri.
“Dia mengaku?”
“Belum sepenuhnya.”
“Apa maksudnya belum sepenuhnya?”
Ardi duduk di kursi seberangku.
“Dia mengaku datang ke rumah sekitar pukul satu siang menggunakan remote cadangan.”
Aku menahan napas.
“Untuk apa?”
“Katanya menemui suami Ibu.”
“Bima melarang dia datang kalau aku tidak ada.”
“Sepertinya itu ada hubungannya dengan dokumen di garasi.”
Ardi menunjukkan foto beberapa lembar kertas.
Salah satunya merupakan salinan sertifikat rumah.
Aku langsung mengenalinya.
Rumah itu dibeli tiga tahun setelah aku dan Bima menikah. Sebagian uang muka berasal dari tabunganku sebelum menikah, sebagian dari tabungan Bima.
“Kenapa Maya punya ini?”
“Itu yang sedang kami selidiki.”
Lalu Ardi memperbesar foto kuitansi.
Ada nama sebuah perusahaan pembiayaan.
Jumlahnya membuat tenggorokanku kering.
Empat ratus delapan puluh juta rupiah.
“Ini utang siapa?”
“Nama peminjamnya Maya Prameswari.”
Aku menutup mulut.
Bisnis katering Maya memang bangkrut, tetapi aku tidak pernah tahu utangnya sebesar itu.
“Lalu rumah saya ada hubungannya apa?”
Ardi diam sesaat.
“Diduga dijadikan bagian dari jaminan menggunakan dokumen yang keabsahannya sedang diperiksa.”
Aku merasa kursi di bawahku menghilang.
“Itu tidak mungkin. Sertifikat asli ada di bank.”
“Karena itu suami Ibu tampaknya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.”
Aku teringat pertengkaran mereka dua minggu sebelumnya.
Kalau kakakmu datang saat aku sendirian, bilang tunggu kamu pulang.
“Nanti aku jelaskan.”
Bima sebenarnya ingin memberitahuku.
Dia hanya belum sempat.
Sekitar pukul delapan malam, dokter mengizinkanku melihat Nayla.
Ia sudah sadar.
Wajahnya masih pucat, tetapi ketika melihatku, ia langsung menangis.
Aku memeluknya hati-hati.
“Maaf, Ma.”
“Kenapa minta maaf?”
“Aku enggak langsung telepon Mama.”
“Enggak apa-apa. Kamu sudah melakukan hal yang benar.”
Nayla menatap pintu.
“Ayah gimana?”
“Dokter lagi bantu Ayah.”
Ia menggigit bibir.
Kemudian berkata pelan, “Tante Maya tadi ada di rumah.”
Aku membeku.
“Kamu lihat?”
Nayla mengangguk.
Cerita yang keluar dari mulut putriku membuat tanganku semakin dingin.
Hari itu sekolahnya memulangkan murid lebih cepat karena ada gangguan listrik. Bima seharusnya menjemput, tetapi tidak datang.
Nayla akhirnya diantar ibu temannya sampai depan kompleks.
Saat masuk rumah, ia mendengar suara Bima dan Maya bertengkar di dapur.
“Aku dengar Ayah bilang, ‘Aku enggak akan tanda tangan apa pun sebelum Laras tahu.’”
Aku menahan napas.
“Terus?”
“Tante Maya nangis.”
Menurut Nayla, Maya terus meminta Bima membantunya sekali lagi. Ia berkata kalau dokumen itu tidak selesai hari itu, ada orang yang akan datang menagih.
Bima menolak.
Kemudian Maya membuatkan minuman.
“Minuman apa?”
“Air jeruk.”
“Untuk siapa?”
“Ayah.”
Nayla terdiam.
“Aku haus, jadi aku minum sedikit dari gelas lain di meja.”
Dunia seakan berhenti.
Itulah sebabnya Maya berkata ia tidak tahu Nayla akan pulang cepat.
Ia tidak berniat Nayla meminumnya.
Namun itu tidak membuat apa yang dilakukannya lebih ringan.
“Setelah itu apa yang terjadi?”
“Aku pusing. Ayah jatuh dekat meja. Tante Maya panik.”
“Dia lihat kamu?”
Nayla menggeleng.
“Aku sembunyi di belakang sofa.”
Maya ternyata mengira Bima sendirian.
Setelah Bima jatuh, ia mengambil beberapa dokumen dari tasnya dan mencoba membuka laptop Bima.
Kemudian ponselnya berdering.
Nayla mendengar Maya berkata kepada seseorang, “Dia sudah enggak sadar. Tapi aku enggak bisa buka file-nya.”
Setelah itu Maya pergi melalui garasi.
Nayla menunggu sampai mobilnya meninggalkan rumah.
Barulah ia meneleponku dari jam tangannya.
Aku memejamkan mata.
Putriku yang baru sepuluh tahun harus bersembunyi sendirian sambil tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Aku hampir tidak sanggup membayangkannya.
Malam itu polisi kembali ke rumah.
Rekaman CCTV kompleks menunjukkan Toyota Rush milik Maya masuk pukul 13.07 dan keluar pukul 14.48.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggu.
Tujuh menit setelah mobil Maya keluar, sebuah mobil lain masuk.
Avanza putih.
Platnya tidak terdaftar sebagai penghuni.
Mobil itu berhenti dua rumah dari tempat kami selama hampir sepuluh menit sebelum pergi.
Polisi menanyakan mobil tersebut kepada Maya.
Awalnya ia menyangkal tahu.
Sampai mereka menunjukkan rekamannya.
Barulah Maya menangis.
Ia menyebut satu nama.
Doni Saputra.
Seorang pria yang kukenal.
Bukan teman Maya.
Bukan rekan bisnisnya.
Doni adalah sepupu Bima.
Selama bertahun-tahun, ia membantu mengurus beberapa urusan administrasi keluarga.
Ia bahkan hadir di ulang tahun Nayla tahun lalu.
Saat mendengar namanya, aku benar-benar tidak mengerti.
“Kenapa Doni?”
Ardi menjawab, “Karena sepertinya utang itu bukan seluruh ceritanya.”
Pemeriksaan terhadap ponsel Maya menemukan percakapan yang sudah dihapus tetapi berhasil dipulihkan.
Doni sudah berkomunikasi dengannya selama hampir empat bulan.
Dialah yang mengetahui bahwa nilai rumah kami meningkat tajam setelah pembangunan kawasan komersial baru tidak jauh dari kompleks.
Dialah yang mengatakan ada cara menggunakan dokumen rumah sebagai dasar pengajuan pembiayaan.
Dan yang lebih buruk, Doni tahu Bima sedang menyimpan bukti transaksi mencurigakan terkait sebuah proyek teknologi milik kliennya.
Bima ternyata menemukan rekening yang digunakan untuk memindahkan uang perusahaan melalui vendor fiktif.
Salah satu nama yang muncul sebagai penghubung adalah Doni.
Aku baru mengerti mengapa beberapa minggu terakhir Bima sering bekerja sampai tengah malam.
Ia bukan hanya mengerjakan proyek.
Ia sedang mengumpulkan bukti.
Doni mengetahui hal itu.
Ia kemudian memanfaatkan masalah keuangan Maya.
Maya butuh uang.
Doni butuh akses ke laptop Bima.
Mereka membuat kesepakatan.
Maya harus membuat Bima tidak sadar cukup lama agar Doni bisa mengambil salinan data.
Sebagai gantinya, Doni berjanji membantu menyelesaikan utang Maya dan memalsukan beberapa dokumen agar pinjaman tersebut tampak sah.
Namun rencana mereka kacau.
Bima menolak minuman itu pada awalnya.
Mereka bertengkar.
Maya semakin panik.
Ketika akhirnya Bima meminumnya, efeknya lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
Kemudian Nayla pulang.
Maya mendengar suara dari ruang keluarga dan mengira mungkin tetangga masuk.
Ia panik, menyembunyikan remote di belakang mesin cuci, membawa beberapa dokumen, lalu pergi.
Doni yang seharusnya masuk setelahnya melihat ambulans belum datang, tetapi ia melihat tas sekolah Nayla melalui jendela samping.
Ia membatalkan rencana dan pergi.
Satu hal masih belum masuk akal bagiku.
“Kalau Maya sudah pergi sebelum aku pulang, kenapa dia datang lagi tepat saat polisi ada di rumah?”
Ardi menatapku.
“Karena seseorang meneleponnya.”
“Doni?”
“Bukan.”
Ia meletakkan ponsel di meja dan menunjukkan tangkapan layar.
Nomor itu milik Bima.
Aku menatapnya lama.
“Itu tidak mungkin. Bima tidak sadar.”
“Tepat.”
Polisi menemukan bahwa pukul 15.37, ketika aku sudah berada di rumah dan ambulans sedang datang, ponsel Bima mengirim satu pesan kepada Maya.
PULANG SEKARANG. ADA MASALAH.
Pesan itu dihapus beberapa menit kemudian.
Namun siapa pun yang mengirimnya tidak menyadari bahwa akun Bima tersinkronisasi dengan laptop.
Aktivitas tersebut tersimpan.
“Ada orang lain di rumah?”
“Tidak.”
“Lalu siapa?”
Ardi menatapku.
“Pesan itu dikirim melalui akses jarak jauh.”
Doni.
Ia masih memiliki akses ke komputer Bima melalui perangkat lunak dukungan teknis yang pernah dipasang beberapa bulan sebelumnya.
Doni-lah yang memanggil Maya kembali.
Bukan untuk membantu.
Untuk menjadikannya kambing hitam.
Maya akhirnya menceritakan semuanya.
Ia memang memasukkan obat penenang ke dalam minuman Bima.
Ia memang mencoba mengambil dokumen.
Ia memang berbohong kepadaku selama berbulan-bulan.
Tetapi Doni yang merancang semuanya.
Dan ketika rencana gagal, ia sengaja memancing Maya kembali ke rumah agar polisi menemukan satu tersangka yang tampak sempurna.
Dua hari kemudian, Bima sadar.
Aku duduk di samping ranjangnya ketika matanya perlahan terbuka.
Hal pertama yang ia tanyakan bukan tentang dirinya.
“Nayla?”
“Aman.”
Matanya langsung berkaca-kaca.
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa kamu enggak cerita soal Maya dan Doni?”
Bima menatap langit-langit.
“Karena Maya kakakmu.”
“Justru karena itu kamu harus cerita.”
“Aku ingin punya bukti dulu.”
Ia terdiam sebelum melanjutkan.
“Aku takut kalau aku salah, aku menghancurkan keluargamu.”
Air mataku jatuh.
“Dan kalau kamu benar, kamu hampir kehilangan hidupmu.”
Bima tidak menjawab.
Beberapa minggu kemudian, polisi menangkap Doni setelah menemukan bukti bahwa ia mencoba menghapus data dari server proyek tempat Bima bekerja.
Maya juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Aku tidak membelanya.
Ia kakakku.
Aku tetap mencintainya sebagai kakak.
Namun mencintai seseorang tidak berarti menghapus konsekuensi dari pilihan yang ia buat.
Yang paling sulit justru menjelaskannya kepada Nayla.
Suatu malam, setelah semuanya mulai tenang, ia duduk di sampingku di teras.
“Ma, Tante Maya orang jahat?”
Aku berpikir lama.
“Menurut Mama, manusia lebih rumit dari itu.”
“Kenapa?”
“Kadang orang yang kita sayang bisa membuat keputusan yang sangat buruk karena takut, terdesak, atau serakah. Tapi alasan tidak selalu membuat perbuatannya jadi benar.”
Nayla mengangguk perlahan.
Lalu ia bertanya sesuatu yang membuatku terdiam.
“Kalau hari itu aku enggak pulang cepat, Ayah bakal mati?”
Aku menariknya ke pelukanku.
“Ayah selamat. Itu yang penting.”
Namun beberapa hari kemudian, ketika polisi mengembalikan beberapa barang kami, Inspektur Ardi menyerahkan jam tangan pintar Nayla kepadaku.
“Ada sesuatu yang mungkin Ibu ingin dengar.”
Ia menunjukkan rekaman suara otomatis yang tersimpan ketika Nayla pertama kali mencoba menelepon.
Sebelum panggilan kepadaku tersambung, jam tangan itu ternyata merekam sekitar sebelas detik.
Aku menekan tombol putar.
Terdengar napas Nayla.
Kemudian suara Maya dari kejauhan.
“Aku sudah lakukan bagianku. Sekarang transfer uangnya.”
Lalu terdengar suara laki-laki dari speaker ponsel.
Suara Doni.
Tetapi setelah itu ada kalimat lain.
Sangat pelan.
Nyaris tenggelam.
“Aku enggak peduli soal rumah itu. Yang penting laptop Bima hilang sebelum dia menyerahkan bukti besok pagi.”
Aku menatap Ardi.
“Bukti apa?”
Ia tidak langsung menjawab.
Kemudian ia membuka sebuah berkas.
Ternyata malam sebelum kejadian, Bima sudah mengirim salinan seluruh temuannya kepada auditor perusahaan.
Doni tidak pernah tahu.
Semua yang ia lakukan hari itu sebenarnya sudah terlambat.
Rumah kami tidak pernah menjadi tujuan utama.
Utang Maya bukan alasan utama.
Bahkan laptop Bima bukan satu-satunya sasaran.
Doni hanya sedang berusaha menghancurkan bukti yang sebenarnya sudah berada di tangan orang lain.
Aku pulang malam itu membawa jam tangan Nayla di dalam tas.
Di depan rumah, Bima sedang duduk di teras bersama putri kami.
Pohon mangga kecil di dekat carport bergerak pelan tertiup angin.
Rumah itu masih sama.
Pagar abu-abu yang sama.
Teras yang sama.
Sandal Nayla masih berserakan seperti biasanya.
Tetapi aku tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang otomatis aman hanya karena pintunya terkunci.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Bahaya tidak selalu datang dengan memecahkan jendela.
Kadang ia punya kunci cadangan.
Kadang ia tahu letak gelas di dapur.
Kadang ia memanggil kita dengan sebutan keluarga.
Dan sejak hari itu, aku berhenti mengajarkan Nayla bahwa ia harus mempercayai seseorang hanya karena orang itu dekat dengan kami.
Aku mengajarinya hal yang jauh lebih penting.
Kalau suatu hari nalurinya mengatakan ada sesuatu yang salah, ia tidak perlu menunggu orang dewasa membenarkannya.
Ia boleh pergi.
Ia boleh berteriak.
Ia boleh meminta pertolongan.
Karena pada pukul tiga lewat sebelas menit di suatu sore yang tampaknya biasa, seorang anak berusia sepuluh tahun mendengarkan rasa takutnya sendiri.
Dan ternyata, dialah satu-satunya orang di rumah itu yang bertindak tepat sebelum semuanya terlambat.
