“Orang yang meracuni kamu adalah orang yang selama ini kamu anggap keluarga, Nabila.”
Suara Rizky terdengar serak.
Untuk beberapa detik, lorong rumah sakit seperti kehilangan seluruh bunyinya. Aku hanya mendengar detak jantungku sendiri, keras dan tidak beraturan.
“Apa maksudmu?”

Rizky menelan ludah. Tangannya masih menggenggam lembaran hasil laboratorium yang tadi jatuh dari amplopku.
“Bu Mira.”
Darahku seakan berhenti mengalir.
Bu Mira adalah ibu Rizky.
Perempuan yang kupanggil Mama sejak enam tahun lalu. Perempuan yang memelukku ketika aku pertama kali mengetahui kehamilanku. Perempuan yang hampir setiap sore datang membawa sup, jamu, dan makanan khusus untuk menjaga kandunganku.
“Jangan sembarangan menuduh,” bisikku.
“Aku berharap aku salah.”
Rizky mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto.
Ada tangkapan layar transfer bank. Rekaman percakapan. Foto seorang pria berdiri di dekat mobil Rizky. Kemudian sebuah gambar yang membuat tengkukku dingin.
Botol kecil berwarna cokelat.
Aku mengenalinya.
Botol serupa pernah kulihat di dapur rumah kami.
“Mama bilang itu vitamin herbal untuk kandungan,” gumamku.
Rizky menutup mata.
“Itu bukan vitamin.”
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Suster segera memegang lenganku.
“Ibu Nabila, kita tidak bisa menunda lebih lama.”
Aku memandang Rizky. Ada ribuan pertanyaan yang ingin kuteriakkan, tetapi tubuhku sudah terlalu lemah.
“Kalau aku keluar hidup-hidup dari ruangan itu,” kataku pelan, “baru kita bicara.”
Wajah Rizky runtuh.
Dia ingin mendekat, tetapi aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Kalimat itu membuatnya berhenti.
“Aku percaya kamu akan keluar,” katanya dengan suara pecah.
Aku tersenyum hambar.
“Tiga bulan lalu aku juga percaya kamu akan pulang ketika aku memanggilmu.”
Pintu ruang operasi tertutup di antara kami.
Saat obat bius mulai bekerja, ingatan terakhir yang muncul justru bukan wajah Rizky.
Melainkan senyum Bu Mira ketika menyodorkan semangkuk sup kepadaku.
“Makan sampai habis, Nabila. Ini bagus untuk cucu Mama.”
Lalu semuanya menjadi gelap.
Operasi berlangsung hampir enam jam.
Ketika aku membuka mata, cahaya putih di atas kepalaku terasa menyakitkan. Tenggorokanku kering dan tubuhku seperti bukan milikku sendiri.
Suara mesin monitor berdetak teratur di samping tempat tidur.
“Nabila?”
Aku menoleh perlahan.
Rizky duduk di kursi dekat jendela. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut, dan matanya bengkak.
“Kamu berhasil melewatinya,” katanya.
Aku mencoba bicara.
“Dokter?”
“Operasinya berhasil. Kondisimu masih harus dipantau, tapi racun itu belum menghancurkan semuanya.”
Air mata mengalir dari sudut mataku.
Bukan karena bahagia.
Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan.
Hidup, ternyata, bisa terasa sama menakutkannya dengan mati ketika seluruh kenyataan yang kita percaya mulai runtuh satu per satu.
“Kenapa ibumu melakukan itu?”
Rizky terdiam cukup lama.
Kemudian dia meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
“Karena anak kita.”
Aku menatapnya.
“Anak kita kenapa?”
Rizky menarik napas panjang.
“Dua minggu sebelum kamu keguguran, Mama mengambil salinan hasil pemeriksaan kehamilanmu dari klinik.”
“Untuk apa?”
“Dia ingin memastikan sesuatu.”
Rizky membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat dokumen lama tentang keluarga mereka.
Ayah Rizky meninggal tujuh tahun lalu dan meninggalkan jaringan perusahaan properti yang nilainya sangat besar. Dalam surat wasiatnya terdapat ketentuan bahwa sebagian saham keluarga akan dialihkan kepada cucu biologis pertama setelah lahir.
Aku terdiam.
“Jadi ibumu meracuni aku karena warisan?”
“Bukan cuma itu.”
Rizky mengepalkan tangan.
“Ada rahasia yang lebih besar.”
Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, Bu Mira telah menggadaikan sejumlah aset perusahaan tanpa sepengetahuan Rizky untuk menutup kerugian investasi pribadinya. Jika anak kami lahir, audit pembagian aset berdasarkan surat wasiat akan dilakukan.
Dan seluruh transaksi ilegal itu kemungkinan besar terbongkar.
“Dia tidak berniat membunuhmu pada awalnya,” ujar Rizky. “Menurut pengakuan orang yang membantunya, Mama hanya ingin membuat kandunganmu gagal.”
Aku menatapnya dengan jijik.
“Hanya?”
Rizky langsung menunduk.
“Maaf. Aku tidak bermaksud begitu.”
Aku memalingkan wajah.
“Bagaimana dengan malam itu?”
Rizky menjelaskan bahwa seseorang bernama Darto, mantan sopir keluarga, menerima uang untuk merusak sistem rem mobilnya.
Malam ketika aku menelepon, Rizky sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang setelah rapat. Rem mobilnya tiba-tiba tidak berfungsi. Dia berhasil menghentikan mobil dengan menabrakkannya ke pembatas jalan.
Dua pria kemudian menghampirinya dengan dalih membantu.
Mereka justru mengambil ponselnya.
“Aku terluka dan dibawa ke klinik kecil. Begitu bisa pergi, aku meminjam telepon orang untuk menghubungi kantor. Indah datang menjemputku.”
Aku teringat aroma parfum wanita di jasnya malam itu.
“Jadi Indah memang bersamamu.”
“Iya.”
Aku tertawa getir.
“Setidaknya satu kecurigaanku benar.”
“Nabila, hubungan kami tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Tidak penting lagi.”
Rizky terdiam.
Aku menatapnya.
“Yang menghancurkan pernikahan kita bukan Indah.”
Dia mengangkat wajah.
“Yang menghancurkannya adalah enam tahun ketika aku harus memohon untuk mendapatkan perhatian dari suamiku sendiri.”
Rizky tidak membantah.
“Ketika aku meneleponmu malam itu, aku percaya kamu mengabaikanku karena aku sudah terbiasa diabaikan. Itu masalahnya.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu baru tahu setelah aku berhenti mengejarmu.”
Kalimat itu membuatnya benar-benar diam.
Dua hari kemudian, polisi datang ke rumah sakit.
Darto telah ditangkap.
Dari keterangannya, penyidik menemukan rekaman transfer yang mengarah kepada rekening seorang pegawai lama keluarga Rizky. Pegawai tersebut kemudian mengaku menerima perintah dari Bu Mira.
Namun ada satu nama lain yang muncul.
Indah.
Ketika polisi menyebut nama itu, aku langsung menoleh kepada Rizky.
Wajahnya berubah.
Ternyata Indah bukan kekasih gelap Rizky.
Dia justru orang pertama yang mencurigai Bu Mira.
Selama beberapa bulan, Indah menemukan transaksi perusahaan yang tidak masuk akal. Dia diam-diam mengumpulkan dokumen dan menyerahkannya kepada Rizky.
Itulah alasan mereka sering bertemu di luar jam kantor.
“Aku tidak memberitahumu karena aku pikir ini masalah perusahaan,” kata Rizky.
Aku tertawa pahit.
“Rahasia demi rahasia. Hebat sekali cara keluarga kalian hidup.”
Sore berikutnya, Bu Mira datang.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melewati petugas keamanan, tetapi tiba-tiba perempuan itu sudah berdiri di depan pintu kamarku.
Penampilannya berbeda.
Tidak ada perhiasan. Tidak ada tas mahal. Wajahnya pucat.
“Nabila.”
Aku menekan tombol panggil perawat.
“Tunggu.”
Bu Mira mengangkat kedua tangannya.
“Mama cuma ingin bicara.”
“Jangan panggil diri Anda Mama.”
Wajahnya berkedut.
“Nabila, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku hampir tertawa.
“Racun ada di tubuh saya. Anak saya meninggal. Apa yang masih perlu saya pikirkan?”
Bu Mira menangis.
“Aku terdesak.”
“Dan anak saya harus membayar utang Anda?”
Dia terdiam.
Beberapa detik kemudian, wajah sedih itu berubah.
Tatapannya menjadi dingin.
“Aku membangun keluarga ini dari nol. Ayah Rizky meninggalkan aturan bodoh dalam wasiatnya. Semua yang kubangun akan diambil hanya karena seorang bayi lahir.”
Aku merasakan kemarahan naik ke dadaku.
“Dia bukan ‘seorang bayi’. Dia cucu Anda.”
“Dia bahkan belum lahir!”
Suara itu menggema di kamar.
Dan tepat pada saat itulah pintu terbuka.
Rizky berdiri di sana bersama dua penyidik.
Bu Mira membeku.
Aku melihat wajahnya kehilangan warna.
Rizky mengangkat ponselnya.
Percakapan kami terekam.
“Mama sudah cukup bicara.”
Bu Mira berbalik.
“Rizky, Mama melakukan semuanya untuk kamu!”
“Jangan.”
Suara Rizky begitu dingin hingga aku hampir tidak mengenalinya.
“Jangan gunakan namaku untuk membenarkan kematian anakku.”
Polisi membawanya pergi.
Bu Mira meronta dan menangis, memanggil nama anaknya berkali-kali.
Rizky tidak bergerak.
Hanya setelah pintu lift tertutup, dia jatuh terduduk di kursi lorong.
Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang pria yang selama ini kukenal begitu kuat benar-benar hancur.
Sebulan kemudian, aku diperbolehkan pulang.
Dokter mengatakan proses pemulihanku mungkin membutuhkan waktu panjang. Kerusakan organ dapat dikendalikan, tetapi aku harus menjalani pemeriksaan rutin selama bertahun-tahun.
Rizky menungguku di depan rumah sakit.
Dia tidak mencoba membawakan tasku.
Dia tidak mencoba memegang tanganku.
Dia hanya menyerahkan satu amplop.
Dokumen perceraian yang telah ditandatanganinya.
“Aku tidak akan mempersulitmu,” katanya.
Aku memandang tanda tangannya.
“Aku pikir kamu akan menolak.”
“Dulu mungkin.”
Dia tersenyum tipis.
“Tapi selama ini aku selalu memikirkan apa yang aku inginkan. Sekali ini, aku ingin menghormati apa yang kamu inginkan.”
Aku memasukkan dokumen itu ke dalam tas.
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”
“Proses hukumnya berjalan. Aku tidak akan ikut campur.”
“Indah?”
“Dia mengundurkan diri.”
Aku mengangguk.
Rizky kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sepasang kaus kaki bayi berwarna putih.
Dadaku langsung sesak.
Aku mengenalinya.
Aku membelinya ketika kandunganku berusia empat bulan.
“Aku menemukannya di lemari,” katanya.
Tanganku gemetar ketika menerimanya.
“Kamu simpan saja.”
Rizky menggeleng.
“Bukan hakku.”
Aku menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak malam kehilangan anak kami, aku tidak melihat Rizky sebagai suami yang mengecewakanku.
Aku melihat seorang ayah yang juga kehilangan anaknya.
Namun kehilangan yang sama tidak selalu berarti dua orang harus kembali berjalan di jalan yang sama.
Enam bulan berlalu.
Aku pindah ke rumah kecil di Sleman dan mulai bekerja kembali secara perlahan. Aku menanam bunga di halaman. Aku belajar memasak hanya untuk diriku sendiri. Aku belajar tidur tanpa menunggu suara mobil seseorang berhenti di depan rumah.
Suatu pagi, sebuah surat datang dari rumah sakit.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Hasil pemeriksaan terbaru menunjukkan fungsi organku membaik jauh lebih cepat daripada perkiraan dokter.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis karena kabar baik.
Namun di dalam amplop itu terdapat satu lembar tambahan.
Sebuah laporan dari laboratorium forensik yang menyelesaikan pemeriksaan terakhir terhadap sampel racun.
Aku membaca kalimat terakhirnya berulang kali.
Kemudian segera menelepon penyidik.
Racun yang ditemukan di tubuhku memang berasal dari botol yang dibeli Bu Mira.
Tetapi dosis terakhir yang menyebabkan keguguranku bukan diberikan oleh Bu Mira.
Rekaman CCTV sebuah minimarket akhirnya memperlihatkan orang lain membeli zat dengan komposisi serupa dua hari sebelum kejadian.
Darto telah mengubah keterangannya.
Ada pemberi perintah kedua.
Seseorang yang mengetahui rencana Bu Mira dan memanfaatkannya agar seluruh kesalahan jatuh kepada perempuan itu.
Nama itu membuat tanganku dingin.
Indah Prameswari.
Tiga hari kemudian polisi menemukannya di sebuah apartemen di Surabaya.
Dari laptopnya, ditemukan puluhan surel, dokumen palsu, dan bukti bahwa selama hampir dua tahun Indah memanipulasi laporan perusahaan. Bu Mira memang bersalah karena meracuniku perlahan demi menggagalkan kehamilan, tetapi Indah mengetahui rencana itu dan meningkatkan dosis tanpa sepengetahuan siapa pun.
Tujuannya jauh lebih sederhana sekaligus mengerikan.
Jika Bu Mira dipenjara dan pernikahanku dengan Rizky hancur, Indah percaya dia akan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di sisi Rizky.
Ironisnya, justru bukti-bukti yang dahulu dikumpulkan Indah untuk menjatuhkan Bu Mira akhirnya menjadi jalan yang membongkar kejahatannya sendiri.
Malam setelah mendengar kabar penangkapannya, aku duduk sendirian di teras.
Ponselku berdering.
Nama Rizky muncul.
Aku menatapnya lama sebelum mengangkat.
“Nabila.”
“Iya.”
“Aku baru dengar tentang Indah.”
“Aku juga.”
Sunyi.
Kemudian Rizky berkata pelan, “Maaf karena selama bertahun-tahun aku membuatmu merasa sendirian, sampai kamu tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya.”
Aku memandang bunga-bunga kecil di halaman.
“Aku sudah memaafkanmu, Rizky.”
Di ujung telepon terdengar tarikan napas tertahan.
“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, jawabannya tidak mengandung permohonan.
Tidak ada janji.
Tidak ada rayuan.
Hanya penerimaan.
Sebelum menutup telepon, Rizky berkata, “Semoga kamu bahagia, Nabila.”
Aku tersenyum.
“Kamu juga.”
Aku meletakkan ponsel dan menatap langit Yogyakarta yang perlahan berubah jingga.
Selama bertahun-tahun aku mengira cinta berarti bertahan, menunggu, memaafkan, dan terus mengetuk pintu hati seseorang sampai dia akhirnya membukanya.
Ternyata aku salah.
Kadang cinta paling besar justru dimulai ketika kita berhenti mengetuk pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka.
Aku masuk ke rumah, mengambil sepasang kaus kaki bayi putih dari laci, lalu meletakkannya di sebuah kotak kayu kecil.
Aku tidak membuangnya.
Karena melanjutkan hidup bukan berarti menghapus orang yang pernah kita cintai.
Aku hanya akhirnya memahami bahwa anakku tidak meninggalkan dunia ini agar aku menghabiskan sisa hidup dengan mengejar siapa yang bersalah.
Dia meninggalkan satu pelajaran yang jauh lebih mahal.
Bahwa hidupku sendiri juga layak diperjuangkan.
Dan kali ini, aku memilihnya.
