Pesan itu hanya terdiri dari dua kalimat.
Namun cukup untuk membuat Aditya seperti kehilangan napas.
Mas, aku sudah tidak sanggup menyimpan rahasia ini lagi. Malam Nara keguguran, sebenarnya aku tahu dia sedang hamil. Aku juga tahu dia meneleponmu karena keadaan darurat.
Aku melihat sendiri perubahan di wajah Aditya.
Tangannya gemetar.
Matanya bergerak cepat membaca pesan itu berulang kali, seolah berharap susunan huruf di layar akan berubah jika ia cukup lama menatapnya.

Belum sempat Aditya berkata apa pun, pesan kedua masuk.
Aku yang sengaja memintamu mematikan ponsel malam itu.
Keheningan di depan pintu apartemen kami mendadak terasa menyesakkan.
“Apa maksudnya?” tanyaku.
Aditya tidak menjawab.
Aku meraih ponselnya sebelum dia sempat menyembunyikannya.
“Nara…”
Aku mundur selangkah dan membaca seluruh pesan Indah.
Ternyata tiga bulan lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun pernikahan kami, Indah pernah datang ke apartemen ketika aku sedang tidak ada di rumah. Ia melihat sebuah amplop rumah sakit yang tertinggal di meja ruang tamu.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan awal kehamilanku.
Indah tahu.
Bahkan sebelum Aditya tahu, perempuan itu sudah mengetahui bahwa aku mengandung anaknya.
Malam ketika aku menelepon sebelas kali, Indah melihat nama “Nara” terus muncul di layar ponsel Aditya.
Ia takut Aditya akan pulang.
Karena itu ia berpura-pura mengalami serangan panik.
Ia menangis, menggigil, bahkan mengaku ingin menyakiti dirinya sendiri jika ditinggalkan.
Lalu ia meminta Aditya mematikan ponselnya.
Dan suamiku melakukannya.
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Kamu mematikan ponsel karena dia menyuruhmu?”
Aditya pucat.
“Aku tidak tahu kamu sedang hamil.”
“Itu bukan pertanyaanku.”
“Nara, waktu itu Indah benar-benar terlihat kacau. Aku takut dia melakukan sesuatu yang nekat.”
Aku tertawa kecil.
Aneh sekali.
Selama empat tahun aku menangis di depan laki-laki itu dan dia selalu menyebutku berlebihan.
Tetapi ketika Indah menangis, seluruh dunia harus berhenti.
“Jadi kalau aku tidak hamil, meninggalkan istrimu yang menelepon sebelas kali tetap bisa dibenarkan?”
Aditya terdiam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.
Ponsel itu kembali berdering.
Indah menelepon.
Aditya langsung mengangkatnya.
“Indah, apa maksud pesanmu?”
Tangis terdengar dari seberang.
“Aku minta maaf, Mas.”
“Kamu tahu Nara hamil?”
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Aditya berdiri perlahan.
“Aku tanya sekali lagi. Kamu tahu?”
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu di wajah Aditya.
Aku seharusnya merasa puas.
Namun tidak.
Karena kesalahan Indah tidak menghapus kesalahan Aditya.
Dialah yang mengucapkan janji pernikahan kepadaku.
Dialah yang seharusnya pulang ketika istrinya meminta pertolongan.
“Aku akan ke sana sekarang,” katanya.
Aku langsung menatapnya.
Dan sesuatu yang nyaris lucu terlintas di pikiranku.
Bahkan setelah mengetahui semuanya, naluri pertamanya tetap sama.
Pergi menemui Indah.
Aditya melihat ekspresiku dan mendadak membeku.
Mungkin baru saat itulah dia menyadarinya.
“Aku cuma ingin meminta penjelasan.”
“Pergilah.”
“Nara…”
“Bukankah selama ini memang begitu?”
Aku membuka pintu apartemen.
“Setiap Indah punya masalah, kamu pergi. Jadi pergilah.”
Aditya tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, dia mematikan panggilan Indah.
Lalu ia meletakkan ponselnya di lantai.
“Aku tidak akan pergi.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya,” katanya. “Tapi beri aku kesempatan memperbaikinya.”
“Ada hal yang bisa diperbaiki, Dit.”
Aku menatapnya.
“Dan ada hal yang harus kita terima sudah berakhir.”
Malam itu aku meninggalkan apartemen.
Bukan Aditya.
Aku.
Aku membawa satu koper, dokumen penting, beberapa pakaian dan kotak kecil berisi foto USG.
Aku tidak memberitahunya ke mana aku pergi.
Aku menyewa apartemen studio sederhana di Jakarta Selatan dan kembali bekerja di sebuah perusahaan konsultan tempatku pernah bekerja sebelum menikah.
Aditya mengirim pesan setiap hari.
Aku tidak membalas.
Dia mengirim bunga.
Aku mengembalikannya.
Dia menunggu di depan kantorku.
Aku keluar melalui pintu belakang.
Sampai akhirnya pengacara menghubungiku.
Aditya sudah menandatangani surat perceraian.
Tanpa tuntutan.
Tanpa syarat.
Aku pikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua minggu kemudian, Indah datang ke kantorku.
Ia tampak berbeda dari perempuan yang biasa kulihat menggandeng lengan suamiku.
Tidak ada riasan sempurna.
Tidak ada tas mahal.
Matanya bengkak.
“Aku cuma minta sepuluh menit.”
“Aku tidak punya apa-apa untuk dibicarakan denganmu.”
“Ada.”
Dia mengeluarkan sebuah map.
“Aku datang bukan untuk meminta maaf.”
Aku menatapnya.
“Setidaknya kamu jujur.”
Indah duduk.
“Aku memang sengaja membuat Aditya memilihku berkali-kali.”
Aku menggenggam ujung meja.
“Kenapa?”
“Karena aku marah.”
Ternyata bertahun-tahun lalu, sebelum mengenalku, Aditya dan Indah hampir menikah.
Namun hubungan mereka berakhir karena keluarga Aditya menolak Indah.
Ketika kemudian Aditya menikah denganku, Indah merasa dirinya telah digantikan.
Ia tidak benar-benar ingin menikahi Aditya.
Ia hanya ingin memastikan laki-laki itu tidak pernah sepenuhnya menjadi milikku.
“Setiap kali dia meninggalkanmu untuk datang kepadaku, aku merasa menang,” katanya.
Aku menatap perempuan di depanku dan tiba-tiba merasa sangat lelah.
“Lalu malam anakku meninggal?”
Indah menunduk.
“Aku tidak tahu keadaanmu separah itu.”
“Tapi kamu tahu aku hamil.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap menyuruh suamiku mematikan ponselnya.”
Air mata Indah jatuh.
Aku tidak merasa iba.
“Aku pikir kalau dia tahu kamu hamil, semuanya selesai. Dia akan memilih keluarganya.”
Aku berdiri.
“Keluar.”
“Nara, tunggu.”
“Keluar.”
Indah mendorong map itu ke arahku.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Setelah dia pergi, aku membuka map tersebut.
Isinya salinan transfer bank.
Puluhan transaksi.
Dari rekening Aditya kepada Indah.
Jumlahnya mencapai hampir dua miliar rupiah selama tiga tahun.
Namun ada satu hal yang membuatku membeku.
Sebagian uang itu berasal dari rekening investasi bersama atas namaku dan Aditya.
Rekening yang selama ini kukira digunakan untuk membeli rumah.
Aku langsung menghubungi pengacara.
Pemeriksaan finansial dimulai.
Dan rahasia berikutnya terbongkar.
Aditya ternyata menggunakan sebagian dana pernikahan kami untuk membayar utang usaha keluarga Indah.
Tanpa persetujuanku.
Ketika aku mengonfrontasinya di kantor pengacara, Aditya tidak menyangkal.
“Aku berniat mengembalikannya.”
“Kapan?”
Dia menunduk.
“Aku tidak tahu.”
“Jadi bukan hanya waktumu yang kamu berikan kepada dia.”
Aku mendorong dokumen transfer ke hadapannya.
“Kamu juga memberikan masa depan kita.”
Aditya menangis.
Namun kali ini tangisannya tidak lagi memengaruhiku.
Proses perceraian berjalan.
Aditya mengembalikan seluruh bagian uang yang menjadi hakku dengan menjual apartemen investasinya dan sebagian saham perusahaan.
Indah menghilang dari kehidupan kami setelah kasus utangnya diketahui keluarganya.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Hari keluar dari pengadilan, Aditya menungguku di tangga.
Tubuhnya lebih kurus.
“Nara.”
Aku berhenti.
“Aku tidak akan memintamu kembali.”
“Bagus.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku cuma ingin tahu… apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana.
Namun anehnya, itu pertanyaan yang seharusnya dia tanyakan bertahun-tahun lalu.
“Aku sedang belajar.”
Dia mengangguk.
“Nara, tentang anak kita…”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan.”
Matanya memerah.
“Aku cuma ingin bilang aku minta maaf.”
“Aku tahu.”
“Aku akan menyesal seumur hidup.”
“Itu urusanmu, Dit.”
Aku berjalan pergi.
Satu tahun berlalu.
Aku pindah ke apartemen baru.
Aku kembali bepergian, bertemu teman-teman lama, dan perlahan membangun kehidupan yang pernah kutinggalkan demi pernikahan.
Namun ada satu tempat yang masih sulit kudatangi.
Rumah sakit.
Sampai suatu sore aku menerima telepon dari dokter yang dahulu menanganiku.
“Nara, bisa datang besok?”
Aku langsung tegang.
“Ada masalah?”
“Bukan. Justru ada sesuatu yang perlu saya luruskan.”
Keesokan harinya aku duduk di ruang konsultasi dengan telapak tangan dingin.
Dokter membuka rekam medisku.
“Waktu operasi darurat, kondisi Anda sangat kritis. Kami memang melakukan histerektomi untuk menghentikan perdarahan.”
Aku mengangguk.
Aku sudah tahu itu.
“Tapi ada satu hal yang mungkin belum dijelaskan dengan cukup jelas karena waktu itu fokus kita adalah menyelamatkan nyawa Anda.”
Dokter menggeser sebuah hasil pemeriksaan.
“Ovarium Anda masih berfungsi.”
Aku terdiam.
“Maksud Dokter?”
“Anda memang tidak bisa mengandung sendiri karena rahim sudah diangkat. Tetapi sel telur Anda masih mungkin digunakan melalui teknologi reproduksi berbantu dan gestational carrier di yurisdiksi yang mengizinkannya. Tentu perlu pemeriksaan lebih lanjut.”
Aku menatap dokter cukup lama.
Selama setahun aku hidup dengan kalimat tidak bisa punya anak lagi.
Ternyata kenyataannya lebih rumit.
Aku tidak mendapatkan kembali apa yang hilang.
Tidak ada keajaiban yang mengembalikan rahimku.
Tidak ada cara menghidupkan bayi yang telah pergi.
Namun untuk pertama kalinya, masa depan tidak terlihat seperti sebuah pintu yang sepenuhnya tertutup.
Malamnya aku membuka kotak kecil yang selama ini kusimpan.
Foto USG itu masih ada.
Aku menyentuhnya perlahan.
“Aku tidak akan melupakan kamu,” bisikku.
Dua tahun kemudian, aku bertemu Aditya secara tidak sengaja di lobi rumah sakit yang sama.
Dia sedang menemani ibunya kontrol.
Aku baru keluar dari lift.
Kami saling menatap.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kerinduan.
Hanya dua orang yang pernah berbagi kehidupan dan sama-sama membawa bekas luka masing-masing.
Aditya melihat map medis di tanganku.
“Kamu sakit?”
Aku tersenyum.
“Tidak.”
Lalu seorang perempuan menghampiriku dari belakang.
Namanya Maya, sahabatku sejak kuliah.
Di tangannya ada dokumen dari sebuah klinik fertilitas di luar negeri.
“Konsultasinya sudah dikonfirmasi,” katanya.
Aditya mendengarnya.
Matanya bergerak dari Maya kepadaku.
“Nara…”
Aku tahu pertanyaan yang ingin dia ajukan.
Aku hanya tersenyum.
“Aku pernah berpikir kehilangan rahim berarti kehilangan seluruh kesempatan menjadi ibu.”
Aditya menahan napas.
“Ternyata aku salah.”
Air mata memenuhi matanya.
Namun kali ini bukan penyesalan yang kulihat.
Entah mengapa, aku melihat kelegaan.
“Aku senang mendengarnya,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya, aku percaya dia mengatakannya tanpa mengharapkan apa pun dariku.
Aku mengangguk lalu berjalan melewatinya.
Beberapa langkah kemudian, Aditya memanggil.
“Nara.”
Aku menoleh.
“Kalau suatu hari kamu punya anak…”
Suaranya bergetar.
“Jadilah ibu yang bahagia.”
Aku tersenyum.
“Kamu juga belajarlah menjadi manusia yang lebih baik.”
Kami berpisah di sana.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kesempatan kedua.
Karena tidak semua kisah cinta harus berakhir dengan dua orang kembali bersama.
Beberapa kisah berakhir ketika seseorang akhirnya menemukan keberanian untuk memilih dirinya sendiri.
Dan beberapa kehilangan tidak pernah benar-benar tergantikan.
Anakku tetap anak pertamaku.
Tidak ada teknologi, hubungan baru, ataupun masa depan yang akan menghapus keberadaannya.
Tetapi aku akhirnya memahami sesuatu.
Malam ketika aku kehilangan bayiku, aku mengira hidupku ikut berakhir.
Ternyata bukan.
Yang berakhir malam itu hanyalah kehidupan yang selama bertahun-tahun kupaksakan untuk tetap utuh.
Sedangkan hidupku sendiri baru saja dimulai kembali.
