Aku selalu mengira putriku alergi terhadap makanan yang kubuat di rumah—sampai suatu pagi, aku memergoki kakak iparku diam-diam meneteskan sesuatu ke dalam kotak bekalnya.

Aku selalu mengira putriku alergi terhadap makanan yang kubuat di rumah, sampai suatu pagi aku memergoki kakak iparku diam-diam meneteskan sesuatu ke dalam kotak bekalnya.

Awalnya, aku menyalahkan diriku sendiri.

Namaku Rina. Tiga tahun lalu, suamiku, Arga, meninggal dalam kecelakaan kerja. Sejak hari itu, aku membesarkan putri kami, Alya, seorang diri.

Alya baru berusia delapan tahun.

Beberapa bulan terakhir, setiap kali memakan bekal dari rumah di sekolah, tubuhnya dipenuhi ruam merah. Bibirnya membengkak. Dua kali napasnya sesak sampai guru membawanya ke IGD.

Dokter menduga ada alergi yang belum terdeteksi.

Aku mengganti minyak, beras, bumbu, bahkan seluruh peralatan memasak.

Tidak ada yang berubah.

Setiap kali melihat Alya terbaring dengan infus di tangan, aku merasa telah gagal menjadi seorang ibu.

Karena harus berangkat kerja pukul enam pagi, Maya, kakak perempuan mendiang suamiku, sering membantu menyiapkan bekal Alya.

“Kamu tenang saja, Rin. Aku menganggap Alya seperti anakku sendiri.”

Aku mempercayainya.

Sampai pagi itu.

Aku sudah meninggalkan rumah ketika menyadari laptop kantorku tertinggal. Aku kembali tanpa memberi tahu siapa pun.

Saat melewati dapur, kulihat Maya berdiri membelakangiku.

Di tangannya ada botol kaca kecil tanpa label.

Dia membuka kotak makan Alya, lalu meneteskan cairan bening ke dalam sup.

Satu tetes.

Dua tetes.

Tiga tetes.

“Maya!”

Dia terlonjak.

Botol itu jatuh dan pecah.

Wajahnya seketika pucat.

“Apa yang baru saja kamu masukkan ke makanan Alya?”

“Bukan apa-apa.”

“Jangan bohong!”

Aku hendak mengambil pecahan botol, tetapi Maya tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

“Jangan disentuh.”

Nada suaranya membuatku semakin takut.

Aku menepis tangannya.

“Kalau memang bukan apa-apa, kenapa aku tidak boleh menyentuhnya?”

Maya tidak menjawab.

Aku segera mengambil ponsel dan memotret cairan yang masih tersisa di lantai. Kemudian aku mengambil wadah plastik dari lemari, mengenakan sarung tangan dapur, dan memasukkan beberapa pecahan botol ke dalamnya.

Maya menatapku tajam.

“Kamu mau apa?”

“Membawanya ke laboratorium.”

Ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama tiga tahun menjadi tempatku bersandar itu terlihat seperti orang asing.

“Rina, dengarkan aku dulu.”

“Jelaskan.”

“Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Jadi memang ada sesuatu di dalam botol itu?”

Maya terdiam.

Aku segera menelepon kantor dan mengatakan tidak bisa masuk. Setelah itu aku membangunkan Alya dan membawanya keluar rumah.

Maya mengejar kami sampai teras.

“Rina!”

Aku memasukkan Alya ke mobil.

“Mulai sekarang jangan dekati anakku.”

Maya berdiri membeku.

Alya memandangku dari kursi belakang.

“Bunda, Tante Maya kenapa?”

Aku menahan air mata.

“Tidak apa-apa, Sayang.”

Tetapi aku tahu sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.

Aku membawa sampel itu ke rumah sakit tempat Alya biasa diperiksa. Dokter Aditya, dokter anak yang menangani Alya, awalnya terlihat bingung mendengar ceritaku.

Dia meminta sampel dikirim untuk pemeriksaan toksikologi.

Sore harinya, aku mendapat telepon.

“Bu Rina, bisa kembali ke rumah sakit?”

Nada suara dokter membuat jantungku berdegup kencang.

Aku datang bersama Alya.

Dokter Aditya meletakkan hasil pemeriksaan di meja.

“Cairan itu mengandung ekstrak kacang dalam konsentrasi sangat tinggi.”

Aku menatapnya.

“Kacang?”

Dokter mengangguk.

“Kami juga mengulang pemeriksaan alergi Alya. Dia memang memiliki alergi berat terhadap kacang tertentu. Dalam jumlah kecil saja bisa memicu reaksi serius.”

Tanganku dingin.

“Jadi selama ini…”

“Saya belum bisa menyimpulkan siapa yang melakukannya. Tapi jika cairan tersebut sengaja dimasukkan ke makanannya, itu sangat berbahaya.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Semua kejadian beberapa bulan terakhir berputar kembali di kepalaku.

Bekal sekolah.

Rumah sakit.

Maya yang selalu datang setelah Alya dirawat.

Maya yang memelukku sambil berkata aku harus lebih berhati-hati.

Maya yang menyarankan agar Alya tinggal bersamanya beberapa hari supaya aku bisa beristirahat.

Aku pulang dengan satu pertanyaan.

Mengapa?

Maya tidak berada di rumah.

Kamarnya kosong.

Beberapa pakaiannya hilang.

Aku langsung menghubungi polisi dan menyerahkan hasil laboratorium serta rekaman kamera dapur.

Aku bahkan lupa rumah kami memiliki kamera kecil menghadap ruang makan. Arga memasangnya bertahun-tahun lalu setelah rumah kami pernah kemalingan.

Saat membuka rekaman beberapa minggu terakhir, lututku lemas.

Maya telah melakukannya berkali-kali.

Tidak setiap hari.

Hanya pada hari tertentu.

Dia selalu menunggu ketika aku tidak melihat.

Aku menangis sambil menutup mulut.

Namun ada sesuatu yang lebih aneh.

Setelah meneteskan cairan itu, Maya selalu memotret kotak makan Alya.

Untuk apa?

Polisi mulai mencari Maya.

Malam itu, saat Alya sudah tidur, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Kalau kamu ingin tahu kenapa Arga mati, datang ke rumah lama Ibu sendirian.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Rumah lama Ibu adalah rumah peninggalan mertuaku di Bekasi yang sudah bertahun-tahun kosong.

Aku langsung menyerahkan pesan itu kepada polisi.

Mereka melarangku pergi sendiri.

Keesokan harinya, polisi mendatangi rumah tersebut.

Maya ditemukan di sana.

Tetapi yang ditemukan bersama Maya jauh lebih mengejutkan.

Di sebuah lemari tua terdapat beberapa map milik Arga.

Dokumen asuransi.

Catatan perusahaan.

Dan sebuah flashdisk.

Ternyata beberapa minggu sebelum meninggal, Arga sedang mengumpulkan bukti tentang kecelakaan kerja di perusahaan tempatnya bekerja.

Kecelakaan yang menewaskan dua pekerja sebelumnya diduga terjadi karena standar keselamatan yang diabaikan.

Arga berniat melaporkannya.

Salah satu orang yang mengetahui rencana itu adalah Maya.

Aku semakin tidak mengerti.

Apa hubungannya semua itu dengan Alya?

Jawabannya muncul ketika polisi menemukan dokumen lain.

Sebuah polis asuransi pendidikan atas nama Alya senilai hampir tiga miliar rupiah.

Wali pengelola dana jika aku dianggap tidak mampu merawat Alya adalah Maya.

Aku merasa mual.

Ternyata beberapa bulan setelah Arga meninggal, Maya terlilit utang besar akibat investasi bodong.

Dia membutuhkan uang.

Namun polis itu tidak bisa dicairkan begitu saja.

Maya kemudian membangun sebuah cerita perlahan-lahan.

Bahwa aku adalah ibu yang ceroboh.

Bahwa makanan buatanku terus membuat Alya sakit.

Bahwa meskipun sudah berkali-kali diperingatkan dokter, aku tetap gagal menjaga putriku.

Foto-foto kotak makan itu disimpannya sebagai bagian dari “bukti”.

Dia bahkan menyimpan catatan tanggal setiap kali Alya masuk rumah sakit.

Rencananya, setelah cukup banyak kejadian, Maya akan mengajukan permohonan menjadi wali sementara Alya dengan alasan kelalaian orang tua.

Aku tidak tahu harus marah atau menangis.

Namun satu pertanyaan belum terjawab.

“Pesan tentang Arga itu bagaimana?”

Penyidik menatapku.

“Maya mengaku sengaja mengirim pesan tersebut supaya Ibu datang.”

“Untuk apa?”

“Dia ingin bernegosiasi.”

Ternyata Maya mengetahui rahasia kematian Arga.

Bukan karena dia membunuh adiknya.

Melainkan karena selama tiga tahun dia menyembunyikan sesuatu.

Pada malam sebelum kecelakaan, Arga menitipkan flashdisk kepadanya.

“Kalau terjadi sesuatu padaku, berikan ini ke Rina.”

Maya tidak pernah memberikannya.

Setelah Arga meninggal, perusahaan menawarkan sejumlah uang kepada keluarga dengan syarat persoalan kecelakaan tidak diperpanjang.

Aku tidak pernah mengetahui hal itu.

Maya yang saat itu mengurus sebagian dokumen keluarga diam-diam menerima uang tersebut.

Dia kemudian menyembunyikan flashdisk Arga.

Aku menatap Maya ketika akhirnya diizinkan bertemu dengannya di kantor polisi.

Tangannya gemetar.

“Kenapa?” tanyaku.

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Maya menangis.

“Aku butuh uang.”

“Kamu hampir membunuh Alya.”

“Aku selalu menghitung dosisnya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu pikir kalimat itu membuat semuanya lebih baik?”

Maya menunduk.

“Aku cuma ingin membuatmu terlihat tidak mampu merawatnya. Aku tidak pernah berniat membunuh Alya.”

Aku mendekat.

“Setiap kali anakku tidak bisa bernapas, dia bisa mati.”

Maya terisak.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan melakukannya.”

Kemudian Maya mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Aku iri padamu.”

Aku menatapnya.

“Arga selalu memilihmu. Ibu juga lebih menyayangi Alya daripada anakku. Setelah suamiku meninggalkanku, aku tidak punya apa-apa. Sementara kamu, meskipun Arga meninggal, masih punya rumah, asuransi, Alya…”

“Jadi karena hidupmu hancur, kamu merasa berhak menghancurkan hidup kami?”

Dia tidak menjawab.

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Kasus Maya kemudian diproses secara hukum. Bukti rekaman kamera, hasil laboratorium, catatan rumah sakit, dan pengakuannya membuat semuanya sulit dibantah.

Flashdisk Arga juga membuka penyelidikan baru terhadap perusahaan tempatnya bekerja.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima kabar bahwa kecelakaan yang menewaskan suamiku bukan sekadar nasib buruk. Ada pelanggaran keselamatan yang telah berulang kali diperingatkan tetapi diabaikan.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku berhenti menyalahkan Arga karena meninggalkan kami terlalu cepat.

Dan aku juga berhenti menyalahkan diriku sendiri.

Alya perlahan pulih.

Dokter memberiku pena epinefrin yang harus selalu kubawa. Sekolahnya kini mengetahui dengan jelas makanan apa yang harus dihindari.

Yang paling sulit justru menyembuhkan ketakutannya.

Selama beberapa minggu, Alya tidak mau membawa bekal.

Suatu pagi, aku membuatkan nasi, ayam kecap, dan sayuran kesukaannya.

Dia duduk di meja dapur, memandangi kotak makan itu lama.

“Bunda yang bikin?”

“Iya.”

“Tidak ada yang masukin apa-apa?”

Dadaku terasa sesak.

Aku duduk di sampingnya.

“Kamu boleh lihat sendiri waktu Bunda masak.”

Alya menatapku.

Kemudian dia mengambil sendok dan mencicipinya.

Aku menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Tidak terjadi apa-apa.

Alya tersenyum kecil.

“Enak.”

Aku hampir menangis.

Beberapa hari kemudian, pengacara keluarga datang membawa dokumen terakhir yang ditemukan di antara barang-barang Arga.

Sebuah amplop kecil dengan tulisan tangannya.

Untuk Rina, kalau aku terlambat pulang.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya bukan dokumen perusahaan.

Hanya sepucuk surat pendek.

Arga menulis bahwa pekerjaan di tempatnya semakin berbahaya dan dia sedang mencoba memperbaiki keadaan. Dia meminta maaf karena sering pulang terlambat.

Pada kalimat terakhir, dia menulis sesuatu yang membuat air mataku jatuh.

Kalau suatu hari aku tidak bisa pulang, jangan pernah berpikir kamu harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk Alya. Jadilah ibunya saja. Itu sudah lebih dari cukup.

Aku memeluk surat itu di dada.

Selama tiga tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa seorang ibu yang baik harus mampu mencegah semua hal buruk terjadi kepada anaknya.

Aku salah.

Aku tidak bisa mengendalikan dunia.

Aku tidak bisa mengetahui isi hati setiap orang.

Bahkan seseorang yang duduk di meja makan kami, memegang tangan anakku, dan berkata menganggapnya seperti anak sendiri ternyata mampu menyimpan niat yang tidak pernah kubayangkan.

Tetapi aku bisa melakukan satu hal.

Aku bisa percaya ketika sesuatu terasa tidak benar.

Aku bisa mencari kebenaran.

Dan aku bisa berdiri di antara putriku dan siapa pun yang mencoba menyakitinya.

Pagi itu, sebelum berangkat sekolah, Alya memasukkan kotak makannya sendiri ke dalam tas.

Dia berhenti di depan pintu dan menatapku.

“Bunda.”

“Hm?”

“Nanti pulang aku mau makan sup yang waktu itu.”

Aku terdiam sesaat.

Sup yang selama berbulan-bulan membuatku takut bahkan untuk masuk ke dapur.

Aku tersenyum.

“Boleh.”

Alya memelukku sebentar, lalu berlari menuju mobil jemputan sekolah.

Aku berdiri di depan rumah sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa takut melihat putriku membawa makanan dari rumah.

Dan untuk pertama kalinya sejak Arga meninggal, aku akhirnya memahami kalimat terakhirnya.

Menjadi ibu Alya saja memang sudah cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang