IBUKU SENDIRI MENJODOHKANKU DENGAN SEORANG PRIA TUA YANG BELUM PERNAH MENIKAH DEMI RP150 JUTA. AKU MENGIRA SEJAK SAAT ITU HIDUPKU AKAN MENJADI NERAKA. NAMUN, AKU TAK PERNAH MENYANGKA BAHWA BEGITU MEMASUKI KAMAR PADA MALAM PERTAMA KAMI SEBAGAI SUAMI ISTRI, SEBUAH KENYATAAN MENGEJUTKAN TELAH MENUNGGUKU.

Begitu melihat isi dokumen pertama di dalam map itu, napasku langsung tercekat.

Namaku tertulis jelas di sana.

Bukan sebagai pihak yang berutang, bukan pula sebagai istri yang wajib menyerahkan sesuatu kepada suaminya. Dokumen itu justru menyatakan bahwa sebidang tanah beserta rumah kecil di atasnya telah dialihkan kepemilikannya kepadaku.

Aku membalik lembar berikutnya dengan tangan gemetar. Ada buku tabungan atas namaku dengan saldo yang membuatku semakin bingung. Lalu ada surat pernyataan bermeterai yang telah ditandatangani Pak Hadi beberapa hari sebelum pernikahan kami.

Aku menatapnya.

“Ini apa, Pak?”

Pak Hadi menarik kursi, tetapi tetap menjaga jarak dariku.

“Jaminan untukmu.”

“Jaminan?”

“Supaya kalau suatu hari kamu ingin pergi dari rumah ini, kamu tidak perlu kembali kepada siapa pun karena terpaksa.”

Aku tidak memahami maksudnya.

Pak Hadi menunjuk surat terakhir.

Aku membacanya perlahan.

Di sana tertulis bahwa selama pernikahan kami, dia tidak akan memaksaku melakukan hubungan suami istri tanpa persetujuanku. Aku juga diperbolehkan melanjutkan pendidikan atau bekerja jika menginginkannya.

Aku sampai membaca kalimat itu dua kali.

“Kenapa?”

Pak Hadi tersenyum tipis.

“Karena saya tahu kamu tidak menikah dengan saya karena cinta.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.

Aku menunduk.

“Uang seratus lima puluh juta itu…”

“Sudah saya berikan kepada ibumu.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi memang benar saya dibeli?”

Wajah Pak Hadi berubah.

Dia berdiri, lalu berjalan menuju jendela.

“Tidak.”

“Tapi Bapak memberikan uang kepada keluarga saya supaya saya menikah dengan Bapak.”

“Itu yang dikatakan kepadamu?”

Aku terdiam.

Pak Hadi menoleh.

Untuk pertama kalinya kulihat kemarahan di wajahnya, tetapi anehnya kemarahan itu tidak ditujukan kepadaku.

“Saya tidak pernah membeli kamu, Laras.”

Aku semakin bingung.

Pak Hadi mengambil kotak kayu kecil di atas meja dan meletakkannya di hadapanku.

“Buka.”

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Seorang perempuan muda berdiri di depan rumah sederhana bersama seorang laki-laki yang langsung kukenali.

Ayahku.

Tanganku mendadak dingin.

“Ini Ayah…”

“Perempuan di sebelahnya adalah adik saya.”

Aku menatap Pak Hadi dengan mata terbelalak.

Dia kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui olehku.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, adiknya, Ratih, bekerja di sebuah pabrik tekstil di Klaten. Suatu malam terjadi kebakaran di gudang. Ayahku, yang saat itu bekerja sebagai teknisi, masuk kembali ke bangunan untuk menyelamatkan beberapa pekerja yang terjebak.

Salah satunya Ratih.

Ayah berhasil membawa Ratih keluar, tetapi mengalami luka bakar cukup serius.

Sejak kejadian itu, keluarga Pak Hadi merasa berutang budi kepada Ayah.

“Ayahmu tidak pernah meminta apa pun,” katanya. “Bahkan ketika saya menawarkan bantuan, dia selalu menolak.”

Aku menahan napas.

“Lalu kenapa Bapak menikahi saya?”

Pak Hadi tidak langsung menjawab.

“Beberapa bulan lalu saya mengetahui keluargamu terlilit utang. Saya datang menemui ibumu karena ingin membantu.”

“Lalu?”

“Ibumu menolak menerima bantuan cuma-cuma.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi akhirnya Ibu menawarkan saya?”

Pak Hadi diam cukup lama.

Diamnya menjadi jawaban.

Air mataku jatuh.

Aku tidak tahu harus marah kepada siapa.

Kepada Ibu?

Kepada kemiskinan?

Atau kepada diriku sendiri karena telah menerima pernikahan ini?

“Kenapa Bapak setuju?”

Pak Hadi menghela napas.

“Itulah kesalahan saya.”

Dia mengaku selama hidupnya tidak pernah menikah. Setelah orang tuanya meninggal dan Ratih pindah ke luar kota bersama keluarganya, Pak Hadi menjalani kehidupan seorang diri. Ketika Ibu menawarkan perjodohan, awalnya dia menolak.

Namun Ibu terus meyakinkannya bahwa aku sudah setuju.

“Saya bertanya tiga kali apakah kamu benar-benar bersedia. Ibumu selalu mengatakan iya.”

Aku menggigit bibir.

“Tapi Bapak tahu saya jauh lebih muda.”

“Saya tahu.”

“Bapak tetap menikahi saya.”

Pak Hadi menunduk.

“Karena saya egois.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

“Saya kesepian, Laras. Saya pikir mungkin kita bisa menjadi keluarga. Bukan karena saya ingin memiliki perempuan muda, tetapi karena saya terlalu lama hidup sendirian.”

Dia menatapku.

“Tapi ketika melihat wajahmu saat akad, saya sadar kamu tidak datang dengan kebahagiaan.”

Aku menangis tanpa suara.

Malam itu tidak terjadi apa pun seperti yang kutakutkan.

Pak Hadi bahkan mengambil bantal dan selimut lalu tidur di kamar tamu.

Sebelum keluar, dia hanya berkata, “Kamar ini milikmu. Kunci dari dalam kalau itu membuatmu merasa lebih aman.”

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu direncanakan, aku bisa bernapas dengan lega.

Namun kehidupan setelahnya tetap terasa aneh.

Kami tinggal di rumah yang sama, tetapi seperti dua orang asing.

Pak Hadi bangun sebelum subuh, membuat kopi sendiri, lalu berangkat ke usaha penggilingan beras miliknya. Dia pulang menjelang sore dan biasanya membawa makanan.

Dia tidak pernah bertanya mengapa aku belum memasak.

Tidak pernah menuntut aku mencuci bajunya.

Tidak pernah memaksaku tidur bersamanya.

Justru sikapnya membuatku semakin bingung.

Suatu sore, dia meletakkan sebuah brosur di meja.

Aku membukanya.

Pendaftaran program kuliah di sebuah universitas swasta di Yogyakarta.

Dulu aku memang ingin kuliah. Setelah lulus SMA, aku sempat diterima di jurusan akuntansi, tetapi tidak pernah mendaftar ulang karena tidak punya biaya.

“Bapak tahu dari mana?”

“Ibumu pernah cerita.”

Aku langsung menutup brosur itu.

“Saya sudah menikah.”

“Memangnya perempuan menikah tidak boleh kuliah?”

Aku tidak bisa menjawab.

Beberapa minggu kemudian aku mendaftar.

Perlahan hidup yang kukira akan menjadi penjara justru memberiku ruang yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.

Namun semuanya berubah ketika suatu siang adikku, Dimas, menelepon.

Suaranya panik.

“Kak, Ibu masuk rumah sakit.”

Aku langsung pulang ke Klaten.

Di rumah sakit, dokter mengatakan tekanan darah Ibu sangat tinggi. Kondisinya stabil, tetapi membutuhkan perawatan.

Saat aku membuka tas Ibu untuk mencari kartu identitasnya, aku menemukan sebuah buku kecil.

Catatan utang.

Aku membukanya.

Jantungku hampir berhenti.

Utang keluarga kami sebelum pernikahanku ternyata hanya sekitar enam puluh juta rupiah.

Bukan seratus lima puluh juta.

Aku memeriksa halaman demi halaman.

Setelah semua utang dibayar, masih ada puluhan juta rupiah yang seharusnya tersisa.

Namun Dimas mengatakan dia tidak pernah menerima uang untuk sekolah.

Rumah kami juga belum diperbaiki.

Aku langsung menemui Ibu setelah kondisinya membaik.

“Ke mana uangnya, Bu?”

Wajah Ibu pucat.

“Uang apa?”

“Seratus lima puluh juta.”

Ibu mengalihkan pandangan.

Aku meletakkan buku catatan utang di atas kasur.

“Utang kita cuma enam puluh juta.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Ke mana sisanya?”

Ibu mulai menangis.

Aku menunggu.

Akhirnya dia mengaku.

Sebagian uang diberikan kepada seseorang bernama Seno.

Aku mengenal nama itu.

Dia adik kandung Ibu.

Pamanku.

Selama bertahun-tahun Paman Seno memiliki masalah judi daring. Dia berkali-kali meminjam uang dan selalu berjanji akan mengembalikannya.

Ternyata setelah menerima uang dari Pak Hadi, Ibu menggunakan hampir tujuh puluh juta untuk menutup utang Paman Seno.

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Jadi Ibu menikahkan aku bukan cuma demi keluarga kita?”

“Laras…”

“Ibu menyerahkan hidupku untuk membayar utang judi Paman?”

Ibu menangis semakin keras.

“Dia diancam orang, Ras. Ibu takut dia kenapa-kenapa.”

“Lalu aku?”

Suaraku pecah.

“Ibu pernah takut aku kenapa-kenapa?”

Ibu tidak menjawab.

Aku meninggalkan rumah sakit sambil menangis.

Di luar, Pak Hadi ternyata sudah menungguku.

Aku tidak tahu dari mana dia mengetahui semuanya.

Begitu melihatnya, pertahananku runtuh.

Aku menangis di dadanya untuk pertama kalinya.

Dia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dia hanya berdiri diam sampai tangisku reda.

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.

Paman Seno datang ke rumah Pak Hadi.

Dia meminta uang.

Ketika Pak Hadi menolak, Seno mulai mengancam.

“Kalau Mas Hadi tidak mau membantu, saya bisa bilang ke semua orang kalau Mas membeli keponakan saya.”

Aku yang mendengar dari balik pintu langsung keluar.

“Silakan.”

Seno terkejut melihatku.

“Kamu jangan ikut campur.”

“Ini hidup saya. Justru Paman yang tidak boleh ikut campur.”

Dia mendekat dengan marah.

“Kalau bukan karena saya, keluargamu masih punya utang!”

Aku menatapnya.

“Utang keluarga kami enam puluh juta. Yang membuat jumlahnya membengkak adalah utang Paman.”

Wajahnya berubah.

Pak Hadi kemudian mengeluarkan ponsel.

Percakapan kami ternyata direkam.

Dia juga telah menyimpan bukti transfer dan pesan-pesan Seno kepada Ibu.

Seno akhirnya pergi sambil mengumpat.

Sejak hari itu, aku meminta Ibu berhenti memberikan uang kepadanya.

Awalnya Ibu marah dan mengatakan aku tidak memahami arti keluarga.

Namun untuk pertama kalinya aku berani menjawab.

“Keluarga bukan alasan untuk mengorbankan satu orang supaya menyelamatkan kesalahan orang lain.”

Kalimat itu juga terasa seperti sedang kuucapkan kepada diriku sendiri.

Bulan demi bulan berlalu.

Hubunganku dengan Pak Hadi perlahan berubah.

Aku mulai menunggunya pulang.

Kami makan malam bersama.

Kadang aku membantunya mencatat keuangan usaha. Dia selalu tertawa karena menurutnya setelah kuliah akuntansi beberapa semester, aku mulai lebih cerewet daripada pegawai administrasinya.

Suatu malam listrik padam karena hujan deras.

Kami duduk di teras ditemani lampu darurat.

Pak Hadi tiba-tiba berkata, “Kalau suatu hari kamu ingin bercerai, saya tidak akan menahanmu.”

Aku menoleh.

“Kenapa tiba-tiba bicara begitu?”

“Karena kamu sudah mulai bisa berdiri sendiri.”

Dia tersenyum.

“Kuliahmu hampir selesai. Tanah dan rumah itu tetap milikmu. Kamu tidak berutang apa pun kepada saya.”

Entah mengapa dadaku terasa sakit.

Dulu, kalimat seperti itu adalah sesuatu yang paling ingin kudengar.

Sekarang justru aku takut mendengarnya.

“Kalau saya tidak mau pergi?”

Pak Hadi menatapku.

Untuk pertama kalinya laki-laki yang selalu terlihat tenang itu kehilangan kata-kata.

Aku tersenyum kecil.

“Dulu saya tinggal di sini karena tidak punya pilihan.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi kalau sekarang saya tetap tinggal, itu pilihan saya sendiri.”

Matanya memerah.

Malam itu tidak ada janji besar.

Tidak ada kata-kata romantis seperti dalam film.

Hanya dua orang yang akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu datang sebelum pernikahan.

Kadang cinta tumbuh setelah seseorang diberi kebebasan untuk memilih.

Tiga tahun kemudian aku menyelesaikan kuliah.

Pak Hadi duduk di antara para keluarga wisudawan dengan kemeja terbaiknya. Rambutnya semakin putih, tetapi senyumnya terlihat lebih bahagia daripada siapa pun di ruangan itu.

Ibu juga datang.

Hubungan kami tidak langsung pulih. Butuh waktu lama sebelum aku mampu memaafkannya.

Namun Ibu akhirnya mengakui bahwa keputusannya dulu salah.

“Ampuni Ibu, Ras.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku sudah memaafkan Ibu. Tapi jangan pernah meminta anak perempuan mengorbankan hidupnya demi kesalahan orang lain lagi.”

Ibu mengangguk sambil menangis.

Setelah wisuda, ketika kami hendak pulang, seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan menghampiri Pak Hadi.

Aku langsung mengenalinya dari foto lama.

Bu Ratih.

Adik Pak Hadi yang pernah diselamatkan Ayah.

Dia memelukku erat.

Kemudian dia memberikan sebuah amplop.

“Ini sebenarnya titipan untukmu sejak lama.”

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

Tulisan Ayah.

Aku hampir tidak mampu bernapas ketika membacanya.

Surat itu dibuat beberapa bulan sebelum Ayah meninggal.

Ayah menulis bahwa Pak Hadi pernah menawarkan uang sebagai rasa terima kasih karena telah menyelamatkan Ratih, tetapi Ayah menolaknya.

Pada bagian terakhir terdapat satu kalimat yang membuat air mataku jatuh.

Jika suatu hari aku sudah tidak ada dan anak-anakku membutuhkan bantuan, jangan berikan mereka belas kasihan. Berikan mereka kesempatan untuk menentukan hidup mereka sendiri.

Aku menatap Pak Hadi.

“Bapak sudah tahu surat ini?”

Dia menggeleng.

Ratih ikut menangis.

“Saya baru menemukannya ketika membereskan rumah lama.”

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Pak Hadi memang pernah melakukan kesalahan karena menerima perjodohan yang tidak sepenuhnya kuinginkan.

Ibu juga melakukan kesalahan karena membiarkan keputusasaan membuatnya mengorbankanku.

Namun hidupku tidak berhenti pada kesalahan mereka.

Aku masih memiliki hak untuk menentukan bagaimana kisahku berakhir.

Dulu aku memasuki rumah Pak Hadi sebagai perempuan yang merasa telah dijual seharga Rp150 juta.

Bertahun-tahun kemudian, aku tetap berada di rumah yang sama bukan karena uang, utang, rasa kasihan, ataupun kewajiban.

Aku tinggal karena memilihnya.

Dan mungkin itulah kenyataan paling mengejutkan dari seluruh kisahku.

Pria tua yang kukira akan merampas masa depanku justru menjadi orang pertama yang mengajariku bahwa cinta tanpa kebebasan hanyalah kepemilikan.

Sedangkan seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan mengurungmu agar tetap tinggal.

Dia akan membuka pintu selebar-lebarnya, lalu membiarkanmu menentukan sendiri apakah ingin pergi atau pulang kembali kepadanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang