Kilatan benda di tangan Om Herman membuat seluruh tubuhku membeku. Namun ketika dia semakin dekat, aku baru menyadari benda panjang itu bukan pisau.
Sebuah linggis.
Aneh, tetapi kenyataan itu sama sekali tidak membuatku merasa lebih aman.
“Berdiri,” katanya.
“Aku terikat.”
Tante Rini masuk sambil membawa gunting. Dia memotong tali di pergelangan tanganku, tetapi sebelum aku sempat bergerak, Om Herman mencengkeram lenganku begitu keras hingga kukunya terasa menembus kulit.

“Jangan coba macam-macam.”
Mereka menyeretku keluar ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak dikurung, aku melihat bagian lain rumah itu. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat tujuh belas menit dini hari. Hujan turun deras di luar, menghantam kaca jendela.
Kami berjalan menuju pintu belakang.
Semakin dekat ke halaman, bau tanah basah semakin kuat.
Lalu aku melihatnya.
Di bawah cahaya lampu taman, sekitar dua puluh meter dari rumah, terdapat gundukan tanah yang masih baru.
Di sampingnya ada sebuah lubang.
Dalam.
Cukup panjang untuk tubuh manusia.
Langkahku berhenti.
“Itu untuk siapa?”
Tak seorang pun menjawab.
Om Herman mendorong punggungku.
“Jalan.”
“Om, kalau kalian membunuhku, kalian tidak akan pernah mendapatkan kunci itu.”
Dia berhenti.
Aku bisa merasakan cengkeramannya mengendur sedikit.
“Kuncinya ada di mana?”
“Bawa aku ke rumah ayah.”
“Jangan main-main.”
“Aku harus mengambilnya sendiri.”
Tante Rini menatapku lama.
“Kalau kamu bohong?”
Aku menelan ludah.
“Kalau aku bohong, kalian bisa melakukan apa pun yang kalian mau.”
Hujan semakin deras.
Mereka akhirnya memasukkanku ke mobil.
Om Herman menyetir. Tante Rini duduk di belakang bersamaku. Sepanjang perjalanan menuju rumah peninggalan ayah di kawasan Jakarta Selatan, dia tidak melepaskan pandangannya dariku.
Aku sebenarnya tidak punya rencana.
Kunci brankas memang kusimpan di rumah, tetapi memberikan kunci itu berarti menyerahkan satu-satunya perlindunganku.
Aku hanya membutuhkan kesempatan.
Mobil memasuki halaman rumah sekitar pukul tiga pagi.
Rumah itu gelap.
Sudah hampir sebulan aku tidak pulang.
Begitu pintu utama terbuka, aroma kayu dan debu menyambutku. Untuk sesaat dadaku sesak. Tempat itu dipenuhi kenangan tentang ayah dan ibu.
“Cepat,” kata Om Herman.
Aku berjalan menuju ruang kerja ayah.
“Di sini?”
Aku mengangguk.
Ada rak buku besar di belakang meja kerja. Aku menarik sebuah buku tua tentang hukum bisnis, lalu memasukkan jari ke celah di belakangnya.
Tidak ada apa-apa.
Jantungku berdegup.
Aku mencoba lagi.
Kosong.
“Kuncinya mana?” bentak Om Herman.
“Sebentar.”
Aku menggeser beberapa buku.
Tetap tidak ada.
Seseorang sudah mengambilnya.
“Aku tahu kamu bohong.”
Om Herman menarik bahuku kasar.
“Tunggu!”
Mataku menangkap sesuatu.
Sebuah amplop putih terselip di belakang rak.
Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Aku menarik amplop itu.
Di bagian depan tertulis namaku dengan tulisan tangan ayah.
Untuk Arga.
Tanganku gemetar.
“Apa itu?” tanya Tante Rini.
Aku membuka amplop.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
Jika kamu membaca surat ini, berarti sesuatu yang selama bertahun-tahun Ayah takutkan akhirnya terjadi.
Jangan percaya Herman.
Jangan percaya Rini.
Dan apa pun yang terjadi, cari surat kematian atas nama Bima Pradana.
Aku membeku.
Bima Pradana.
Nama itu terasa asing, tetapi entah mengapa aku pernah mendengarnya.
Om Herman merebut surat itu.
Begitu membaca nama tersebut, wajahnya kehilangan warna.
Tante Rini juga berubah.
“Dari mana surat ini?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Kalian lebih tahu daripada aku.”
Om Herman meremas kertas itu.
“Cari kuncinya!”
Kami membongkar rak.
Akhirnya aku menemukan sebuah kotak kecil di balik panel kayu.
Di dalamnya ada kunci brankas.
Mata Om Herman langsung berbinar.
Brankas berada di balik lukisan besar di ruang kerja.
Dia memasukkan kunci dan memutar kombinasi yang ternyata sudah diketahuinya.
Pintu besi terbuka.
Namun tidak ada uang.
Tidak ada emas.
Tidak ada sertifikat rumah.
Hanya sebuah map hitam.
Om Herman mengumpat.
Aku lebih cepat meraihnya.
Di dalam map itu terdapat beberapa dokumen lama.
Laporan keuangan.
Fotokopi kartu identitas.
Foto.
Kemudian sebuah surat kematian.
Nama yang tercetak di sana membuatku merinding.
Bima Pradana.
Tanggal kematian tercatat empat tahun lalu.
Penyebab kematian tertulis kecelakaan lalu lintas.
“Siapa Bima?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
Aku membalik lembar berikutnya.
Ada foto seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di samping ayah.
Di belakang foto tertulis tanggal tujuh tahun lalu.
Bima, jangan pernah percaya laporan Herman.
Aku menatap Om Herman.
“Apa maksud semua ini?”
“Kasih sini.”
Dia berusaha merebut map.
Aku mundur.
“Siapa Bima?”
Tante Rini tiba-tiba menangis.
“Herman, sudah cukup.”
“Diam!”
“Sudah terlalu jauh.”
“Rini, tutup mulutmu!”
Aku menatap mereka bergantian.
“Siapa dia?”
Tante Rini menutup wajahnya.
“Bima adalah auditor perusahaan ayahmu.”
Om Herman membanting telapak tangannya ke meja.
“Rini!”
Namun perempuan itu seperti sudah tidak mampu menahan semuanya.
“Dia menemukan uang perusahaan hilang.”
Aku menatap Om Herman.
“Berapa?”
“Lebih dari dua puluh miliar rupiah,” jawab Tante Rini.
Dadaku terasa sesak.
“Siapa yang mengambil?”
Aku sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Tante Rini menatap suaminya.
“Dia.”
Ruangan itu sunyi.
Om Herman tidak membantah.
“Bima ingin melapor kepada ayahmu,” lanjut Tante Rini. “Dia punya bukti transfer, rekening palsu, semuanya.”
“Lalu?”
Air mata mengalir di wajahnya.
“Herman bilang dia cuma ingin menakut-nakuti Bima.”
“Rini!”
“Tapi malam itu mereka bertengkar.”
Om Herman berjalan ke arahnya.
Aku segera mengambil pembuka surat dari meja dan mengarahkannya kepadanya.
“Jangan sentuh dia.”
Om Herman tertawa dingin.
“Kamu pikir benda kecil itu bisa melindungimu?”
“Teruskan,” kataku kepada Tante Rini.
Dia menarik napas gemetar.
“Bima meninggal malam itu.”
“Bagaimana?”
Tante Rini memejamkan mata.
“Herman memukulnya.”
Om Herman tiba-tiba berteriak.
“Itu kecelakaan!”
Suara itu menggema di seluruh rumah.
“Aku cuma mendorong dia! Kepalanya membentur meja!”
“Lalu kalian menguburnya?”
Tante Rini mengangguk perlahan.
Aku menatap surat kematian di tanganku.
“Tapi kalau jasadnya dikubur diam-diam, bagaimana surat kematian ini bisa ada?”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian aku memahami sesuatu.
“Surat ini palsu.”
Tante Rini menangis semakin keras.
“Dokter yang menandatangani adalah kenalan Herman.”
Darahku terasa dingin.
Mereka membuat Bima mati dua kali.
Pertama secara nyata.
Kedua secara administratif.
Dengan surat kematian palsu, Bima seolah meninggal dalam kecelakaan yang tidak pernah terjadi.
“Di mana kalian menguburkannya?”
Tante Rini menatapku.
Om Herman langsung bergerak.
Namun terlambat.
“Di belakang rumah kami,” katanya.
Aku membeku.
Lubang.
Suara penggalian.
Tanah di pakaian Om Herman.
“Tapi kalian menggali lagi tadi malam.”
Tante Rini mengangguk.
“Herman ingin memindahkan jasadnya.”
“Kenapa sekarang?”
“Karena rumah itu akan dijual bulan depan. Kalau pemilik baru merenovasi halaman…”
Mereka takut kerangkanya ditemukan.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Mereka bukan hanya ingin mengambil hartaku.
Mereka ingin menghilangkan bukti sebelum pergi.
Tiba-tiba Om Herman menerjangku.
Aku sempat menghindar, tetapi tubuhnya menghantamku hingga kami jatuh.
Map hitam terlempar.
Dokumen berserakan.
Pembuka surat terlepas dari tanganku.
Tangannya mencekik leherku.
“Seharusnya kamu diam saja!”
Aku mencoba melawan.
Pandangan mulai gelap.
Lalu terdengar suara keras.
Brak!
Tubuh Om Herman jatuh ke samping.
Tante Rini berdiri di belakangnya sambil memegang lampu meja.
“Herman?”
Dia tidak bergerak.
“Cepat!” teriak Tante Rini. “Telepon polisi!”
Tanganku gemetar ketika meraih ponsel di saku Om Herman.
Namun sebelum sempat menelepon, layar ponselnya menyala.
Ada pesan masuk.
Aku membacanya.
Sudah selesai. Surat kematian Arga siap besok pagi.
Aku berhenti bernapas.
Mereka bahkan sudah membuat surat kematianku.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Tante Rini.
Dia memalingkan wajah.
“Kalian benar-benar akan membunuhku.”
“Aku tidak mau.”
“Tapi Tante membantu dia.”
“Aku takut!”
“Selama bertahun-tahun?”
Dia menangis.
Aku menelepon polisi.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian rumah dipenuhi petugas.
Om Herman sadar sebelum polisi datang dan langsung diamankan.
Aku menyerahkan semua dokumen.
Pagi itu, polisi membawa kami kembali ke rumah mereka.
Halaman belakang dipasangi garis polisi.
Penggalian dimulai.
Aku berdiri di teras sambil menyaksikan petugas menggali tanah yang semalam hampir menjadi kuburanku.
Sekitar satu jam kemudian, salah satu petugas memanggil atasannya.
Mereka menemukan tulang manusia.
Tante Rini langsung jatuh terduduk.
Om Herman menundukkan kepala.
Kupikir semuanya sudah selesai.
Ternyata belum.
Seorang penyidik mendatangiku sambil membawa kantong bukti transparan.
“Kami menemukan ini bersama jasad.”
Di dalamnya ada jam tangan tua.
Aku mengenalinya.
Itu jam tangan ayahku.
“Tidak mungkin.”
Aku menatap Tante Rini.
“Kenapa jam ayah ada di sana?”
Wajahnya kembali pucat.
“Rini,” bentak penyidik. “Ada apa sebenarnya?”
Dia menggigit bibir.
Lalu berkata sesuatu yang membuat seluruh dunia seolah berhenti.
“Karena jasad itu bukan Bima.”
Aku menatapnya tanpa mampu bicara.
“Apa?”
Tante Rini menangis.
“Bima tidak dikubur di sana.”
“Lalu siapa?”
Dia menunjuk jam tangan itu.
“Itu ayahmu.”
Kakiku hampir kehilangan tenaga.
“Tidak mungkin. Ayah meninggal di rumah sakit.”
“Tidak.”
Tante Rini menggeleng.
“Kematian ayahmu juga dipalsukan.”
Aku mundur.
Semua yang selama ini kupercaya runtuh dalam satu kalimat.
“Kalau itu ayahku… Bima di mana?”
Tante Rini menatap Om Herman.
Untuk pertama kalinya, kulihat ketakutan yang benar-benar murni di wajah lelaki itu.
“Bima masih hidup.”
Aku menatapnya.
“Di mana?”
Tidak ada jawaban.
Sampai ponsel Om Herman yang berada di tangan penyidik tiba-tiba berdering.
Semua orang terdiam.
Nomor tidak dikenal.
Penyidik mengaktifkan pengeras suara.
“Halo?”
Beberapa detik hanya terdengar napas.
Kemudian suara seorang laki-laki.
“Saya mencari Arga.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Siapa Anda?”
Laki-laki itu diam sesaat.
Kemudian menjawab.
“Bima Pradana.”
Aku menatap surat kematian yang masih tersimpan di kantong bukti.
Pria yang secara hukum sudah mati empat tahun lalu ternyata masih hidup.
Namun kalimat berikutnya jauh lebih mengerikan.
“Arga, dengarkan saya baik-baik. Herman memang membunuh ayahmu, tapi dia bukan orang yang memerintahkan pembunuhan itu.”
Aku menggenggam ponsel.
“Siapa?”
Suara Bima terdengar berat.
“Ayahmu meninggalkan satu rahasia terakhir. Herman dan Rini bukan sedang mengejar hartamu. Mereka sedang mencari dokumen yang bisa menghancurkan orang yang sebenarnya berada di balik semua ini.”
“Siapa orang itu?”
Bima terdiam.
Lalu menjawab pelan.
“Ibumu.”
Aku membeku.
“Itu tidak mungkin. Ibu meninggal lima tahun lalu.”
“Tidak, Arga.”
Suara Bima bergetar.
“Perempuan yang dimakamkan lima tahun lalu bukan ibumu.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa selama bertahun-tahun keluargaku bukan hidup di antara orang mati.
Kami hidup di antara orang-orang yang sengaja dibuat mati di atas kertas.
Aku menatap surat kematian Bima.
Lalu kantong bukti berisi jam tangan ayah.
Dan akhirnya memahami pesan terakhir yang sebenarnya ingin ayah sampaikan kepadaku.
Di keluarga kami, surat kematian bukan bukti seseorang telah meninggal.
Surat kematian adalah bukti bahwa seseorang ingin dunia percaya mereka sudah tidak ada.
