IBUKU MENYERETKU DAN MENUDUHKU SEBAGAI PENCURI DI DEPAN SELURUH WARGA KAMPUNG SAAT AKU BARU SAJA LULUS MENJADI GURU. NAMUN KETIKA KUNCI DI ROSARIO NENEK MEMBUKA LEMARI TUA, RAHASIA BESAR YANG MEREKA SEMBUNYIKAN SELAMA BERTAHUN-TAHUN AKHIRNYA TERUNGKAP.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi, lalu sekali lagi, seolah huruf-huruf di atas kertas tua tersebut bisa berubah jika aku cukup lama menatapnya.

“Anakku, kalau kamu membaca surat ini, berarti mereka sudah mulai mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.”

Tanganku gemetar hebat.

Dari balik pintu terdengar suara Andi berbicara di telepon. Aku segera menutup lemari setengah jalan dan duduk di lantai sambil membawa surat itu ke dekat jendela.

Tulisan Nenek berlanjut.

“Namamu Rina Rohana. Secara hukum, aku memang tercatat sebagai ibumu. Jangan takut ketika mengetahui ini. Ratna adalah kakakmu, bukan ibu kandungmu.”

Darah seperti berhenti mengalir di tubuhku.

Ratna.

Perempuan yang sejak kecil kupanggil Ibu.

Kakakku?

Aku menutup mulut agar tidak bersuara.

Nenek menjelaskan semuanya.

Tiga puluh tahun lalu, saat usianya hampir lima puluh, Nenek Rohana melahirkan seorang anak perempuan. Kehamilan itu disembunyikan karena ayah biologisku adalah seseorang yang tidak pernah bisa menikahinya. Ratna saat itu sudah dewasa dan baru menikah dengan Joko.

Untuk menghindari gunjingan warga, keluarga sepakat mengatakan bahwa bayi itu adalah anak Ratna dan Joko.

Bayi itu adalah aku.

Namun bagian berikutnya membuat dadaku semakin sesak.

“Rumah dan tanah ini kubeli dengan uangku sendiri. Aku sudah mengurus agar setelah aku meninggal, semuanya menjadi milikmu. Ratna tahu. Joko tahu. Lina juga tahu. Jangan pernah menandatangani surat apa pun yang diberikan Andi.”

Aku berhenti membaca.

Nama Andi sudah tertulis di surat yang dibuat bertahun-tahun lalu.

Bagaimana mungkin?

Aku melanjutkan.

“Andi pernah mengambil sertifikat tanah ini ketika kau masih SMA. Dia terlilit utang dan ingin menjadikannya jaminan. Aku berhasil mengambilnya kembali. Sejak hari itu aku tahu, suatu saat dia akan mencoba lagi.”

Tiba-tiba gagang pintu bergerak.

Aku buru-buru memasukkan surat dan akta kelahiran ke balik bajuku.

Andi masuk.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Tidak ada.”

Matanya menyapu kamar.

Lalu berhenti pada lemari.

Wajahnya berubah.

“Kamu buka lemari itu?”

Aku tidak menjawab.

Dia berlari ke sana.

Begitu melihat pintunya terbuka, dia langsung membalik badan.

“Mana isinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jangan bohong!”

Dia mencengkeram bahuku.

Untuk pertama kalinya aku tidak merasa takut kepadanya.

Aku justru bertanya, “Kenapa namamu ada di surat Nenek?”

Wajahnya pucat.

Kesalahan kecil itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Apa yang kamu baca?”

“Jadi benar?”

Andi menarik napas kasar lalu mengulurkan tangan.

“Kasih semuanya ke aku.”

Aku mundur.

“Ratna bukan ibuku.”

Dia membeku.

Dari luar terdengar sesuatu jatuh.

Ibu berdiri di ambang pintu.

Wajahnya kehilangan warna.

“Siapa yang bilang?”

Aku menatap perempuan yang selama dua puluh empat tahun kupanggil Ibu itu.

“Akta kelahiranku.”

Ibu masuk dan langsung menamparku.

“Bohong!”

Aku terhuyung.

Aneh, tamparan itu tidak lagi terasa seperti sebelumnya.

Aku mengeluarkan akta kelahiran dari balik bajuku.

“Kalau ini bohong, kenapa Ibu takut?”

Dia mencoba merebutnya.

Aku mundur.

Andi langsung menutup pintu.

“Rina, dengarkan Kakak.”

“Jangan panggil dirimu kakakku.”

“Secara keluarga aku tetap kakakmu.”

“Kalau begitu Ratna siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku tertawa kecil. Air mataku mulai turun.

“Jadi selama ini semua orang tahu?”

Ibu memalingkan wajah.

“Tante Lina tahu?”

Diam.

“Ayah tahu?”

Diam lagi.

Aku merasa seperti sedang berdiri di tengah rumah yang seluruh fondasinya tiba-tiba menghilang.

“Kenapa?”

Ibu akhirnya menatapku.

“Karena ibuku mempermalukan keluarga.”

Aku terpaku.

“Dia hamil di usia hampir lima puluh tahun. Orang-orang akan bicara. Aku baru menikah. Jadi kami bilang kamu anakku.”

“Lalu kenapa Ibu membenciku?”

“Aku tidak membencimu.”

“Sejak kecil semua yang kulakukan selalu salah. Andi boleh kuliah di kota, aku harus cari beasiswa sendiri. Andi dibelikan motor, aku berjalan kaki. Uang pertama dari kerja sambilanku Ibu ambil. Sekarang ketika aku baru menjadi guru, Ibu mempermalukanku sebagai pencuri.”

Suaraku pecah.

“Kalau itu bukan benci, namanya apa?”

Ibu tidak mampu menjawab.

Andi menyela.

“Cukup drama keluarganya. Surat itu kasih ke aku.”

Barulah aku memahami sesuatu.

Masalah ini sejak awal bukan tentang siapa ibuku.

Ini tentang tanah.

“Apa yang mau kalian lakukan dengan rumah ini?”

Andi menatap Ibu.

Ibu menatap lantai.

Aku mendekati map yang tadi dibawanya dan membukanya.

Di dalamnya ada surat pelepasan hak.

Nilai transaksi tercantum di sana.

Satu koma delapan miliar rupiah.

Aku menatap Andi.

“Kamu mau jual rumah Nenek?”

“Tanah ini sudah ada yang mau beli. Lokasinya strategis.”

“Dan tanda tanganku diperlukan.”

Dia diam.

“Makanya kalian menuduhku mencuri lebih dulu.”

Kini semuanya masuk akal.

Mereka ingin membuatku takut. Membuat warga percaya bahwa aku sedang mencoba merebut rumah. Setelah itu, jika aku dipaksa menandatangani pelepasan hak, tidak ada yang akan bertanya.

Aku meraih kaset dari lemari.

Andi langsung bergerak.

“Taruh itu!”

Reaksinya terlalu cepat.

Berarti dia tahu apa isinya.

Aku berlari menuju pintu.

Andi menangkap bajuku, tetapi aku berteriak sekeras mungkin.

“Tolong!”

Pintu depan mendadak digedor.

“Rina!”

Suara Bu Sari.

Kemudian suara Pak Darto.

“Andi! Buka pintunya!”

Andi melepaskanku.

Ibu panik.

“Kenapa mereka datang?”

Aku sendiri tidak tahu.

Pintu kembali digedor.

“Ada warga yang melihat Rina dibawa paksa!” teriak Bu Sari. “Kalau tidak dibuka, saya hubungi polisi!”

Ayah akhirnya muncul dari ruang tengah.

Untuk pertama kalinya wajahnya tidak menunduk.

“Buka pintunya, Andi.”

“Pa, jangan ikut campur.”

“Buka.”

Andi menatapnya tajam.

Ayah mengambil kunci pagar.

Andi mencoba menghalangi, tetapi Ayah mendorong tangannya.

Beberapa detik kemudian Bu Sari dan Pak Darto masuk.

Pak Darto membawa ponsel.

“Aku rekam semuanya dari depan balai tadi,” katanya. “Termasuk waktu Andi mengambil HP Rina dan mengancamnya.”

Andi langsung pucat.

Aku memandang Pak Darto.

“Kenapa Bapak membantu saya?”

Dia menatapku lama.

“Karena Nenek Rohana pernah berpesan.”

Sekali lagi nama Nenek membuat ruangan membeku.

Pak Darto ternyata pernah menjadi sopir Nenek. Beberapa bulan sebelum meninggal, Nenek memintanya memperhatikan rumah jika suatu hari terjadi keributan mengenai warisan.

Aku mengangkat kaset.

“Bapak tahu ini?”

Pak Darto mengangguk.

“Nenek juga menitipkan tape recorder lama kepada saya.”

Tidak sampai lima belas menit kemudian, kami berkumpul di ruang tamu.

Tape tua diletakkan di atas meja.

Aku memasukkan kaset dengan tangan gemetar.

Suara mendesis memenuhi ruangan.

Kemudian terdengar suara Nenek.

“Kalau rekaman ini diputar, mungkin aku sudah tidak ada.”

Aku langsung menangis.

Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suaranya.

“Rina, maafkan aku karena tidak cukup berani mengatakan semuanya ketika aku masih hidup.”

Suara itu berhenti beberapa detik.

Kemudian terdengar suara lain.

Ratna.

Ibu.

Rekaman percakapan mereka.

“Rumah ini kasih saja ke Andi, Bu.”

“Tidak.”

“Dia cucu Ibu.”

“Rina juga anakku.”

“Orang-orang menganggap dia anakku!”

“Itu keputusanmu sendiri, Ratna. Aku tidak pernah memintamu mengambil haknya.”

Kemudian suara Andi yang jauh lebih muda terdengar.

“Kalau Rina tahu dia anak Nenek, semua harta jatuh ke dia?”

Suara Nenek menjawab tegas.

“Yang menjadi hak Rina akan tetap menjadi hak Rina.”

Kaset berhenti.

Tak seorang pun bicara.

Bu Sari menatap Ibu dan Andi.

“Kalian sudah tahu semuanya.”

Andi tiba-tiba tertawa.

“Rekaman tua tidak membuktikan apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Aku mengambil buku tabungan dari lemari.

“Tapi mungkin ini membuktikan sesuatu.”

Wajah Ibu berubah lagi.

Buku itu bukan sekadar tabungan.

Di bagian belakang terdapat catatan transaksi dan nomor sebuah kantor notaris.

Keesokan paginya, dengan ditemani Bu Sari dan Ayah, aku mendatangi kantor tersebut.

Notaris yang tercantum memang sudah meninggal, tetapi arsip kantornya masih disimpan oleh putrinya yang meneruskan praktik.

Setelah hampir satu jam mencari, perempuan itu kembali membawa map tebal.

“Dokumen ini dibuat oleh ayah saya bersama Ibu Rohana.”

Dia meletakkannya di hadapanku.

Sertifikat asli.

Surat wasiat.

Dan dokumen pengakuan anak.

Semua sah.

Rumah dan tanah itu memang diwariskan kepadaku.

Tetapi ada satu dokumen lain.

Surat perjanjian utang atas nama Andi.

Ternyata enam tahun sebelumnya Nenek pernah melunasi utang Andi sebesar tiga ratus juta rupiah dengan syarat Andi tidak boleh lagi menyentuh aset milikku.

Tanda tangan Andi ada di sana.

Aku pulang sore itu bersama Bu Sari.

Di depan rumah sudah ada dua orang polisi.

Bukan aku yang melapor.

Ayah yang melakukannya.

Andi sedang duduk di teras dengan wajah keras.

Ibu menangis.

Tante Lina berdiri di sudut halaman.

Begitu melihatku, Tante mendekat.

“Maafkan Tante.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Tante diam?”

“Andi mengancam akan menyebarkan utang anak Tante kalau Tante bicara.”

Dia menyerahkan ponselku.

“Tante yang mengambil rosario Nenek kemarin. Tante kira kuncinya ada di sana. Tapi ternyata Nenek membuat dua rosario yang mirip.”

Aku menyentuh rosario di leherku.

Jadi bahkan Nenek sudah memperhitungkan kemungkinan mereka mencarinya.

Polisi tidak langsung membawa siapa pun pergi. Mereka meminta dokumen dan keterangan karena dugaan pemalsuan tanda tangan harus diperiksa lebih lanjut.

Namun bagi Andi, semuanya sudah selesai.

Warga yang kemarin melihatku dipermalukan kini mengetahui rekaman dan dokumen yang sebenarnya.

Aku tidak merasa menang.

Aku justru merasa sangat lelah.

Malamnya, aku menemukan Ibu duduk sendirian di kamar Nenek.

“Rina.”

Aku berhenti di pintu.

Untuk pertama kalinya dia tidak memerintahku mendekat.

“Aku memang bukan ibumu,” katanya lirih. “Tapi aku membesarkanmu.”

“Ya.”

“Apa itu tidak berarti apa-apa?”

Aku menatapnya lama.

“Berarti.”

Matanya terangkat penuh harapan.

“Tapi membesarkan seseorang tidak memberi kita hak untuk menghancurkan hidupnya.”

Dia menangis.

Aku tidak memeluknya.

Aku juga tidak membencinya.

Ada luka yang terlalu dalam untuk diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

Tiga bulan kemudian aku mulai mengajar di sebuah SMP negeri tidak jauh dari kecamatan.

Rumah Nenek tidak kujual.

Aku mengubah bagian depannya menjadi ruang belajar gratis untuk anak-anak kampung yang kesulitan mengikuti pelajaran.

Suatu sore, setelah murid terakhir pulang, Ayah datang membawa sebuah kotak kecil.

“Ada satu barang Nenek yang belum kamu lihat.”

Di dalamnya ada foto lama.

Nenek Rohana sedang menggendong bayi.

Aku.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

“Untuk anakku Rina. Semoga suatu hari nanti kau menjadi guru, karena orang yang pernah hidup dalam kebohongan akan tahu betapa berharganya mengajarkan kebenaran.”

Aku menangis sambil tersenyum.

Namun ketika hendak menyimpan foto itu kembali, aku melihat ada sesuatu terselip di dasar kotak.

Sebuah amplop kecil.

Di atasnya tertulis nama Pak Darto.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat foto Nenek berdiri bersama seorang lelaki muda.

Lelaki itu adalah Pak Darto.

Tanganku membeku.

Ayah menundukkan kepala.

“Dia bukan cuma sopir Nenek.”

Aku menatap Ayah.

Kemudian teringat cara Pak Darto selalu menungguku pulang sekolah, mengantarku tanpa pernah meminta bayaran ketika hujan, dan bagaimana dia menjadi orang pertama yang datang ketika aku berteriak minta tolong.

“Jangan bilang…”

Ayah mengangguk perlahan.

“Pak Darto adalah ayah kandungmu.”

Air mataku kembali jatuh.

Ternyata rahasia terbesar Nenek bukan berada di dalam lemari.

Rahasia itu selama ini berdiri di dekat tiang listrik, mengawasiku dari jauh, memastikan aku pulang dengan selamat tanpa pernah berani memanggil dirinya Ayah.

Aku keluar rumah.

Di ujung gang, Pak Darto sedang duduk di atas motornya seperti biasa.

Ketika melihatku, dia tersenyum kecil.

Aku berjalan mendekat.

Dia tampak gugup.

“Rina, kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana yang sudah ratusan kali kudengar sejak kecil.

Kali ini aku memahami maknanya.

Aku berdiri di hadapannya sambil menggenggam foto lama itu.

Wajahnya langsung pucat.

Aku tidak bertanya mengapa dia menyembunyikannya.

Tidak bertanya mengapa semua orang memilih diam begitu lama.

Aku hanya berkata pelan, dengan suara yang hampir pecah,

“Pak, besok saya mengajar pagi.”

Dia menunduk, mungkin menyangka aku belum siap menerima kenyataan.

Aku melanjutkan.

“Kalau Ayah sempat, antar saya ke sekolah.”

Kepalanya terangkat.

Matanya langsung basah.

Untuk beberapa detik, lelaki yang selama hidupnya selalu terlihat sederhana dan kuat itu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Kemudian dia mengangguk.

“Iya, Nak.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akhirnya tahu siapa diriku.

Bukan pencuri.

Bukan anak yang harus malu karena kelahirannya.

Bukan perempuan yang hidupnya boleh ditentukan oleh kebohongan keluarganya.

Aku adalah Rina Rohana.

Seorang guru.

Seorang anak yang akhirnya menemukan kebenaran.

Dan pagi berikutnya, ketika aku berangkat mengajar dengan Pak Darto mengendarai motor tua di depanku, rosario Nenek tergantung di leherku.

Kunci kecil di balik salib itu tidak lagi membuka lemari apa pun.

Ia sudah membuka sesuatu yang jauh lebih besar.

Hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang