MEREKA BILANG AKU BERUNTUNG MASIH BISA MELIHAT LAGI, TAPI TIDAK ADA YANG TAHU BAHWA PENGELIHATAN BARUKU MALAH MEMBUKA LUBANG KEGELAPAN YANG LEBIH DALAM DARIPADA KEGELAPAN YANG PERNAH AKU ALAMI

Aku menatap jari-jariku sendiri.

Sepuluh jari itu tampak normal. Sedikit pucat, kuku-kukunya pendek, ada bekas tusukan infus di punggung tangan kanan. Namun semakin lama kupandangi, semakin kuat perasaan asing merayapi tengkukku.

Di jari telunjuk kiri ada bekas luka tipis berbentuk bulan sabit.

Aku tidak pernah punya bekas luka itu.

“Rina.”

Dia langsung menoleh.

“Kenapa jariku begini?”

“Apa maksudmu?”

“Bekas luka ini.”

Rina memandang telunjukku, lalu wajahnya kehilangan warna.

“Hanya luka lama.”

“Luka lama dari mana?”

Dia tidak menjawab.

Aku menarik tanganku dari genggamannya dan menekan tombol panggil perawat.

“Mas, jangan.”

“Aku mau dokter datang.”

“Andi, dengarkan aku dulu.”

“Aku mau sidik jariku diperiksa sekarang.”

Rina berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser. Wajahnya benar-benar panik.

“Jangan lakukan itu.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan terasa dingin.

“Kenapa?”

Sebelum dia menjawab, pintu terbuka.

Seorang dokter berkacamata masuk bersama perawat. Namanya tertera di jas putihnya, dr. Bima Prasetyo.

“Pak Andi, bagaimana penglihatannya?”

“Jelas.”

“Itu perkembangan yang sangat baik.”

“Saya ingin sidik jari saya diperiksa.”

Senyum dokter itu membeku.

Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.

Dua tahun hidup dalam kebutaan membuatku belajar mendengar perubahan napas orang. Sekarang setelah bisa melihat, aku menyadari wajah manusia ternyata jauh lebih mudah berbohong daripada suaranya.

“Mengapa tiba-tiba ingin melakukan itu?” tanyanya.

Aku menunjuk monitor.

“Karena di sana tertulis identitas saya belum terverifikasi.”

Dokter Bima menoleh ke layar.

Perawat di sebelahnya langsung menunduk.

“Kesalahan sistem,” katanya.

“Kalau cuma kesalahan sistem, verifikasi sekarang.”

“Pak Andi baru menjalani operasi besar. Kondisi saraf optik Anda masih dalam pemulihan.”

“Saya tidak meminta operasi lagi. Saya cuma meminta sidik jari.”

Rina memegang lenganku.

“Mas, cukup.”

Aku menoleh kepadanya.

Dan saat itulah aku melihat sesuatu di lehernya.

Sebuah bekas luka kecil di bawah telinga kanan.

Aku mengenal bekas luka itu.

Tapi bukan dari Rina.

Dua tahun lalu, sebelum kecelakaan, aku punya seorang adik laki-laki bernama Arif. Dia memiliki bekas luka yang persis sama setelah jatuh dari sepeda saat kecil.

Entah kenapa, pikiranku langsung kembali pada foto pernikahan di dinding.

Pria yang wajahnya mirip denganku.

Tato di lengan kiri.

Arif punya tato.

Sebuah kompas kecil di lengan kirinya.

Jantungku berdegup begitu keras hingga monitor berbunyi cepat.

“Di mana Arif?”

Rina membeku.

Dokter Bima langsung melangkah mendekat.

“Pak Andi, Anda harus tenang.”

“Di mana adik saya?”

“Andi.”

“Rina, jawab!”

Air mata menggenang di matanya.

“Arif sudah meninggal.”

Dunia seakan berhenti.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.”

“Bagaimana?”

“Kecelakaan.”

Kata itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.

“Kecelakaan yang sama denganku?”

Rina mengangguk.

Aku mencoba mengingat malam itu.

Hujan.

Jalan tol.

Aku duduk di kursi penumpang.

Tunggu.

Kursi penumpang?

Selama dua tahun aku selalu percaya aku yang mengemudi.

Tapi ingatan kecil muncul seperti serpihan kaca.

Tangan bertato menggenggam setir.

Suara Arif tertawa.

“Kalau nanti Kak Andi menikah, jangan lupa aku jadi saksi.”

Lalu lampu putih.

Benturan.

Gelap.

Aku menatap Rina.

“Arif yang menyetir.”

Tidak ada yang menjawab.

“Benar?”

Rina mulai menangis.

“Mas…”

“Dan foto itu?”

Dia menutup wajah.

Aku merasa mual.

“Foto pernikahan itu Arif?”

“Ya.”

Jawabannya nyaris tak terdengar.

Aku menatap perempuan yang selama dua tahun kupanggil istriku.

“Jadi kau…”

“Aku istri Arif.”

Aku tidak bisa bernapas.

Monitor mulai berbunyi semakin cepat.

“Lalu Rina istriku di mana?”

Perempuan itu mengangkat wajahnya.

Tangisnya berhenti.

Dan sesuatu dalam tatapannya berubah.

“Aku Rina.”

“Jangan bohong!”

“Aku memang Rina.”

“Kalau kau istri Arif, istriku siapa?”

Dia menatapku lama sebelum berkata, “Kau tidak pernah menikah, Andi.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu. Karena otakku menolak menerima kalimat itu.

“Aku ingat pernikahanku.”

“Kau ingat pernikahan Arif.”

“Aku ingat memegang tanganmu di pelaminan.”

“Itu Arif.”

“Aku ingat mengucapkan ijab kabul.”

“Itu Arif.”

“Tidak.”

“Mas…”

“Jangan panggil aku begitu!”

Aku mencabut kabel monitor dari tubuhku dan turun dari tempat tidur. Kakiku langsung lemas, tetapi aku berpegangan pada tiang infus.

Dokter Bima mencoba menahanku.

Aku mendorongnya.

“Saya mau keluar.”

“Pak Andi, kondisi Anda belum memungkinkan.”

“Kalau begitu panggil polisi.”

Semua orang terdiam.

“Aku mau polisi datang. Sekarang.”

Rina menatap dokter Bima.

Tatapan singkat.

Terlalu singkat untuk dianggap penting, tapi aku melihatnya.

Mereka saling memahami sesuatu.

Aku mundur.

“Kalian bekerja sama.”

“Tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Rina.

“Lalu seperti apa?”

Dia menarik napas panjang.

“Kalau kau benar-benar ingin tahu, ikut aku pulang.”

Dua jam kemudian aku berada di kursi belakang mobil Rina.

Aku tidak tahu mengapa akhirnya setuju. Mungkin karena aku membutuhkan jawaban lebih daripada keselamatan.

Jakarta tampak seperti kota asing.

Dua tahun lalu aku mengenalnya melalui suara. Klakson, pedagang kaki lima, suara motor yang menyelip di antara mobil. Sekarang semuanya memiliki warna.

Langit kelabu. Gedung-gedung tinggi. Lampu merah. Wajah orang-orang di trotoar.

Aku seharusnya bahagia.

Sebaliknya, aku merasa seperti baru membuka mata di dunia yang bukan milikku.

Mobil berhenti di sebuah rumah dua lantai di kawasan Depok.

Aku mengenali tempat itu dari suara gerbangnya.

Aku pernah tinggal di sini selama dua tahun.

Namun aku tidak pernah melihatnya.

Rina membimbingku masuk.

Di ruang tamu ada puluhan foto.

Aku berhenti.

Foto Arif.

Wajahnya hampir sama denganku.

Kami memang saudara kembar.

Bagaimana aku bisa melupakan itu?

Dalam satu foto, Arif memeluk Rina.

Di foto lain mereka berdiri di pantai.

Lalu foto pernikahan.

Pria berjas krem itu jelas Arif.

Tato kompas terlihat di lengannya.

Kepalaku berdenyut.

“Kenapa selama aku buta kau membiarkanku percaya bahwa aku adalah suamimu?”

Rina berdiri di belakangku.

“Karena ketika kau sadar setelah kecelakaan, kau memanggilku istrimu.”

“Itu bukan alasan.”

“Kau mengalami trauma otak. Dokter bilang ingatanmu tercampur. Kau kehilangan sebagian identitasmu.”

“Jadi kalian memutuskan untuk membiarkanku hidup sebagai Arif?”

“Awalnya hanya sementara.”

“Dua tahun bukan sementara!”

Rina menangis lagi.

“Kau mencoba bunuh diri saat kami mengatakan yang sebenarnya.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Tiga minggu setelah kecelakaan. Dokter memberitahumu Arif meninggal. Kau menghantamkan kepala ke dinding sampai pingsan. Setelah sadar, kau kembali memanggil dirimu Arif.”

Aku menatap foto-foto itu.

Potongan ingatan bermunculan.

Darah.

Teriakan.

Aku memanggil nama Arif.

Bukan karena aku mengira diriku Arif.

Aku merasa bersalah.

“Kenapa aku merasa bersalah?”

Rina tidak menjawab.

Aku berbalik.

“Kenapa?”

Wajahnya berubah.

“Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.”

Darahku terasa dingin.

Rina berjalan menuju lemari kecil dan mengeluarkan sebuah laptop.

“Aku menunggumu bisa melihat sebelum menunjukkan ini.”

Dia membuka sebuah video.

Rekaman kamera dasbor.

Tanggalnya sama dengan malam kecelakaan.

Aku dan Arif berada di mobil.

Arif menyetir.

Aku duduk di sebelahnya.

Suara kami terdengar jelas.

“Kita harus kasih ini ke polisi,” kata Arif dalam rekaman.

“Kalau kita lakukan itu, mereka akan membunuh kita.”

“Kalau kita diam, lebih banyak orang akan mati.”

Aku mendekati layar.

“Apa yang kami bicarakan?”

Rina tidak menjawab.

Video berlanjut.

Sebuah SUV hitam muncul di belakang mobil kami.

Mendekat.

Lalu menabrak dari samping.

Sekali.

Dua kali.

Mobil kami kehilangan kendali.

Rekaman berhenti.

Aku menatap Rina.

“Siapa mereka?”

Dia membuka folder lain.

Isinya dokumen transaksi, foto gudang, daftar nama, rekening bank.

Di bagian paling atas terdapat logo perusahaan tempatku bekerja sebelum kecelakaan.

PT Nusa Medika Sentosa.

Perusahaan distributor alat kesehatan.

“Aku dan Arif menemukan sesuatu,” gumamku.

“Bukan kalian.”

Rina menatapku.

“Kau yang menemukannya.”

Dia menjelaskan bahwa sebelum kehilangan penglihatan, aku bekerja sebagai auditor internal. Aku menemukan pembelian alat medis fiktif, manipulasi anggaran rumah sakit, dan jaringan pencucian uang bernilai ratusan miliar rupiah.

Arif membantuku menyalin bukti.

Kami hendak menyerahkannya kepada penyidik.

Kami tidak pernah sampai.

“Kenapa polisi tidak menyelidiki?”

“Karena orang yang seharusnya menerima bukti itu bekerja untuk mereka.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Operasi mataku?”

Rina mengangguk perlahan.

“Dibiayai yayasan.”

“Yayasan apa?”

Dia memutar laptop ke arahku.

Logo yang muncul membuat perutku seperti jatuh.

Yayasan Nusa Medika.

“Mereka tahu aku hidup.”

“Mereka selalu tahu.”

“Kenapa mereka membiarkan aku hidup?”

Rina tidak menjawab.

Aku teringat dokter Bima.

Identitas belum terverifikasi.

Pemeriksaan sidik jari.

Tiba-tiba semuanya terasa salah.

Aku mengangkat kedua tanganku.

“Rina, siapa donor mataku?”

Dia pucat.

“Kornea, Mas. Bukan mata.”

“Siapa donornya?”

“Aku tidak tahu.”

“Bohong.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Terdengar suara mobil berhenti di luar.

Rina langsung mematikan laptop.

Wajahnya berubah.

“Naik ke lantai dua.”

“Siapa itu?”

“Cepat.”

Pintu depan diketuk tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Rina berbisik, “Jangan bersuara.”

Aku naik dengan susah payah.

Dari tangga aku melihat Rina membuka pintu.

Dokter Bima masuk.

Bersama dua pria berpakaian hitam.

“Pasiennya di mana?” tanyanya.

“Dia tidur.”

“Jangan bohong, Bu Rina.”

Salah satu pria meletakkan amplop di meja.

“Kami cuma perlu memastikan Pak Andi tidak mengingat sesuatu yang seharusnya tetap dilupakan.”

Aku mundur.

Lantai kayu berderit.

Semua kepala menoleh.

Aku berlari.

Entah bagaimana kakiku menemukan tenaga.

Aku masuk ke kamar belakang dan mengunci pintu.

Tidak ada jalan keluar selain jendela.

Aku membukanya dan turun melalui atap garasi.

Suara pintu kamar dihantam dari belakang.

Aku melompat.

Sakit menjalar dari pergelangan kaki, tetapi aku terus berlari menuju jalan.

Aku tidak tahu ke mana harus pergi.

Sampai sebuah motor berhenti di depanku.

Pengendaranya melepas helm.

Seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun.

Wajahnya pucat saat melihatku.

“Andi?”

Aku mundur.

“Siapa kamu?”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kau benar-benar tidak ingat aku?”

Suara itu.

Aku mengenalnya.

Selama dua tahun, suara itu sering muncul dalam mimpiku.

“Nadia?”

Dia menangis.

Aku tiba-tiba ingat.

Nadia bukan sekadar seseorang dari masa lalu.

Dia tunanganku.

Sebelum kecelakaan.

Aku naik ke motornya.

Kami pergi sebelum orang-orang dari rumah keluar.

Nadia membawaku ke sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan. Di sana dia menunjukkan sesuatu yang mengubah semuanya.

Sebuah rekaman suara yang kukirim kepadanya beberapa menit sebelum kecelakaan.

Suara lamaku memenuhi ruangan.

“Nad, kalau sesuatu terjadi padaku atau Arif, jangan percaya siapa pun dari perusahaan. Jangan percaya polisi yang bernama Surya. Dan satu lagi…”

Rekaman berhenti beberapa detik.

Lalu suaraku melanjutkan.

“Rina terlibat.”

Aku merasa seluruh tubuhku mati rasa.

“Tidak mungkin.”

Nadia membuka foto.

Rina sedang keluar dari sebuah gedung bersama direktur PT Nusa Medika.

Tanggal foto itu tiga hari sebelum kecelakaan.

“Dia memberi tahu mereka bahwa kalian membawa bukti malam itu,” kata Nadia.

Aku menggeleng.

“Tapi dia menyelamatkanku selama dua tahun.”

“Karena mereka membutuhkan sesuatu darimu.”

“Apa?”

Nadia menatap mataku.

“Bukti asli.”

Aku terdiam.

“Semua file yang kau lihat di rumah Rina hanya salinan. Bukti asli tidak pernah ditemukan.”

Aku mencoba mengingat.

Malam kecelakaan.

Arif bertanya kepadaku, “Sudah aman?”

Aku menjawab, “Tidak akan ada yang menemukannya kecuali aku sendiri.”

Aku memejamkan mata.

Lalu sebuah gambaran muncul.

Bukan ingatan tentang tempat.

Sebuah angka.

Tanggal lahirku.

Kemudian suara mesin.

Kotak penyimpanan.

Bank.

Aku membuka mata.

“Safe deposit box.”

Nadia menatapku.

Tiga hari kemudian, dengan bantuan pengacara independen yang dipercaya Nadia, kami membuka kotak penyimpanan atas namaku.

Di dalamnya ada sebuah flashdisk.

Dan surat tulisan tangan.

Untuk Andi, jika kau masih hidup.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Tulisan itu milik Arif.

“Andi, kalau kau membaca ini, berarti salah satu dari kita gagal pulang. Jangan salahkan dirimu. Aku yang memilih ikut. Tapi ada satu hal yang tidak pernah sempat kukatakan. Aku sudah tahu Rina membocorkan rencana kita. Dia melakukannya karena mereka mengancam akan membunuh ibu. Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya. Tapi aku tahu ketakutan bisa membuat orang baik melakukan hal yang mengerikan.”

Aku berhenti membaca.

Air mata jatuh ke kertas.

Di bagian terakhir tertulis:

“Kalau kau selamat, jangan hidup sebagai aku. Hidup sebagai dirimu sendiri.”

Bukti dalam flashdisk akhirnya diserahkan melalui jalur hukum dengan perlindungan beberapa lembaga dan kuasa hukum. Penyelidikan berjalan panjang. Sejumlah orang diperiksa. Beberapa bulan kemudian, kasus itu mulai terbuka ke publik.

Dokter Bima ditangkap karena manipulasi rekam medis dan upaya menghilangkan bukti.

Rina menyerahkan diri.

Sebelum dibawa pergi, dia meminta bertemu denganku.

Kami duduk berhadapan di ruang pemeriksaan.

“Kenapa kau membuatku percaya bahwa aku Arif?” tanyaku.

Dia tersenyum pahit.

“Awalnya karena mereka menyuruhku. Mereka pikir kalau kau percaya menjadi Arif, kau tidak akan mengingat tempat kau menyimpan bukti.”

“Lalu?”

“Lalu aku egois.”

Air matanya jatuh.

“Aku kehilangan suamiku malam itu. Tapi kau punya suara yang sama. Wajah yang hampir sama. Ketika kau memanggilku istrimu, selama beberapa detik aku merasa Arif pulang.”

Aku tidak tahu harus membenci atau mengasihaninya.

Mungkin keduanya.

Setahun kemudian, penglihatanku hampir pulih sempurna.

Suatu sore aku berdiri di depan makam Arif.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat namanya terukir di batu nisan.

Arif Saputra.

1992 sampai 2024.

Saudara kembarku.

Aku meletakkan bunga di sana.

“Aku sudah ingat semuanya,” bisikku.

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku teringat perkataan orang-orang setelah operasiku.

Mereka bilang aku beruntung karena bisa melihat lagi.

Mereka benar.

Tapi bukan karena aku akhirnya bisa melihat langit, wajah orang yang kusayangi, atau cahaya matahari setelah dua tahun hidup dalam gelap.

Aku beruntung karena akhirnya memahami bahwa kegelapan paling menakutkan bukanlah ketika mata berhenti melihat.

Kegelapan yang sebenarnya adalah ketika orang lain menentukan apa yang boleh kita percaya tentang diri kita sendiri.

Aku menatap nama Arif sekali lagi, lalu berbalik.

Di pintu pemakaman, Nadia menungguku.

Aku berjalan menghampirinya.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, aku tidak mengikuti suara siapa pun.

Aku memilih sendiri ke mana kakiku akan melangkah.

Namun sebelum meninggalkan makam, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Hanya ada satu foto.

Foto diriku sedang berdiri di depan makam Arif, diambil beberapa detik sebelumnya dari kejauhan.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

“Kau membuka kotak yang salah, Andi.”

Aku berhenti.

Nadia menoleh.

“Ada apa?”

Aku memperbesar foto itu.

Di pantulan kaca mobil yang terparkir di belakang kami, tampak sosok seorang pria sedang memegang ponsel.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Namun lengan kirinya terlihat.

Di sana ada tato kecil berbentuk kompas.

Persis seperti milik Arif.

Tanganku mulai gemetar.

Aku menoleh cepat ke makam.

Nama di batu nisan itu masih ada.

Arif Saputra.

Aku kembali menatap foto di layar.

Kemudian sebuah pesan kedua masuk.

Kali ini hanya empat kata.

“Aku belum pernah mati.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang