PESTA MEWAH MILIARDER DI BALIK TUBUH MUNGKIL YANG MERAYAP DI TEMPAT SAMPAH

Aku tidak pernah membayangkan kepulanganku ke Jakarta akan dimulai dengan menemukan putriku sendiri mengais makanan dari tempat sampah.

Beberapa jam sebelumnya, aku masih berada ribuan kilometer dari rumah, menatap video pesta yang dikirim salah satu kenalanku. Sekarang Luna tertidur di sofa dengan tubuh kurus terbungkus jaketku, sementara Maya terbaring di kamar dalam kondisi yang membuatku nyaris tidak mengenali perempuan yang sudah menjadi istriku selama tujuh tahun.

Aku segera menghubungi dokter pribadiku.

“Tolong datang sekarang. Bawa tim medis. Jangan beri tahu siapa pun.”

Empat puluh menit kemudian, dua dokter dan seorang perawat tiba. Setelah memeriksa Maya, wajah dokter Arif berubah serius.

“Pak Rafael, istri Anda harus dibawa ke rumah sakit malam ini juga. Kondisinya mengalami dehidrasi berat, malnutrisi, dan fungsi ginjalnya menurun. Kalau terlambat beberapa hari lagi…”

Dia tidak melanjutkan.

Aku mengerti.

Aku menatap Luna yang masih tidur. Ada bekas luka kecil di lengannya dan tulang selangkanya terlihat jelas.

“Periksa anak saya juga.”

Hasil pemeriksaannya membuat dadaku semakin sesak. Luna kekurangan gizi. Berat badannya jauh di bawah normal untuk anak seusianya.

Padahal setiap bulan aku mengirim uang dalam jumlah yang bahkan lebih dari cukup untuk membuat mereka hidup nyaman.

Saat ambulans membawa Maya dan Luna pergi, aku tetap berdiri di ruang tengah.

Aku menelepon pengacaraku, Adrian.

“Aku ingin semua rekening yang berkaitan dengan yayasan diperiksa. Rekening Mama juga. Semua transaksi sejak aku berangkat ke Singapura delapan bulan lalu.”

Adrian terdiam.

“Rafael, ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Dia mengirimkan beberapa dokumen.

Aku membukanya.

Dalam delapan bulan terakhir, transfer dariku mencapai empat miliar rupiah. Lima ratus juta setiap bulan, bukan lima ratus ribu seperti yang Maya kira.

Sebagian uang masuk ke rekening rumah tangga. Namun beberapa menit kemudian, uang itu dipindahkan ke rekening lain atas nama ibuku, Helena Wijaya.

Lebih buruk lagi, dana yayasan juga mengalami pola yang sama.

Yayasan Pendidikan Cahaya Bangsa seharusnya membiayai sekolah, makanan, dan tempat tinggal anak-anak kurang mampu. Namun puluhan transaksi justru mengarah ke butik mewah, hotel bintang lima, penyewaan ballroom, perusahaan katering premium, dan sebuah dealer mobil.

Aku menatap salah satu transaksi terakhir.

Pembelian Mercedes senilai hampir tiga miliar rupiah.

Tanggal transaksi dua minggu lalu.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami betapa mahalnya harga kebodohan ketika seseorang terlalu mudah mempercayai keluarganya sendiri.

Pukul enam pagi, ponselku berdering.

Mama.

Aku membiarkannya berbunyi tiga kali sebelum mengangkat.

“Rafael?”

Nada suaranya terdengar panik.

“Kamu di Jakarta?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang Mama?”

Aku melihat piring nasi basi di kamar Maya.

“Aku ingin memberi kejutan.”

Mama diam beberapa detik.

“Luna bagaimana?”

Pertanyaan itu membuatku hampir kehilangan kendali.

“Kenapa Mama tanya?”

“Ya karena Mama neneknya.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Mama di mana?”

“Hotel Grand Mahardika. Ada gala yayasan malam ini. Mama harus memastikan semuanya sempurna. Kamu tahu sendiri, donatur besar akan datang.”

Aku melihat jam.

“Kirim undangannya.”

Mama terdengar lega.

“Kamu mau datang?”

“Tentu.”

Aku memutus telepon.

Sepanjang pagi, aku berada di rumah sakit.

Maya akhirnya sadar sekitar pukul sebelas. Infus terpasang di kedua tangannya.

Ketika melihatku, dia langsung menangis.

“Aku kira kamu sudah tidak mencintai kami.”

Aku duduk di sampingnya.

“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”

“Aku mencoba.”

Maya meminta ponselnya dari tas yang dibawa perawat.

Dia membuka percakapan kami.

Aku terdiam.

Ada puluhan pesan yang tidak pernah kuterima.

Rafael, uang untuk obat Luna hampir habis.

Rafael, aku sakit. Bisa telepon?

Aku tahu kamu sibuk, tapi tolong jawab.

Aku tidak kuat lagi.

Kemudian aku melihat nomor tujuan.

Nomor itu bukan nomorku.

Hanya berbeda satu angka.

“Mama yang memberikan nomor ini?”

Maya mengangguk.

“Katanya kamu mengganti nomor karena urusan bisnis.”

Dadaku terasa seperti ditimpa batu.

Selama berbulan-bulan, ibuku sengaja memutus komunikasi antara aku dan keluargaku.

“Bahkan emailmu diblokir,” lanjut Maya. “Mama bilang kamu meminta sekretarismu memblokir aku karena aku terlalu sering meminta uang.”

Aku menundukkan kepala.

Maya menyentuh tanganku.

“Aku tidak marah kamu tidak punya uang, Rafael. Aku cuma sakit hati karena kupikir kamu membiarkan Luna kelaparan.”

Aku menatapnya.

“Maya, dengarkan aku. Aku mengirim lima ratus juta setiap bulan.”

Maya membeku.

“Lima ratus… juta?”

Aku mengangguk.

Air matanya jatuh.

“Tapi Mama bilang lima ratus ribu.”

Saat itulah Luna terbangun dari tempat tidur kecil di samping Maya.

Dia menatapku dan berkata pelan, “Ayah, kalau Ayah punya uang, boleh Luna minta ayam goreng?”

Aku memalingkan wajah.

Aku tidak ingin anakku melihatku menangis.

Malam itu, aku datang ke Hotel Grand Mahardika mengenakan setelan hitam yang sama seperti yang biasa kupakai dalam rapat perusahaan.

Ballroom dipenuhi hampir empat ratus tamu.

Lampu kristal berkilauan. Musik jazz dimainkan. Pelayan membawa sampanye dan makanan yang harganya mungkin cukup untuk memberi makan Luna selama berbulan-bulan.

Di atas panggung terpampang tulisan besar.

GALA KASIH CAHAYA BANGSA.

Di bawahnya terdapat namaku.

Pendiri sekaligus Donatur Utama Rafael Wijaya.

Mama melihatku dari kejauhan.

Wajahnya langsung berseri-seri.

“Rafael!”

Dia menghampiriku dengan gaun berkilau dan kalung berlian yang kukenal.

Itu milik Maya.

Aku menatap kalung itu.

“Bagus kalungnya.”

Mama menyentuh lehernya.

“Oh, ini? Mama beli beberapa bulan lalu.”

Aku tersenyum.

“Berapa harganya?”

Mama terlihat sedikit gugup.

“Kamu ini baru pulang sudah tanya harga.”

Kemudian seorang fotografer mendekat.

Mama langsung merangkul lenganku.

“Tersenyum. Banyak media.”

Kilatan kamera menyala.

Aku menurut.

Aku tersenyum.

Karena malam itu, aku tidak datang untuk membuat keributan.

Aku datang untuk membuat semua orang melihat kebenaran.

Beberapa menit kemudian, acara dimulai.

Mama naik ke panggung.

Dia berbicara tentang kemiskinan. Tentang anak-anak kelaparan. Tentang pentingnya berbagi.

Ironisnya begitu sempurna sampai aku hampir ingin bertepuk tangan.

“Kita semua percaya,” katanya dengan suara bergetar penuh emosi, “tidak boleh ada seorang anak pun yang tidur dalam keadaan lapar.”

Para tamu bertepuk tangan.

Aku berdiri.

“Setuju.”

Semua orang menoleh.

Mama tersenyum canggung.

“Rafael, nanti Mama panggil ke panggung.”

“Tidak perlu nanti.”

Aku berjalan menuju panggung.

Mama mendekat dan berbisik, “Apa yang kamu lakukan?”

Aku mengambil mikrofon.

“Maaf mengganggu acara.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Nama saya Rafael Wijaya. Sebagian besar dari Anda mungkin mengenal saya sebagai pendiri yayasan ini.”

Aku memandang layar besar di belakang panggung.

“Tadi Mama mengatakan tidak boleh ada anak yang tidur dalam keadaan lapar. Saya sangat setuju.”

Aku memberi isyarat kepada Adrian.

Layar berubah.

Video pertama muncul.

Luna sedang duduk di dekat pintu dapur sambil memegang roti kering.

Kemudian muncul rekaman kamera keamanan rumah.

Luna keluar tengah malam.

Berjalan menuju tempat sampah.

Mengais makanan.

Suara para tamu mulai terdengar.

Mama pucat.

“Matikan!”

Aku tetap menatap layar.

Video berikutnya memperlihatkan Mama meninggalkan rumah dengan gaun pesta sementara Luna berdiri di belakangnya.

“Nenek, Luna lapar.”

Suara Mama terdengar jelas.

“Ambil saja makanan di belakang. Jangan ganggu Nenek.”

Ballroom langsung hening.

Mama mencoba merebut mikrofon.

“Ini fitnah!”

Aku mundur.

Layar berganti lagi.

Laporan transaksi muncul.

Empat miliar rupiah.

Dana yayasan.

Rekening pribadi.

Mobil.

Perhiasan.

Hotel.

Pesta.

Satu per satu.

“Aku bisa jelaskan,” kata Mama.

“Silakan.”

Mama menatap ratusan orang.

“Itu semua biaya operasional yayasan.”

Adrian naik ke panggung.

“Kalau begitu mungkin Ibu Helena bisa menjelaskan mengapa sebuah Mercedes terdaftar atas nama pribadi Ibu sebagai biaya pendidikan anak jalanan.”

Beberapa orang mulai merekam dengan ponsel.

Mama gemetar.

Kemudian pintu ballroom terbuka.

Dua polisi masuk bersama beberapa petugas.

Mama menatapku.

“Kamu melaporkan Mama?”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekat.

“Mama melakukan semua ini untuk keluarga kita!”

“Untuk keluarga?”

Aku akhirnya kehilangan senyumku.

“Anakku makan roti berjamur dari tempat sampah.”

Mama membalas dengan suara tajam, “Anak itu terlalu dimanjakan! Maya juga. Mereka hanya tahu menghabiskan uangmu!”

Aku menatap perempuan di depanku dan untuk pertama kalinya aku tidak melihat sosok ibu yang membesarkanku.

Aku melihat seseorang yang begitu lama menganggap kasih sayang sebagai hak kepemilikan.

“Maya hampir meninggal.”

Wajah Mama berubah.

“Jangan berlebihan.”

Kalimat itu persis seperti yang dikatakan Maya.

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto kondisi Maya di rumah sakit.

Mama terdiam.

Namun kejutan sebenarnya belum selesai.

Adrian menyerahkan sebuah map kepadaku.

“Ada satu hal lagi.”

Aku membuka dokumen itu.

Ternyata rumah tempat Maya dan Luna tinggal sudah dijadikan jaminan pinjaman enam bulan sebelumnya.

Tanda tanganku dipalsukan.

Jumlah pinjamannya dua belas miliar rupiah.

Aku menatap Mama.

“Untuk apa dua belas miliar?”

Mama tidak menjawab.

Polisi kemudian menunjukkan hasil penelusuran awal.

Uang itu tidak seluruhnya digunakan Mama.

Sebagian besar dikirim kepada seseorang bernama Victor Halim.

Nama itu membuat tubuhku kaku.

Victor adalah mantan direktur keuangan perusahaanku yang kupecat dua tahun lalu karena manipulasi laporan keuangan.

Aku menatap Mama.

“Kenapa uang itu dikirim ke Victor?”

Air mata akhirnya muncul di wajahnya.

“Karena dia bilang bisa mengembalikan semuanya.”

“Mengembalikan apa?”

Mama menutup wajah.

Ternyata semuanya dimulai dari investasi bodong.

Setahun sebelumnya, Mama diam-diam menginvestasikan dana pribadinya melalui Victor. Ketika kehilangan miliaran rupiah, dia menggunakan uang yayasan untuk menutup kerugian. Ketika uang yayasan habis, dia mengambil uang rumah tanggaku. Ketika itu masih belum cukup, dia menjaminkan rumah.

Setiap kebohongan digunakan untuk menutup kebohongan sebelumnya.

Sampai akhirnya harga yang harus dibayar bukan lagi uang.

Melainkan kesehatan Maya dan masa kecil Luna.

Polisi membawa Mama keluar malam itu.

Namun saat melewatiku, dia berhenti.

“Rafael.”

Aku menatapnya.

“Mama tetap ibumu.”

Aku mengangguk.

“Dan Luna tetap anakku.”

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tiga bulan kemudian, kondisi Maya mulai membaik. Fungsi ginjalnya belum sepenuhnya pulih, tetapi dokter mengatakan ada harapan besar selama perawatannya disiplin.

Luna mulai sekolah untuk pertama kalinya.

Hari pertama sekolah, dia berdiri di depan gerbang sambil menggenggam tanganku.

“Ayah.”

“Iya?”

“Di sekolah ada makan siang?”

Aku mengangguk.

“Ada.”

“Kalau Luna lapar, Luna boleh minta?”

Aku berjongkok agar wajah kami sejajar.

“Luna tidak perlu meminta izin untuk makan.”

Dia memandangku seolah sedang mencoba memahami kalimat yang sangat asing.

Kemudian dia memeluk leherku.

Beberapa minggu kemudian, aku membubarkan kepengurusan lama Yayasan Cahaya Bangsa dan membangun sistem baru. Semua transaksi dibuat transparan. Tidak ada lagi satu orang yang memiliki kendali penuh atas dana.

Aku juga mengubah prioritas yayasan.

Program pertamanya bukan pesta gala.

Bukan ballroom.

Bukan sampanye.

Melainkan dapur umum dan program makan gratis untuk anak-anak.

Pada hari dapur pertama dibuka, Luna ikut bersamaku.

Dia membantu membagikan kotak makanan.

Seorang anak perempuan mengambil kotaknya lalu langsung menyembunyikan sepotong roti ke dalam tas.

Luna melihatnya.

“Kenapa rotinya disimpan?” tanyanya.

Anak itu menunduk.

“Buat nanti. Takut besok enggak ada makanan.”

Luna terdiam.

Kemudian dia mengambil kotak makanan miliknya sendiri dan menyerahkannya.

“Besok datang lagi. Di sini ada makanan.”

Aku berdiri beberapa meter di belakangnya.

Luna tidak tahu aku sedang menangis.

Malamnya, saat kami pulang, Maya menungguku di ruang makan.

Di atas meja ada nasi hangat, sup ayam, sayuran, dan sepiring roti.

Luna langsung duduk.

Namun sebelum makan, dia mengambil satu potong roti dan memasukkannya ke saku.

Aku dan Maya saling berpandangan.

“Luna,” panggil Maya lembut. “Kenapa rotinya disimpan?”

Luna terdiam cukup lama.

“Takut besok enggak ada.”

Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

Aku mengeluarkan roti itu dari sakunya lalu meletakkannya kembali di piring.

“Besok ada.”

Luna menatapku.

“Besok lusa?”

“Ada.”

“Minggu depan?”

“Ada.”

“Kalau Ayah pergi kerja jauh lagi?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada semua yang terjadi malam itu.

Aku menggenggam tangannya.

“Ayah mungkin tetap harus pergi bekerja. Tapi Ayah tidak akan pernah lagi pergi dari hidup Luna.”

Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya mengambil sendok.

Malam itu kami makan bersama.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada sampanye.

Hanya tiga orang yang perlahan belajar menjadi keluarga lagi.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah amplop dari penjara.

Surat dari Mama.

Aku membukanya, tetapi hanya membaca satu kalimat pertama.

Rafael, Mama akhirnya mengerti bahwa Mama tidak kehilangan segalanya ketika polisi datang malam itu.

Aku berhenti.

Kemudian membaca kalimat berikutnya.

Mama sudah kehilangan segalanya jauh sebelumnya, ketika seorang cucu berusia empat tahun berdiri di depan Mama dan berkata bahwa dia lapar, tetapi Mama memilih pergi ke pesta.

Aku menutup surat itu.

Dari halaman belakang terdengar tawa Luna.

Aku berjalan ke jendela.

Maya sedang duduk di kursi taman sementara Luna berlari mengejar gelembung sabun. Tubuhnya sudah lebih berisi. Rambutnya rapi. Matanya kembali memiliki cahaya yang dulu kukira telah hilang selamanya.

Luna melihatku di jendela dan melambaikan tangan.

“Ayah! Cepat!”

Aku meletakkan surat itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mengetahui apa yang tertulis di halaman berikutnya.

Aku keluar menemui mereka.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan, bisnis, atau keberhasilan.

Rumah yang paling miskin bukanlah rumah yang tidak memiliki uang.

Melainkan rumah yang penuh kemewahan, tetapi membiarkan seseorang di dalamnya kelaparan.

Dan pesta paling mahal yang pernah kubayar bukanlah pesta di ballroom malam itu.

Harganya adalah delapan bulan masa kecil putriku yang tidak akan pernah bisa kubeli kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang