TETANGGAKU MENDENGAR JERITAN DARI RUMAHKU YANG KOSONG. AKU BERSEMBUNYI DI BAWAH RANJANG DAN MENEMUKAN SUAMIKU YANG SUDAH MENINGGAL TERNYATA MASIH MEMEGANG KUNCI!

“Halo, Ibu Janda.”

Siska mengucapkannya sambil tersenyum, seolah menemukan Maya bersembunyi di bawah ranjang adalah hal paling lucu yang pernah dilihatnya.

Maya tidak bergerak.

Jantungnya berdegup begitu keras sampai dadanya terasa sakit. Tangannya menggenggam ponsel, sementara layar panggilan darurat masih menyala.

Dari pengeras suara terdengar suara Danu.

“Siska? Ada apa?”

Siska tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada Maya.

“Siska!”

Maya akhirnya merangkak keluar dari bawah ranjang.

“Jadi kamu masih hidup.”

Kalimat itu keluar dari bibirnya dengan suara bergetar.

Di ujung telepon mendadak sunyi.

Maya mengambil ponsel Siska dari atas kasur sebelum perempuan itu sempat meraihnya.

“Danu?”

Tidak ada jawaban.

Maya menelan ludah.

“Delapan belas bulan aku menangisi kamu. Delapan belas bulan aku tidur sendirian. Aku bahkan merasa bersalah setiap kali mulai bisa tertawa lagi. Dan selama itu kamu masih hidup?”

Beberapa detik kemudian terdengar napas panjang.

Lalu suara Danu muncul.

“Maya, dengarkan aku dulu.”

Maya tertawa pendek. Air matanya jatuh.

“Dengar apa? Penjelasan tentang bagaimana orang mati bisa menelepon selingkuhannya?”

Siska langsung mencoba merebut ponselnya.

Maya mundur.

Pada saat bersamaan, terdengar gedoran semakin keras dari depan rumah.

“Maya!” teriak Ibu Salma. “Kamu di dalam?”

Siska panik.

Dia mendorong Maya hingga tubuh Maya membentur lemari.

Map berisi dokumen jatuh berserakan.

Siska berlari menuju pintu kamar.

Namun Maya berhasil menangkap tali tasnya.

“Kamu tidak pergi ke mana-mana!”

“Lepaskan!”

Keduanya bergumul.

Siska menendang kaki Maya, lalu berhasil melepaskan diri. Dia berlari melewati ruang keluarga dan menuju pintu servis belakang.

Tetapi ketika membuka pintu, dua petugas keamanan cluster sudah berdiri di sana.

Ibu Salma rupanya tidak datang sendirian.

Siska membeku.

“Jangan bergerak!” bentak salah satu petugas.

Maya keluar dari kamar sambil membawa ponsel Siska.

Namun panggilan sudah terputus.

Danu menghilang lagi.

Polisi datang sekitar dua puluh menit kemudian.

Siska terus mengatakan bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Dia mengaku datang untuk mengambil dokumen atas permintaan Danu sebelum kecelakaan terjadi.

Tetapi rekaman panggilan di ponselnya berkata lain.

Polisi menemukan puluhan percakapan antara Siska dan seseorang yang disimpan dengan nama “D”.

Pesan terakhir dikirim pagi itu.

Masuk setelah jam sembilan. Maya biasanya sudah di klinik.

Ada pula foto sertifikat rumah, polis asuransi, kartu identitas Maya, serta jadwal kerjanya.

Yang lebih mengerikan, polisi menemukan sebuah folder berisi rekaman suara Maya.

Rekaman ketika Maya menangis.

Ketika Maya marah.

Ketika Maya bertengkar dengan Danu.

Bahkan rekaman suara “Jangan kurung aku lagi” yang didengar Ibu Salma.

Semua disimpan sebagai file audio.

Rupanya selama beberapa minggu terakhir, Siska sengaja memutar rekaman itu melalui speaker kecil yang disembunyikan di ventilasi ruang keluarga.

Tujuannya sederhana.

Membuat Ibu Salma mendengar suara aneh.

Membuat tetangga mulai berbicara.

Kemudian, jika Maya menyadari dokumen pentingnya hilang dan mulai mengaku bahwa suaminya yang sudah meninggal sebenarnya masih hidup, orang-orang akan menganggap Maya mengalami gangguan mental akibat kesedihan berkepanjangan.

Maya duduk di sofa ketika polisi menjelaskan semuanya.

Tangannya dingin.

“Kenapa?” tanyanya.

Siska yang duduk di seberang hanya tersenyum hambar.

“Karena rumah ini bukan satu-satunya yang Danu butuhkan.”

Maya menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Siska tidak menjawab lagi.

Malam itu Maya tidak berani tidur di rumah.

Ibu Salma membawanya menginap di rumahnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya menceritakan semuanya.

Tentang Danu yang perlahan berubah setelah tahun kedua pernikahan.

Tentang bagaimana dia mulai mengontrol pengeluaran Maya.

Memeriksa ponselnya.

Menentukan dengan siapa Maya boleh berteman.

Mengunci Maya di kamar ketika mereka bertengkar.

Namun setiap kali Danu meminta maaf, Maya selalu meyakinkan dirinya bahwa suaminya hanya sedang stres karena pekerjaan.

Ibu Salma mendengarkan tanpa menyela.

Ketika Maya selesai, perempuan tua itu hanya berkata pelan, “Kadang-kadang kita terlalu sibuk mempertahankan kenangan tentang seseorang sampai lupa melihat siapa dia sebenarnya.”

Keesokan harinya, polisi menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.

Kecelakaan Danu memang benar-benar terjadi.

Mobilnya memang terbakar di Tol Jagorawi.

Tetapi jenazah yang ditemukan di dalam kendaraan bukan Danu.

Korban adalah seorang pria bernama Arif Setiawan.

Usianya 38 tahun.

Arif bekerja sebagai sopir lepas yang beberapa kali menerima pekerjaan dari perusahaan milik Danu.

Identitas korban sulit dipastikan karena kondisi jasad.

Dan orang yang datang untuk melakukan identifikasi adalah Rian.

Adik Danu sendiri.

Maya langsung mendatangi kantor polisi setelah mendengar nama itu.

“Rian tahu?”

Penyidik tidak langsung menjawab.

“Kami sedang mencarinya.”

Namun Rian sudah menghilang.

Rumah kontrakannya kosong.

Nomornya tidak aktif.

Rekening banknya dikuras tiga hari sebelumnya.

Penyelidikan kemudian membuka fakta yang membuat Maya hampir muntah.

Enam bulan sebelum “kematiannya”, Danu mengambil polis asuransi jiwa bernilai miliaran rupiah.

Maya tercatat sebagai penerima manfaat utama.

Namun klaim asuransi itu tidak pernah benar-benar masuk ke rekening Maya.

Seseorang telah membuat rekening lain menggunakan data identitasnya.

Sebagian dana kemudian dipindahkan melalui beberapa perusahaan kecil.

Salah satunya terhubung dengan Rian.

Satu lagi terhubung dengan Siska.

Polisi menduga kematian palsu itu direncanakan untuk menghapus jejak Danu dari sejumlah utang bisnis sekaligus mencairkan polis asuransi.

Tetapi masih ada satu pertanyaan.

Mengapa setelah berhasil menghilang selama delapan belas bulan, Danu mempertaruhkan semuanya hanya untuk mengambil sertifikat rumah?

Jawabannya ditemukan Maya sendiri.

Tiga hari setelah kejadian, Maya membuka lemari tua milik ayahnya.

Di dalamnya ada sebuah map yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia periksa.

Rumah di Sentul itu bukan dibeli Danu.

Tanahnya merupakan pemberian ayah Maya sebelum mereka menikah.

Di dalam map terdapat akta lama dan surat perjanjian yang menyatakan tanah tersebut merupakan harta pribadi Maya.

Namun rumah yang berdiri di atasnya dibangun menggunakan dana gabungan.

Danu rupanya mencoba menjadikan keseluruhan properti itu sebagai jaminan untuk pinjaman bisnis sebelum kematiannya.

Dia gagal karena membutuhkan tanda tangan Maya dan dokumen asli.

Itulah sebabnya dia kembali mengincar sertifikat tersebut.

Tetapi ada sesuatu yang lebih penting.

Di bagian belakang map, Maya menemukan sebuah kartu memori kecil.

Dia hampir membuangnya karena mengira benda itu milik ayahnya.

Ketika kartu itu dimasukkan ke laptop, muncul sebuah video.

Tanggalnya dua hari sebelum kecelakaan.

Danu terlihat duduk di ruang kerja bersama Rian.

Maya mengenali ruangan itu.

Ruang kerja di rumahnya sendiri.

Video rupanya berasal dari kamera keamanan lama yang pernah dipasang ayah Maya.

Suara mereka terdengar jelas.

“Kalau semuanya selesai, gue pergi ke Kuala Lumpur,” kata Danu.

Rian tampak gelisah.

“Terus orang yang bawa mobil itu?”

“Dia cuma perlu percaya dia mengantar mobil ke bengkel.”

“Kalau dia mati?”

Danu terdiam.

Lalu menjawab dingin.

“Berarti dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.”

Maya menghentikan video.

Tangannya gemetar.

Arif tidak pernah tahu bahwa mobil yang dikendarainya telah dipersiapkan untuk sebuah kecelakaan.

Dia bukan bagian dari rencana.

Dia adalah korban.

Maya segera menyerahkan kartu memori itu kepada polisi.

Perburuan terhadap Danu berubah dari penyelidikan penipuan menjadi perkara yang jauh lebih serius.

Seminggu kemudian, Rian ditangkap di sebuah hotel di Bandung.

Dia akhirnya mengaku.

Danu masih berada di Indonesia.

Selama setahun terakhir dia hidup menggunakan identitas palsu dan berpindah-pindah antara Jakarta, Bandung, dan Batam.

Namun polisi tidak langsung menangkapnya.

Mereka membutuhkan bukti yang bisa menghubungkan Danu secara langsung dengan Siska dan rencana pengambilan dokumen.

Maya menawarkan sesuatu yang membuat penyidik terdiam.

“Biarkan saya menelepon dia.”

Malam berikutnya, Maya duduk di ruang interogasi dengan sebuah ponsel di atas meja.

Siska, yang akhirnya bersedia bekerja sama demi meringankan posisinya, memberikan nomor terbaru Danu.

Maya menelepon.

Satu kali.

Tidak dijawab.

Dua kali.

Tidak dijawab.

Pada panggilan ketiga, suara yang selama delapan belas bulan hanya hidup dalam ingatannya akhirnya terdengar.

“Maya.”

Maya memejamkan mata.

Aneh.

Dulu suara itu mampu membuatnya merasa aman.

Sekarang yang dia rasakan hanya dingin.

“Aku punya sertifikatnya.”

Danu terdiam.

“Di mana?”

“Di rumah.”

“Jangan bohong.”

“Aku juga menemukan kartu memori dari kamera lama Papa.”

Sunyi.

Napas Danu berubah.

“Maya, dengarkan aku. Kamu tidak mengerti apa yang terjadi.”

“Kalau begitu pulang dan jelaskan.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa? Karena orang mati tidak boleh pulang?”

Danu menghela napas kasar.

“Aku melakukan semua ini untuk kita.”

Maya hampir tertawa.

“Untuk kita?”

“Aku terlilit utang. Kalau aku tetap hidup sebagai Danu Pratama, semuanya selesai. Rumah disita, bisnis hancur, kita kehilangan semuanya.”

“Jadi kamu membakar mobil dengan orang lain di dalamnya?”

“Itu kecelakaan.”

“Tapi kamu tahu Arif berada di mobil itu.”

Danu terdiam.

Diamnya adalah jawaban.

Maya menahan air mata.

“Temui aku besok. Aku akan membawa sertifikatnya. Setelah itu aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Mereka sepakat bertemu di sebuah vila kosong di kawasan Puncak.

Keesokan sore hujan turun deras.

Maya datang membawa map cokelat.

Polisi sudah berada di beberapa titik tersembunyi.

Pukul empat lewat dua puluh menit, sebuah mobil abu-abu berhenti.

Seorang pria turun.

Tubuhnya lebih kurus.

Rambutnya lebih panjang.

Ada janggut tipis di wajahnya.

Tetapi Maya mengenal cara dia berjalan.

Danu.

Untuk beberapa detik, waktu seperti berhenti.

Laki-laki yang makamnya tidak pernah ada.

Laki-laki yang abunya pernah Maya peluk sambil menangis.

Laki-laki yang selama delapan belas bulan hidup nyaman sementara istrinya belajar menerima kematian.

Danu berdiri beberapa meter di depannya.

“Kamu kelihatan kurus,” katanya.

Maya menatapnya tanpa ekspresi.

“Kamu kelihatan cukup sehat untuk orang mati.”

Danu tersenyum tipis.

“Berikan map itu.”

Maya tidak bergerak.

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Pernah nggak kamu merasa bersalah?”

Wajah Danu berubah.

“Maya, dunia tidak sesederhana itu.”

“Jawab.”

Danu mendekat.

“Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup.”

“Termasuk membiarkan aku mengira kamu mati?”

“Kamu akan sembuh.”

“Termasuk Arif?”

Danu berhenti.

“Dia seharusnya keluar dari mobil sebelum kecelakaan.”

Kalimat itu cukup.

Beberapa petugas langsung keluar dari persembunyian.

“Polisi! Jangan bergerak!”

Danu membeku.

Wajahnya berubah pucat.

Dia menatap Maya.

“Kamu menjebakku?”

Maya menggeleng perlahan.

“Tidak, Danu.”

Air mata akhirnya mengalir di pipinya.

“Kamu yang membuat jebakan ini delapan belas bulan lalu.”

Danu mencoba berlari, tetapi polisi menangkapnya sebelum mencapai mobil.

Ketika tangannya diborgol, dia masih memanggil nama Maya.

Maya tidak menoleh.

Beberapa bulan kemudian, rumah itu akhirnya dijual.

Bukan karena Maya takut tinggal di sana.

Dia hanya tidak ingin lagi hidup di tempat yang menyimpan terlalu banyak suara dari masa lalu.

Sebelum pindah, Maya mengunjungi keluarga Arif.

Dia bertemu istrinya dan menyerahkan sebagian uang yang berhasil dikembalikan dari jaringan rekening Danu.

Tidak ada jumlah uang yang bisa mengganti nyawa seseorang.

Maya tahu itu.

Namun setidaknya keluarga Arif akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Pada hari terakhir di Sentul, sebuah truk pindahan berhenti di depan rumah.

Ibu Salma berdiri di pagar sambil membawa kantong kresek berisi roti seperti biasa.

Maya memeluknya lama.

“Kalau waktu itu Ibu tidak mendengar suara jeritan itu, mungkin saya tidak akan pernah tahu.”

Ibu Salma tersenyum.

“Bukan saya yang menyelamatkan kamu.”

Maya mengernyit.

“Lalu siapa?”

Ibu Salma menunjuk rumah kosong di belakang Maya.

“Kamu sendiri.”

Maya menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.

Selama delapan belas bulan, dia mengira kehilangan Danu adalah tragedi terbesar dalam hidupnya.

Ternyata bukan.

Tragedi terbesarnya adalah bertahun-tahun hidup bersama seseorang yang perlahan membuatnya tidak lagi percaya pada nalurinya sendiri.

Dan suara perempuan yang berteriak dari rumah kosong itu ternyata memang suara Maya.

Bukan hantu.

Bukan orang asing.

Melainkan rekaman dirinya dari masa lalu, ketika ia pernah memohon untuk dibebaskan.

Ironisnya, Danu menggunakan suara itu untuk membuat orang menganggap Maya kehilangan akal sehat.

Namun justru suara itulah yang akhirnya membongkar semuanya.

Maya masuk ke mobil dan menyalakan mesin.

Sebelum pergi, dia menurunkan kaca.

“Ibu Salma.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah percaya pada suara yang orang lain mungkin anggap tidak penting.”

Perempuan tua itu tersenyum.

“Jeritan minta tolong tidak pernah tidak penting, Maya.”

Mobil Maya perlahan meninggalkan cluster.

Di kaca spion, rumah itu semakin kecil sampai akhirnya menghilang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya tidak merasa sedang meninggalkan rumah.

Dia merasa sedang keluar dari sebuah ruangan yang terlalu lama mengurungnya.

Dan kali ini, kuncinya ada di tangannya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang