AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR, ANAKKU MAKAN ROTI SISA DI LANTAI, SEMENTARA ISTRIKU SIBUK DENGAN PRIA YANG KUBIAYAI

Pesan di layar itu membuat seluruh suara di rumah seolah menghilang.

“Kalau Raka sampai tahu soal rekening kedua dan surat itu, kita habis.”

Aku membacanya sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Maya berusaha menarik tangannya, tetapi aku sudah melepaskannya lebih dulu dan mengambil jarak.

“Apa yang ada di rekening kedua?”

Maya menatapku dengan bibir bergetar.

“Mas, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

Rafi masih berada dalam gendonganku. Aku tidak ingin anakku mendengar pertengkaran lebih jauh, jadi aku meminta Bi Sari membawanya ke kamar tamu di lantai atas.

Begitu mereka menghilang di tangga, aku kembali menatap Maya.

“Rekening apa?”

Maya duduk perlahan.

“Rekening bisnis.”

“Bisnis siapa?”

“Punya aku dan Reno.”

Aku tersenyum tipis.

“Dengan uangku?”

Dia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku mengambil ponsel dan menghubungi Dimas, kepala keuangan perusahaan yang sudah bekerja denganku hampir sembilan tahun.

“Mas Dimas, saya butuh seluruh riwayat transfer dari rekening pribadi dan rekening operasional keluarga selama dua tahun terakhir. Tandai semua transaksi ke rekening yang tidak saya kenal.”

Maya langsung berdiri.

“Mas Raka, jangan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Itu akan bikin masalah lebih besar.”

“Masalahnya sudah besar sejak anakku harus makan roti dari lantai.”

Maya menangis lagi.

Namun kali ini aku tidak tahu apakah air matanya muncul karena penyesalan atau ketakutan.

Sekitar dua puluh menit kemudian Dimas mengirimkan berkas awal.

Aku membukanya.

Ada puluhan transaksi.

Nominalnya tidak terlalu mencolok jika dilihat satu per satu. Lima belas juta. Dua puluh juta. Tiga puluh juta. Kadang empat puluh juta.

Semua diberi keterangan berbeda.

Renovasi rumah.

Biaya sekolah.

Perlengkapan anak.

Acara keluarga.

Aku menghitungnya dengan tangan dingin.

Totalnya lebih dari satu miliar rupiah.

Sebagian besar masuk ke satu rekening atas nama perusahaan yang tidak pernah kudengar.

PT Langit Senja Nusantara.

Aku menunjukkan layar kepada Maya.

“Ini perusahaan kalian?”

Maya menunduk.

Aku mencari nama perusahaan itu di dokumen yang dikirim Dimas.

Direktur utamanya adalah Reno Mahendra.

Komisarisnya Maya Pradipta.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Aku hanya tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

Selama dua tahun aku bekerja dari Jakarta ke Surabaya, Balikpapan, Singapura, lalu kembali ke Jakarta karena percaya keluargaku aman.

Sementara di rumah, istriku membangun perusahaan dengan laki-laki lain menggunakan uang yang kukirim untuk keluarga.

“Cabang Bali itu apa?”

Maya akhirnya menjawab.

“Kafe.”

“Sudah dibeli?”

“Belum.”

“Berapa uang mukanya?”

“Delapan ratus juta.”

Aku menatapnya.

“Dari mana?”

Maya diam.

Aku langsung mengerti.

“Rekening kedua.”

Dia mengangguk pelan.

Aku menghubungi bank lagi.

Namun sebelum panggilan tersambung, Maya berkata sesuatu yang membuatku berhenti.

“Uangnya bukan cuma dari kamu.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu?”

Maya menarik napas panjang.

“Ada pinjaman.”

“Atas nama siapa?”

Dia tidak menjawab.

Dadaku mulai terasa sesak.

“Atas nama siapa, Maya?”

“Perusahaan kamu.”

Aku benar-benar terdiam.

Maya buru-buru berdiri.

“Tapi belum cair semuanya. Reno bilang cuma butuh dokumen perusahaan untuk jaminan. Dia bilang nanti keuntungan kafe bisa nutup cicilan.”

Aku menatap perempuan di depanku seolah sedang melihat orang asing.

“Kamu memakai dokumen perusahaanku tanpa izin?”

“Aku cuma tanda tangan beberapa berkas.”

“Kamu tidak punya kewenangan.”

Maya menangis.

“Itu sebabnya ada surat itu.”

Aku teringat pesan Reno.

“Surat apa?”

Maya tidak menjawab.

Aku langsung berjalan menuju ruang kerja.

Dia mengejarku.

“Mas, jangan.”

Aku membuka lemari dokumen.

Beberapa map masih tersusun rapi.

Namun satu laci yang biasanya terkunci terlihat berbeda. Bekas goresan baru tampak di bagian kuncinya.

Aku menariknya.

Kosong.

“Dokumennya di mana?”

Maya berdiri di pintu.

“Reno yang pegang.”

Aku memejamkan mata beberapa detik.

Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah, aku merasa benar-benar takut.

Bukan soal uang.

Bukan soal pernikahan.

Perusahaanku mempekerjakan lebih dari tiga ratus orang. Jika ada pinjaman ilegal atau dokumen perusahaan dipalsukan, dampaknya bukan hanya kepadaku.

Aku langsung menelepon pengacaraku, Adrian.

Dia datang malam itu bersama seorang staf.

Setelah memeriksa dokumen digital yang dikirim Dimas, wajah Adrian berubah serius.

“Ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

Dia memperbesar satu transaksi.

Tiga bulan sebelumnya, sebuah pembayaran senilai dua ratus lima puluh juta masuk dari perusahaan bernama Arunika Capital.

“Ini bukan transfer biasa. Keterangannya pembayaran fasilitas pembiayaan.”

Aku menatap Maya.

“Arunika Capital?”

Maya menggeleng cepat.

“Aku nggak tahu.”

Adrian melihatnya.

“Bu Maya, kalau Ibu ingin masalah ini tidak berkembang menjadi perkara yang lebih serius, saya sarankan jangan menyembunyikan apa pun.”

Maya mulai menangis lagi.

“Aku cuma tanda tangan.”

“Surat apa yang Ibu tanda tangani?”

“Reno bilang surat persetujuan pasangan.”

Adrian terdiam.

“Persetujuan pasangan untuk apa?”

Maya menutup wajahnya.

“Jaminan.”

“Jaminan aset apa?”

Maya menatapku.

“Rumah ini.”

Aku tidak langsung memahami kalimatnya.

“Rumah?”

Maya mengangguk.

“Reno bilang hanya formalitas.”

Aku hampir kehilangan kendali.

Rumah tempat Rafi tidur.

Rumah yang kubeli sebelum menikah.

Rumah yang bahkan secara hukum bukan harta bersama.

Adrian segera meminta salinan dokumen dari pihak pemberi pinjaman.

Yang kami temukan satu jam kemudian jauh lebih buruk.

Tanda tanganku ada di sana.

Padahal aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Aku memandang Maya.

“Siapa yang tanda tangan?”

“Aku nggak tahu.”

“Jangan bohong.”

“Aku benar-benar nggak tahu!”

Adrian menunjuk hasil pindai.

“Kalau Pak Raka tidak pernah menandatangani ini, ada indikasi pemalsuan.”

Maya tiba-tiba terdiam.

Aku melihat perubahan ekspresinya.

“Kamu tahu sesuatu.”

Dia menggeleng.

“Maya.”

Air matanya jatuh.

“Reno pernah minta contoh tanda tangan kamu.”

Ruangan kembali sunyi.

“Dan kamu kasih?”

“Dia bilang untuk proposal investor.”

Aku menunduk.

Tanganku gemetar.

Bukan karena marah lagi.

Karena aku akhirnya menyadari betapa jauh semua ini sudah berjalan.

Adrian menyarankan kami segera membuat laporan dan mengirimkan pemberitahuan resmi kepada pihak pemberi pinjaman bahwa dokumen tersebut sedang disengketakan.

Aku setuju.

Namun sebelum kami pergi, Bi Sari turun dari lantai atas.

“Pak.”

Aku menoleh.

“Ada apa?”

Dia terlihat ragu.

“Sebenarnya saya sudah lama mau bicara.”

Maya langsung menatapnya.

“Bi, jangan ikut campur.”

Bi Sari justru berdiri lebih tegak.

“Saya harus bicara, Bu.”

Dia kemudian mengeluarkan ponsel lama dari saku.

“Beberapa bulan lalu saya pernah lihat Pak Reno masuk ruang kerja Bapak waktu Bu Maya sedang mandi. Saya curiga. Jadi setelah itu kalau dia datang, kadang saya rekam diam-diam.”

Maya pucat.

Bi Sari menyerahkan ponselnya kepadaku.

Ada beberapa video.

Salah satunya memperlihatkan Reno keluar dari ruang kerja sambil membawa map cokelat.

Video lain menunjukkan mobilnya datang hampir tengah malam ketika aku sedang berada di Surabaya.

Lalu ada satu rekaman suara.

Aku memutarnya.

Suara Reno terdengar jelas.

“Begitu dana Bali cair, kita nggak perlu bergantung sama Raka lagi.”

Kemudian suara Maya.

“Tapi kalau dia tahu?”

“Dia terlalu sibuk. Lagian semua uang yang dia punya nanti juga buat kamu dan Rafi.”

Aku menghentikan rekaman.

Maya menangis.

“Mas, waktu itu aku bodoh.”

Aku menatapnya.

“Bodoh itu salah transfer satu kali.”

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Ini dilakukan berbulan-bulan.”

Malam itu aku tidak mengusir Maya.

Aku justru memintanya tetap berada di rumah sampai pengacara menyelesaikan beberapa hal.

Bukan karena aku memaafkannya.

Aku tidak ingin Reno mengetahui seberapa banyak yang sudah kami temukan.

Keesokan paginya Adrian menghubungi pihak Arunika Capital.

Jawaban mereka mengejutkan.

Dana delapan ratus juta untuk proyek Bali ternyata dijadwalkan cair pukul dua siang.

Reno belum tahu dokumennya sedang dipermasalahkan.

Kami sepakat tidak langsung membatalkan pertemuan.

Sebaliknya, Maya menghubungi Reno.

Tangannya gemetar ketika menelepon.

“Ren.”

“Gimana?”

“Raka sudah pergi.”

Reno terdengar lega.

“Dia curiga?”

“Sedikit.”

“Suratnya aman?”

Maya menatapku sebelum menjawab.

“Aman.”

“Bagus. Siang ini kita selesaikan. Setelah dana cair, malam ini kamu bawa Rafi. Kita ke Bali dulu.”

Aku membeku.

Maya juga terlihat terkejut.

“Kok bawa Rafi?”

“Ya harus. Kalau anaknya sama kita, Raka nggak akan berani macam-macam.”

Tanganku mengepal.

Sekarang semuanya menjadi jelas.

Rafi bukan sekadar anak yang diabaikan.

Dia bahkan sudah direncanakan menjadi alat tawar.

Pukul dua siang, Reno datang ke kantor Arunika Capital.

Aku sudah berada di ruangan lain bersama Adrian dan perwakilan perusahaan pembiayaan.

Ketika Reno menyerahkan dokumen terakhir, pintu terbuka.

Aku masuk.

Wajahnya langsung kosong.

“Rak.”

Aku duduk di seberangnya.

“Lanjutkan.”

Dia tidak bergerak.

“Kita selesaikan cabang Bali.”

Reno berdiri.

“Gue bisa jelasin.”

Kalimat yang sama.

Maya mengatakannya tadi malam.

Sekarang Reno juga.

Aku meletakkan salinan dokumen di meja.

“Tanda tangan ini bukan punyaku.”

Reno melihat pintu.

Dua petugas keamanan sudah berdiri di sana.

“Aku juga punya rekaman kamu mengambil dokumen dari ruang kerjaku.”

Wajah Reno memucat.

“Dengar dulu.”

“Dan aku sudah dengar rencana kamu membawa anakku ke Bali.”

Reno menatap Maya yang baru masuk di belakangku.

Ekspresinya langsung berubah.

“Lo jebak gue?”

Maya menangis.

“Kamu bilang Rafi nggak akan dilibatkan.”

Reno tertawa sinis.

“Sekarang sok jadi ibu?”

Maya terdiam.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada apa pun yang kukatakan sejak kemarin.

Reno akhirnya mengaku.

Tidak semuanya, tetapi cukup.

Kafe Bali memang ada.

Namun bukan untuk Maya.

Reno ternyata memiliki utang bisnis hampir dua miliar rupiah.

Sebagian uang yang Maya transfer selama ini digunakan untuk membayar cicilan utangnya.

Jam tangan, mobil, perjalanan bisnis, semuanya hanya cara membuat Maya merasa menjadi bagian dari hidupnya.

Maya bukan partner.

Dia sumber dana.

Dan aku adalah sumber dana di belakang sumber dana itu.

Beberapa minggu kemudian, proses hukum berjalan.

Pemalsuan dokumen ditangani pengacaraku dan pihak berwenang. Aset perusahaan diamankan. Rencana pembiayaan dibatalkan sebelum dana terakhir cair.

Aku mengajukan perceraian.

Maya tidak melawan.

Namun ada satu hal yang tidak kuduga.

Dalam proses pemeriksaan keuangan, Adrian menemukan rekening kedua yang selama ini kami cari.

Saldo di dalamnya tinggal seratus dua puluh juta.

Tetapi ada satu transaksi yang membuatku terpaku.

Setiap bulan Maya mentransfer lima juta ke rekening atas nama Sari Wulandari.

Bi Sari.

Aku memanggilnya.

“Bi, ini apa?”

Wajahnya langsung pucat.

“Saya bisa jelaskan, Pak.”

Untuk sesaat aku kembali merasakan kecurigaan yang sama.

Namun Bi Sari membuka ponselnya dan menunjukkan seluruh bukti.

Uang itu bukan untuk dirinya.

Setiap kali Maya memberinya lima juta, hampir semuanya digunakan untuk kebutuhan Rafi.

Makanan.

Vitamin.

Buku.

Biaya dokter.

Bahkan beberapa pakaian.

“Bu Maya sering bilang uang belanja anak sudah habis,” katanya pelan. “Tapi saya lihat Rafi sering nggak punya makanan yang dia suka. Jadi uang yang dikasih ke saya, saya simpan buat kebutuhan Rafi.”

Aku menatap catatan itu.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

Bi Sari menunduk.

“Saya takut dipecat. Kalau saya pergi, siapa yang jaga Rafi waktu Bapak nggak ada?”

Aku tidak bisa menjawab.

Malamnya aku masuk ke kamar Rafi.

Dia sedang menggambar.

Ada tiga orang di kertas itu.

Aku.

Rafi.

Dan Bi Sari.

Tidak ada Maya.

Aku duduk di sampingnya.

“Rafi marah sama Mama?”

Dia berpikir cukup lama.

“Nggak.”

“Terus?”

Rafi meletakkan pensil.

“Rafi cuma sedih.”

Aku memeluknya.

Beberapa bulan kemudian perceraian kami selesai.

Maya pindah ke apartemen kecil milik kakaknya.

Aku tidak pernah melarangnya bertemu Rafi selama sesuai kesepakatan dan kondisi anak kami nyaman.

Anehnya, kehilangan semua kemewahan justru mengubah Maya.

Dia mulai bekerja.

Benar-benar bekerja.

Bukan membuka bisnis dengan kartu tambahan milikku.

Bukan berpura-pura menjadi pengusaha.

Dia bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan kecil di Jakarta.

Suatu sore, enam bulan setelah semuanya terjadi, Maya datang menemui Rafi.

Dia membawa satu kotak roti.

Bukan mainan mahal.

Bukan sepatu bermerek.

Hanya roti cokelat dari toko dekat apartemennya.

Rafi mengambil satu.

Maya duduk di depannya.

“Enak?”

Rafi mengangguk.

Kemudian sepotong kecil roti jatuh ke lantai.

Maya langsung membungkuk mengambilnya.

Tangannya berhenti beberapa detik.

Aku tahu dia mengingat hari itu.

Hari ketika semuanya terbongkar.

Maya membuang roti itu ke tempat sampah lalu mengambil yang baru.

Dia memberikannya kepada Rafi.

“Yang jatuh jangan dimakan.”

Rafi menerima roti itu.

Lalu bertanya polos,

“Sekarang Mama nggak simpan makanan buat Om Reno lagi?”

Maya menunduk.

Air matanya jatuh tanpa suara.

“Nggak, Sayang.”

Dia mengusap rambut Rafi.

“Sekarang Mama belajar menyimpan yang paling penting.”

Rafi menatapnya bingung.

“Apa?”

Maya tersenyum sambil menangis.

“Kepercayaan.”

Aku berdiri beberapa meter dari mereka.

Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan laporan keuangan, kontrak, atau bisnis mana pun kepadaku.

Aku hampir kehilangan lebih dari satu miliar rupiah.

Hampir kehilangan rumah.

Hampir kehilangan perusahaan yang kubangun bertahun-tahun.

Namun semua itu masih bisa dicari kembali.

Yang nyaris benar-benar hilang adalah seorang anak kecil yang selama berbulan-bulan merasa dirinya tidak cukup penting untuk diperhatikan.

Sejak hari itu aku mengurangi perjalanan kerja.

Aku belajar menjemput Rafi sendiri.

Belajar mengetahui makanan kesukaannya.

Belajar mendengar cerita yang menurut orang dewasa mungkin tidak penting.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang bertanya apa keputusan bisnis terbaik yang pernah kubuat, jawabanku bukan investasi, ekspansi, atau kontrak bernilai miliaran.

Keputusan terbaikku adalah pulang tanpa memberi kabar pada hari itu.

Karena kalau aku pulang sehari lebih lambat, mungkin rekening itu sudah kosong.

Mungkin rumahku sudah menjadi jaminan.

Mungkin Reno sudah pergi membawa uang.

Tapi yang paling menakutkan, mungkin Rafi akan belajar menerima bahwa lapar, takut, dan diabaikan adalah sesuatu yang normal.

Dan itu adalah kerugian yang tidak akan pernah bisa dibayar kembali dengan uang sebanyak apa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang