“Nadira jangan tahu sebelum tahap ketiga selesai.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Tulisan tangan Arga.
Tidak mungkin salah.
Selama lima tahun menikah, aku hafal caranya menulis huruf g yang selalu terlalu panjang, caranya membuat angka tiga seperti angka delapan yang belum selesai. Bahkan titik kecil setelah kata selesai itu sama persis dengan kebiasaannya ketika menulis catatan untukku.

Aku mengangkat wajah.
“Apa maksudnya ini?”
Arga berdiri membisu.
Polisi yang memegang buku hitam itu menatapnya tajam.
“Pak Arga, sebaiknya Anda menjelaskan.”
“Aku bisa jelaskan.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tubuhku seperti sudah tidak tahu lagi bagaimana harus bereaksi.
“Jelaskan.”
Arga menatap Kirana yang tertidur setelah diberi obat. Kulit lengannya masih kemerahan.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti Kirana.”
“Lalu apa tahap ketiga?”
Arga menelan ludah.
“Produk Mama.”
“Produk?”
“Iya.”
Ternyata semuanya bermula hampir setahun sebelumnya.
Bu Ratih telah lama membuat minyak dan salep herbal rumahan. Awalnya hanya untuk kerabat dan tetangga. Namun setelah beberapa orang memberikan testimoni bahwa racikannya membantu mengurangi ruam, ia mulai berpikir menjadikannya bisnis.
Arga melihat peluang.
Ia membantu ibunya membuat akun media sosial, mencari kemasan, bahkan menyusun rencana pemasaran.
Masalahnya, mereka ingin menjual produk itu khusus untuk bayi.
Dan untuk mendaftarkannya secara resmi, mereka membutuhkan proses yang jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan Bu Ratih.
“Mama tidak sabar,” kata Arga.
“Jadi kalian mencoba racikan itu pada bayi orang lain?”
“Aku tidak tahu awalnya Mama melakukan itu.”
“Kirana diberi kode K-07, Arga.”
“Aku baru tahu soal bayi-bayi sebelumnya setelah K-05.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dan setelah tahu, kamu tetap membantu?”
Arga menunduk.
Itu jawabannya.
Polisi bertanya, “Apa arti tahap satu sampai tiga?”
Arga menarik napas panjang.
“Tahap satu pemakaian sedikit. Tahap dua peningkatan frekuensi. Tahap tiga dokumentasi hasil untuk bahan testimoni dan presentasi calon investor.”
Dadaku sesak.
“Jadi anak kita bahan presentasi?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Aku pikir Mama hanya akan mengoleskan sedikit di kaki Kirana setelah kita yakin aman.”
Aku menunjuk lengan putri kami.
“Ini yang kamu sebut aman?”
Arga mendekat.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadira, dengarkan dulu.”
“Sudah berapa lama kamu merencanakan ini?”
Ia tidak menjawab.
Polisi kembali membuka buku.
Ada catatan lain dengan tulisan Arga.
K-07 prioritas. Dokumentasi sebelum dan sesudah. Jangan informasikan ibu untuk menghindari penolakan awal.
Aku merasa mual.
“Kamu menyebutku ibu?”
Arga memejamkan mata.
“Itu catatan bisnis.”
“Bisnis?”
Suaraku pecah.
“Itu anakmu!”
Kirana bergerak kecil di ranjang.
Aku langsung menurunkan suara dan memegang tangannya.
Saat itulah aku sadar sesuatu.
Bu Ratih memang telah melakukan sesuatu yang mengerikan.
Namun Arga telah melakukan sesuatu yang menurutku jauh lebih menakutkan.
Ia hidup bersamaku setiap hari sambil menyembunyikan rencana itu.
Ia mencium keningku sebelum berangkat kerja.
Ia menggendong Kirana.
Ia mengatakan aku terlalu khawatir sebagai ibu baru.
Sementara diam-diam ia sudah memberi anak kami nomor.
K-07.
Polisi meminta Arga ikut memberikan keterangan.
Sebelum dibawa keluar, ia menoleh kepadaku.
“Aku akan memperbaiki semuanya.”
Aku tidak menjawab.
Malam itu aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua pagi, ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesannya hanya satu kalimat.
Kalau ingin tahu siapa K-01, jangan percaya semua isi buku itu.
Aku langsung duduk.
Beberapa detik kemudian masuk sebuah foto.
Seorang bayi.
Di belakang foto tertulis K-01.
Lalu sebuah alamat di Tambun.
Aku menunjukkan pesan itu kepada polisi keesokan paginya.
Mereka meminta agar aku tidak menghubungi pengirimnya sendiri.
Penyelidikan mulai berkembang.
Ternyata K-01 sampai K-06 bukan sekadar bayi dari kenalan Bu Ratih.
Sebagian adalah anak dari perempuan yang mengenal keluarga kami melalui grup ibu dan bayi, pengajian lingkungan, atau rekomendasi kerabat.
Mereka diberi produk dengan alasan berbeda.
Minyak pijat.
Krim ruam.
Salep herbal.
Semua tanpa penjelasan bahwa respons kulit bayi mereka sedang dicatat.
Namun kejutan berikutnya muncul dari K-01.
Ibunya bernama Lestari.
Ketika polisi menghubunginya, ia langsung menangis.
“Akhirnya ada yang menemukan buku itu?”
Aku berada di kantor polisi saat Lestari datang.
Ia membawa sebuah kotak plastik berisi botol kecil, foto, dan tangkapan layar percakapan lama.
“Aku sudah mencoba melapor delapan bulan lalu,” katanya.
“Kenapa tidak dilanjutkan?” tanyaku.
Lestari memandangku.
“Karena seseorang datang ke rumahku.”
“Siapa?”
Ia mengeluarkan ponselnya.
Foto seorang laki-laki terlihat di layar.
Arga.
Dunia seolah miring.
Lestari mengatakan Arga datang membawa uang dan meminta maaf atas tindakan ibunya. Ia mengatakan masalah itu hanya kesalahpahaman dan berjanji semua penggunaan racikan pada bayi akan dihentikan.
“Aku percaya suamimu,” katanya. “Dia terlihat malu sekali. Dia bahkan menangis.”
Tanganku dingin.
“Berapa yang dia berikan?”
“Lima juta. Aku tidak mau menerima, tapi dia bilang untuk biaya pengobatan anakku.”
Aku mulai memahami daftar pembayaran dalam buku itu.
Sebagian bukan pemasukan.
Sebagian adalah uang untuk membuat masalah menghilang.
Ketika Arga kembali diperiksa, ceritanya mulai runtuh.
Ia akhirnya mengaku.
Ia tahu sejak K-01.
Bukan K-05.
Ia membantu menenangkan keluarga ketika terjadi keluhan.
Ia membuat spreadsheet terpisah untuk mencatat respons.
Bahkan beberapa pembayaran dilakukan melalui rekeningnya.
“Kenapa?” tanyaku ketika akhirnya polisi mengizinkan kami berbicara sebentar.
Arga menangis.
“Aku terlilit utang.”
Aku terpaku.
Ia kemudian menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak kuketahui.
Dua tahun sebelumnya, ia mencoba investasi bersama seorang teman kantor. Ia meminjam uang melalui beberapa aplikasi pinjaman dan kartu kredit karena yakin akan mendapatkan keuntungan besar.
Investasinya gagal.
Utangnya membengkak.
Bu Ratih mengetahuinya.
Ia menawarkan jalan keluar.
Bisnis produk bayi.
Mereka memperkirakan jika produk itu berhasil mendapatkan testimoni kuat dan investor, utang Arga bisa lunas.
“Awalnya aku pikir produknya memang aman,” katanya.
“Setelah K-01?”
“Aku ingin berhenti.”
“Tapi?”
“Mama bilang kami sudah terlalu jauh.”
Aku menatap laki-laki yang dulu kupilih sebagai tempat paling aman dalam hidupku.
“Dan ketika Kirana lahir?”
Arga menangis semakin keras.
“Mama bilang kalau kita berani menggunakan produk itu pada cucunya sendiri, investor akan percaya.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu setuju?”
“Aku tidak langsung setuju.”
“Tapi akhirnya setuju.”
Ia diam.
Aku berdiri.
“Nadira.”
Aku berjalan pergi.
Namun sebelum keluar, ia berkata sesuatu.
“Ada satu hal yang belum kamu tahu.”
Aku berhenti.
“Buku itu bukan milik Mama.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Buku itu milikku.”
Aku merasa udara meninggalkan paru-paruku.
Arga mengatakan dialah yang membuat sistem kode K-01 sampai K-07. Bu Ratih hanya menulis sebagian catatan kondisi kulit. Konsep tahap, dokumentasi, dan daftar pembayaran berasal darinya.
Bahkan istilah sampel adalah pilihannya.
“Aku membuatnya seperti proyek kantor,” katanya dengan suara bergetar. “Supaya aku tidak memikirkan mereka sebagai bayi.”
Kalimat itu membuatku lebih takut daripada semua kebohongan sebelumnya.
Karena aku akhirnya memahami bagaimana seseorang bisa melakukan sesuatu yang buruk tanpa merasa dirinya jahat.
Ia hanya perlu mengganti nama manusia dengan angka.
Beberapa minggu berikutnya menjadi masa terpanjang dalam hidupku.
Kasus itu terus diselidiki. Barang-barang dari rumah Bu Ratih diperiksa. Para keluarga lain dimintai keterangan. Produk yang tersisa diamankan untuk dianalisis.
Aku membawa Kirana tinggal sementara bersama kakakku.
Arga berkali-kali mencoba menghubungiku.
Aku tidak membalas.
Sampai suatu sore sebuah paket tiba.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah flashdisk dan secarik kertas.
Untuk Nadira. Kamu berhak mengetahui alasan sebenarnya Kirana menjadi K-07.
Aku menyerahkannya kepada penyidik.
Flashdisk itu berisi rekaman suara.
Suara Bu Ratih.
Lalu suara Arga.
Rekaman dibuat sekitar dua bulan sebelum Kirana lahir.
“Kalau bayi kita sendiri berhasil, semuanya selesai,” suara Arga terdengar.
“Kalau Nadira curiga?” tanya Bu Ratih.
“Jangan bilang apa-apa sebelum tahap ketiga.”
Aku menutup mulut.
Namun rekaman belum selesai.
Bu Ratih berkata, “Aku masih tidak setuju Kirana dipakai.”
Aku menatap penyidik.
Suara Arga menjawab,
“Ma, kita butuh hasil yang paling meyakinkan. Investor tanya apakah kita sendiri berani menggunakan produk ini pada keluarga. Kalau kita bilang tidak, habis semuanya.”
Tanganku mulai gemetar.
Selama ini aku membayangkan Bu Ratih sebagai pusat seluruh rencana.
Ternyata justru pada rekaman itu, ia terdengar ragu.
Kemudian suara Bu Ratih terdengar lagi.
“Kalau terjadi sesuatu pada cucuku?”
Arga menjawab pelan.
“Kita mulai sedikit. Kalau ada reaksi, kita hentikan.”
Aku tidak sanggup mendengarkan sisanya.
Tetapi penyidik menemukan sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan.
Metadata file menunjukkan rekaman dibuat menggunakan ponsel Bu Ratih sendiri.
Ia merekam percakapan itu diam-diam.
Dan setelah diperiksa lebih lanjut, polisi menemukan salinan rekaman lain tersimpan di akun penyimpanan daring miliknya.
Kenapa?
Jawabannya baru kudapat ketika aku akhirnya bertemu Bu Ratih.
Ia duduk di depanku dengan wajah yang jauh lebih tua daripada terakhir kali kulihat.
“Kenapa Mama merekam Arga?”
Matanya memerah.
“Karena Mama mulai takut pada anak Mama sendiri.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Bu Ratih mengaku bahwa bisnis racikan itu memang bermula darinya. Ia memang memberikan produk kepada beberapa keluarga dan mencatat reaksinya. Ia bersalah atas itu.
Namun setelah Arga masuk, semuanya berubah.
Arga membuat kode.
Membuat tahapan.
Mencari calon investor.
Mendorong dokumentasi.
Ketika beberapa bayi mengalami reaksi, Bu Ratih ingin menghentikan semuanya.
Arga menolak.
“Lalu kenapa Mama tetap melakukan itu pada Kirana?”
Pertanyaan itu keluar seperti pisau.
Bu Ratih menangis.
“Karena Mama pengecut.”
Ia mengaku Arga mengatakan bahwa jika rencana itu gagal, seluruh utangnya akan terbongkar. Penagih bisa datang ke rumah. Pernikahan kami akan hancur. Ia terus meyakinkan ibunya bahwa satu percobaan terakhir akan menyelesaikan semuanya.
“Aku seharusnya melindungi Kirana,” katanya. “Tapi aku malah melindungi anakku sendiri.”
Aku memandang perempuan itu lama.
Untuk pertama kalinya aku tidak melihat monster.
Aku melihat seorang ibu yang membuat pilihan mengerikan karena terus membenarkan kesalahan anaknya.
Dan justru itulah yang paling menakutkan.
Beberapa bulan kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Aku tidak pernah mengajarkan Kirana untuk membenci ayah atau neneknya.
Namun aku juga tidak menyembunyikan kebenaran dari diriku sendiri.
Suatu malam, ketika membereskan barang-barang lama dari rumah, aku menemukan sesuatu di saku tas bayi.
Selembar kertas kecil.
Tulisan Arga.
Aku sempat ingin merobeknya.
Namun kalimat di sana membuatku berhenti.
K-08: Nadira.
Di bawahnya terdapat catatan:
Produk pemulihan ibu pascamelahirkan. Mulai setelah Kirana tahap ketiga.
Aku duduk di lantai.
Tidak bisa bergerak.
Jadi Kirana bukan akhir dari rencana itu.
Aku adalah tahap berikutnya.
Di bagian paling bawah ada kalimat lain.
Namun kali ini tulisan tangannya berbeda.
Tulisan Bu Ratih.
Jangan biarkan ini terjadi.
Aku menyerahkan kertas itu kepada penyidik keesokan harinya.
Saat keluar dari kantor polisi, aku memeluk Kirana erat-erat.
Ia sudah jauh lebih sehat. Kulitnya pulih. Tangannya menggenggam jariku seperti biasa.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama berbulan-bulan tidak mampu kupahami.
Bahaya tidak selalu datang dari orang asing.
Kadang ia duduk di meja makan bersamamu.
Kadang ia memanggilmu sayang.
Kadang ia datang dengan alasan keluarga, tradisi, utang, atau cinta.
Dan cinta yang tidak memiliki batas bukan selalu bentuk kasih sayang.
Kadang justru itulah cara seseorang membiarkan kesalahan tumbuh menjadi sesuatu yang mengerikan.
Aku mencium kening Kirana.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku tidak merasa bersalah karena pernah tertidur.
Aku hanya membuat satu janji.
Anakku tidak akan tumbuh menjadi nomor berikutnya dalam buku siapa pun.
Tidak K-07.
Tidak sampel.
Tidak bukti keberhasilan.
Namanya Kirana.
Dan kali ini, aku akan memastikan semua orang mengingatnya.
