Sirene itu semakin dekat ketika Ardi berlari menaiki tangga.
Aku tidak menunggu lagi.
Begitu mobil patroli berhenti di depan rumah, aku menunjukkan rekaman di ponsel kepada dua petugas yang turun. Salah seorang dari mereka langsung mengetuk pintu dan memperkenalkan diri.
Bu Mirna membukanya dengan wajah tegang.
“Ini hanya masalah keluarga,” katanya cepat.

Petugas itu tidak terpancing.
“Kami menerima laporan dugaan kekerasan. Kami perlu memastikan kondisi semua orang di dalam rumah.”
Aku masuk bersama mereka.
Hal pertama yang kulakukan bukan mencari Ardi.
Aku menghampiri Maya.
Dari dekat, kondisinya jauh lebih buruk daripada yang terlihat melalui jendela.
Pergelangan tangan kirinya memerah. Kulit di kedua lututnya tampak lecet. Bibirnya pucat, dan ketika mencoba berdiri, tubuhnya langsung limbung.
Aku memeluknya.
Untuk sesaat Maya kaku.
Kemudian tubuhnya runtuh dalam pelukanku.
“Ibu…”
Hanya satu kata itu.
Namun tangisnya pecah seperti sesuatu yang sudah ditahan terlalu lama.
“Aku di sini.”
“Maaf…”
Aku menarik wajahnya perlahan.
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
Maya tidak menjawab.
Dari lantai atas terdengar suara laci dibuka dan dibanting.
Salah seorang petugas langsung naik.
“Pak Ardi! Mohon turun!”
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah tergesa.
Ardi muncul di ujung tangga sambil membawa sebuah map biru tebal dan tas laptop.
Wajahnya masih pucat, tetapi ia berusaha terlihat tenang.
“Saya harus keluar sebentar.”
Petugas menghalangi jalannya.
“Bapak tetap di sini dulu.”
“Ini rumah saya.”
“Betul. Dan kami sedang menindaklanjuti laporan dari rumah ini.”
Ardi menatapku.
Saat itulah dia seperti baru memahami sesuatu.
“Ini semua karena Ibu?”
Aku tidak menjawab.
“Perusahaan memecat saya lima menit setelah Ibu datang. Polisi juga langsung datang. Ibu pikir saya bodoh?”
“Pemecatanmu terjadi karena hasil audit perusahaan.”
“Omong kosong!”
Ardi melempar tas laptop ke sofa.
Bu Mirna buru-buru mendekatinya.
“Jangan bicara sembarangan.”
Namun Ardi sudah kehilangan kendali.
“Dia yang menghancurkan semuanya!”
Tangannya menunjuk ke arahku.
Maya yang masih berada di sampingku tiba-tiba berkata pelan.
“Mas, apa isi map itu?”
Ruangan langsung sunyi.
Ardi menoleh.
Maya menatap map biru di tangannya.
“Aku pernah lihat map itu.”
“Maya, diam.”
“Kenapa ada namaku?”
Aku menatap putriku.
“Kamu pernah membukanya?”
Maya menggeleng.
“Tidak. Mas Ardi selalu mengunci ruang kerja.”
Ardi mendadak memeluk map itu lebih erat.
Gerakan kecil itu justru membuat salah seorang petugas memperhatikannya.
“Pak, tolong letakkan mapnya.”
“Ini dokumen pribadi.”
“Letakkan dulu.”
Beberapa detik Ardi tidak bergerak.
Kemudian ponselku bergetar.
Siska.
Aku mengangkatnya.
“Bu Ratih, maaf saya menelepon lagi. Ada perkembangan penting.”
Aku menyalakan pengeras suara.
“Bicara.”
“Tim forensik berhasil mencocokkan transaksi rekening Ibu Maya dengan pembayaran dari tiga vendor. Totalnya empat ratus delapan puluh tujuh juta rupiah.”
Maya menatapku.
“Apa?”
Siska melanjutkan.
“Dana masuk ke rekening atas nama Maya Pramesti, lalu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dipindahkan ke beberapa rekening lain. Salah satunya rekening Mitra Karya Nusantara.”
Maya menggeleng cepat.
“Aku tidak pernah menerima uang sebanyak itu.”
Ardi tiba-tiba berteriak.
“Matikan telepon!”
Semua orang menoleh kepadanya.
Dan saat itulah aku tahu.
Apa pun yang ada dalam map biru itu, Ardi takut kami melihatnya.
Petugas meminta map tersebut diletakkan di meja. Karena status dokumennya belum jelas, mereka tidak langsung membukanya. Namun Maya tiba-tiba berdiri.
“Aku tahu apa itu.”
Ardi menatapnya tajam.
“Maya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, putriku tidak menunduk.
“Itu dokumen atas namaku, kan?”
“Maya, jangan ikut campur.”
“Aku istrimu.”
“Justru karena kamu istriku, diam!”
Maya tersentak.
Aku melihat ketakutan kembali muncul di wajahnya.
Namun kali ini hanya sebentar.
Dia menarik napas.
“Aku mau lihat.”
Ardi tertawa pendek.
“Kamu bahkan tidak ngerti isinya.”
“Kalau namaku ada di sana, aku berhak tahu.”
Bu Mirna maju.
“Maya, jangan kurang ajar. Semua yang dilakukan Ardi itu untuk keluarga kalian.”
Maya menatap ibu mertuanya.
“Termasuk membuatku mengepel dengan air es?”
Wajah Bu Mirna berubah.
“Itu karena kamu malas.”
“Termasuk mengambil kartu ATM-ku?”
“Kami cuma mengatur keuangan.”
“Termasuk tidak membiarkanku bekerja?”
Bu Mirna terdiam.
Aku menoleh cepat kepada Maya.
“Kamu dilarang bekerja?”
Air matanya kembali turun.
“Setelah menikah, Mas Ardi bilang aku tidak perlu kerja. Katanya dia bisa mencukupi semuanya. Lalu rekeningku dia pegang. Password internet banking dia yang buat. Kalau aku minta uang, aku harus jelaskan untuk apa.”
Aku merasa mual.
Selama hampir tiga tahun, setiap kali aku bertanya bagaimana kehidupannya, Maya selalu mengatakan baik.
Aku baru mengerti mengapa.
Bukan karena dia tidak ingin bercerita.
Dia telah dibuat percaya bahwa dia tidak punya jalan keluar.
“Kenapa kamu tidak bilang kepada Ibu?”
Maya memandang lantai.
“Mas Ardi bilang kalau aku pergi, Ibu akan kena masalah.”
Aku membeku.
“Masalah apa?”
Maya menunjuk map biru.
“Katanya ada dokumen yang bisa membuat Ibu kehilangan perusahaan.”
Ardi langsung menyela.
“Dia mengarang!”
Maya menatapnya.
“Dua bulan lalu kamu bilang kalau aku berani cerita kepada siapa pun, tanda tangan Ibu ada di dokumen itu.”
Aku menoleh kepada Ardi.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia menghindari mataku.
Aku meminta Maya mengambil map itu.
Petugas mengizinkan setelah memastikan dokumen tersebut berkaitan dengan dirinya dan Ardi menyerahkannya tanpa perlawanan.
Tangannya gemetar ketika membuka penjepit.
Lembar pertama adalah fotokopi KTP Maya.
Lembar kedua adalah formulir pembukaan rekening.
Lembar berikutnya membuat Maya kehilangan warna di wajahnya.
Surat kuasa.
Ada tanda tangannya.
Namun Maya hanya melihatnya beberapa detik sebelum berkata,
“Ini bukan tanda tanganku.”
Aku mengambil foto dokumen itu dan mengirimkannya kepada Siska.
Kemudian kami menemukan lembar lain.
Perjanjian pinjaman sebesar satu koma delapan miliar rupiah.
Debitur tertulis atas nama Maya Pramesti.
Maya menutup mulutnya.
“Aku tidak pernah meminjam uang.”
Bu Mirna mendadak duduk.
Ardi tidak berkata apa-apa.
Lembar demi lembar berikutnya mulai membentuk gambaran yang jauh lebih buruk.
Rekening Maya bukan hanya digunakan sebagai jalur uang vendor.
Namanya juga dicantumkan dalam dua perjanjian pinjaman.
Ada dokumen kepemilikan sebuah CV.
Ada surat pernyataan penerimaan dana.
Dan semuanya memiliki tanda tangan yang menyerupai tanda tangan Maya.
Aku menelepon pengacara keluarga malam itu juga.
Sementara kami menunggu, petugas meminta keterangan Maya secara terpisah.
Barulah aku mendengar apa yang sebenarnya terjadi selama hampir dua tahun.
Kekerasan itu tidak dimulai dengan tamparan.
Tidak pernah.
Awalnya hanya komentar.
“Kamu terlalu boros.”
Kemudian kartu ATM diambil.
Setelah itu Maya diminta berhenti bekerja karena menurut Ardi seorang istri yang baik seharusnya fokus pada rumah.
Teman-temannya mulai dijauhkan.
Teleponnya diperiksa.
Setiap percakapan denganku dipantau.
Jika Maya dianggap melakukan kesalahan, Bu Mirna memberinya “pelajaran”.
Kadang makan malamnya disimpan.
Kadang AC dinyalakan sangat dingin sementara Maya membersihkan rumah.
Kadang ia dipaksa mengulang pekerjaan yang sama berkali-kali.
Ardi jarang memukul.
Dia tidak perlu.
Dia menggunakan rasa takut.
“Aku selalu berpikir besok dia akan berubah,” Maya berbisik.
Aku menggenggam tangannya.
“Dan kalau aku pulang ke Ibu, aku merasa aku gagal.”
Aku menahan air mata.
“Pernikahan yang gagal tidak lebih buruk daripada kehilangan dirimu sendiri.”
Maya menangis.
Kali ini aku membiarkannya.
Pengacara kami tiba hampir satu jam kemudian.
Setelah melihat beberapa dokumen, dia tidak banyak bicara.
“Kita perlu membawa ini ke penyidik dan melakukan pemeriksaan tanda tangan serta jejak digital. Jangan mengambil kesimpulan sendiri malam ini.”
Aku mengangguk.
Itulah yang kami lakukan.
Malam itu Maya pergi bersamaku.
Ardi tidak ditangkap hanya karena aku menginginkannya. Proses hukum tidak bekerja seperti itu.
Tetapi laporan dibuat.
Rekaman diserahkan.
Dokumen dicatat.
Maya menjalani pemeriksaan medis.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tidur tanpa Ardi berada di ruangan sebelah.
Tiga hari kemudian, hasil audit Naraya Infrastruktur selesai.
Ardi bukan hanya membocorkan informasi tender.
Tim menemukan pola transaksi yang melibatkan vendor terkait keluarganya.
Perusahaan menyerahkan temuan yang relevan kepada aparat untuk ditindaklanjuti.
Ardi mengirimiku puluhan pesan.
Aku tidak menjawab.
Bu Mirna menelepon.
Aku mengangkat satu kali.
“Ratih, kita bisa selesaikan ini secara keluarga.”
Aku bertanya,
“Waktu Maya berlutut mengepel lantai sementara kalian makan, dia bukan keluarga?”
Bu Mirna diam.
Aku melanjutkan.
“Waktu rekeningnya dipakai tanpa dia pahami, dia bukan keluarga?”
“Kamu tidak tahu seluruh ceritanya.”
“Benar. Karena itu sekarang biarkan penyidik yang mencari tahu.”
Aku memutus sambungan.
Namun kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.
Pemeriksaan digital menemukan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Ardi.
Rekening Maya memang pernah menerima uang dari vendor.
Tetapi Maya sama sekali tidak pernah mengaksesnya.
Perangkat yang digunakan tercatat milik Ardi.
Nomor telepon untuk verifikasi juga telah diganti.
Lebih penting lagi, analisis dokumen menunjukkan beberapa tanda tangan yang dipermasalahkan perlu diperiksa sebagai dugaan pemalsuan.
Kasusnya berkembang.
Tetapi ada satu hal yang terus menggangguku.
Mengapa Ardi begitu yakin bisa mengancam Maya dengan namaku?
Jawabannya ditemukan di dalam laptopnya.
Ada sebuah surel lama yang dikirim kepada pamannya.
Isinya hanya satu kalimat.
Kalau semuanya terbongkar, kita arahkan ke Maya. Ibunya pasti akan menyelamatkan anaknya dan perusahaan akan memilih diam.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Ternyata sejak awal Maya bukan sekadar istri yang ingin dia kendalikan.
Dia juga disiapkan sebagai tameng.
Aku tidak pernah merasa semarah itu.
Namun yang dilakukan Maya justru mengejutkanku.
“Ibu jangan pakai saham Ibu untuk menekan kasus ini.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Biarkan prosesnya berjalan normal.”
“Maya…”
“Aku sudah terlalu lama hidup di bawah kekuasaan orang lain. Aku tidak mau keluar dari sana lalu berlindung di balik kekuasaan Ibu.”
Kalimat itu menusukku.
Bukan karena menyakitkan.
Karena untuk pertama kalinya aku melihat putriku yang dulu kembali.
Perempuan yang berani berdebat ketika merasa sesuatu tidak adil.
Perempuan yang pernah pergi sendirian ke Bandung hanya untuk membuktikan bahwa dia mampu.
Aku tersenyum.
“Baik.”
Maya mengajukan gugatan perceraian.
Dia kembali bekerja beberapa bulan kemudian.
Bukan di perusahaanku.
Dia menolak.
Dia memilih sebuah perusahaan konsultan kecil di Jakarta dan menyewa apartemen dengan uangnya sendiri.
Proses hukum terhadap Ardi berjalan terpisah dari perkara perceraian dan hubungan keluarga kami. Aku tidak pernah meminta Naraya memberinya perlakuan khusus. Semua keputusan perusahaan tetap berdasarkan audit dan prosedur internal.
Hampir setahun setelah malam itu, aku mengunjungi apartemen Maya.
Kali ini aku memberi tahu lebih dulu.
Aku membawa lapis legit dari toko yang sama.
Maya membuka pintu sambil tertawa.
“Ibu masih ingat?”
“Tentu.”
Apartemennya tidak besar.
Tidak ada meja makan mewah.
Tidak ada marmer mengilap.
Tidak ada makanan impor seharga jutaan rupiah.
Hanya ada dua mangkuk bakso yang kami pesan lewat aplikasi dan dua cangkir teh.
Tetapi aku belum pernah melihat Maya terlihat setenang itu.
Ketika kami selesai makan, aku melihat sebuah ember kecil di dekat dapur.
Entah mengapa dadaku langsung menegang.
Maya menyadari tatapanku.
Dia tertawa kecil.
“Ibu masih trauma lihat ember?”
Aku tidak bisa tertawa.
Maya berjalan mendekat.
Kemudian dia memegang tanganku.
“Ibu tahu apa yang paling aku ingat dari malam itu?”
Aku menggeleng.
“Bukan Ardi menendang ember.”
“Lalu?”
“Suara Ibu mengetuk pintu.”
Aku terdiam.
Maya tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Selama dua tahun aku pikir tidak ada yang akan datang.”
Aku memeluknya.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Aku dulu mengira malam itu aku menyelamatkan putriku karena aku punya saham, koneksi, pengacara, dan orang-orang yang bisa kuhubungi.
Ternyata bukan itu yang paling penting.
Yang menyelamatkan Maya dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Seseorang melihat.
Seseorang percaya.
Dan seseorang tidak berpaling.
Sebelum pulang, Maya memberikan sebuah amplop kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka di rumah.”
Aku baru membukanya di hotel.
Di dalamnya ada fotokopi surat pengangkatan karyawan tetap Maya.
Dan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan Maya berdiri di depan gedung kantornya, tersenyum lebar dengan kartu identitas tergantung di leher.
Di belakang foto, dia menulis satu kalimat.
Ibu, malam itu Ibu datang untuk membawakan kue. Tapi yang sebenarnya Ibu kembalikan kepadaku adalah hidupku sendiri.
Aku duduk lama di tepi tempat tidur.
Lalu untuk pertama kalinya sejak malam di Cibubur itu, aku menangis tanpa rasa marah.
Keesokan paginya, Maya mengirim pesan.
Ibu, ada satu hal lagi.
Aku membalas.
Apa?
Beberapa detik kemudian muncul sebuah foto.
Sebuah kotak lapis legit.
Di bawahnya Maya menulis,
Sekarang aku sudah bisa beli sendiri. Tapi kalau Ibu datang, tetap bawakan satu.
Aku tertawa sendirian.
Dan saat itu aku tahu putriku benar-benar sudah pulang.
Bukan pulang ke rumahku.
Melainkan pulang kepada dirinya sendiri.
