Putriku Baru Tiga Hari Pulang dari Operasi Otak Saat Istri Baruku Menampar Sisi Kepalanya Karena Semangkuk Sup Tumpah; Ia Mengaku Bengkaknya Efek Pengobatan, Sampai Anakku Menunjuk Kamera Dapur dan Berbisik, “Ayah, Tante Rina Lupa Kamera Itu Masih Menyala”

“Dan sebelum kamu merasa video itu menyelesaikan semuanya, sebaiknya kamu periksa dulu rekaman beberapa minggu terakhir.”

Kalimat Rina membuat tanganku berhenti di gagang pintu.

Bukan karena aku takut pada ancamannya.

Justru karena cara ia mengatakannya terdengar seperti seseorang yang tahu persis apa yang akan kutemukan.

Kirana berdiri di belakangku, jemarinya mencengkeram bagian belakang kemejaku. Tubuhnya masih lemah. Napasnya pendek-pendek.

Aku menatap Rina.

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada.”

“Minggir.”

Rina tetap berdiri di depan pintu.

“Bagas, kita selesaikan di rumah. Kamu sedang marah. Aku juga panik. Kalau kita ke rumah sakit dan kamu menunjukkan video itu, semuanya akan menjadi lebih besar daripada yang sebenarnya.”

Aku hampir tidak percaya pada kalimat yang baru kudengar.

“Anakku baru tiga hari pulang setelah operasi otak.”

“Aku tahu.”

“Kamu menampar sisi kepalanya.”

“Aku sudah bilang aku menyesal.”

“Lalu kamu menyuruh dia berbohong.”

Wajah Rina mengeras.

“Itu karena aku tahu kamu akan bereaksi seperti ini.”

Aku tidak menjawab lagi.

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon satpam kompleks.

Rina langsung pucat.

“Kamu menelepon siapa?”

“Pak Darto. Kalau dalam dua menit kamu belum minggir, aku minta dia datang ke sini.”

Untuk pertama kalinya, Rina mundur.

Aku membawa Kirana keluar.

Di dalam mobil, Kirana tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya bersandar di kursi penumpang belakang dengan bantal kecil menyangga kepalanya.

Aku beberapa kali melihatnya melalui kaca spion.

Setiap kali mata kami bertemu, ia tersenyum tipis.

Seolah justru dia yang ingin meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja.

Itu membuat dadaku semakin sesak.

Di IGD, dokter segera memeriksanya.

CT scan dilakukan.

Aku menunggu hampir satu jam dengan tangan dingin dan pikiran yang dipenuhi kemungkinan terburuk.

Ketika dokter akhirnya keluar, aku langsung berdiri.

“Bagaimana, Dok?”

“Untuk sementara kami tidak melihat perdarahan baru atau komplikasi serius akibat trauma tadi.”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

“Tapi kami ingin mengobservasi Kirana malam ini. Pembengkakannya harus dipantau, mengingat lokasinya dekat area tindakan.”

Aku mengangguk berkali-kali.

“Lakukan apa pun yang perlu dilakukan.”

Dokter menatapku beberapa saat.

“Pak Bagas, saya harus menanyakan sesuatu.”

“Silakan.”

“Apakah ini pertama kalinya Kirana mengalami kekerasan di rumah?”

Aku ingin langsung menjawab iya.

Namun kalimat Rina terngiang kembali.

Periksa rekaman beberapa minggu terakhir.

“Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya.

Dan mengucapkan kalimat itu sebagai seorang ayah terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.

Malam itu, setelah Kirana tertidur di ruang observasi, aku duduk di kursi dekat jendela sambil membuka aplikasi kamera.

Penyimpanannya ternyata masih merekam otomatis selama tiga puluh hari.

Aku mulai mundur.

Hari demi hari.

Pada awalnya tidak ada yang mencurigakan.

Kirana sarapan.

Rina mencuci piring.

Mereka sesekali berbicara.

Kemudian aku menemukan rekaman dua minggu sebelumnya.

Pukul enam lewat empat puluh pagi.

Aku sudah berangkat bekerja.

Kirana sedang berdiri di dekat kulkas sambil memegang kepalanya.

“Aku pusing, Tante.”

Rina sedang membuat kopi.

“Obatmu sudah diminum?”

Kirana mengangguk.

“Aku mau telepon Ayah.”

Rina meletakkan sendoknya sedikit terlalu keras.

“Jangan ganggu ayahmu setiap kali kamu merasa tidak enak badan.”

“Tapi sakit.”

“Kirana, semua orang capek.”

Aku menelan ludah.

Video berikutnya lebih buruk.

Kirana duduk di meja makan sambil mengerjakan tugas sekolah. Tangannya gemetar hingga pensil jatuh.

Rina mengambil pensil itu.

Bukannya mengembalikan, ia meletakkannya di tempat yang lebih jauh.

“Ambil sendiri.”

Kirana mencoba berdiri.

Ia kehilangan keseimbangan dan memegang meja.

Rina hanya melihat.

Tidak membantu.

Beberapa detik kemudian Kirana berhasil mengambil pensil itu.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Namun rekaman yang membuatku benar-benar membeku berasal dari enam hari sebelum operasi.

Kirana duduk di meja sambil menangis.

“Aku takut operasi.”

Rina duduk di depannya.

Untuk sesaat, aku mengira ia akan memeluk anakku.

Sebaliknya, ia berkata pelan,

“Kalau kamu terus membuat ayahmu repot, suatu hari dia bisa capek.”

Kirana menghapus air matanya.

“Ayah nggak akan ninggalin aku.”

“Semua orang bisa berubah.”

“Tante juga?”

Rina tersenyum.

“Aku justru berusaha membuat rumah ini tetap tenang. Jadi jangan terlalu manja.”

Aku menghentikan video.

Tanganku gemetar.

Selama berbulan-bulan, Kirana memang berubah.

Ia menjadi lebih pendiam.

Jarang meneleponku ketika aku bekerja.

Beberapa kali ketika kutanya apakah kepalanya sakit, ia menjawab tidak meskipun wajahnya pucat.

Aku mengira anakku sedang berusaha kuat menghadapi penyakit.

Sekarang aku mulai memahami.

Ia bukan sedang belajar kuat.

Ia sedang belajar diam.

Aku kembali ke kamar observasi.

Kirana sudah bangun.

Matanya menatapku.

“Ayah lihat videonya?”

Aku duduk di samping tempat tidur.

“Iya.”

Ia menunduk.

Aku menarik kursiku lebih dekat.

“Kenapa kamu tidak cerita?”

Lama sekali ia diam.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Karena Tante Rina bilang Ayah capek.”

Dadaku terasa seperti diremas.

“Dia bilang kalau aku terus sakit dan terus bikin masalah, nanti Ayah bisa bosan punya anak yang sakit.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kirana, lihat Ayah.”

Ia mengangkat wajah.

“Tidak ada satu penyakit pun yang bisa membuat Ayah bosan menjadi ayahmu.”

Air matanya jatuh.

“Bener?”

“Bener.”

Ia menangis tanpa suara.

Aku memeluknya hati-hati, menjaga agar tidak menyentuh bagian kepalanya.

Beberapa menit kemudian Kirana berbisik,

“Tante Rina juga sering kasih aku obat tambahan.”

Tubuhku langsung kaku.

“Obat apa?”

“Yang warna putih.”

“Obat dari dokter?”

Kirana menggeleng.

“Katanya supaya aku tidur dan nggak pusing.”

Aku segera memanggil perawat.

Dokter kembali datang dan menanyakan bentuk obat, kapan terakhir diminum, serta berapa kali Kirana menerimanya.

Kirana tidak tahu namanya.

Yang ia tahu hanya satu.

Rina menyimpannya di kotak kecil di lemari dapur.

Aku langsung teringat sebuah kotak plastik putih yang beberapa kali kulihat dekat vitamin.

Aku menelepon Pak Darto dan memintanya memastikan Rina tidak memasuki rumah sampai aku kembali.

Kemudian aku menghubungi polisi.

Bukan karena aku sudah tahu obat apa itu.

Aku tidak mau menebak.

Aku hanya tahu satu hal.

Aku tidak akan lagi menganggap apa pun sebagai masalah rumah tangga biasa.

Keesokan paginya, dengan pendampingan petugas, aku kembali ke rumah.

Rina sudah tidak ada.

Ia membawa sebuah koper.

Namun kotak putih itu masih berada di lemari.

Isinya beberapa tablet tanpa kemasan asli.

Petugas mengambilnya sebagai barang bukti untuk diperiksa.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku naik ke kamar dan mengambil pakaian Kirana.

Saat membuka laci meja Rina untuk mencari kartu asuransi yang biasanya ia simpan di sana, aku menemukan sesuatu.

Sebuah map biru.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen asuransi Kirana, hasil pemeriksaan medis lama, dan beberapa lembar catatan.

Aku membaca salah satunya.

Tanggalnya dua bulan sebelumnya.

Ada daftar jadwal kerjaku.

Senin, pulang sekitar pukul delapan.

Selasa, kemungkinan lembur.

Rabu, rapat Cikarang.

Di samping beberapa tanggal terdapat tulisan tangan Rina.

Kirana bersama saya.

Aku merasa tengkukku dingin.

Petugas memintaku tidak mengubah posisi dokumen dan memotretnya.

Kemudian ponselku berdering.

Rina.

Aku menyalakan speaker.

“Bagas.”

“Di mana kamu?”

“Jangan sok jadi polisi.”

“Aku hanya ingin tahu apa yang kamu berikan kepada Kirana.”

Sunyi.

Kemudian Rina tertawa kecil.

“Vitamin.”

“Kalau vitamin, kenapa kemasannya dibuang?”

Tidak ada jawaban.

“Dan kenapa kamu mencatat semua hari ketika aku tidak ada di rumah?”

Rina menarik napas.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan pernikahan kita karena cerita anak kecil?”

Aku melihat petugas di sampingku.

“Pernikahan kita tidak hancur karena cerita Kirana.”

Aku berhenti sejenak.

“Pernikahan kita hancur saat dia mulai takut berbicara di rumahnya sendiri.”

Rina memutus telepon.

Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan awal terhadap tablet itu keluar.

Obat tersebut bukan bagian dari resep pascaoperasi Kirana.

Dokter menjelaskan kepadaku bahwa mereka masih perlu memastikan pola pemberiannya dan apakah obat itu berhubungan dengan keluhan yang pernah dialami Kirana.

Tidak ada kesimpulan instan.

Tapi bagiku, fakta bahwa Rina memberikan obat yang tidak diresepkan tanpa sepengetahuanku sudah cukup untuk membuat seluruh kepercayaanku runtuh.

Polisi kemudian mengambil salinan rekaman kamera.

Rina akhirnya datang bersama pengacara.

Versinya berubah lagi.

Ia mengaku memberikan obat hanya untuk membantu Kirana tidur.

Ia mengatakan catatan jadwal kerjaku dibuat karena ia perlu mengatur pekerjaan rumah.

Tamparan disebutnya sebagai kehilangan kendali sesaat.

Semuanya punya alasan.

Semuanya, kecuali satu hal.

Kenapa Kirana takut padanya.

Seminggu setelah kejadian, Kirana diperbolehkan pulang lagi.

Bukan ke rumah lama.

Aku membawa Kirana sementara ke rumah ibuku di Depok.

Pada malam pertama, aku membantunya berjalan perlahan menuju kamar.

Ketika melewati meja makan, Kirana berhenti.

Ada semangkuk sup ayam di sana.

Ibuku baru memasaknya.

Tubuh Kirana langsung menegang.

Aku melihat perubahan itu.

Dulu mungkin aku tidak akan menyadarinya.

Sekarang aku tahu.

Aku mengambil mangkuk tersebut dan sengaja meletakkannya di ujung meja.

Lalu aku menyenggolnya.

Mangkuk jatuh.

Sup tumpah ke lantai.

Kirana menatapku dengan mata membesar.

Aku mengambil kain pel.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Itu cuma sup.”

Ia masih diam.

Aku tersenyum.

“Kalau ada yang tumpah, kita bersihkan. Nggak ada yang perlu dipukul.”

Bibirnya bergetar.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak operasi, Kirana tersenyum lebar.

Tiga bulan berlalu.

Pemulihannya berjalan perlahan tetapi baik.

Ia mulai bisa berjalan tanpa bantuan untuk jarak pendek. Rambut di sekitar bekas operasi mulai tumbuh kembali.

Ia juga menjalani pendampingan psikologis.

Proses hukum terhadap Rina masih berjalan, dan aku berhenti mencari jawaban sederhana tentang bagaimana seseorang yang dulu terlihat begitu penyayang bisa berubah menjadi orang yang membuat anakku takut di rumah sendiri.

Namun kejutan terakhir datang ketika polisi memintaku memeriksa kembali satu rekaman yang sebelumnya kulewatkan.

Rekaman itu dibuat hampir sebulan sebelum operasi.

Pukul satu lewat tiga pagi.

Dapur gelap.

Kemudian seseorang masuk.

Rina.

Ia membuka lemari dan mengambil kotak obat.

Namun beberapa detik kemudian, Kirana muncul di ujung lorong.

Rina terkejut.

Mereka berbicara pelan.

Audio hampir tidak terdengar.

Petugas memperbesar volumenya.

Suara Kirana terdengar.

“Aku lihat Tante masukin sesuatu ke minumanku.”

Rina membeku.

Lalu mendekati Kirana.

“Kamu salah lihat.”

“Aku mau bilang Ayah.”

Ada jeda panjang.

Kemudian Rina berjongkok.

“Kalau kamu bilang sesuatu yang belum tentu benar, ayahmu bisa marah sama kamu.”

Kirana mundur.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini luput.

Kirana sebenarnya sudah mencoba memberitahuku.

Aku membuka pesan-pesan lama di ponsel.

Tiga minggu sebelum operasi, ada satu pesan darinya yang tidak pernah kubalas.

Ayah, nanti kalau pulang aku mau cerita sesuatu tentang Tante Rina.

Malam itu aku sedang menangani masalah besar di gudang.

Aku membaca pesannya dari notifikasi.

Lalu lupa membalas.

Keesokan harinya, ketika aku pulang, Kirana tidak mengatakan apa-apa.

Dan aku tidak bertanya.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Bukan karena aku ingin menyalahkan diriku tanpa akhir.

Tapi karena akhirnya aku mengerti bahwa anak-anak tidak selalu mengatakan, “Tolong aku.”

Kadang mereka berkata, “Ayah, nanti aku mau cerita.”

Kadang mereka mendadak lebih pendiam.

Kadang mereka berhenti meminta bantuan.

Kadang tubuh mereka menegang hanya karena melihat semangkuk sup.

Malam itu aku pulang ke rumah Ibu.

Kirana sedang duduk di sofa membaca buku.

Aku duduk di sebelahnya.

“Kirana.”

“Hm?”

“Maaf Ayah dulu nggak balas pesanmu.”

Ia memandangku.

“Ayah sibuk.”

“Itu bukan alasan untuk tidak mendengarkan kamu.”

Kirana menutup bukunya.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka pesan lama itu, lalu menunjukkannya.

“Mulai sekarang, kalau kamu bilang mau cerita, Ayah akan dengar.”

Kirana menatap layar beberapa detik.

Lalu menatapku.

“Ayah?”

“Iya?”

“Aku mau cerita sesuatu.”

Aku langsung meletakkan ponsel di meja.

“Cerita.”

Ia tersenyum kecil.

“Hari ini aku bisa jalan dari kamar sampai dapur tanpa pegangan.”

Aku terdiam.

Kemudian tertawa sambil menahan air mata.

“Serius?”

Ia mengangguk bangga.

Aku memeluknya perlahan.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kata “aku mau cerita” tidak lagi terdengar seperti peringatan.

Ia terdengar seperti seharusnya.

Seperti seorang anak yang akhirnya yakin bahwa ketika ia berbicara, seseorang akan mendengarkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang