PARENT SAYA MEMBUANG SAYA DI PONDOK Hutan TERPENCIL 14 KM DARI DESA SETELAH MENGAMBIL SELURUH UANG DAN HP SAYA. TAPI SEBUAH SURAT RAHASIA MENGUBAH SEMUANYA!

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.

Alya menahan napas.

Di atas kepalanya, Bima terus menggonggong. Bukan gonggongan liar, melainkan suara pendek dan berat, seolah memperingatkan seseorang agar tidak mendekat.

Alya mematikan lampu minyak tanah, lalu menggenggam surat kakeknya erat-erat.

Pintu pondok berderit.

“Alya?”

Suara laki-laki tua terdengar dari luar.

Alya membeku.

“Aku tahu kamu di dalam. Jangan takut.”

Ia mengenali suara itu, meski sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya.

“Pak Darto?”

Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu dengan jaket tebal dan senter di tangan. Alya mengenalnya sebagai mantan penjaga kebun milik kakeknya.

Bima berhenti menggonggong.

Lebih mengejutkan lagi, anjing itu berjalan mendekati Pak Darto dan mengibaskan ekornya.

Alya naik dari ruang bawah tanah.

“Bapak ngapain di sini?”

Pak Darto tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada amplop cokelat di tangan Alya.

“Kamu sudah menemukannya.”

Alya semakin bingung.

“Bapak tahu soal surat ini?”

Pak Darto menutup pintu dan memasang palang kayu.

“Aku yang meletakkannya di sana tiga hari lalu.”

Alya mundur satu langkah.

“Tiga hari lalu?”

Pak Darto mengangguk.

“Kakekmu sudah menduga hari seperti ini akan datang.”

Alya merasa kepalanya dipenuhi pertanyaan.

Pak Darto kemudian menjelaskan sesuatu yang selama bertahun-tahun disembunyikan dari Alya.

Sebelum meninggal dua tahun lalu, Broto mengetahui bahwa Hendra dan Rika beberapa kali mencoba menjual tanah peninggalan Maya. Namun mereka tidak bisa melakukannya karena sebagian besar aset itu ternyata tidak pernah diwariskan kepada Hendra.

Semuanya diwariskan kepada Alya.

Bukan hanya pondok tua tersebut.

Ada perkebunan apel seluas belasan hektare di lereng gunung, dua bangunan komersial di Malang, dan sebidang tanah di Surabaya yang kini disewa sebuah perusahaan logistik.

Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Alya terdiam.

“Tidak mungkin.”

“Baca halaman terakhir.”

Dengan tangan gemetar, Alya membuka kembali dokumen itu.

Namanya tercetak jelas sebagai penerima manfaat utama.

Namun ada satu ketentuan yang membuat dadanya sesak.

Hak pengelolaan penuh baru beralih kepadanya setelah ulang tahunnya yang kedua puluh.

Tiga minggu lagi.

Alya mengangkat wajah.

“Kalau begitu kenapa mereka membuang saya sekarang?”

Pak Darto menatapnya lama.

“Karena mereka tidak membuangmu.”

Alya mengerutkan kening.

“Mereka sedang mencoba membuatmu menghilang.”

Darah di wajah Alya seperti surut.

Pak Darto mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari jaketnya.

Ada dokumen pengajuan penetapan Alya sebagai orang yang dianggap tidak mampu mengelola dirinya sendiri. Ada catatan konsultasi hukum. Bahkan terdapat rancangan surat kuasa yang memberi Hendra hak mengelola seluruh aset Alya.

Sebagian tanda tangan di dokumen itu menyerupai tanda tangannya.

Padahal Alya tidak pernah menandatanganinya.

“Mereka memalsukan tanda tangan saya?”

“Kakekmu mencurigainya sejak lama.”

Alya menutup mulutnya.

Tiba-tiba semua kejadian beberapa bulan terakhir terasa masuk akal.

Rika terus mengatakan bahwa Alya emosional.

Ayahnya beberapa kali menyuruhnya menemui dokter meskipun Alya tidak sakit.

Rika juga mulai menguasai rekening tabungannya dengan alasan membantu mengatur keuangan.

Dan perjalanan keluarga ini terjadi hanya tiga minggu sebelum ulang tahunnya.

“Mereka mau membuat orang percaya saya kabur?”

Pak Darto mengangguk pelan.

“Lebih buruk. Mereka ingin mengatakan kamu tidak stabil dan meninggalkan rumah sendiri.”

Alya merasa mual.

“Lalu uang tiga puluh delapan juta saya?”

“Mungkin mereka ingin memastikan kamu tidak punya cara untuk pergi dari sini.”

Alya menatap tungku yang menyala.

Ia baru memahami betapa berbahayanya situasi itu.

“Kenapa Kakek tidak pernah memberitahu saya?”

Wajah Pak Darto berubah muram.

“Karena ayahmu memutus semua hubungan kalian setelah ibumu meninggal.”

Pak Darto lalu menunjuk Bima.

“Anjing itu milik kakekmu.”

Alya menoleh.

Bima sedang berbaring di dekat tungku.

“Namanya memang Bima,” kata Pak Darto.

Alya terdiam.

Ternyata nama yang secara spontan ia pilih adalah nama asli anjing itu.

“Kakekmu sering membawa Bima ke sini. Setelah beliau meninggal, Bima berkali-kali kabur dari rumahku dan kembali ke pondok ini.”

Mata Alya mulai panas.

Seolah-olah bahkan setelah meninggal, kakeknya masih meninggalkan seseorang untuk menunggunya.

Pak Darto bermaksud membawa Alya ke desa malam itu, tetapi hujan turun semakin deras. Jalan tanah berubah menjadi lumpur dan sebuah pohon tumbang menutup jalur utama.

Mereka terpaksa menunggu pagi.

Namun pukul empat lewat dua puluh menit, suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.

Pak Darto langsung berdiri.

“Matikan lampu.”

Alya melakukannya.

Dari celah jendela, mereka melihat cahaya lampu mobil bergerak di antara pepohonan.

Sebuah MPV hitam berhenti di depan pondok.

Mobil yang sama.

Ayahnya kembali.

Hendra turun lebih dulu.

Rika menyusul sambil membawa senter.

“Kenapa mereka kembali?” bisik Alya.

Pak Darto memandang amplop di tangannya.

“Mungkin mereka sadar ada sesuatu yang tertinggal.”

Rika membuka pintu tanpa mengetuk.

Begitu melihat Alya berdiri bersama Pak Darto, wajahnya berubah.

“Kamu?”

Pak Darto tidak menjawab.

Tatapan Rika langsung bergerak ke amplop cokelat.

Alya melihat ketakutan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di mata ibu tirinya.

“Kasih itu ke Mama.”

Untuk pertama kalinya Alya tidak merasa takut.

“Kenapa?”

“Itu bukan milikmu.”

“Nama saya tertulis di depannya.”

Rika melangkah maju.

“Alya, jangan bikin masalah lebih besar.”

Hendra masuk dari belakang.

Ketika melihat dokumen di tangan putrinya, ia berhenti.

Alya menatap ayahnya.

“Papa tahu?”

Hendra tidak menjawab.

“Papa tahu semua ini?”

“Alya, dengarkan Papa dulu.”

“Papa tahu tanah ini milik Mama?”

Hendra menunduk.

“Papa tahu Kakek mewariskannya ke saya?”

Hening.

Alya merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.

Bukan kemarahan.

Harapan.

Harapan bahwa mungkin ayahnya hanyalah seseorang yang terlalu lemah untuk melawan istrinya.

Ternyata ia tahu.

Rika mencoba mengambil amplop itu, tetapi Pak Darto berdiri di antara mereka.

“Jangan sentuh dia.”

Rika tertawa sinis.

“Bapak pikir bisa ikut campur urusan keluarga kami?”

Pak Darto mengeluarkan ponselnya.

“Sejak kalian masuk tadi, semuanya direkam.”

Wajah Rika langsung berubah.

Hendra memandang Pak Darto dengan panik.

“Apa maksud Bapak?”

“Aku sudah mengirim lokasi ini kepada pengacara Pak Broto sebelum datang.”

Rika berbalik kepada Hendra.

“Kamu bilang orang tua itu sudah tidak punya siapa-siapa!”

“Rika, diam.”

“Semua ini gara-gara kamu!”

Untuk pertama kalinya topeng mereka pecah.

Rika mulai berteriak bahwa selama bertahun-tahun ia yang membantu Hendra mempertahankan bisnisnya. Ia mengaku menggunakan sebagian pemasukan aset Maya untuk membayar utang perusahaan Hendra.

Alya menatap ayahnya.

“Papa pakai uang Mama?”

Hendra duduk lemas di kursi.

“Awalnya cuma pinjam.”

“Berapa?”

Hendra tidak menjawab.

“Berapa, Pa?”

“Hampir empat miliar.”

Alya hampir tidak percaya.

Rika segera menyela.

“Kalau bukan karena kami, kamu pikir kamu bisa hidup nyaman selama ini?”

Alya tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Nyaman?”

Ia menunjuk pintu.

“Kalian meninggalkan saya empat belas kilometer dari desa tanpa HP, tanpa kendaraan, dan hampir tanpa makanan.”

“Kami akan kembali!”

“Kapan? Setelah saya menandatangani surat kuasa?”

Rika terdiam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan lain.

Bukan satu.

Tiga.

Lampu menyapu halaman pondok.

Dua petugas kepolisian turun bersama seorang perempuan berkacamata bernama Ratna, pengacara yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum Broto.

Rika langsung pucat.

Ratna masuk membawa map besar.

“Selamat malam, Alya.”

Alya tidak pernah bertemu perempuan itu sebelumnya.

Namun Ratna memandangnya seperti seseorang yang sudah lama menunggu pertemuan tersebut.

“Kakekmu meninggalkan instruksi yang sangat spesifik.”

Ratna kemudian menjelaskan bahwa Broto sengaja mempertahankan pondok itu dalam kondisi sederhana. Ia curiga Hendra suatu hari akan membawa Alya ke sana karena tempat tersebut adalah satu-satunya aset keluarga Maya yang dianggap tidak berharga.

Broto bahkan mengetahui bahwa Rika berkali-kali menyebut pondok itu sebagai tempat yang cocok untuk “mengajari Alya hidup susah”.

Karena itu, beberapa bulan sebelum meninggal, Broto menyiapkan ruang bawah tanah dan menitipkan kuncinya kepada Pak Darto.

Surat tersebut baru boleh diletakkan di pondok jika Pak Darto mengetahui Alya akan dibawa ke sana.

“Tapi bagaimana Pak Darto tahu?” tanya Alya.

Pak Darto tersenyum tipis.

“Bima.”

Ternyata tiga hari sebelumnya Hendra datang untuk memeriksa pondok.

Bima yang berkeliaran di sekitar perkebunan mengenali mobilnya dan mengikuti kendaraan itu.

Pak Darto kemudian melihat Hendra dan Rika membersihkan sebagian pondok serta membawa dua bungkus biskuit dan air mineral.

Ia langsung curiga.

Sejak saat itulah surat tersebut ditempatkan di ruang bawah tanah.

Ratna menyerahkan sebuah ponsel kepada Alya.

“Kamu bisa menghubungi siapa pun sekarang.”

Alya menatap benda itu.

Anehnya, orang pertama yang ingin ia hubungi bukan teman, bukan rekan kerja.

Ia menatap ayahnya.

“Kenapa Papa melakukan ini?”

Hendra menutup wajahnya.

“Aku takut kehilangan semuanya.”

“Jadi Papa memilih kehilangan saya?”

Hendra menangis.

Tetapi Alya tidak bergerak mendekatinya.

Pagi mulai datang ketika polisi membawa Hendra dan Rika pergi untuk dimintai keterangan terkait dugaan pemalsuan dokumen, penguasaan uang, dan tindakan lain yang sedang diselidiki.

Tiga minggu kemudian Alya berusia dua puluh tahun.

Ia tidak menjual pondok tersebut.

Sebaliknya, ia menggunakan sebagian pendapatan dari aset warisan untuk memperbaikinya.

Listrik dipasang.

Atap diganti.

Jalan menuju desa diperbaiki.

Namun lantai kayu dan pintu menuju ruang bawah tanah tetap dipertahankan.

Setahun kemudian, tempat itu berubah menjadi rumah singgah kecil bagi perempuan muda yang kehilangan tempat tinggal atau membutuhkan tempat aman sementara.

Alya menamainya Rumah Maya.

Bima tinggal bersamanya.

Anjing tua itu selalu tidur di teras pada sore hari, menghadap jalan menuju hutan.

Suatu pagi, ketika Alya sedang membersihkan ruang bawah tanah, ia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperhatikannya.

Di bagian bawah meja tempat surat pertama ditemukan, ada sebuah laci tipis.

Di dalamnya terdapat pita kaset.

Alya mengenal tulisan di labelnya.

Suara Mama untuk Alya.

Jantungnya berdegup keras.

Ukiran burung kaca dan pemutar kaset miliknya memang telah diambil Rika malam itu.

Namun Pak Darto masih menyimpan pemutar kaset tua milik Broto.

Alya memasukkan pita itu.

Suara berdesis memenuhi ruangan.

Kemudian terdengar suara seorang perempuan.

Suara yang hampir terlupakan Alya setelah delapan tahun.

“Alya, Sayang. Kalau suatu hari kamu mendengar ini, mungkin Mama sudah tidak bisa memelukmu lagi.”

Alya menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

“Mama tidak tahu seperti apa hidupmu nanti. Tapi Kakek sudah berjanji satu hal kepada Mama. Rumah ini akan selalu menunggumu. Kalau dunia membuatmu merasa tidak punya tempat untuk pulang, datanglah ke sini.”

Alya menangis tanpa suara.

Rekaman berhenti beberapa detik sebelum suara Maya terdengar sekali lagi.

“Dan kalau Bima masih ada, beri dia biskuit. Dia selalu pura-pura lapar.”

Alya tertawa di tengah tangisnya.

Dari tangga terdengar suara kuku beradu dengan lantai.

Bima muncul dan memandangnya.

Alya mengambil biskuit dari rak.

“Kamu tahu semuanya dari awal, ya?”

Bima mendekat dan meletakkan kepalanya di lutut Alya, persis seperti malam pertama mereka bertemu.

Saat itulah Alya akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika mobil ayahnya meninggalkannya di tengah hutan, ia mengira seluruh keluarganya telah membuangnya.

Padahal di tempat yang sama, seorang kakek yang telah meninggal, seorang ibu yang telah pergi delapan tahun sebelumnya, seorang lelaki tua yang setia menjaga janji, dan seekor anjing yang terus kembali ke rumah itu telah menunggunya dengan cara mereka masing-masing.

Alya menatap cahaya pagi yang masuk melalui pintu ruang bawah tanah.

Rumah tidak selalu menjadi tempat di mana seseorang dilahirkan.

Kadang-kadang rumah adalah tempat yang tetap menunggumu, bahkan setelah orang lain memutuskan untuk meninggalkanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang