SAYA MEMBERI MAKAN SEORANG ANAK YATIM PIATU, MEREKA MALAH MENUDUH SAYA MENCULIK PEWARIS KELUARGA MUSUH BISNIS. PADAHAL DIREKTUR MEREKA SENDIRILAH YANG MENCURI UANGNYA!

“Jangan keluar dari rumah ini.”

Adrian Pratama mengucapkan kalimat itu sambil menutup tirai ruang keluarga. Di luar pagar rumahnya, sedikitnya belasan wartawan sudah berkumpul. Kamera mengarah ke gerbang, sementara sebuah mobil stasiun televisi berhenti di seberang jalan.

Alba berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Anak delapan tahun itu memeluk tubuhnya sendiri.

“Karena mereka mencari saya?”

Adrian menoleh.

“Karena ada orang yang ingin membuatmu takut.”

“Bapak juga takut?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

“Tentu.”

Alba tampak terkejut.

“Orang kaya juga bisa takut?”

Adrian hampir tersenyum.

“Orang kaya cuma punya rumah lebih besar untuk bersembunyi saat takut.”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Alba tertawa kecil.

Namun ketenangan tersebut hanya bertahan beberapa detik.

Ponsel Adrian kembali berdering.

Ketua dewan komisaris memintanya segera datang ke kantor.

Dua investor yang seharusnya menandatangani transaksi Rp270 miliar menunda kerja sama. Harga saham perusahaan mitra mereka mulai terguncang. Di media sosial, nama Adrian menjadi bahan perbincangan.

Narasinya sederhana dan menghancurkan.

Adrian Pratama menemukan putri mendiang rival bisnisnya, menyembunyikannya di rumah, lalu diduga berusaha memperoleh akses terhadap warisan senilai ratusan miliar rupiah.

Sebelum berangkat, Adrian berjongkok di depan Alba.

“Saya harus pergi beberapa jam.”

Wajah Alba langsung berubah.

“Bapak bilang kemarin akan tetap ada.”

“Saya juga bilang semuanya tidak akan mudah.”

Adrian mengambil sebuah kartu nama dari sakunya dan menuliskan nomor telepon pribadinya.

“Kalau kamu takut, telepon saya. Kalau ada orang datang dan mengaku mengenal ayahmu, jangan ikut siapa pun sebelum Bu Marta menelepon saya.”

Alba menerima kartu itu.

“Bapak akan kembali?”

Adrian menatap matanya.

“Kali ini kamu tidak perlu menanyakannya besok pagi.”

Di kantor pusat Pratama Development, suasananya jauh lebih buruk.

Beberapa anggota direksi mendesak Adrian menyerahkan Alba kepada pihak berwenang secepat mungkin.

“Kita sedang berbicara tentang reputasi perusahaan,” kata salah satu komisaris. “Apa pun niatmu, publik tidak melihatnya seperti itu.”

“Dia anak delapan tahun, bukan portofolio investasi.”

“Justru karena dia pewaris Utama Group, masalahnya tidak sesederhana itu.”

Adrian menahan emosi.

“Tidak. Kalianlah yang membuatnya rumit karena melihat angka Rp480 miliar sebelum melihat seorang anak yang dua hari tidak makan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Adrian keluar sebelum rapat selesai.

Di lorong, asistennya, Rendy, sudah menunggu.

“Pak, ada sesuatu yang aneh.”

Rendy menyerahkan tablet.

Ia menemukan bahwa berita mengenai keberadaan Alba di rumah Adrian pertama kali dikirim kepada tiga redaksi media hanya 43 menit setelah asisten Adrian sendiri memperoleh konfirmasi identitas Alba.

Artinya, seseorang mengetahui proses pencarian mereka hampir secara langsung.

Lebih aneh lagi, seluruh pernyataan media berasal dari satu orang.

Bram Santoso.

Direktur Keuangan Utama Group.

Nama itu tidak asing bagi Adrian. Bram adalah tangan kanan Javier Serrano selama hampir sepuluh tahun. Setelah kematian Javier, ia menjadi salah satu orang yang mengendalikan operasional perusahaan sampai persoalan warisan selesai.

“Dia juga orang yang paling keras menuduh saya?” tanya Adrian.

Rendy mengangguk.

“Bram meminta polisi menyelidiki kemungkinan penculikan dan manipulasi hak waris.”

Adrian memandang layar beberapa saat.

“Kalau seseorang berteriak maling terlalu keras, kadang kita perlu memeriksa sakunya.”

Rendy memahami maksudnya.

Mereka mulai menyelidiki.

Bukan dengan meretas rekening atau melakukan sesuatu di luar hukum. Adrian meminta tim pengacaranya mengumpulkan dokumen perusahaan yang tersedia melalui proses resmi, laporan kepada pemegang saham, catatan perkara warisan, serta transaksi yang dapat diperiksa oleh kuasa hukum Alba.

Hasil pertama muncul malam itu.

Ada tujuh pembayaran mencurigakan dari anak perusahaan Utama Group kepada sebuah perusahaan konsultasi bernama Meridian Strategic Advisory.

Totalnya hampir Rp19 miliar.

Masalahnya, kantor Meridian hanya sebuah ruangan kecil di gedung tua di Jakarta Barat.

Tidak ada situs perusahaan.

Tidak ada proyek yang jelas.

Dan direktur perusahaan tersebut adalah seorang perempuan bernama Clara Santoso.

Adik kandung Bram.

“Ini belum membuktikan uang Alba dicuri,” kata pengacara Adrian.

“Saya tahu.”

“Tapi cukup untuk meminta audit independen.”

Adrian mengangguk.

Tepat saat itu ponselnya berbunyi.

Bu Marta.

Adrian langsung mengangkatnya.

Suara perempuan tua itu gemetar.

“Pak Adrian, ada orang datang.”

“Siapa?”

“Pak Bram Santoso.”

Adrian berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

“Jangan buka pintu.”

“Tapi dia membawa surat dan polisi.”

Adrian berlari keluar.

Dua puluh lima menit kemudian, ia tiba di rumah.

Bram berdiri di ruang tamu mengenakan setelan abu-abu sempurna. Dua petugas berada di dekat pintu bersama perwakilan lembaga perlindungan anak.

Alba duduk di sofa sambil memeluk bantal.

Begitu melihat Adrian, ia langsung berdiri.

Bram tersenyum.

“Pak Adrian. Akhirnya.”

“Apa yang Anda lakukan di rumah saya?”

“Saya datang untuk membawa Alba ke tempat yang seharusnya.”

“Dengan kewenangan siapa?”

Bram mengangkat sebuah dokumen.

Ia mengaku telah ditunjuk sebagai salah satu wali sementara atas kepentingan korporasi keluarga Serrano.

Pengacara Adrian yang datang beberapa menit kemudian segera memeriksa dokumen itu.

“Ini bukan surat hak asuh,” katanya. “Dokumen ini hanya berkaitan dengan representasi saham selama proses penetapan ahli waris.”

Wajah Bram berubah sedikit.

Namun Alba tiba-tiba berdiri.

“Om Bram.”

Semua orang menoleh.

Bram tersenyum lembut.

“Alba. Kamu ingat Om?”

Alba tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mundur mendekati Adrian.

Lalu berkata pelan, “Saya ingat suara Om.”

Bram membeku.

“Suara saya?”

Alba mengangguk.

“Malam sebelum Papa pergi ke Bandung.”

Ruangan mendadak senyap.

Alba menatap lantai.

“Papa bertengkar di telepon. Papa bilang, ‘Kalau kamu pindahkan uang itu sekali lagi, Bram, saya laporkan semuanya.’”

Senyum Bram menghilang.

“Itu hanya ingatan seorang anak yang sedang trauma.”

Alba mengangkat wajah.

“Papa juga bilang dia sudah menyimpan buktinya.”

Bram langsung menatapnya.

Gerakan itu hanya berlangsung sepersekian detik.

Namun Adrian melihatnya.

Ketakutan.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Setelah petugas memastikan tidak ada dasar untuk membawa Alba secara paksa malam itu, Bram akhirnya pergi.

Tetapi sebelum keluar, ia mendekati Adrian.

“Anda sedang bermain dengan sesuatu yang tidak Anda pahami.”

Adrian menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau begitu bantu saya memahaminya.”

Bram tersenyum tipis.

“Anda pikir menyelamatkan satu anak membuat Anda menjadi orang baik?”

“Tidak.”

Adrian melirik Alba.

“Tapi mencoba mengambil hak seorang anak jelas tidak membuat Anda terlihat baik.”

Bram pergi tanpa menjawab.

Malam itu Alba tidak bisa tidur.

Sekitar pukul satu dini hari, ia mengetuk pintu kamar Adrian.

“Pak?”

Adrian membuka pintu.

Alba membawa sebuah tas ransel lusuh yang sama seperti saat pertama kali ditemukan.

“Saya baru ingat sesuatu.”

Ia mengeluarkan boneka kelinci kecil yang warnanya sudah memudar.

“Sebelum Papa pergi terakhir kali, dia bilang jangan pernah membuang boneka ini.”

Adrian memeriksanya.

Tidak ada sesuatu yang aneh sampai Alba menunjukkan jahitan kecil di bagian belakang.

“Ini pernah dibuka Papa.”

Adrian memanggil pengacaranya melalui video call. Dengan Alba sendiri yang membuka jahitan tersebut, mereka menemukan sebuah benda kecil terbungkus plastik.

Kartu memori.

Adrian tidak langsung membukanya.

Keesokan paginya, dengan pengacara dan petugas yang berwenang hadir sebagai saksi, kartu itu diperiksa.

Isinya membuat semua orang terdiam.

Javier menyimpan salinan laporan internal perusahaan, rekaman percakapan, serta daftar transfer yang menunjukkan bahwa dana dari beberapa rekening perusahaan telah dialihkan melalui vendor fiktif.

Nama Bram muncul berkali-kali.

Tetapi kejutan terbesar bukan jumlah uangnya.

Melainkan tanggalnya.

Transaksi pertama terjadi hampir setahun sebelum Javier meninggal.

Javier rupanya sudah menyadari penggelapan tersebut dan diam-diam mengumpulkan bukti.

Dalam salah satu rekaman, suaranya terdengar jelas.

“Bram, uang itu bukan milikmu. Sebagian adalah dana yang saya sisihkan untuk Alba. Kembalikan sebelum audit tahunan atau saya serahkan semuanya kepada polisi.”

Bram menjawab dengan suara dingin.

“Jangan membuat keputusan yang akan Anda sesali.”

Rekaman berhenti.

Adrian merasakan tengkuknya meremang.

Namun pengacaranya segera mengingatkan mereka.

“Jangan mengambil kesimpulan tentang kecelakaan Javier. Rekaman ini membuktikan konflik keuangan, bukan penyebab kematiannya.”

Adrian setuju.

Semua bukti diserahkan kepada penyidik.

Audit forensik kemudian dimulai.

Selama beberapa hari berikutnya, tekanan terhadap Adrian justru semakin keras.

Bram mengadakan konferensi pers dan menuduh Adrian memanipulasi seorang anak yang sedang trauma.

Namun tiga hari kemudian, semuanya berubah.

Penyidik menemukan aliran dana melalui sebelas perusahaan vendor. Nilainya bukan Rp19 miliar.

Total dana yang diduga dialihkan mencapai lebih dari Rp73 miliar.

Sebagian berasal dari rekening yang terkait dengan aset yang kelak menjadi hak Alba.

Bram dipanggil untuk diperiksa.

Kemudian beberapa rekening dibekukan sesuai proses hukum.

Media yang sebelumnya mengepung rumah Adrian mulai mengepung kantor Utama Group.

Tetapi Adrian tidak merasa menang.

Suatu sore, ia menemukan Alba duduk sendirian di halaman belakang.

“Semua orang bilang Om Bram jahat,” katanya.

Adrian duduk di sebelahnya.

“Kadang orang melakukan hal buruk. Tapi kita tetap harus membiarkan bukti dan hukum menentukan apa yang sebenarnya terjadi.”

Alba memandang rumput.

“Kalau uang Papa kembali, Papa juga kembali?”

Adrian tidak mampu menjawab segera.

“Tidak.”

Mata Alba berkaca-kaca.

“Kalau begitu kenapa semua orang bertengkar soal uang itu?”

Adrian menelan ludah.

Karena untuk pertama kalinya, seluruh perang bisnis tersebut terlihat sangat kecil.

“Mungkin karena orang dewasa sering lupa bahwa uang seharusnya membantu manusia hidup. Bukan membuat manusia lupa caranya hidup.”

Beberapa minggu berlalu.

Penyelidikan terhadap Bram terus berjalan. Tidak ditemukan bukti yang menghubungkannya dengan kecelakaan Javier dan istrinya. Polisi menyimpulkan kecelakaan itu tetap ditangani sebagai kecelakaan lalu lintas berdasarkan bukti yang tersedia.

Namun perkara keuangannya berbeda.

Dokumen, transaksi, dan perusahaan-perusahaan fiktif membawa penyidikan ke arah yang semakin jelas.

Adrian sendiri dibersihkan dari tuduhan penculikan setelah rekaman restoran, keterangan petugas, serta dokumentasi komunikasi malam pertama membuktikan bahwa ia segera melaporkan keberadaan Alba dan mengikuti prosedur perlindungan anak.

Masalah berikutnya justru lebih sulit.

Siapa yang akan merawat Alba?

Ada kerabat jauh Javier yang muncul setelah pemberitaan mengenai warisan tersebar.

Ada pula pihak yang menawarkan sekolah di luar negeri.

Semua orang tiba-tiba memiliki rencana terbaik untuk masa depan Alba.

Dalam sebuah pertemuan resmi, seorang petugas bertanya kepadanya, “Alba ingin tinggal dengan siapa?”

Anak itu diam cukup lama.

Lalu menunjuk Adrian.

“Dengan dia.”

Adrian terkejut.

Petugas tersenyum tipis.

“Kenapa?”

Alba menjawab tanpa ragu.

“Karena waktu dia memberi saya makan, dia belum tahu saya punya uang.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Adrian menundukkan kepala.

Kalimat sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada semua tuduhan yang diterimanya selama berminggu-minggu.

Proses hukum untuk pengasuhan tentu tidak selesai dalam sehari. Ada pemeriksaan, evaluasi, pendampingan psikologis, kunjungan rumah, dan berbagai tahapan lain.

Adrian mengikuti semuanya.

Berbulan-bulan kemudian, ia akhirnya mendapatkan hak untuk menjadi wali Alba berdasarkan keputusan yang sah.

Pada hari pertama Alba kembali bersekolah, Adrian mengantarnya sendiri.

Sebelum turun dari mobil, Alba membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

Sepotong roti.

Ia membelahnya menjadi dua.

Separuh diberikan kepada Adrian.

“Untuk Bapak.”

Adrian tertawa kecil.

“Saya sudah sarapan.”

“Saya juga sudah.”

“Lalu?”

Alba mengangkat bahu.

“Dulu Bapak bilang saya tidak boleh cuma makan satu roti.”

Adrian menerima potongan itu.

Alba berlari menuju gerbang sekolah, lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik.

“Pak!”

“Ya?”

“Besok Bapak masih ada?”

Pertanyaan yang sama.

Tetapi kali ini wajah Alba tidak lagi dipenuhi ketakutan.

Ia tersenyum saat mengucapkannya.

Adrian mengangkat potongan roti di tangannya.

“Besok pagi, lusa pagi, dan selama kamu masih membutuhkan saya.”

Alba tersenyum lebar lalu berlari masuk.

Adrian berdiri cukup lama di samping mobil.

Beberapa bulan kemudian, ia mengetahui satu fakta terakhir dari pengacara Javier.

Ternyata Javier pernah menyiapkan sebuah dokumen sebelum meninggal.

Bukan tentang uang.

Bukan tentang saham.

Di dalam catatan pribadinya, Javier menuliskan daftar tiga orang yang menurutnya bisa dipercaya jika sesuatu terjadi kepadanya.

Nama ketiga membuat Adrian kehilangan kata-kata.

Adrian Pratama.

Rival bisnisnya sendiri.

Di samping nama itu, Javier menulis satu kalimat.

“Kami bisa saling mengalahkan dalam bisnis, tetapi saya belum pernah melihat Adrian mengkhianati orang yang tidak mampu melawannya.”

Adrian membaca kalimat itu berkali-kali.

Ia dan Javier tidak pernah berteman.

Mereka pernah berdebat, saling merebut proyek, bahkan hampir tidak pernah berjabat tangan tanpa kamera di sekitar mereka.

Namun ternyata seseorang yang selama ini ia anggap musuh telah melihat sisi dirinya yang bahkan tidak pernah Adrian pikir penting.

Malam itu, Adrian menyimpan dokumen tersebut di tempat yang aman.

Bukan bersama kontrak bisnisnya.

Bukan di brankas tempat ia menyimpan surat berharga.

Melainkan di laci kecil di samping foto Alba.

Sebab pada akhirnya, transaksi terbesar dalam hidup Adrian bukanlah proyek Rp270 miliar yang gagal ditandatangani sore itu.

Bukan pula perusahaan atau warisan senilai ratusan miliar yang hampir menyeret namanya ke dalam kehancuran.

Semuanya bermula dari satu roti yang harganya bahkan tidak akan pernah ia ingat.

Roti yang diberikan kepada seorang anak ketika ia belum tahu nama belakangnya, siapa ayahnya, atau berapa banyak uang yang kelak diwarisinya.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika Alba ditanya apa yang paling ia ingat tentang hari pertama bertemu Adrian, jawabannya selalu sama.

Bukan rumah besar tempat ia akhirnya tinggal.

Bukan uang ayahnya yang berhasil diselamatkan.

Bukan pula perang bisnis yang memenuhi berita selama berminggu-minggu.

Ia hanya mengingat seorang pria asing yang menggeser kontrak senilai ratusan miliar rupiah dari atas meja, menarik sebuah kursi kosong, lalu berkata kepadanya,

“Duduklah. Kamu harus makan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang