Maya tidak langsung menangis.
Justru itulah yang membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Di balik pintu ruang kerja itu, ia mendengar tiga orang yang selama hampir dua tahun dianggapnya sebagai calon keluarga sedang membicarakan hidupnya seperti sebuah transaksi. Tidak ada rasa bersalah dalam suara mereka. Tidak ada keraguan. Yang ada hanya perhitungan tentang sertifikat, tanah, proyek jalan tol, dan kapan Rendy akan menceraikannya.
Maya mundur perlahan.

Tas tangannya sudah berada dalam genggamannya ketika suara Rendy terdengar lagi.
“Yang penting jangan sampai dia menelepon notaris keluarganya sebelum akad.”
Maya membeku.
Notaris keluarga?
Pak Abul memang pernah mempunyai seorang kenalan bernama Pak Harun yang mengurus dokumen tanah mereka bertahun-tahun lalu. Tetapi Maya tidak pernah menceritakan hal itu kepada Rendy.
Berarti seseorang telah mencari tahu tentang keluarganya jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Maya keluar melalui pintu samping.
Di taman, angsa putih yang tadi membuat kekacauan berdiri di dekat kolam, seolah sama sekali tidak menyadari bahwa ulahnya baru saja menyelamatkan masa depan seseorang.
Beberapa menit kemudian Rendy muncul.
“Kamu ngapain masuk lagi?”
Maya mengangkat tasnya.
“Ketinggalan.”
Wajah Rendy berubah tegang sesaat.
“Kamu dengar sesuatu?”
Pertanyaan itu terlalu cepat.
Maya menatap matanya, lalu tersenyum kecil.
“Dengar apa?”
Rendy diam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa.
“Enggak. Aku cuma takut kamu dengar Ayah marah gara-gara angsa itu.”
Maya mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia berbohong kepada lelaki yang akan dinikahinya.
Dan anehnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah.
Dalam perjalanan pulang, Rendy terus mengomel tentang pakaian Maya, angsa, dan bagaimana ibunya merasa dipermalukan.
Maya hanya memandang jalanan Jakarta dari balik kaca mobil.
“Maaf,” katanya akhirnya.
Rendy langsung melunak.
“Nah, begitu. Setelah menikah kamu harus belajar menyesuaikan diri. Keluargaku punya standar tertentu.”
Maya menoleh kepadanya.
“Termasuk soal dokumen?”
Rendy hampir menginjak rem.
“Apa?”
“Dokumen pernikahan. Kemarin kamu bilang ada banyak yang harus kutandatangani.”
“Oh.”
Rendy tertawa pendek.
“Cuma administrasi biasa. Kamu enggak perlu pusing. Nanti aku kasih tanda di bagian yang harus kamu tanda tangani.”
Maya tersenyum.
“Baik.”
Malam itu, sesampainya di rumah peninggalan Pak Abul di Tambun, Maya mengunci seluruh pintu.
Kemudian ia menuju kamar kakeknya.
Sudah hampir setahun ruangan itu tidak berubah.
Kemeja tua masih tergantung di balik pintu. Radio kecil terletak di meja. Di sudut kamar ada lemari kayu jati yang selalu dikunci Pak Abul.
Maya berlutut di depannya.
Sertifikat tanah tidak pernah disimpan di lemari itu.
Hanya Maya dan Pak Abul yang mengetahui tempat sebenarnya.
Di bawah lantai gudang belakang terdapat kotak besi kecil. Pak Abul pernah menunjukkannya ketika Maya berusia dua puluh lima tahun.
“Tanah membuat orang yang baik bisa berubah, Nduk,” katanya waktu itu. “Jangan pernah menyerahkan dokumen hanya karena kamu percaya pada seseorang.”
Dulu Maya menganggap nasihat itu berlebihan.
Malam itu, ia baru memahami alasannya.
Ia mengambil senter dan berjalan menuju gudang.
Kotak besi masih ada.
Tetapi ketika dibuka, napas Maya tercekat.
Map cokelat berisi sertifikat asli telah hilang.
Maya terduduk.
Rendy benar.
Seseorang memang sudah mengambilnya.
Namun siapa?
Hanya tiga orang yang pernah mengetahui keberadaan kotak itu. Maya, Pak Abul, dan seorang lelaki bernama Darto yang selama dua puluh tahun membantu merawat kebun.
Maya segera meneleponnya.
“Pak Darto, Bapak pernah membuka gudang belakang?”
Suara lelaki tua itu terdengar gugup.
“Kenapa, Mbak?”
“Jawab saja.”
Sunyi.
Kemudian Pak Darto menangis.
“Maafkan saya.”
Dada Maya seperti dihantam sesuatu.
Tiga minggu sebelumnya, Rendy datang sendirian. Ia mengatakan Maya meminta sertifikat untuk mengurus persiapan pernikahan. Ketika Pak Darto menolak, Rendy menunjukkan pesan dari nomor Maya.
Pesannya berbunyi jelas.
Pak Darto, tolong bantu Rendy ambil map sertifikat di gudang. Saya sedang di kantor.
Maya tidak pernah mengirim pesan itu.
“Nomornya nomor saya?”
“Namanya muncul Maya.”
Maya langsung memahami.
Nomor pengirim bisa disimpan dengan nama apa pun. Pak Darto tidak memeriksa nomor sebenarnya.
“Bapak kasih?”
“Tidak,” jawab Pak Darto. “Saya bilang saya enggak punya kuncinya. Tapi besoknya saya lihat pintu gudang sudah terbuka.”
Maya memejamkan mata.
Berarti Rendy pernah masuk diam-diam.
Keesokan paginya Maya menemui Pak Harun.
Notaris berusia enam puluhan itu membaca fotokopi dokumen yang Maya bawa, kemudian melepas kacamatanya.
“Ada yang aneh.”
“Apa?”
Pak Harun membuka laptop dan memeriksa beberapa catatan.
“Dua minggu lalu ada orang menghubungi kantor saya. Mengaku calon suami kamu. Dia bertanya prosedur pengalihan hak setelah menikah.”
Maya merasakan tengkuknya dingin.
“Bisa enggak tanah saya dialihkan tanpa saya tahu?”
“Tidak semudah itu. Tetapi kalau kamu menandatangani surat kuasa khusus tanpa membacanya, masalahnya berbeda.”
Pak Harun menatapnya tajam.
“Kamu mau membatalkan pernikahan?”
Maya terdiam cukup lama.
“Belum.”
Pak Harun mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena kalau saya batalkan sekarang, mereka akan tahu saya sudah mengetahui semuanya.”
Enam hari menjelang akad, Maya tetap bersikap normal.
Ia membalas pesan Rendy.
Mencoba gaun.
Mengikuti rapat keluarga.
Bahkan tersenyum ketika Bu Siska menyuruhnya mengganti dekorasi karena dianggap terlalu sederhana.
Sementara itu, diam-diam Maya mengumpulkan bukti.
Pak Harun membantu melaporkan hilangnya sertifikat dan mengurus pemblokiran administrasi terhadap kemungkinan peralihan hak tanpa prosedur yang sah.
Maya juga memeriksa rekaman kamera keamanan rumah tetangganya.
Di sanalah ia menemukan sesuatu.
Tiga minggu sebelumnya, mobil Rendy terlihat berhenti di depan rumah Maya pukul 22.17.
Rendy turun bersama seorang perempuan.
Maya memperbesar gambar.
Amara.
Dua hari menjelang akad, Rendy datang membawa setumpuk dokumen.
“Kita selesaikan sekarang saja biar nanti enggak ribet.”
Maya duduk di meja makan.
Rendy memberikan beberapa lembar dokumen asuransi, rekening bersama, dan administrasi lainnya.
Di antara halaman ketujuh dan kedelapan terdapat surat berbeda.
Surat kuasa.
Maya membacanya sekilas.
Rendy langsung menutup bagian atas kertas dengan tangannya.
“Yang ini standar. Tanda tangan di bawah saja.”
Maya menatapnya.
“Boleh aku baca?”
Ekspresi Rendy berubah.
“Kamu enggak percaya sama aku?”
Kalimat itu dulu selalu berhasil membuat Maya merasa bersalah.
Kali ini tidak.
Maya tersenyum.
“Bercanda.”
Ia mengambil pena.
Rendy mengembuskan napas lega.
Maya menandatangani beberapa dokumen biasa, tetapi ketika sampai pada surat kuasa, teleponnya tiba-tiba berbunyi.
“Sebentar.”
Ia berdiri dan masuk ke kamar.
Ketika kembali, ia membawa dokumen yang tampak sama.
Rendy tidak menyadari bahwa Maya telah menukar halaman tersebut dengan salinan yang tidak memiliki klausul pengalihan tanah.
Rendy mengambil semuanya dengan wajah puas.
“Makasih, Sayang.”
Maya memandang lelaki itu lama.
“Rendy.”
“Hm?”
“Setelah menikah, kamu benar-benar mau hidup sama aku, kan?”
Rendy mendekat dan mencium keningnya.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu.”
Maya hampir menangis.
Bukan karena masih percaya.
Melainkan karena baru menyadari betapa mudahnya seseorang mengucapkan cinta sambil membawa dokumen untuk merampas hidup orang lain.
Hari akad akhirnya tiba.
Rumah Maya dipenuhi keluarga dan tamu.
Rendy datang dengan pakaian pengantin rapi. Bu Siska mengenakan kebaya mahal. Pak Bambang tersenyum kepada para tamu seolah mereka keluarga paling bahagia di dunia.
Maya duduk tenang.
Pak Harun berada di antara para tamu.
Begitu pula Pak Darto.
Dan dua petugas kepolisian berpakaian sipil yang telah menerima laporan mengenai dugaan pengambilan dokumen tanpa izin.
Akad berlangsung.
Rendy mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Orang-orang mengucapkan syukur.
Bu Siska menangis bahagia.
Namun ketika Rendy hendak berdiri, Maya berkata pelan.
“Sebentar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Maya mengambil mikrofon.
“Ada hadiah pernikahan yang ingin saya berikan kepada suami saya.”
Rendy tersenyum bingung.
Maya memberi isyarat kepada seseorang di belakang.
Layar besar yang sebelumnya menampilkan foto prewedding mendadak berubah.
Muncul rekaman kamera keamanan.
Mobil Rendy.
Tanggal.
Jam.
Lalu terlihat Rendy dan Amara memasuki halaman rumah Maya pada malam hari.
Wajah Rendy seketika pucat.
“Apa-apaan ini?”
Maya tidak menjawab.
Rekaman berikutnya diputar.
Bukan video.
Melainkan rekaman suara dari pertemuan keluarga dua hari sebelumnya.
Suara Rendy terdengar jelas.
Begitu sertifikat tanah terkendali dan dijual, aku langsung ceraikan Maya.
Ruangan meledak oleh bisikan.
Bu Siska berdiri.
“Matikan!”
Pak Bambang maju hendak merebut laptop.
Namun Pak Harun berdiri menghadangnya.
“Jangan sentuh barang bukti.”
Rendy menatap Maya dengan wajah berubah merah.
“Kamu menjebak aku?”
Maya menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tidak menjebak siapa pun. Aku hanya berhenti menutup mata.”
Saat itulah seorang perempuan muncul dari belakang para tamu.
Amara.
Rendy terlihat jauh lebih terkejut dibanding Maya.
“Amara?”
Perempuan itu membawa seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga tahun.
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku juga capek dibohongi.”
Ternyata setelah Maya menemukannya melalui rekaman CCTV, Maya menghubungi Amara secara langsung.
Awalnya Amara memaki dan menuduh Maya merebut Rendy.
Namun setelah mereka bertemu, kenyataan lain terbongkar.
Rendy ternyata mengatakan kepada Amara bahwa Maya hanyalah rekan bisnis yang bersedia melakukan pernikahan sementara demi mempermudah pengalihan aset keluarga.
Amara juga ditipu.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Pak Harun mengeluarkan sebuah map.
“Sertifikat asli tanah Pak Abul sudah ditemukan.”
Rendy menoleh cepat.
Pak Bambang ikut pucat.
“Di mana?”
Pak Harun tersenyum tipis.
“Di tempat yang mungkin tidak kalian duga.”
Pak Darto kemudian membawa keranjang kayu ke tengah ruangan.
Dari dalamnya muncul angsa putih yang sama.
Beberapa tamu spontan mundur.
Di dasar ganda keranjang tersebut tersimpan map cokelat.
Maya sendiri terpaku.
Pak Darto tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.
“Waktu saya sadar gudang dibobol, saya sudah curiga. Sertifikat asli sebenarnya saya pindahkan sehari sebelumnya karena atap gudang bocor. Yang diambil dari kotak besi cuma fotokopi lama.”
Rendy kehilangan kata-kata.
Jadi selama berminggu-minggu, dokumen yang ia kira sebagai sertifikat asli ternyata tidak pernah bernilai seperti yang dibayangkannya.
Petugas kemudian mendekati Rendy untuk meminta keterangannya terkait laporan yang telah dibuat Maya.
Bu Siska menangis.
Pak Bambang mencoba menjelaskan bahwa semuanya hanya kesalahpahaman.
Tetapi Maya tidak lagi mendengarkan.
Ia menatap halaman rumah tua tempat dirinya dibesarkan.
Beberapa bulan kemudian, pernikahan itu telah berakhir melalui proses hukum.
Maya tidak pernah menjual tanah Pak Abul.
Rumah kayu direnovasi, tetapi bentuk aslinya tetap dipertahankan.
Gudang belakang dibongkar dan diganti bangunan sederhana bercat putih.
Di depan gerbang dipasang papan bertuliskan Pusat Tumbuh Kembang Abul.
Anak-anak dari keluarga kurang mampu datang setiap minggu untuk mendapatkan terapi dengan biaya yang disubsidi dan, bagi yang benar-benar membutuhkan, tanpa dipungut bayaran.
Suatu sore, Maya sedang menemani seorang anak berlatih mengucapkan kata pertamanya ketika terdengar suara gaduh dari halaman.
Angsa putih itu berlari mengejar Pak Darto yang membawa ember sayuran.
Maya tertawa.
Pak Darto mengomel sambil berlari.
“Ini angsa memang dari awal pembawa masalah!”
Maya keluar ke teras.
Ia memandang rumah tua, kebun rambutan, anak-anak yang bermain, lalu angsa yang dulu ditertawakan keluarga Rendy.
“Bukan pembawa masalah, Pak,” katanya sambil tersenyum.
Pak Darto berhenti.
“Terus apa?”
Maya menatap angsa putih itu.
“Pembawa pulang apa yang hampir saya kehilangan.”
Pak Darto mengira Maya sedang membicarakan sertifikat.
Padahal bukan.
Yang hampir hilang bukan hanya sebidang tanah peninggalan kakeknya.
Maya hampir kehilangan hak untuk menentukan hidupnya sendiri hanya karena takut mengecewakan seseorang yang mengaku mencintainya.
Dan delapan hari sebelum akad, seekor angsa yang dianggap memalukan justru membawanya kembali kepada satu pelajaran terakhir dari Pak Abul.
Cinta yang meminta kita menutup mata bukanlah cinta.
Kadang-kadang, hal yang menyelamatkan hidup kita justru datang dalam bentuk yang paling mudah ditertawakan orang lain.
