“Sebenarnya sudah apa?”
Suara suamiku terdengar begitu pelan, tetapi aku tahu ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemarahan.
Telepon masih dalam mode pengeras suara.
Di seberang sana, adik iparku tidak menjawab.
Hanya terdengar napasnya yang memburu.
Suamiku mengulanginya.

“Rina, sebenarnya rumah dan toko itu sudah apa?”
Klik.
Telepon diputus.
Suamiku menatap layar ponsel beberapa detik sebelum perlahan menoleh kepada ayahnya.
“Ayah tahu semua ini?”
Ayah mertua menunduk.
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun aku mengenalnya, pria yang selalu bicara dengan kepala tegak itu tampak seperti seseorang yang kehilangan seluruh keberaniannya.
“Ayah cuma ingin membantu adikmu.”
Suamiku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Dengan menjaminkan semua harta?”
Ayah mertua tidak menjawab.
Hujan mulai turun.
Aku akhirnya membuka pintu.
“Masukkan Ayah dulu. Kita bicara di dalam.”
Aku tidak berubah pikiran soal tanggung jawab merawatnya. Tetapi membiarkan orang yang baru terkena stroke kehujanan bukanlah cara menyelesaikan masalah.
Suamiku mendorong kursi roda masuk.
Aku membawa kardus dan tas kain itu.
Begitu kami duduk di ruang tengah, suamiku mengeluarkan seluruh isi tas.
Ada empat surat perjanjian pinjaman.
Dua surat peringatan.
Satu salinan sertifikat rumah.
Dan sebuah buku catatan kecil.
Suamiku membukanya.
Angka-angka memenuhi hampir setiap halaman.
Tiga ratus juta.
Seratus delapan puluh juta.
Dua ratus lima puluh juta.
Lalu beberapa transaksi dengan jumlah yang jauh lebih besar.
Ketika semuanya dijumlahkan, utangnya hampir mencapai dua miliar rupiah.
Aku menelan ludah.
“Rina pinjam uang sebanyak ini untuk apa?”
Ayah mertua menutup matanya.
“Usaha.”
“Usaha apa?”
“Investasi.”
Suamiku langsung berdiri.
“Ayah jangan bohong lagi!”
Anak kami yang sedang berada di kamar sampai membuka pintu karena mendengar suara ayahnya.
Aku segera menyuruhnya masuk kembali.
Suamiku jarang sekali membentak ayahnya.
Bahkan ketika pembagian harta dilakukan secara tidak adil, ia memilih diam.
Namun malam itu, wajahnya berubah.
“Ayah kasih dia rumah, toko, tabungan. Itu belum cukup sampai Ayah harus menjaminkan semuanya?”
Ayah mertua tiba-tiba menangis.
Aku terpaku.
Seumur-umur aku belum pernah melihatnya menangis.
“Bukan Ayah yang menjaminkan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Suamiku mengerutkan kening.
“Maksud Ayah?”
“Rina yang melakukannya.”
Aku langsung mengambil salah satu surat kuasa.
“Kalau begitu tanda tangan ini?”
Ayah mertua menatap kertas tersebut.
“Dua bulan lalu Rina datang membawa banyak dokumen. Katanya untuk mengurus pajak toko dan balik nama. Ayah tanda tangan.”
“Tanpa membaca?”
“Ayah percaya sama adikmu.”
Kalimat itu membuat suamiku terdiam.
Percaya.
Satu kata sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi alasan ayahnya memberikan segalanya kepada putri bungsunya.
Namun rupanya kepercayaan itulah yang sedang menghancurkan dirinya.
Menurut cerita ayah mertua, sekitar enam bulan sebelumnya Rina dan suaminya membuka bisnis distribusi bahan makanan.
Mereka mengaku mendapatkan kontrak besar dengan beberapa restoran dan membutuhkan modal.
Awalnya ayah mertua memberikan seratus juta.
Kemudian dua ratus juta.
Lalu lima ratus juta.
Setiap kali ditanya, Rina selalu mengatakan bisnisnya berkembang.
Sampai akhirnya dua minggu sebelum pembagian harta, Rina datang dengan membawa dokumen.
Dia mengatakan bank hanya membutuhkan bukti kepemilikan aset untuk memperbesar modal usaha.
“Ayah pikir cuma administrasi.”
Suamiku mengusap wajahnya.
“Lalu kenapa Ayah tetap memberikan semua harta kepada dia setelah tahu ada pinjaman?”
Ayah mertua diam cukup lama.
“Karena saat itu Ayah belum tahu.”
Ternyata kebenaran baru terbongkar tiga hari setelah pembagian harta.
Seorang pegawai lembaga pembiayaan datang ke toko dan menanyakan tunggakan cicilan.
Ayah mertua kebingungan.
Setelah memeriksa dokumen, barulah dia mengetahui bahwa rumah tiga lantai dan toko telah digunakan sebagai jaminan.
Lebih buruk lagi, sebagian pinjaman berasal dari perusahaan pembiayaan swasta dengan bunga tinggi.
“Ayah langsung mendatangi rumah Rina.”
“Apa katanya?”
“Dia menangis.”
Aku hampir bisa menebak kelanjutannya.
“Dia bilang bisnisnya sedang bermasalah?”
Ayah mertua mengangguk.
“Katanya cuma sementara. Kalau Ayah memberi waktu tiga bulan, semuanya bisa dibayar.”
“Dan Ayah percaya lagi?”
Kali ini aku tidak mampu menyembunyikan rasa tidak percaya.
Ayah mertua menatapku dengan mata merah.
“Dia anak Ayah.”
Aku terdiam.
Mungkin itulah masalahnya.
Kadang seseorang tidak dibutakan oleh kebohongan.
Dia dibutakan oleh orang yang sangat ingin dia percayai.
Namun ada sesuatu yang masih tidak masuk akal.
“Kalau Rina sudah punya semua aset itu, kenapa surat utangnya ada pada Ayah?”
Ayah mertua langsung menegang.
Suamiku juga menyadarinya.
“Ayah?”
Beberapa detik kemudian, dia menjawab.
“Karena tiga hari lalu Ayah menemukan sesuatu.”
Dia meminta suamiku membuka kardus yang tadi berada di bawah kakinya.
Di dalamnya hanya ada pakaian, obat-obatan, dan sebuah map plastik hitam.
Aku menyerahkan map itu kepadanya.
Tangannya gemetar saat membukanya.
Dari dalamnya keluar beberapa lembar cetakan mutasi rekening.
Suamiku membaca halaman pertama.
Wajahnya langsung berubah.
Uang hasil pinjaman ternyata tidak seluruhnya masuk ke bisnis.
Ratusan juta rupiah ditransfer ke rekening pribadi suami Rina.
Kemudian uang itu berpindah lagi.
Ada transfer ke sebuah perusahaan properti.
Ada pembayaran mobil.
Ada transaksi kartu kredit.
Bahkan ada pembayaran uang muka apartemen.
Aku melihat tanggalnya.
Sebagian dilakukan ketika Rina datang ke rumah kami sambil menangis karena katanya bisnis mereka hampir bangkrut.
“Apartemen siapa?”
Suamiku bertanya.
Ayah mertua menggeleng.
“Ayah tidak tahu.”
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Aku melihat melalui jendela.
Sebuah SUV putih berhenti di bawah hujan.
Rina turun.
Di belakangnya ada suaminya, Dimas.
Rina langsung masuk tanpa mengetuk.
“Ayah!”
Begitu melihat dokumen di meja, wajahnya berubah.
“Ayah ngapain kasih mereka lihat?”
Suamiku berdiri.
“Duduk.”
“Aku mau bawa Ayah pulang.”
“Ke mana?”
“Ke rumahku.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Setengah jam sebelumnya dia mengatakan ibu mertuanya tidak mengizinkan orang sakit tinggal di rumah.
Sekarang tiba-tiba dia datang menjemput.
Dimas maju.
“Mas, ini masalah keluarga. Jangan dibesar-besarkan.”
Suamiku menatapnya.
“Justru karena keluarga, aku bertanya baik-baik. Dua miliar itu ke mana?”
Dimas tidak menjawab.
Rina langsung menyela.
“Bisnis memang ada risiko!”
“Apartemen juga risiko bisnis?”
Wajah Rina langsung pucat.
Suamiku melemparkan salinan transaksi ke meja.
“Mobil baru kalian juga risiko bisnis?”
“Mas tidak mengerti!”
“Kalau begitu jelaskan.”
Rina mulai menangis.
Tangis yang sama seperti saat menerima rumah.
Tangis yang dulu membuat semua orang kasihan kepadanya.
“Aku melakukan semuanya karena terpaksa.”
“Terpaksa apa?”
“Dimas punya utang.”
Dimas langsung menoleh.
“Rina!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Ternyata sebelum bisnis itu dibuka, Dimas telah kehilangan hampir satu miliar rupiah dalam investasi daring berisiko tinggi.
Untuk menutup kerugian tersebut, mereka meminjam uang.
Ketika utang pertama jatuh tempo, mereka mengambil pinjaman kedua.
Kemudian ketiga.
Sampai akhirnya menggunakan aset ayah mertua sebagai jaminan.
Aku menatap Dimas.
“Jadi bisnis distribusi itu?”
Rina menangis semakin keras.
“Memang ada. Tapi tidak sebesar yang kami bilang.”
Suamiku menutup mata.
“Ayah tahu soal utang Dimas?”
“Tidak.”
Ayah mertua menjawab lirih.
“Ayah baru tahu tiga hari lalu.”
“Makanya Ayah kena stroke?”
Rina langsung terdiam.
Aku menatapnya.
Ayah mertua mengangguk perlahan.
Ternyata stroke itu terjadi malam ketika dia menemukan mutasi rekening.
Ia mendatangi rumah Rina dan menuntut penjelasan.
Pertengkaran terjadi.
Tekanan darahnya melonjak.
Beberapa menit kemudian tubuhnya jatuh di ruang tamu.
Namun Rina tidak pernah menceritakan penyebab sebenarnya kepada kami.
Dia hanya menelepon dan mengatakan ayahnya tiba-tiba pingsan.
“Kenapa kalian tidak bilang?”
Suamiku bertanya.
Rina menunduk.
“Ayah yang melarang.”
Kami semua menatap ayah mertua.
“Ayah masih melindungi dia?”
Suamiku terdengar tidak percaya.
Ayah mertua menangis lagi.
“Ayah takut rumah tangganya hancur.”
Kalimat berikutnya keluar dari mulutku sebelum sempat kutahan.
“Jadi rumah tangga kami boleh hancur?”
Ayah mertua menatapku.
Aku berdiri.
“Kalau saya menerima Ayah tanpa bertanya apa pun, siapa yang akan merawat Ayah?”
Dia tidak menjawab.
“Saya.”
“Siapa yang akan membayar obat kalau semua uang sudah habis?”
Dia masih diam.
“Kami.”
Aku menunjuk suamiku.
“Dan Mas mungkin akan menjual bengkel untuk menutup utang Ayah. Karena dia anak yang tidak bisa melihat orang tuanya kesulitan.”
Suamiku menatapku.
Aku tahu aku benar.
Ayah mertua juga tahu.
Untuk pertama kalinya, ia menundukkan kepala di hadapanku.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Namun setelah delapan tahun, itu adalah pertama kalinya aku mendengarnya.
Rina mendekati kursi roda.
“Ayah, ayo pulang.”
Ayah mertua menarik tangannya.
“Tidak.”
Rina membeku.
“Ayah?”
“Mulai besok, kita pergi ke notaris dan pengacara.”
“Ayah mau apa?”
“Batalkan semua yang masih bisa dibatalkan.”
Wajah Rina langsung berubah.
“Ayah sudah kasih semuanya ke aku!”
“Ayah memang memberikannya.”
Suaranya masih pelo, tetapi kali ini tegas.
“Bukan untuk kamu habiskan menutup kebohongan suamimu.”
Dimas maju dengan marah.
“Pak, jangan asal menuduh!”
Ayah mertua mengambil satu dokumen dari meja.
“Ayah juga sudah bicara dengan pengacara dari rumah sakit.”
Kami semua terdiam.
Ternyata selama tiga hari dirawat setelah kondisinya stabil, ayah mertua diam-diam meminta bantuan seorang teman lamanya yang bekerja sebagai pengacara.
Dokumen dalam tas itu bukan sekadar bukti utang.
Sebagian merupakan hasil pemeriksaan awal terhadap transaksi dan dokumen pengalihan aset.
Ada dugaan tanda tangan pada salah satu surat kuasa digunakan untuk tujuan yang berbeda dari penjelasan yang diberikan kepadanya.
Rina terduduk.
“Ayah mau laporkan aku?”
Ayah mertua menatap putrinya lama sekali.
“Ayah mau kamu bertanggung jawab.”
“Aku anak Ayah!”
“Justru karena kamu anak Ayah.”
Tangis Rina pecah.
Namun kali ini tidak ada seorang pun yang bergerak memeluknya.
Dimas menarik lengannya.
“Ayo pulang.”
Mereka pergi di tengah hujan tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Malam semakin larut.
Setelah anak kami tidur, aku menyiapkan kamar kecil di belakang untuk ayah mertua.
Aku meletakkan obatnya di meja.
Ketika hendak keluar, dia memanggilku.
“Lia.”
Aku berhenti.
Selama delapan tahun dia hampir tidak pernah memanggil namaku.
Biasanya hanya “kamu” atau “menantu”.
“Ada apa, Yah?”
Dia menunjuk kardus di samping tempat tidur.
“Di bagian bawah ada amplop. Ambil.”
Aku menemukannya di bawah tumpukan pakaian.
Namaku tertulis di sana.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada sebuah buku tabungan.
Saldo di dalamnya membuatku terdiam.
Tiga ratus dua puluh juta rupiah.
“Apa ini?”
“Itu uang yang tidak pernah Ayah beri tahu kepada Rina.”
Aku langsung mengembalikannya.
“Saya tidak mau.”
“Bukan buat kamu.”
Aku mengerutkan kening.
“Buat cucu Ayah.”
“Kenapa diberikan kepada saya?”
Dia memandang ke arah pintu, memastikan suamiku tidak berada di sana.
“Karena sekarang Ayah tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Aku tidak menjawab.
Entah mengapa, kalimat itu tidak membuatku senang.
Justru terasa menyedihkan.
Beberapa minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan bagi keluarga kami.
Pengacara memeriksa seluruh dokumen.
Beberapa aset ternyata sudah sulit diselamatkan karena terikat perjanjian pembiayaan. Namun ada satu rumah yang proses pengalihannya belum selesai dan akhirnya berhasil dihentikan.
Toko juga masih dapat dipertahankan setelah dilakukan restrukturisasi kewajiban.
Rina dan Dimas menjual mobil mereka.
Apartemen yang baru dibayar uang muka dibatalkan.
Hubungan keluarga kami tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
Namun sesuatu yang tidak kuduga justru terjadi pada ayah mertua.
Setelah tiga bulan terapi, dia mulai bisa berjalan beberapa langkah menggunakan tongkat.
Suatu pagi aku sedang menyiapkan sarapan ketika dia berdiri di pintu dapur.
“Lia.”
Aku menoleh.
Dia memegang sebuah map.
Jantungku langsung berdebar.
“Sekarang apa lagi?”
Dia tersenyum kecil.
“Tidak ada utang.”
Kemudian dia menyerahkan map itu kepadaku.
Di dalamnya ada surat wasiat baru.
Aku baru membaca beberapa baris ketika langsung menutupnya.
“Ayah, jangan.”
Dia tampak bingung.
“Kenapa?”
“Jangan kasih saya rumah. Jangan kasih saya toko.”
“Tapi Ayah mau memperbaiki kesalahan.”
Aku menggeleng.
“Kalau Ayah benar-benar mau memperbaikinya, jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Dia diam.
“Dulu Ayah pikir kasih sayang harus dibuktikan dengan memberikan harta kepada satu anak. Sekarang karena kecewa, Ayah mau memberikan semuanya kepada anak yang lain.”
Aku meletakkan map itu kembali di tangannya.
“Itu bukan keadilan.”
Suamiku yang ternyata berdiri di belakang kami mendengar semuanya.
Aku melanjutkan,
“Gunakan harta Ayah untuk hidup Ayah sendiri. Bayar terapi. Bayar perawat kalau diperlukan. Nikmati masa tua. Kalau suatu hari masih ada yang tersisa, bagi dengan cara yang menurut Ayah adil. Tapi jangan gunakan warisan untuk membeli kasih sayang anak.”
Ayah mertua tidak berkata apa-apa.
Matanya perlahan memerah.
Enam bulan kemudian, sesuatu yang jauh lebih mengejutkan terjadi.
Toko bahan bangunan itu dijual.
Bukan kepada Rina.
Bukan kepada suamiku.
Uangnya digunakan untuk melunasi kewajiban yang sah, membiayai kebutuhan hidup ayah mertua, dan sisanya ditempatkan dalam tabungan atas namanya sendiri.
Sementara rumah yang berhasil diselamatkan tidak diberikan kepada siapa pun.
Ayah mertua memilih tinggal di sana setelah kondisinya pulih, ditemani seorang perawat harian yang dibayar dari uangnya sendiri.
Rina beberapa kali datang meminta maaf.
Aku tidak tahu apakah permintaan maaf itu sepenuhnya tulus.
Namun ayah mertua tidak lagi langsung memberikan apa pun setiap kali putrinya menangis.
Suatu sore, saat kami berkunjung, aku melihat sebuah benda tergantung di dinding ruang tamunya.
Bukan foto keluarga.
Bukan sertifikat rumah.
Melainkan tas kain cokelat tua yang dulu jatuh dari kursi rodanya di depan rumahku.
Aku tertawa.
“Kenapa tas jelek itu malah dipajang?”
Ayah mertua ikut tersenyum.
“Supaya Ayah ingat.”
“Ingat apa?”
Dia menatap tas itu lama.
“Bahwa hari ketika Ayah merasa dibuang ternyata justru hari ketika Ayah diselamatkan.”
Aku terdiam.
Dia lalu menoleh kepadaku.
“Dan Ayah baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Anak yang paling sering kita beri belum tentu anak yang paling menyayangi kita. Dan orang yang paling sering kita abaikan belum tentu orang yang akan meninggalkan kita.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat suamiku membantu ayahnya berdiri dan berjalan perlahan menuju teras.
Dulu aku mengira malam ketika tas itu jatuh adalah malam ketika rahasia keluarga kami terbongkar.
Ternyata aku salah.
Yang terbongkar bukan hanya utang.
Melainkan cara kami memahami keluarga.
Karena pada akhirnya, harta bisa dipindahkan dengan satu tanda tangan, rumah bisa dijual, dan uang bisa habis dalam hitungan bulan.
Tetapi ketika tubuh tidak lagi kuat dan semua yang kita miliki perlahan terlepas dari tangan, barulah terlihat jelas siapa yang datang karena menginginkan sesuatu dari kita dan siapa yang tetap tinggal meski tidak mendapatkan apa-apa.
