“Joy… tolong aku… Joy…”
Suara itu begitu lemah, tetapi aku mengenalinya.
Aku mengenal suara laki-laki yang telah menemaniku selama sebelas tahun. Suara yang dulu berbisik di telingaku saat kami menikah. Suara yang setiap malam masih menelepon Penny dari Kanada.
Suara Marco.
Aku berdiri membeku di lorong sambil memeluk Penny.
“Marco?”

Dari balik dinding terdengar benturan pelan.
“Joy… jangan panggil Roger.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Paman Roger?
Belum sempat aku bertanya, lampu lorong mendadak menyala.
Aku menoleh.
Paman Roger berdiri di ujung tangga.
Ia mengenakan kaus putih dan celana panjang, seolah baru bangun tidur. Namun ada sesuatu yang aneh.
Dia tidak terlihat mengantuk.
Matanya justru sangat waspada.
“Kalian sedang apa?”
Aku refleks berdiri di depan Penny.
“Penny dengar suara.”
Roger menatap tembok di belakangku.
Hanya sesaat.
Tetapi aku melihat wajahnya berubah.
“Suara apa?”
“Seperti orang.”
Roger tertawa kecil.
“Rumah tua memang begitu. Pipa air, tikus, kayu memuai. Jangan membuat anakmu semakin takut.”
Ia berjalan mendekat.
Saat itu Penny mencengkeram bajuku.
“Monster,” bisiknya.
Roger berhenti.
“Apa?”
Aku buru-buru menggendong Penny.
“Dia mengigau.”
Roger menatap putriku lama sekali sebelum tersenyum.
“Bawa dia tidur.”
Aku mengangguk dan berjalan kembali ke kamar.
Namun aku tidak tidur.
Aku mengunci pintu, lalu duduk sambil memeluk Penny sampai napasnya kembali teratur.
Pukul empat pagi, aku membuka pesan Marco.
Akun itu masih aktif.
Aku mengetik satu kalimat.
“Kamu benar-benar di Toronto?”
Balasan datang kurang dari semenit.
“Tentu. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
Tanganku dingin.
Aku mengetik lagi.
“Kirim foto sekarang. Wajahmu. Pegang tiga jari.”
Tidak ada jawaban.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu pesan masuk.
“Joy, jangan kekanak-kanakan. Aku sedang bekerja.”
Aku mematikan layar.
Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa selama hampir tiga tahun, semua yang membuktikan Marco berada di Kanada hanyalah foto dan kata-kata.
Aku bahkan tidak pernah melihat tiket keberangkatannya.
Roger yang mengurus semuanya.
Katanya perusahaan Kanada merekrut Marco secara mendadak. Roger mengenal seseorang di Jakarta yang bisa membantu visa kerja. Marco berangkat ketika aku sedang berada di Surabaya karena ibuku sakit.
Aku hanya sempat menerima telepon sebelum keberangkatannya.
Setelah itu, semuanya berubah.
Pagi harinya aku berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.
Roger sarapan di meja makan sambil membaca berita di tablet.
“Tidurmu nyenyak?”
“Lumayan.”
“Penny?”
“Masih tidur.”
Aku menuangkan kopi sambil berusaha menahan tanganku agar tidak gemetar.
“Paman, aku mau memanggil tukang. Sepertinya ada tikus di belakang tembok gudang.”
Sendok di tangannya berhenti.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Aku yang akan urus.”
“Baunya juga agak aneh.”
Roger menatapku.
Tatapan ramah yang selama bertahun-tahun membuatku merasa aman kini terasa berbeda.
“Joy, rumah ini milikku. Jangan membongkar apa pun tanpa izinku.”
Aku tersenyum.
“Tentu.”
Sore itu, setelah Roger pergi, aku membawa Penny ke rumah tetangga dan mengatakan bahwa aku harus ke apotek.
Lalu aku kembali sendirian.
Aku masuk ke gudang.
Dinding itu tampak biasa. Tetapi setelah kuperiksa, aku menemukan garis tipis berbentuk persegi panjang di balik sebuah lemari tua.
Aku mendorong lemari itu.
Di belakangnya ada sesuatu yang selama ini tidak pernah kulihat.
Sebuah lubang kunci kecil.
Tanganku mulai gemetar.
Aku mengambil obeng dan palu dari gudang.
Butuh hampir dua puluh menit sampai papan kayu di sekitar kunci retak.
Kemudian terdengar klik.
Sebagian dinding terbuka.
Bukan dinding.
Pintu.
Bau lembap dan obat-obatan langsung menerpa wajahku.
Di baliknya terdapat lorong sempit menuju sebuah ruangan tanpa jendela.
Aku menyalakan senter ponsel.
Dan dunia yang kukenal runtuh.
Seorang laki-laki duduk di atas kasur tipis.
Tubuhnya sangat kurus.
Rambutnya panjang tidak terawat. Janggut memenuhi wajahnya. Salah satu kakinya terikat rantai ke cincin besi di lantai.
Ia mengangkat kepala.
“Joy?”
Aku menjatuhkan ponsel.
“Marco…”
Aku berlari memeluknya.
Tubuhnya begitu ringan hingga aku hampir tidak percaya ini adalah suamiku.
Aku menangis.
“Ya Tuhan… apa yang mereka lakukan padamu?”
Marco memelukku sekuat tenaga yang tersisa.
“Aku pikir aku nggak akan pernah melihatmu lagi.”
Aku mencoba membuka rantainya, tetapi gemboknya terlalu kuat.
“Siapa yang melakukan ini?”
Marco menatapku.
“Roger.”
Nama itu membuat darahku terasa membeku.
Marco mulai bercerita.
Tiga tahun lalu, dia memang mendapat tawaran pekerjaan di Toronto. Tetapi tawaran itu palsu.
Roger yang membuat semuanya.
Marco menemukan bahwa perusahaan milik Roger sedang terlilit utang besar. Selama bertahun-tahun, Roger diam-diam menggunakan identitas Marco untuk mendirikan perusahaan cangkang dan memindahkan uang.
Ketika Marco mengetahuinya, dia berniat melapor.
Malam sebelum keberangkatan, Roger mengajaknya minum.
Marco kehilangan kesadaran.
Ketika bangun, ia sudah berada di ruangan itu.
“Lalu uang seratus juta setiap bulan?”
Marco tersenyum pahit.
“Itu bukan gajiku.”
“Lalu uang siapa?”
“Uangmu sendiri.”
Aku menatapnya tak mengerti.
Marco menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelum meninggal, ayahku membeli sebidang tanah di pinggiran Jakarta menggunakan namaku. Kawasan itu kemudian berkembang pesat dan dibeli pengembang.
Nilainya mencapai miliaran rupiah.
Roger, yang mengurus dokumen keluarga setelah kematian ayahku, menyembunyikan transaksi tersebut.
Setiap bulan ia hanya mengirim sebagian kecil uang itu kepadaku sambil berpura-pura sebagai Marco.
“Foto Toronto?”
“Internet.”
“Telepon?”
Marco menunduk.
“Suara buatan.”
Aku teringat panggilan-panggilan pendek itu.
Suara Marco memang terdengar sedikit aneh selama beberapa tahun terakhir.
Aku selalu menyalahkan koneksi.
“Kenapa Penny bisa mendengarmu?”
Marco menunjuk sebuah ventilasi kecil dekat lantai.
“Beberapa bulan lalu penutupnya longgar. Suaraku bisa sampai lorong. Aku sering dengar langkah Penny malam-malam.”
Air matanya jatuh.
“Aku cuma ingin mendengar suara anakku.”
Aku memegang wajahnya.
“Kita keluar sekarang.”
“Tidak.”
Aku terdiam.
Marco mencengkeram tanganku.
“Kalau Roger tahu kamu menemukan aku, dia nggak akan membiarkan kita pergi.”
Aku segera menelepon polisi.
Tidak ada sinyal.
Marco menunjuk langit-langit.
“Ruangan ini dilapisi penghambat sinyal.”
Aku bangkit.
“Aku akan keluar dan menelepon dari jalan.”
Baru dua langkah, terdengar suara dari lorong.
Tepuk tangan.
Pelan.
Aku menoleh.
Roger berdiri di ambang pintu.
“Seharusnya kamu mendengarkan aku, Joy.”
Tangannya memegang kunci.
“Paman…”
“Jangan membuat ini sulit.”
“Paman mengurung suamiku tiga tahun!”
Roger menghela napas.
“Aku memberimu rumah. Uang. Sekolah terbaik untuk anakmu. Kamu hidup jauh lebih nyaman daripada sebelumnya.”
“Itu uangku!”
Wajah Roger berubah.
“Uang itu seharusnya menjadi milik keluarga.”
Marco mencoba berdiri.
“Jangan sentuh mereka.”
Roger tertawa.
“Kamu masih mau jadi pahlawan?”
Kemudian aku melihat tangan Roger bergerak ke sakunya.
Aku mundur.
Namun tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
“Jangan bergerak!”
Dua polisi muncul di lorong.
Roger membeku.
Aku pun sama.
Seorang polisi segera memborgolnya.
Aku menatap mereka kebingungan.
“Bagaimana…?”
Lalu seorang perempuan muncul.
Tetanggaku, Bu Rina.
Dan di sampingnya berdiri Penny.
Putriku memeluk boneka beruangnya.
Aku berlari memeluknya.
Bu Rina menjelaskan bahwa Penny tiba-tiba berkata kepadanya, “Mama pergi mencari Papa di rumah monster.”
Karena aku tidak kembali cukup lama, Bu Rina mencoba meneleponku. Tidak ada jawaban.
Ia kemudian membawa Penny ke rumah.
Pintu belakang terbuka.
Mereka mendengar pertengkaran.
Bu Rina langsung menelepon polisi.
Roger dibawa pergi malam itu.
Marco dibawa ke rumah sakit.
Pemeriksaan kemudian membuka semuanya.
Dokumen palsu.
Perusahaan fiktif.
Rekening atas nama orang lain.
Transaksi tanah.
Bahkan foto-foto Toronto yang selama ini dikirim kepadaku ternyata diambil dari internet dan beberapa akun media sosial.
Namun ada satu hal yang membuat polisi kebingungan.
Akun Marco.
Setelah Roger ditahan, polisi memeriksa seluruh perangkat miliknya.
Tidak satu pun sedang terhubung ke akun tersebut ketika pesan terakhir dikirim kepadaku.
Mereka kemudian menemukan komputer tersembunyi dengan program yang telah dijadwalkan untuk mengirim pesan otomatis.
Hampir semuanya bisa dijelaskan.
Kecuali satu pesan.
Pesan yang masuk tepat saat aku berdiri di depan tembok malam itu.
“Apa kalian sudah tidur? Aku benar-benar merindukan kalian.”
Pesan tersebut dikirim secara manual.
Tetapi penyidik tidak pernah menemukan perangkat yang mengirimkannya.
Enam bulan kemudian, Marco akhirnya pulang dari rumah sakit.
Tubuhnya perlahan pulih.
Kami pindah dari rumah Roger.
Uang hasil penjualan tanah berhasil dikembalikan setelah proses hukum yang panjang. Namun setelah semua yang terjadi, uang tidak lagi terasa seperti hal paling penting.
Suatu malam aku menemukan Marco duduk di lantai kamar Penny.
Putri kami tertidur dalam pelukannya.
Marco menangis tanpa suara.
Aku duduk di sampingnya.
“Kenapa?”
Dia mencium rambut Penny.
“Tiga tahun aku cuma bisa mendengar langkah kakinya dari balik tembok. Aku bahkan nggak tahu wajahnya sudah berubah seperti apa.”
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang kamu ada di sini.”
Marco mengangguk.
Penny tiba-tiba membuka mata.
“Papa?”
“Iya, Sayang?”
“Sekarang Papa nggak tinggal di balik tembok lagi, kan?”
Marco tersenyum sambil menangis.
“Nggak pernah lagi.”
Penny memeluknya.
Aku hampir ikut tersenyum ketika dia berkata sesuatu yang membuatku terdiam.
“Tapi waktu itu Papa punya teman.”
Marco menatapnya.
“Teman?”
Penny mengangguk mengantuk.
“Om yang suka bicara sama Papa.”
Wajah Marco langsung pucat.
Aku merasakan tengkukku dingin.
“Siapa, Penny?”
Penny menunjuk ke arah dinding kamar.
“Om yang bilang ke Penny supaya kasih tahu Mama kalau Papa ada di sana.”
Aku menatap Marco.
“Memangnya ada orang lain yang dikurung bersama kamu?”
Marco menggeleng perlahan.
“Tidak pernah.”
“Lalu Penny dengar siapa?”
Marco tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, polisi membongkar seluruh ruangan rahasia di rumah Roger.
Di balik lapisan dinding yang bersebelahan dengan tempat Marco dikurung, mereka menemukan ruang sempit lain yang sudah ditutup bertahun-tahun.
Di dalamnya terdapat sebuah meja rusak, beberapa dokumen lama, dan foto keluarga yang hampir hancur karena lembap.
Salah satu foto memperlihatkan ayahku ketika masih muda.
Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya.
Aku tidak pernah mengenal laki-laki itu.
Ketika kutunjukkan kepada ibuku, tangannya langsung gemetar.
“Itu adik ayahmu,” katanya.
“Namanya Daniel.”
Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Ibu kemudian mengatakan Daniel menghilang lebih dari dua puluh tahun lalu setelah bertengkar hebat dengan Roger mengenai kepemilikan tanah keluarga.
Tak seorang pun pernah mengetahui ke mana dia pergi.
Polisi membuka kembali kasus orang hilang tersebut.
Aku tidak pernah memberi tahu Penny tentang Daniel.
Aku juga tidak pernah menunjukkan fotonya.
Namun ketika Penny melihat foto itu secara tidak sengaja di meja ruang tamu, ia berhenti.
Jari kecilnya menunjuk tepat ke wajah Daniel.
“Mama.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Penny tersenyum.
“Itu Om yang tinggal di sebelah Papa.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Om itu bilang apa sama Penny?”
Putriku berpikir sebentar.
Lalu menjawab dengan polos.
“Katanya Mama harus menemukan Papa.”
Dia memeluk bonekanya dan berjalan menuju kamar.
Sebelum masuk, Penny menoleh sekali lagi.
“Oh iya, Mama.”
“Apa?”
“Om Daniel bilang sekarang dia sudah bisa pulang.”
Malam itu aku duduk lama di samping Marco.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada tembok di antara kami.
Tidak ada suara palsu dari Kanada.
Tidak ada pesan misterius.
Tidak ada rahasia yang harus disembunyikan.
Aku tidak pernah tahu siapa yang benar-benar membimbing Penny menuju dinding malam itu.
Mungkin anak kecil hanya mendengar sesuatu yang tidak mampu didengar orang dewasa.
Mungkin Daniel memang tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah tersebut.
Atau mungkin setelah puluhan tahun terkubur bersama sebuah rahasia, seseorang hanya menunggu satu anak kecil yang cukup polos untuk mendengarkan.
Yang kutahu hanya satu.
Selama tiga tahun aku menunggu suamiku pulang dari Kanada.
Padahal setiap malam, ia hanya berjarak beberapa langkah dariku.
Dan ternyata tembok paling mengerikan bukanlah tembok yang dibangun dari semen dan kayu.
Melainkan kebohongan yang membuat kita berhenti mempertanyakan sesuatu hanya karena kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai.
