IBU KANDUNGKU MENGUSIRKU TANPA AMPUN DALAM WAKTU 24 JAM DEMI ADIK KESAYANGAN PADAHAL SELAMA TIGA TAHUN AKU YANG MEMBAYAR CICILAN SERTA PAJAK RUMAH INI, TAPI DIA TIDAK TAHU BAPAK SUDAH MEMBALIK NAMA SERTIFIKAT RUMAH MEWAH ITU ATAS NAMAKU!

Pukul delapan tepat, suara sirene berhenti tepat di depan rumah.

Aku baru saja membuka pintu mobil ketika tiga kendaraan berhenti beriringan. Beberapa orang turun dengan langkah tergesa-gesa. Dua di antaranya mengenakan seragam kepolisian, sementara seorang pria berjas hitam membawa map tebal dan memperkenalkan dirinya sebagai kuasa hukum yang datang mewakili pemilik sah rumah tersebut.

Ibu Ratna yang sejak tadi berdiri di teras langsung mengerutkan kening.

“Ada apa ini? Siapa yang menyuruh kalian datang?”

Pria itu mengangkat sebuah dokumen.

“Apakah benar alamat ini milik Ibu Ratna dan keluarga?”

“Ya. Kenapa?”

“Saya perlu berbicara dengan pemilik sah bangunan dan tanah ini.”

Ibu Ratna langsung menunjuk ke arahku.

“Itu anak saya, Maya. Dia sudah saya usir dari rumah ini karena tidak punya hak apa pun atas rumah ini.”

Aku tidak menjawab.

Pria itu justru berjalan melewatiku, lalu berdiri menghadap Ibu Ratna.

“Kalau begitu, saya rasa Ibu perlu melihat dokumen ini.”

Dia membuka map hitamnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang sudah dilegalisasi.

“Berdasarkan Sertifikat Hak Milik nomor yang tercantum di sini, rumah dan tanah seluas empat ratus dua puluh meter persegi ini telah terdaftar atas nama Maya Salsabila.”

Wajah Ibu Ratna seketika pucat.

Indah yang tadi berdiri dengan wajah penuh kemenangan mendadak membeku.

“Apa?”

“Tidak mungkin!” teriak Ibu Ratna.

Pria itu menyerahkan salinan sertifikat kepada Ibu.

“Peralihan hak tersebut dilakukan secara sah oleh Bapak Hendra sebelum beliau meninggal dunia. Akta notaris, dokumen peralihan, dan bukti pendaftaran di kantor pertanahan semuanya lengkap.”

Tanganku mengepal.

Meski aku sudah mengetahui semuanya sejak sebulan lalu, mendengar kebenaran itu dibacakan di hadapan keluargaku sendiri tetap membuat dadaku sesak.

Ibu menatapku.

“Maya… apa maksudnya ini?”

Aku menarik napas panjang.

“Bapak sudah menyiapkan semuanya sebelum meninggal.”

“Bohong!”

Ibu merobek salinan dokumen itu.

Namun pria tersebut hanya mengeluarkan salinan lain.

“Silakan Ibu merobek sebanyak apa pun. Dokumen aslinya tersimpan dan tercatat secara resmi.”

Indah maju dengan wajah panik.

“Tapi rumah ini dibeli orang tua kami!”

“Benar,” jawab pria itu tenang. “Dan karena itu pula, Bapak Hendra sebagai pemilik sah pada saat pengalihan memiliki hak untuk memberikan rumah tersebut kepada siapa pun melalui proses hukum yang berlaku.”

Rizky yang sejak tadi diam mendadak meletakkan kardus di tangannya.

“Jadi… kami harus keluar?”

Pria itu menatapnya.

“Bukan hanya harus keluar. Berdasarkan laporan yang sudah dibuat, Ibu Maya juga berhak meminta pengosongan rumah dari pihak yang menempati tanpa izin pemilik.”

Suasana mendadak sunyi.

Anak-anak Indah yang tadi berlarian di lantai dua mulai menangis karena melihat orang-orang asing memenuhi rumah.

Indah segera memeluk mereka.

“Jangan takut. Mama ada di sini.”

Aku menatap kedua keponakanku. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka hanya anak-anak yang tiba-tiba melihat rumah yang mereka kira akan menjadi tempat tinggal baru berubah menjadi tempat penuh ketegangan.

Aku menunduk.

“Pak, saya tidak ingin anak-anak mereka ikut ketakutan.”

Pria itu mengangguk.

“Kita bisa memberikan waktu yang wajar untuk mereka mengemasi barang.”

Ibu Ratna menatapku tajam.

“Jadi kamu benar-benar tega mengusir adikmu sendiri?”

Aku terdiam cukup lama.

Kalimat itu selalu berhasil membuatku merasa bersalah.

Sejak kecil, setiap kali Indah melakukan kesalahan, akulah yang diminta mengalah.

Ketika Indah ingin masuk sekolah favorit, aku menyerahkan tabunganku.

Ketika dia ingin membeli laptop untuk kuliah, aku mengambil pekerjaan tambahan.

Ketika dia menikah dan keluarga mereka terlilit utang, aku diam-diam membayar cicilan mereka.

Selama tiga tahun terakhir, bahkan pajak rumah dan biaya perawatan rumah ini pun kubayar tanpa pernah meminta mereka mengganti satu rupiah pun.

Namun sekarang, ketika aku kehilangan pekerjaan beberapa minggu karena harus menyelesaikan novel dan kontrak penulisan yang tertunda, mereka menganggapku sebagai beban.

Aku akhirnya berkata pelan,

“Saya tidak pernah mengusir kalian, Bu.”

Ibu langsung terdiam.

“Saya hanya ingin kalian tahu satu hal. Saya bukan orang asing di rumah ini.”

Air mataku jatuh.

“Saya anak Bapak. Saya anak Ibu. Dan selama tiga tahun, saya berusaha menjaga rumah ini karena saya pikir ini rumah kita semua.”

Indah memalingkan wajah.

Tetapi aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Aku kemudian mengambil jaket biru tua milik Bapak yang masih berada dalam pelukanku.

“Yang paling menyakitkan bukan ketika Ibu mengusir saya.”

Aku menatap Indah.

“Yang paling menyakitkan adalah ketika kamu membuang barang terakhir peninggalan Bapak seperti sampah.”

Indah menunduk.

“Aku tidak tahu itu jaket Bapak.”

“Bukankah kamu tumbuh bersamanya juga?”

Indah tidak mampu menjawab.

Saat itu, tiba-tiba salah seorang polisi menerima telepon. Dia berbicara cukup lama sebelum mendekati kami.

“Bu Maya, ada satu hal lagi yang perlu kami sampaikan.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Kami menerima laporan tambahan dari notaris yang menangani surat wasiat Bapak Hendra.”

Aku mengerutkan kening.

“Surat wasiat?”

Pria berjas itu mengangguk.

“Selain rumah ini, Bapak Hendra ternyata meninggalkan satu rekening deposito dan sejumlah investasi kepada Ibu Ratna dan Indah.”

Ibu langsung mengangkat wajah.

“Benarkah?”

“Ya. Namun ada satu syarat.”

“Apa?”

“Dana tersebut baru bisa dicairkan setelah Maya menerima rumah ini secara penuh dan tidak ada pihak keluarga yang mengganggu hak kepemilikannya.”

Aku menatap pria itu dengan bingung.

“Kenapa Bapak membuat syarat seperti itu?”

Dia membuka sebuah amplop putih.

“Karena Bapak Hendra sudah mengetahui bahwa setelah beliau meninggal, kemungkinan besar keluarga akan berselisih mengenai rumah ini.”

Suara rekaman tiba-tiba diputar melalui ponsel notaris.

Suara Bapak terdengar.

“Maya, kalau suatu hari kamu mendengar pesan ini, mungkin Bapak sudah tidak bisa lagi berdiri di sampingmu.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Suara itu begitu akrab.

Begitu nyata.

Aku memejamkan mata.

“Bapak tahu kamu selalu mengalah demi Ibu dan Indah. Tapi rumah ini bukan hadiah untuk membuatmu menang atas mereka. Rumah ini adalah amanah.”

Aku menggigit bibir agar tidak menangis keras.

“Jangan gunakan rumah ini untuk membalas dendam. Kalau mereka datang kepadamu dengan kesulitan, bantu jika kamu mampu. Tapi jangan pernah biarkan siapa pun merampas hakmu hanya karena mereka menyebut dirimu keluarga.”

Rekaman berhenti.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Bahkan Ibu Ratna menangis.

Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, wajah kerasnya runtuh.

Dia menatap jaket biru tua di tanganku.

“Bapakmu… sudah tahu semuanya?”

Aku mengangguk.

Ibu perlahan berjalan turun dari teras.

Setiap langkahnya terlihat berat.

Ketika sudah berada di depanku, dia memandang jaket itu.

“Dulu… setiap Minggu pagi, Bapakmu selalu memakainya.”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Iya, Bu.”

Ibu mengusap wajahnya.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang tentang sertifikat itu?”

Aku tersenyum getir.

“Karena saya menunggu Ibu menyadari sendiri bahwa saya tidak pernah berniat mengambil rumah ini dari keluarga.”

Ibu menunduk.

“Maafkan Ibu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Kata maaf itu memang ingin kudengar selama bertahun-tahun. Tetapi ketika akhirnya datang, luka yang terlalu lama disimpan tidak serta-merta hilang.

Indah tiba-tiba mendekat.

“Mbak Maya.”

Aku menatapnya.

“Maaf.”

Air matanya mengalir.

“Aku iri sama Mbak sejak dulu. Bapak selalu percaya sama Mbak. Ibu selalu membandingkan aku dengan Mbak. Aku pikir kalau rumah ini menjadi milikku, akhirnya aku akan merasa cukup.”

Aku terdiam.

“Ternyata aku salah.”

Rizky juga akhirnya menundukkan kepala.

“Maaf, Mbak. Saya terlalu ikut campur.”

Aku menarik napas.

“Kalian boleh tinggal sementara sampai menemukan tempat lain. Aku tidak akan membiarkan anak-anak tidur di jalan.”

Ibu mengangkat wajah.

“Maya… setelah semua yang Ibu lakukan?”

Aku mengangguk.

“Karena Bapak pernah mengajarkan saya bahwa menjadi pemilik rumah bukan berarti kehilangan hati.”

Beberapa minggu kemudian, rumah itu kembali tenang.

Ibu dan keluarga Indah pindah ke tempat baru. Deposito peninggalan Bapak akhirnya dicairkan sesuai wasiat dan cukup untuk membantu mereka memulai hidup kembali.

Aku tetap tinggal di rumah itu.

Namun aku mengubah satu ruangan besar di lantai bawah menjadi ruang baca dan tempat kerja bagi penulis muda yang tidak mampu menyewa kantor.

Di halaman belakang, aku menanam pohon kopi kecil.

Setiap Minggu pagi, aku duduk di teras sambil mengenakan jaket biru tua milik Bapak.

Suatu pagi, Ibu datang berkunjung.

Dia membawa sepiring nasi goreng.

Aku tertawa kecil.

“Seperti zaman dulu.”

Ibu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Bapakmu pasti senang melihatmu sekarang.”

Aku menatap halaman yang dipenuhi cahaya matahari.

“Bapak bukan memberikan rumah ini supaya saya bisa menang dari Ibu.”

Aku menggenggam cangkir kopi.

“Bapak memberikan rumah ini supaya saya belajar bahwa mempertahankan hak tidak harus dilakukan dengan membenci orang yang pernah menyakiti kita.”

Ibu menggenggam tanganku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada pertengkaran, tidak ada tuntutan, tidak ada perebutan.

Hanya ada dua orang yang duduk diam di teras rumah yang pernah hampir menghancurkan hubungan mereka.

Aku kemudian menyadari sesuatu.

Terkadang, warisan terbesar dari seorang ayah bukanlah rumah, tanah, atau uang.

Melainkan keberanian untuk tetap menjadi manusia ketika orang lain membuat kita punya seribu alasan untuk berubah menjadi kejam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang