BARU SEBULAN MENIKAH, IBU MERTUAKU MEMINTA KARTU ATM GAJIKU, LALU MENGGANTI KUNCI RUMAH—AKU PERGI, DAN TIGA HARI KEMUDIAN PENGADILAN MEMANGGIL SUAMIKU

Tiga hari setelah aku mengajukan gugatan cerai, Arga akhirnya menerima surat panggilan dari pengadilan.

Aku masih ingat suara Bu Mira ketika mengatakan bahwa dokumen itu sudah dikirim.

“Mulai sekarang, jangan lagi berkomunikasi soal uang dengan Arga tanpa bukti tertulis.”

Aku mengangguk.

Namun aku tidak pernah menyangka bahwa isi sebuah map yang bahkan bukan milikku akan membongkar alasan sebenarnya mengapa ibu mertuaku begitu mati-matian menginginkan kartu ATM gajiku.

Semua bermula hanya dari satu kalimat.

“Berikan kartu ATM gajimu kepada Mama.”

Saat itu aku mengira Bu Ratna hanya terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami.

Aku tidak menyangka bahwa permintaan itu adalah bagian terakhir dari rencana yang sudah disiapkan jauh sebelum aku menikah dengan Arga.

Ketika Bu Mira meletakkan map tebal di depanku, tanganku terasa dingin.

Nama Arga tercetak jelas di halaman pertama.

“Apa ini?” tanyaku.

“Baca pelan-pelan.”

Aku membuka halaman pertama.

Itu adalah salinan perjanjian pinjaman.

Nama Arga tercantum sebagai peminjam.

Jumlahnya membuatku tercekat.

Empat ratus delapan puluh juta rupiah.

Aku membuka halaman berikutnya.

Ada pinjaman lain.

Seratus dua puluh juta.

Lalu kartu kredit.

Lalu pinjaman pribadi.

Lalu satu dokumen yang membuatku benar-benar tidak bisa berkata-kata.

Sebuah perjanjian utang dengan perusahaan tempat Bu Ratna memiliki hubungan bisnis.

Total kewajiban Arga ternyata mendekati satu miliar rupiah.

Aku menatap Bu Mira.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena kemungkinan besar kamu memang sengaja tidak diberi tahu.”

“Tapi Arga bilang dia tidak punya utang.”

“Secara hukum, utang yang dibuat sebelum pernikahan tidak otomatis menjadi tanggung jawabmu. Tapi kalau penghasilanmu masuk ke rekening yang mereka kendalikan, situasinya bisa menjadi berbeda secara praktis.”

Aku menelan ludah.

Jadi selama ini bukan sekadar soal uang rumah tangga.

Mereka membutuhkan penghasilanku.

Bu Mira mengambil satu lembar lagi.

“Ini yang lebih menarik.”

Aku menerimanya.

Dokumen itu berasal dari sekitar dua bulan sebelum pernikahanku dengan Arga.

Di sana tertulis bahwa Arga mengalami keterlambatan pembayaran beberapa kewajiban.

Tanggalnya membuatku terdiam.

Saat itu aku bahkan belum tahu bahwa Arga sedang memiliki masalah keuangan.

Aku mengingat kembali semua kejadian sebelum pernikahan.

Arga selalu mengatakan bahwa dia sedang membangun usaha.

Dia beberapa kali meminjam uang dariku dengan alasan modal sementara.

Tidak pernah besar.

Lima juta.

Sepuluh juta.

Kadang dua puluh juta.

Semuanya selalu dikembalikan.

Setidaknya aku mengira begitu.

Ternyata uang yang dikembalikan kepadaku berasal dari pinjaman lain.

Aku menatap Bu Mira.

“Jadi dia gali lubang tutup lubang?”

Bu Mira tidak langsung menjawab.

“Dari dokumen yang ada, polanya mengarah ke sana.”

Aku bersandar di kursi.

Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.

Kenapa Bu Ratna begitu tertarik dengan gajiku.

Kenapa dia hanya mengizinkanku memegang satu juta rupiah.

Kenapa Arga tidak keberatan.

Kenapa mereka begitu panik ketika aku menolak.

Dan kenapa kunci rumah diganti tepat setelah pertengkaran mengenai ATM.

Aku mengusap wajah.

“Bu, apakah mungkin mereka memang sudah merencanakan ini sejak sebelum saya menikah?”

“Kita tidak bisa menyimpulkan niat seseorang hanya dari dokumen ini.”

“Tapi?”

“Tapi kita bisa melihat pola tindakannya.”

Aku diam.

Bu Mira kemudian berkata pelan.

“Dan pola itu perlu kamu waspadai.”

Sore itu aku kembali ke hotel.

Aku membuka semua percakapan lama dengan Arga.

Aku membaca satu per satu.

Semakin lama, semakin banyak hal yang terasa janggal.

Beberapa minggu sebelum pernikahan, Arga pernah bertanya berapa gaji bersihku.

Aku menjawab jujur.

Sekitar tujuh puluh juta.

Saat itu dia hanya tersenyum.

“Lumayan. Kita bisa cepat punya rumah sendiri.”

Aku mengira dia sedang membicarakan masa depan.

Sekarang aku tidak yakin.

Malam itu Arga mengirim pesan.

“Kita perlu bicara.”

Aku tidak menjawab.

Pesan kedua masuk.

“Aku tahu kamu sudah bertemu pengacara.”

Aku tetap diam.

Lalu sebuah foto dikirim.

Foto rumah kami.

Di bawahnya tertulis:

“Mama ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Aku langsung menelepon Bu Mira.

“Bu, mereka menghubungi saya.”

“Jangan bertemu sendirian.”

“Ada kemungkinan mereka tahu soal dokumen ini?”

“Bisa jadi.”

Aku mengangguk meskipun dia tidak bisa melihatnya.

Keesokan paginya, Arga datang ke kantor Bu Mira tanpa memberitahuku.

Aku baru mengetahuinya setelah Bu Mira menelepon.

“Dia meminta bertemu kamu.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia ingin menjelaskan semuanya.”

Aku hampir tertawa.

Setelah semua yang terjadi, baru sekarang dia ingin menjelaskan.

Aku memutuskan datang.

Bukan untuk kembali.

Aku hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya.

Ketika aku masuk ke ruang pertemuan, Arga sudah duduk di sana.

Wajahnya tampak lelah.

Dia berdiri.

“Naya.”

Aku duduk tanpa menjawab.

Beberapa detik kami hanya saling diam.

Akhirnya dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

“Semua itu terlalu luas.”

Dia menarik napas.

“Aku memang punya utang.”

“Aku tahu.”

Wajahnya berubah.

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari dokumen yang diberikan pengacaraku.”

Arga menunduk.

“Aku tidak ingin kamu tahu.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut kamu pergi.”

Aku tertawa kecil, tetapi rasanya pahit.

“Jadi kamu menikahiku supaya aku tidak pergi?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu tidak jujur?”

“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Dengan gajiku?”

Dia diam.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku menatapnya lama.

“Siapa yang punya ide menyerahkan ATM-ku kepada Mama?”

Arga tidak langsung menjawab.

“Arga.”

“Aku.”

Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam diriku.

“Bukan Mama?”

“Mama yang menyarankan cara mengaturnya.”

“Jadi kalian membicarakan gajiku sebelum aku menikah?”

Dia mengangguk pelan.

“Berapa lama?”

“Beberapa minggu.”

Aku menarik napas panjang.

“Dan kunci rumah?”

Arga memejamkan mata.

“Aku yang meminta Mama menggantinya.”

Aku membeku.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin kamu pulang dan meminta kunci kepada Mama.”

Aku tidak mengerti.

“Untuk apa?”

“Supaya kamu mau bicara dengannya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu sengaja membuatku tidak bisa masuk rumah?”

“Aku tidak menyangka kamu akan pergi.”

“Kamu pikir aku akan berdiri di depan rumah seperti orang asing sampai kamu selesai makan?”

“Aku salah.”

“Bukan, Arga. Kamu bukan hanya salah.”

Suaraku mulai bergetar.

“Kamu membuatku merasa bahwa aku tidak punya rumah di dalam pernikahanku sendiri.”

Dia tidak menjawab.

Bu Mira yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Pak Arga, ada satu hal lagi yang perlu Anda jelaskan.”

Arga menoleh.

“Apalagi?”

“Perusahaan tempat Anda berutang.”

Wajahnya langsung pucat.

“Apa maksudnya?”

“Dokumen ini menunjukkan bahwa sebagian utang Anda berkaitan dengan perusahaan milik keluarga Anda.”

Arga terdiam.

Bu Mira membuka satu dokumen.

“Dan ada klausul yang menyebutkan bahwa pembayaran dapat dilakukan melalui aset atau pendapatan pasangan setelah perkawinan, apabila pasangan memberikan persetujuan tertentu.”

Aku menatap Arga.

“Jadi itu alasan sebenarnya?”

Arga mengusap wajah.

“Tidak sesederhana itu.”

“Tapi benar?”

Dia diam.

Bu Mira mengambil dokumen lain.

“Belum selesai.”

Aku melihatnya membuka sebuah lampiran.

“Dokumen ini dibuat sebelum pernikahan. Ada pembahasan tentang proyeksi pendapatan rumah tangga setelah Arga menikah.”

Aku membaca nama yang tercantum.

Namaku.

Pendapatanku.

Perkiraan gajiku.

Bahkan ada catatan mengenai kemungkinan pengelolaan rekening setelah menikah.

Tanganku gemetar.

Aku menatap Arga.

“Kamu bahkan mencatat gajiku sebelum kita menikah?”

Dia menunduk.

“Aku minta maaf.”

Aku berdiri.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu dengannya, aku tidak merasa marah.

Aku hanya merasa kosong.

Aku teringat hari pernikahan kami.

Senyumnya.

Tangannya ketika menggenggam tanganku.

Janji yang dia ucapkan di depan keluarga.

Saat itu aku percaya bahwa aku sedang membangun rumah bersama seseorang.

Ternyata sejak awal, sebagian dari mereka mungkin sedang menghitung angka.

Aku berjalan keluar dari ruangan.

Arga mengejarku.

“Naya, tunggu.”

Aku berhenti.

Dia berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku menoleh.

“Aku percaya kamu mungkin pernah mencintaiku.”

Dia terdiam.

“Tapi cinta tanpa kejujuran membuat orang lain tidak aman.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Aku menatapnya untuk terakhir kalinya.

“Tapi aku tidak ingin mempertaruhkan hidupku untuk mengetahui apakah kamu benar-benar akan berubah.”

Aku pergi.

Beberapa minggu kemudian, proses hukum berjalan.

Untuk pertama kalinya setelah menikah, aku bisa tidur tanpa memikirkan siapa yang akan mengambil uang dari rekeningku.

Aku mulai kembali bekerja dengan tenang.

Aku menyewa apartemen kecil.

Tidak mewah.

Tidak besar.

Tetapi semua kuncinya ada di tanganku.

Tidak ada seorang pun yang bisa mengganti kunci tanpa sepengetahuanku.

Suatu sore, Bu Mira menelepon.

“Prosesnya hampir selesai.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih, Bu.”

Sebelum menutup telepon, dia berkata,

“Naya, ada satu hal yang mungkin ingin kamu tahu.”

“Apa?”

“Arga akhirnya menjual salah satu aset keluarganya untuk membayar sebagian utang.”

Aku terdiam.

“Bagaimana dengan Bu Ratna?”

“Katanya dia juga mulai menjual beberapa aset.”

Aku tidak merasa menang.

Aku juga tidak merasa kalah.

Aku hanya merasa lega karena semuanya akhirnya terbuka.

Beberapa hari kemudian, sebuah amplop tiba di apartemenku.

Tidak ada nama pengirim.

Aku membukanya.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Tulisan tangan Arga.

“Aku baru sadar bahwa rumah bukan tempat yang pintunya bisa dikunci dari luar. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu melipatnya kembali.

Aku tidak membalas.

Bukan karena aku membencinya.

Justru karena aku sudah tidak ingin membawa kebencian itu ke dalam hidupku yang baru.

Aku berdiri di depan jendela.

Jakarta terlihat seperti biasa.

Lampu kendaraan bergerak tanpa henti.

Orang-orang pulang.

Orang-orang bekerja.

Orang-orang mengejar kehidupan masing-masing.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku kembali menjadi milikku.

Dulu aku takut kehilangan seorang suami.

Sekarang aku mengerti, yang hampir hilang sebenarnya adalah diriku sendiri.

Aku tidak menyesal pergi ketika pintu itu dikunci.

Karena ternyata, malam ketika aku tidak bisa masuk ke rumah itu adalah malam ketika aku akhirnya menemukan jalan keluar dari kehidupan yang sejak awal tidak pernah benar-benar memberiku tempat untuk tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang