Dan saat itulah aku sadar, kepulanganku ke lereng Gunung Sibayak bukan sekadar membuka kembali kegagalan lima tahun lalu.
Seseorang telah menungguku untuk menyelesaikan sesuatu yang belum pernah kusetujui.
Aku membaca kalimat terakhir itu sekali lagi.
Persetujuan pemegang hak awal wajib diberikan sebelum pengalihan aset dan pemanfaatan lahan kepada pihak ketiga dapat dilaksanakan.
Di bawahnya tersedia ruang kosong.

Nama lengkapku sudah tercetak.
Raka Pratama.
Hanya tanda tanganku yang belum ada.
Aku mengangkat kepala.
“Jadi ini alasan kalian menungguku?”
Tak seorang pun menjawab.
Di luar jendela, para pekerja semakin banyak berkumpul. Ada laki-laki tua, perempuan bersepatu bot, beberapa anak muda yang masih mengenakan pakaian kerja. Wajah mereka tegang.
Deni menyandarkan tubuh ke kursinya.
“Jangan dibuat rumit, Bang. Perusahaan Jakarta menawarkan harga yang tidak akan pernah bisa diberikan koperasi ini.”
“Berapa?”
Deni menyebut angka yang membuatku terdiam.
Belasan miliar rupiah.
Lima tahun lalu, aku meninggalkan tempat ini dengan utang puluhan juta dan tiga puluh ekor babi yang hampir seluruhnya hilang.
Sekarang kegagalanku dihargai belasan miliar.
“Bagianmu cukup untuk memulai hidup baru,” kata Deni. “Tidak perlu lagi memikirkan tempat ini.”
Aku menatapnya.
“Lalu delapan puluh enam keluarga itu?”
“Itu bukan tanggung jawabmu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia sadari.
Lima tahun lalu, aku mengatakan kalimat yang hampir sama kepada Maya.
Saat wabah menyerang kandang dan ternakku mati satu per satu, aku panik. Aku menjual motor, meminjam uang, bahkan menggunakan tabungan pernikahan kami.
Tetap gagal.
Malam sebelum kami meninggalkan gunung, Pak Togar datang memintaku bertahan beberapa minggu.
Aku menolaknya.
Aku berkata, “Aku sudah kehilangan semuanya. Yang terjadi setelah aku pergi bukan tanggung jawabku.”
Maya mendengarnya.
Mungkin itu sebabnya ia kembali.
Suara mesin mobil terdengar dari halaman.
Pak Togar berdiri.
“Itu Maya.”
Aku keluar lebih dulu.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan kantor. Pintu terbuka dan Maya turun sambil membawa tas hitam besar.
Lima tahun terakhir membuat wajahnya sedikit berubah. Ada garis tipis di sekitar matanya yang dulu tidak ada.
Namun tatapannya masih sama.
Tenang ketika semua orang sedang panik.
Ia melihatku, lalu melihat Deni yang berdiri di belakangku.
“Suratnya sudah diperlihatkan?”
“Sudah,” jawabku.
Maya menarik napas.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Kamu menandatanganinya?”
“Ya.”
Jawaban itu membuat halaman terasa sunyi.
Aku mendekatinya.
“Kenapa?”
“Karena aku perlu membuat Deni percaya.”
Deni tertawa kecil.
“Jangan mulai mengarang cerita.”
Maya tidak menoleh kepadanya.
Ia membuka tas hitam dan mengeluarkan sebuah map plastik yang tebal.
“Aku memang menandatangani sebagai saksi. Tapi bukan untuk membuktikan bahwa tanda tangan Raka asli.”
Ia mengeluarkan selembar dokumen lain.
“Aku menandatangani untuk membuktikan bahwa pada hari surat itu dibuat, aku melihat siapa yang membuatnya.”
Wajah Deni berubah.
Hanya sedikit.
Namun aku melihatnya.
Maya menyerahkan dokumen itu kepadaku.
Itu salinan laporan yang dibuat di kantor notaris di Medan hampir lima tahun lalu.
Di dalamnya tercatat bahwa Maya datang membawa dugaan pemalsuan dokumen.
“Apa ini?”
“Baca tanggalnya.”
Aku melihatnya.
Tiga hari setelah tanggal surat pelepasan hak.
Maya menatap Deni.
“Waktu itu kamu datang ke kontrakan kami membawa surat itu. Kamu bilang Raka sudah menandatanganinya sebelum meninggalkan gunung.”
Deni menggeleng.
“Bohong.”
“Aku mengenal tanda tangan suamiku.”
“Lalu kenapa kau ikut menandatangani?”
“Karena aku ingin tahu untuk apa surat itu akan digunakan.”
Maya menjelaskan semuanya.
Setelah kami pindah ke Medan, Deni mendatanginya. Ia mengatakan kandang harus segera dialihkan karena pemilik lahan tidak mau berurusan dengan usaha yang bermasalah.
Maya curiga.
Namun bukannya menolak, ia berpura-pura percaya.
Ia menandatangani bagian saksi.
Kemudian memotret seluruh dokumen.
“Aku membawa fotonya ke notaris,” katanya. “Aku juga membuat laporan tertulis bahwa tanda tangan Raka patut diduga palsu.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Maya menatapku cukup lama.
“Karena saat itu kamu bahkan tidak sanggup mendengar kata kandang.”
Aku tidak bisa membantah.
Berbulan-bulan setelah kegagalan itu, aku tidak mau berbicara tentang gunung.
Setiap kali Maya mencoba membahas utang atau ternak, aku marah.
Aku merasa semua orang sedang mengingatkanku bahwa aku gagal.
“Aku berniat memberitahumu setelah keadaanmu membaik,” lanjut Maya. “Tapi kemudian aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Ia memandang Pak Togar.
Pak Togar mengangguk pelan.
“Sebelas ekor itu.”
Maya ternyata kembali ke gunung karena ingin memastikan semuanya benar-benar selesai.
Namun ketika tiba, ia menemukan Lina sedang merawat sebelas ternak yang masih sehat.
Lina memiliki dugaan bahwa masalah terbesar bukan pada lokasi kandang, melainkan pada ternak baru yang pernah kubeli tanpa pemeriksaan memadai.
Aku mengingat hari itu.
Karena ingin memperbesar usaha terlalu cepat, aku membeli beberapa ekor dengan harga murah dari luar daerah.
Aku bahkan tidak menunggu pemeriksaan lengkap.
Kesalahan itu menghancurkan hampir semuanya.
“Lina meminta tiga bulan,” kata Maya. “Aku memberinya tiga bulan.”
“Dengan uang lemburmu?”
Maya tersenyum pahit.
“Awalnya.”
Pak Togar kemudian membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak logam.
Ia meletakkannya di meja.
“Setelah ternak mulai menghasilkan, kami ingin mengembalikan uang kepada Maya.”
“Dia menolak,” kata Lina.
“Kenapa?”
Maya menatapku.
“Karena uang itu bukan investasi.”
“Lalu apa?”
“Utangku.”
Aku mengernyit.
Maya menarik sebuah kursi.
“Ketika kita menikah, ayahmu memberiku gelang emas milik ibumu.”
Aku ingat gelang itu.
Ibu meninggal ketika aku masih kuliah.
Sebelum meninggal, ia menitipkannya kepada ayah untuk diberikan kepada perempuan yang kelak menjadi istriku.
“Aku menjualnya.”
Aku menatap Maya tanpa bicara.
“Untuk apa?”
“Untuk membayar pakan terakhir sebelum kita meninggalkan gunung.”
Aku merasa dadaku kosong.
Selama lima tahun aku mengira gelang itu disimpan Maya di rumah orang tuanya.
“Aku berjanji suatu hari akan membelinya kembali,” katanya. “Jadi ketika kandang mulai menghasilkan, aku meminta Pak Togar menyimpan bagianku.”
Pak Togar membuka kotak logam.
Di dalamnya ada sebuah kotak perhiasan kecil.
Maya mendorongnya ke arahku.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Gelang emas itu ada di dalam.
“Aku membelinya kembali dua tahun lalu,” kata Maya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Namun Deni tiba-tiba bertepuk tangan pelan.
“Cerita keluarga yang menyentuh.”
Semua mata beralih kepadanya.
“Tapi tidak mengubah fakta bahwa koperasi menggunakan aset perusahaan saya selama bertahun-tahun.”
Lina berdiri.
“Perusahaanmu tidak pernah mengeluarkan satu rupiah pun.”
“Surat pelepasan hak mengatakan sebaliknya.”
“Surat palsu,” kataku.
Deni tersenyum.
“Buktikan.”
Maya justru terlihat tenang.
“Itulah alasan aku datang hari ini.”
Ia mengeluarkan ponsel.
Lalu memutar sebuah rekaman.
Suara Deni terdengar jelas.
Lebih muda, tetapi tidak mungkin salah.
“Kalau Raka kembali, kita tinggal bilang dia sudah tanda tangan. Orang seperti dia tidak akan kembali ke gunung setelah gagal separah itu.”
Kemudian terdengar suara laki-laki lain.
“Kalau istrinya curiga?”
“Biar dia jadi saksi. Justru lebih bagus.”
Wajah Deni memucat.
Rekaman berhenti.
“Dari mana kamu dapat itu?” tanyanya.
“Dari orang yang dulu membantumu membuat surat tersebut.”
Dua laki-laki yang datang bersama Deni saling berpandangan.
Salah satunya perlahan mundur.
Deni menatap mereka.
“Jangan bodoh. Rekaman seperti itu bisa dibuat.”
“Benar,” kata Maya. “Karena itu kami tidak hanya punya rekaman.”
Pintu kantor terbuka.
Dua orang masuk bersama seorang pria berkemeja batik.
Lina memperkenalkannya sebagai kuasa hukum koperasi.
Di tangannya ada map bersegel.
Pemeriksaan forensik dokumen telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya setelah Deni mulai menawarkan kawasan tersebut kepada investor.
Hasilnya menyatakan tinta pada tanda tanganku berbeda periode dengan tinta pada isi dokumen.
Lebih buruk lagi bagi Deni, perusahaan yang disebut sebagai penerima hak ternyata baru didirikan tujuh bulan setelah tanggal surat tersebut.
Deni tidak mengatakan apa-apa lagi.
Untuk pertama kalinya sejak ia datang, kesombongan di wajahnya hilang.
“Kenapa menunggu aku?” tanyaku kepada Maya.
“Karena pemalsuan itu bisa kami lawan tanpa kamu,” jawabnya. “Tapi ada masalah lain.”
Ia menunjuk dokumen penjualan.
“Perusahaan Jakarta tidak membeli kandang dari Deni.”
“Lalu?”
“Mereka ingin membeli hak pengelolaan kawasan langsung dari pemegang kontrak awal.”
Aku.
Ternyata sewa yang kutandatangani dahulu memiliki klausul perpanjangan otomatis jika lahan tetap digunakan untuk kegiatan peternakan produktif dan pembayaran tahunan dipenuhi.
Pak Togar dan koperasi terus membayar sewa atas namaku.
Selama lima tahun.
“Kenapa atas namaku?”
“Karena kami tidak bisa mengubah kontraknya tanpa kehadiranmu,” jawab Pak Togar.
Aku menatap orang-orang di luar.
Delapan puluh enam keluarga.
Lima tahun pertumbuhan.
Semuanya berdiri di atas kontrak seorang laki-laki yang melarikan diri karena malu.
“Kalau aku menolak penjualan?”
“Kontrak tetap berjalan,” kata kuasa hukum.
“Kalau aku setuju?”
“Kawasan dikosongkan enam bulan lagi.”
Aku melihat Deni.
“Berapa bagianmu dari transaksi ini?”
Ia diam.
Aku tidak perlu jawaban.
Aku mengambil surat penjualan itu.
Deni memperhatikanku.
“Pikir baik-baik, Bang. Belasan miliar.”
Aku mengambil pena.
Maya memegang pergelangan tanganku.
“Mas.”
Aku menatapnya.
Ia tidak berkata jangan.
Ia hanya berkata, “Keputusan tetap milikmu.”
Aku tersenyum tipis.
Lalu kutulis sesuatu di halaman terakhir.
Bukan tanda tangan.
Aku menulis dua kata besar.
SAYA MENOLAK.
Deni berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.
“Kamu gila!”
“Mungkin.”
“Kamu bahkan tidak tinggal di sini!”
“Benar.”
“Kamu tidak membangun semua ini!”
Aku melihat Pak Togar, Lina, dan puluhan orang di halaman.
“Itu juga benar.”
Aku menyerahkan dokumen kepada kuasa hukum.
“Karena itu hak pengelolaan ini juga tidak seharusnya terus berada atas namaku.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku meminta dibuatkan perubahan kontrak.
Bukan untuk Maya.
Bukan untuk Pak Togar.
Bukan pula untuk Lina.
Aku meminta hak pengelolaan dialihkan kepada koperasi, sepanjang pemilik lahan menyetujuinya secara sah.
Deni menatapku seperti aku baru saja membuang kekayaan ke jurang.
Mungkin memang begitu.
Namun untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Dua bulan kemudian, proses hukum terhadap dokumen palsu berjalan.
Transaksi dengan perusahaan Jakarta dibatalkan.
Kontrak lahan akhirnya diperbarui atas nama Koperasi Ternak Bukit Sejahtera.
Aku dan Maya kembali ke Medan.
Aku tidak menjadi pemilik koperasi.
Tidak menjadi direktur.
Tidak pula meminta bagian dari keuntungan lima tahun terakhir.
Namun Pak Togar memaksaku menerima satu hal.
Sebuah bingkai kecil.
Di dalamnya terdapat tanda nomor telinga 01.
“Yang pertama lahir dari sebelas ekor yang tersisa,” katanya.
Aku membawanya pulang.
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Sibayak bersama Maya.
Bukan sebagai pemilik.
Kami hanya ingin berkunjung.
Di depan gerbang, papan besar masih bertuliskan KOPERASI TERNAK BUKIT SEJAHTERA.
Namun ada sebuah papan kayu kecil di bawahnya yang sebelumnya tidak ada.
Aku mendekat untuk membacanya.
Kawasan ini berkembang dari sebuah kandang sederhana dengan tiga puluh ekor ternak, sebelas yang bertahan, dan orang-orang yang memilih untuk tidak menyerah.
Tidak ada namaku.
Aneh sekali, tetapi aku justru merasa lega.
Lina datang menghampiri kami sambil tertawa.
“Ada sesuatu yang harus Bapak lihat.”
Ia membawa kami ke belakang rumah kaca.
Di sana berdiri bangunan kayu kecil.
Atap seng.
Dinding papan.
Pintu sederhana.
Aku langsung mengenal bentuknya.
“Kalian membangun kandang lama?”
“Bukan membangun ulang.”
Lina membuka pintunya.
“Ini kandang aslinya.”
Ternyata ketika koperasi berkembang, mereka tidak pernah merobohkan kandang pertamaku.
Mereka memindahkannya sedikit demi sedikit, mengganti bagian yang lapuk tanpa mengubah bentuk dasarnya.
Tangki merah tua berdiri di sampingnya.
Aku menyentuh tiang kayu yang penuh bekas goresan.
Di salah satu sudut masih ada tulisan yang kubuat lima tahun lalu dengan spidol.
30 EKOR.
Maya berdiri di sampingku.
“Masih menyesal datang kembali?”
Aku menggeleng.
Dari kandang baru di kejauhan terdengar suara pekerja bercampur suara kendaraan dan mesin.
Tempat yang dulu kuanggap kuburan kegagalanku ternyata telah menjadi sumber kehidupan bagi puluhan keluarga.
Saat hendak pergi, Pak Togar memanggilku.
“Raka.”
Aku menoleh.
Ia berdiri di depan kandang lama.
“Ada satu hal yang belum pernah kuberitahukan.”
“Apa?”
“Sebelas ekor yang bertahan waktu itu bukan kebetulan.”
Aku menunggu.
Pak Togar menunjuk nomor-nomor lama yang tergantung di dalam kandang.
“Semua ternak yang mati berasal dari kelompok yang kau beli belakangan.”
Aku terdiam.
“Sebelas yang selamat adalah anak-anak dari indukan pertama yang kau pelihara sendiri sejak kecil.”
Aku menatap kandang itu.
Selama lima tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa aku telah gagal dalam segala hal.
Ternyata tidak semuanya gagal.
Ada sesuatu yang kulakukan dengan benar.
Hanya saja aku pergi terlalu cepat untuk melihat hasilnya.
Maya menggenggam tanganku.
Untuk pertama kalinya, aku memahami mengapa kandang tua itu tidak pernah dihancurkan.
Bukan karena orang-orang di sana ingin mengenangku.
Mereka mempertahankannya untuk mengingat bagaimana semuanya bermula.
Tiga puluh ekor menjadi sebelas.
Sebelas menjadi puluhan.
Puluhan menjadi sebuah koperasi.
Sebuah kegagalan menjadi pekerjaan bagi delapan puluh enam keluarga.
Dan seorang laki-laki yang lima tahun lalu meninggalkan gunung karena merasa hidupnya sudah berakhir akhirnya kembali untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kandang, ternak, atau uang belasan miliar.
Kesempatan untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Aku menatap lereng Sibayak yang mulai diselimuti kabut sore.
Lalu untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, aku tidak melihat tempat itu sebagai lokasi di mana aku kehilangan segalanya.
Aku melihatnya sebagai tempat di mana sesuatu yang kutinggalkan ternyata memilih untuk tetap hidup.
