Aku mengejar Sari ketika dia mulai berjalan menjauh, tetapi perempuan itu mengangkat tangan tanpa menoleh.
“Jangan ikuti aku.”
“Sari, kasih aku waktu lima menit.”
“Tiga bulan, Ga.”
Langkahnya berhenti.
“Tiga bulan aku percaya semua yang kamu ceritakan.”

Dia berbalik. Matanya berkaca-kaca, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.
“Kamar kontrakanmu. Motor rusakmu. Cerita soal ibumu yang katanya harus kamu kirimi uang. Bahkan waktu kamu bilang pernah enggak makan dua hari karena sepi penumpang.”
Aku menunduk.
Semua itu memang kebohongan.
Sebagian kecil berasal dari kehidupan orang lain yang pernah kudengar. Sebagian lagi kuciptakan agar sosok Arga si tukang ojek terdengar nyata.
“Aku bisa jelaskan.”
Sari tertawa pendek.
“Jelaskan apa? Bahwa sebenarnya kamu orang kaya?”
“Bukan cuma itu.”
“Lalu apa?”
Aku menatapnya.
“Aku takut.”
Sari terdiam.
“Aku tumbuh dikelilingi orang yang selalu tahu siapa keluargaku. Mereka tahu perusahaan ayahku, tahu rumahku, tahu apa yang bisa mereka dapatkan kalau dekat denganku. Aku cuma ingin sekali saja bertemu seseorang tanpa semua itu.”
“Jadi aku percobaan?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada kemarahan.
“Bukan.”
“Tapi kamu menguji aku.”
Aku tidak menjawab.
Sari mengangguk perlahan.
“Itu jawabannya.”
Dia mengambil dua kantong belanjaannya.
Aku mencoba menahannya.
“Sari.”
“Jangan sentuh aku.”
Tanganku langsung berhenti.
Dia mengeluarkan uang enam puluh ribu yang tadi dimasukkan ke sakuku, lalu mengambilnya kembali.
Bukan karena uang itu.
Aku tahu dari tatapan matanya.
Dia mengambil kembali kepercayaan yang beberapa menit sebelumnya diberikan kepadaku tanpa syarat.
“Aku enggak marah karena kamu kaya,” katanya pelan. “Aku marah karena ternyata selama ini cuma aku yang datang sebagai diriku sendiri.”
Dia berjalan pergi.
Aku berdiri di pinggir jalan dengan nasi yang mulai dingin di tangan.
Dimas mendekat dengan hati-hati.
“Pak…”
“Jangan.”
Dia langsung diam.
Aku menatap punggung Sari sampai menghilang di tikungan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari bahwa uang bisa menyelesaikan hampir semua masalah kecuali satu.
Membeli kembali kepercayaan seseorang yang kita hancurkan sendiri.
Malam itu aku tetap datang ke hotel.
Ibuku sudah menunggu di ruang pertemuan.
Ratih Pratama berusia enam puluh satu tahun, tetapi tatapannya masih cukup tajam untuk membuat jajaran direksi perusahaan senilai triliunan rupiah menahan napas.
Begitu melihat kaos lusuhku, dia meletakkan kacamatanya.
“Jadi benar.”
Aku duduk.
“Apa?”
“Kamu tinggal di kampung selama tiga bulan dan jadi tukang ojek.”
“Dimas cerita?”
“Ibu punya staf keamanan sendiri.”
Aku menatap Dimas.
Dia pura-pura sibuk dengan tablet.
Ibuku melanjutkan, “Dan katanya kamu melakukannya karena seorang perempuan.”
“Awalnya bukan.”
“Tapi sekarang iya?”
Aku tidak menjawab.
Ibu tersenyum tipis.
“Bawa dia makan malam besok.”
“Enggak bisa.”
“Kenapa?”
“Dia baru tahu siapa aku.”
Ibu terdiam beberapa saat.
“Kamu belum bilang?”
Aku menggeleng.
“Arga.”
Nada suaranya berubah.
“Kamu bilang apa kepadanya selama ini?”
Aku menceritakan semuanya.
Semakin lama aku bicara, semakin hilang senyum di wajah ibu.
Setelah selesai, aku berharap dia memarahiku.
Sebaliknya, dia hanya berkata, “Kamu bodoh.”
Aku mengangguk.
“Memang.”
“Kamu pikir sedang menguji apakah dia pantas mendapatkanmu?”
Aku menatap meja.
“Ternyata kamu yang sedang diuji.”
Aku tidak tidur malam itu.
Pagi-pagi sekali aku pergi ke pasar.
Lapak Sari kosong.
Pedagang di sebelah mengatakan dia tidak datang.
Aku menuju rumah kontrakannya.
Kosong.
Teleponku diblokir.
Pesanku tidak masuk.
Hari kedua sama.
Hari ketiga aku datang lagi.
Pemilik kontrakan akhirnya keluar.
“Mas cari Mbak Sari?”
“Iya, Bu.”
“Sudah pindah.”
Dadaku terasa kosong.
“Ke mana?”
“Enggak bilang.”
Aku meminta Dimas mencarinya.
Lima menit kemudian aku membatalkan perintah itu.
Kalau aku menggunakan staf perusahaan, data kependudukan, atau jaringan bisnis untuk menemukannya, aku hanya akan mengulangi kesalahan yang sama.
Aku kembali ke Jakarta.
Tiga minggu berlalu.
Aku kembali mengenakan jas.
Kembali memimpin rapat.
Kembali duduk di kursi belakang mobil yang harganya lebih mahal daripada seluruh rumah di kampung tempat aku pernah tinggal.
Anehnya, aku justru merasa lebih miskin.
Sampai suatu siang Dimas masuk ke ruanganku.
“Pak, ada masalah dengan program katering penerbangan domestik.”
“Masalah apa?”
“Kita sedang mencari pemasok UMKM untuk beberapa produk sambal kemasan.”
Aku berhenti membaca dokumen.
Dimas meletakkan sebuah botol kecil di meja.
Labelnya sederhana.
SAMBAL SARI RASA.
Tanganku membeku.
“Dapat dari mana?”
“Tim procurement. Produk ini masuk tiga besar seleksi regional Yogyakarta.”
Aku mengambil botol itu.
Tulisan pada labelnya sedikit miring.
Aku mengenali desain itu.
Dulu aku pernah membantu Sari menempelkan label sampai tengah malam.
“Dia tahu perusahaan ini milikku?”
“Sepertinya tidak. Pendaftaran lewat koperasi.”
Aku langsung berdiri.
Dua hari kemudian aku berada di Yogyakarta.
Bukan dengan motor tua.
Bukan pula dengan SUV hitam.
Aku datang sendiri menggunakan taksi.
Seleksi akhir diadakan di sebuah gedung pelatihan UMKM. Ada belasan peserta.
Sari berdiri di salah satu meja.
Ketika melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku baru tahu tiga hari lalu.”
Dia menatap jas yang kukenakan.
“Kamu datang sebagai direktur utama?”
“Enggak.”
Aku melepas kartu identitas perusahaan dan memasukkannya ke saku.
“Aku datang sebagai Arga.”
“Arga yang mana?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Sari kembali menata botol sambalnya.
“Aku enggak mau bantuanmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau produkku lolos karena kamu, aku akan mundur.”
“Aku sudah menarik diri dari seluruh proses seleksi.”
Tangannya berhenti.
“Komite independen yang memutuskan. Bahkan mereka enggak tahu aku datang.”
Sari akhirnya menatapku.
“Kenapa?”
“Karena dulu aku merampas hakmu untuk memilih dengan jujur.”
Aku menarik napas.
“Sekarang aku enggak mau melakukannya lagi.”
Sari tidak mengatakan apa-apa.
Aku pergi sebelum penilaian dimulai.
Sebulan kemudian Sambal Sari Rasa terpilih menjadi salah satu pemasok regional.
Aku tidak menghubunginya.
Dua bulan berikutnya, produknya masuk beberapa toko oleh-oleh.
Enam bulan kemudian, aku membaca berita bahwa usahanya mempekerjakan dua belas perempuan dari desa sekitar.
Aku hanya tersenyum melihat fotonya.
Sampai suatu sore, resepsionis kantorku menelepon.
“Pak Arga, ada tamu bernama Sari.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
Ketika pintu terbuka, Sari masuk membawa tas kain yang sama seperti dulu.
Dia melihat ruanganku yang luas, jendela tinggi, dan pemandangan Jakarta dari lantai tiga puluh tujuh.
“Jadi ini kehidupanmu.”
“Iya.”
“Lumayan beda dari kamar kontrakan.”
Aku tersenyum kecil.
“Lumayan.”
Dia duduk.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sari membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.
Enam lembar uang sepuluh ribuan.
Dia meletakkannya di meja.
Aku mengenal uang itu.
“Ini…”
“Enam puluh ribu.”
Aku menatapnya.
“Aku simpan.”
“Kenapa?”
“Awalnya karena marah.”
Dia tersenyum tipis.
“Lama-lama buat mengingatkan diriku sendiri.”
“Mengingatkan apa?”
“Bahwa orang bisa kelihatan miskin padahal kaya.”
Dia berhenti sebentar.
“Dan orang bisa kelihatan punya segalanya padahal sebenarnya kekurangan sesuatu.”
Aku tidak berani bertanya apakah dia sudah memaafkanku.
Sari mengambil napas panjang.
“Aku datang bukan untuk balikan.”
Dadaku langsung tenggelam.
“Oke.”
“Aku belum selesai.”
Aku diam.
“Aku datang karena selama enam bulan terakhir aku lihat kamu benar-benar enggak ikut campur. Enggak ada transfer misterius. Enggak ada kontrak khusus. Enggak ada orang perusahaan yang tiba-tiba menawarkan bantuan.”
“Aku sudah janji pada diriku sendiri.”
“Bagus.”
Dia mengeluarkan sebungkus nasi dari tas.
Meletakkannya di antara kami.
Aku hampir tertawa ketika melihat isinya.
Nasi dan telur.
Persis seperti hari itu.
Sari membaginya menjadi dua.
Separuh diberikan kepadaku.
“Makan.”
Aku menatapnya.
“Sari…”
“Jangan geer.”
Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Kami makan dalam diam.
Setelah beberapa suap, Sari berkata, “Kalau kita mulai lagi, aku punya syarat.”
Sendokku berhenti.
“Mulai lagi?”
“Jangan bikin aku mengulang.”
Aku hampir tersenyum terlalu lebar.
“Apa syaratnya?”
“Enggak ada tes. Enggak ada penyamaran. Enggak ada rahasia.”
Aku mengangguk.
“Setuju.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau motormu rusak, bayar sendiri.”
Aku tertawa.
Sari ikut tertawa.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, pintu ruanganku terbuka.
Ibuku masuk.
Dia berhenti ketika melihat Sari.
Aku berdiri.
“Ibu?”
Ratih justru menatap perempuan di depanku cukup lama.
Lalu matanya jatuh pada bungkus nasi di meja.
Anehnya, wajahnya berubah.
“Sari?”
Sari berdiri perlahan.
“Ibu Ratih?”
Aku memandang keduanya bergantian.
“Kalian saling kenal?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Ibuku berjalan mendekat.
“Kamu anaknya Wibowo?”
Sari mengangguk.
Aku semakin bingung.
“Siapa Wibowo?”
Ibu duduk.
“Dua puluh delapan tahun lalu, sebelum Nusantara Skies sebesar sekarang, perusahaan keluarga kita hampir bangkrut.”
Aku belum pernah mendengar cerita itu.
“Bank menolak pinjaman. Investor mundur. Kakekmu sakit. Kami bahkan kesulitan membayar gaji.”
Ibu memandang Sari.
“Ayah perempuan ini bekerja sebagai mekanik.”
Sari terlihat sama terkejutnya denganku.
“Ayah saya?”
Ibu mengangguk.
“Dia menjual tanah warisan keluarganya dan meminjamkan uang itu kepada ayahmu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Tanpa jaminan,” lanjut Ibu. “Tanpa kontrak yang layak. Dia cuma bilang perusahaan yang memperlakukan pekerjanya dengan baik pantas diberi kesempatan kedua.”
Sari duduk perlahan.
“Tapi ayah meninggal waktu saya kecil. Saya enggak pernah tahu.”
“Kami mengembalikan uangnya beberapa tahun kemudian. Ayahmu menolak bunga. Setelah dia meninggal, kami kehilangan kontak dengan keluarganya.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Aku memandang Sari.
Perempuan yang kubohongi karena aku takut dia menginginkan kekayaanku ternyata berasal dari keluarga seseorang yang pernah menyelamatkan keluargaku ketika kami hampir tidak memiliki apa-apa.
Ibuku berdiri.
Sebelum keluar, dia menepuk bahuku.
“Kamu pergi ke Yogyakarta untuk mencari tahu apakah masih ada orang baik yang enggak peduli pada uangmu.”
Dia menatap Sari, kemudian kembali kepadaku.
“Seharusnya kamu enggak perlu menyamar sejauh itu. Keluarga kita sudah berutang pada kebaikan keluarganya jauh sebelum kamu lahir.”
Pintu tertutup.
Aku masih terpaku.
Sari menatapku beberapa detik.
Kemudian dia mendorong sisa nasi ke arahku.
“Makan.”
Aku tertawa pelan.
“Kamu enggak kaget?”
“Kaget.”
“Terus?”
Dia mengangkat bahu.
“Itu urusan orang tua kita.”
Aku memandangnya.
“Kalau urusan kita?”
Sari menatapku lurus.
“Kamu masih punya utang yang lebih susah dibayar.”
“Apa?”
“Kepercayaan.”
Aku mengangguk.
“Berapa lama?”
“Enggak tahu.”
“Aku tunggu.”
“Jangan cuma tunggu.”
Sari mengambil tasnya.
“Buktikan.”
Dia berjalan menuju pintu.
“Sari.”
Dia menoleh.
Aku mengeluarkan enam puluh ribu rupiah yang tadi dia letakkan di meja.
“Ini bagaimana?”
Sari tersenyum.
“Simpan.”
“Buat apa?”
“Buat bengkel.”
Pintu tertutup.
Aku menatap uang itu lama sekali sebelum tertawa sendirian.
Setahun kemudian, enam lembar uang itu masih tersimpan di dompetku.
Bukan karena nilainya.
Melainkan karena uang itulah yang mengingatkanku pada hari ketika seorang perempuan yang hanya memiliki sebungkus nasi memberikan separuh makanannya kepada seorang laki-laki yang sebenarnya bisa membeli apa saja.
Aku pernah menyamar menjadi orang miskin untuk mencari tahu apakah seseorang bisa mencintaiku tanpa kekayaan.
Pada akhirnya, aku justru menemukan sesuatu yang jauh lebih sulit.
Seseorang yang memaksaku belajar menjadi manusia yang pantas dipercaya.
Dan ketika akhirnya Sari kembali menggenggam tanganku, aku tidak lagi bertanya apakah dia mencintaiku sebagai Arga si tukang ojek atau Arga Pratama sang miliarder.
Karena untuk pertama kalinya, tidak ada lagi dua Arga.
Tidak ada penyamaran.
Tidak ada ujian.
Tidak ada kebohongan.
Hanya aku, apa adanya.
Dan ternyata, itulah satu-satunya kekayaan yang sejak awal benar-benar dia minta.
