Aku tidak pernah menyangka bahwa pertanyaan sederhana tentang sertifikat tanah peninggalan Ayah akan membuat wajah empat orang di lorong rumah sakit berubah sekaligus.
Budi menunduk. Putri berhenti menangis. Dewi memalingkan wajah. Dan ibu mertuaku berdiri kaku seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulutku.
Saat itulah aku tahu.
Ini bukan lagi sekadar perselingkuhan.
“Budi,” ulangku pelan. “Sertifikat tanah Ayah ada di mana?”

“Jangan bahas sekarang,” jawabnya akhirnya.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kenapa? Karena terlalu banyak saksi?”
“Sari!”
Suara ibu mertuaku meninggi.
“Kamu ini keterlaluan. Budi baru kecelakaan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Dan tanah warisan ayah saya mungkin baru dicuri.”
Wajahnya langsung pucat.
Aku tidak menunggu jawaban lagi.
Aku mengambil foto bukti pembayaran rumah Putri, notifikasi pesan yang muncul di layar ponsel Budi, lalu memasukkan kembali barang-barang itu ke kantong pasien.
“Aku pulang.”
Budi langsung mencoba turun dari ranjang.
“Sari, tunggu. Kita bicara di rumah.”
“Justru itu yang akan kulakukan. Aku mau pulang dan melihat apa saja yang masih tersisa di rumahku.”
Dia terdiam.
Kalimat itu rupanya jauh lebih menakutkan baginya daripada kemarahanku.
Aku meninggalkan rumah sakit tanpa menangis sedikit pun.
Sepanjang perjalanan pulang, tanganku dingin. Kepalaku dipenuhi potongan-potongan kejadian selama beberapa bulan terakhir.
Tiga bulan lalu Budi pernah meminta fotokopi KTP-ku.
Katanya untuk memperbarui data asuransi keluarga.
Sebulan kemudian dia meminta tanda tanganku pada beberapa lembar dokumen kosong.
Katanya kantor membutuhkan persetujuan pasangan untuk fasilitas pinjaman karyawan.
Aku menolak menandatangani dokumen kosong.
Namun beberapa hari setelahnya, dia membawakan formulir yang sudah terisi.
Aku menandatanganinya tanpa membaca setiap halaman.
Aku mempercayai suamiku.
Dan mungkin itulah kesalahan terbesarku.
Begitu sampai di rumah, aku langsung menuju lemari kamar.
Kotak kayu tempat menyimpan dokumen masih berada di posisi semula.
Aku membukanya.
Akta kelahiran ada.
Buku nikah ada.
Ijazah ada.
Sertifikat tanah tidak ada.
Aku membongkar seluruh isi lemari.
Tidak ada.
Aku terduduk di lantai.
Tanah itu bukan sekadar aset.
Ayah membelinya ketika aku masih kuliah. Luasnya tidak besar, tetapi lokasinya dekat jalan utama di Sleman dan nilainya terus naik.
Dua minggu sebelum meninggal, Ayah memanggilku.
“Sari, tanah itu jangan kamu jual hanya karena sedang butuh uang. Simpan. Hidup rumah tangga tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Kamu harus punya sesuatu atas namamu sendiri.”
Dulu aku menganggap nasihat itu terlalu berlebihan.
Malam itu aku baru memahami maksudnya.
Aku segera menelepon Pak Hendra, notaris yang pernah membantu mengurus dokumen warisan Ayah.
Sudah hampir tengah malam, tetapi beruntung dia masih menjawab.
Setelah mendengar ceritaku, suaranya berubah serius.
“Besok pagi datang ke kantor saya. Bawa KTP dan semua dokumen yang masih ada.”
“Pak, kalau sertifikat asli ada di tangan orang lain, apa tanah saya bisa dijual?”
“Tidak semudah itu. Tapi kalau ada pemalsuan tanda tangan, surat kuasa palsu, atau dokumen yang sudah pernah Ibu tanda tangani tanpa memahami isinya, kita harus periksa.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku teringat formulir dari Budi.
“Kalau saya pernah tanda tangan beberapa dokumen?”
Pak Hendra diam sebentar.
“Besok kita cek.”
Aku hampir tidak tidur malam itu.
Budi tidak pulang.
Pukul dua pagi, dia mengirim pesan.
Kita selesaikan baik-baik. Jangan libatkan polisi. Semua bisa aku jelaskan.
Aku tidak membalas.
Kalimat jangan libatkan polisi justru memberitahuku bahwa masalahnya lebih serius daripada yang kubayangkan.
Pukul sembilan pagi aku sudah berada di kantor Pak Hendra.
Setelah melakukan beberapa pengecekan, dia menunjukkan sebuah dokumen digital.
Surat kuasa menjual.
Namaku tercantum di sana.
Tanda tanganku juga ada.
Namun aku tidak pernah membuat surat itu.
“Ini bukan tanda tangan saya.”
Pak Hendra menatapku.
“Mirip.”
“Karena dia punya ratusan contoh tanda tangan saya.”
Ada lagi dokumen lain.
Perjanjian pengikatan jual beli.
Nilai transaksi tanahku tercatat Rp 780 juta.
Aku hampir kehilangan suara.
“Tanah itu sudah dijual?”
“Belum balik nama sepenuhnya. Tetapi ada transaksi yang sedang berjalan.”
Aku membaca nama calon pembeli.
PT Arunika Properti Nusantara.
Nama perusahaan itu terasa asing.
Sampai Pak Hendra membuka data direksinya.
Salah satu komisarisnya adalah Rudi Santoso.
Paman Putri.
Aku bersandar di kursi.
Semuanya mulai terhubung.
Putri bukan sekadar menerima Rp 53 juta.
Rumah seharga Rp 120 juta itu juga bukan hadiah terbesar.
Mereka sedang mencoba mengambil tanah senilai hampir delapan ratus juta.
Aku menelepon Budi.
Kali ini dia langsung mengangkat.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Rumah sakit.”
“Bagus. Jangan ke mana-mana.”
“Sari, dengar dulu.”
Aku memutus telepon.
Satu jam kemudian aku kembali ke rumah sakit bersama Pak Hendra.
Budi sudah dipindahkan ke ruang observasi. Ibu mertua dan Dewi masih berada di sana.
Putri juga belum pulang.
Begitu melihat Pak Hendra, ekspresi Budi langsung berubah.
“Apa maksudnya ini?”
Aku meletakkan salinan surat kuasa di meja.
“Maksudnya aku ingin tahu kapan aku memberi kamu izin menjual tanah Ayah.”
Ibu mertua langsung berdiri.
“Sari, jangan memperbesar masalah.”
Aku menatapnya.
“Ibu sudah tahu?”
“Budi cuma meminjam dulu. Nanti juga dikembalikan.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku membeku.
“Meminjam?”
Aku tertawa kecil.
“Tanah bukan uang receh yang bisa dipinjam dari dompet.”
Budi menutup wajahnya.
“Ma, sudah.”
Namun ibunya justru terus bicara.
“Semua ini karena Budi mau memperbaiki keadaan keluarga. Usahanya sedang butuh modal.”
Aku menunjuk Putri.
“Kalau untuk usaha keluarga, kenapa rumah dibeli atas nama dia?”
Tidak ada jawaban.
Putri akhirnya berdiri.
Wajahnya merah karena menangis.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Rumah itu bukan untuk aku dan Mas Budi.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu untuk siapa?”
Putri menarik napas panjang.
“Untuk Ibu.”
Aku mengernyit.
“Ibu siapa?”
Putri menunjuk ibu mertuaku.
Lorong di depan ruang observasi mendadak sunyi.
Ibu mertua langsung membentak.
“Putri!”
Tetapi Putri seperti sudah tidak peduli.
“Rumah itu dibeli untuk Bu Ratna. Beliau bilang rumah lama akan disita bank.”
Aku menoleh perlahan kepada ibu mertuaku.
“Ibu?”
Wajahnya pucat.
Dewi mulai menangis.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa semua orang dalam keluarga itu mengetahui sesuatu kecuali aku.
Budi akhirnya berbicara.
“Papa meninggalkan utang sebelum meninggal. Rumah Mama dijadikan jaminan. Aku mencoba menutup utangnya.”
“Dengan menjual tanahku?”
“Aku berniat mengembalikannya.”
“Dari mana?”
Dia terdiam.
Aku menunjuk Putri.
“Lalu kenapa harus melalui Putri?”
Budi mengepalkan tangan.
Karena tidak ada lagi ruang untuk berbohong, akhirnya semuanya keluar.
Enam bulan sebelumnya Budi mencoba membuka usaha distribusi alat kesehatan bersama paman Putri. Modalnya berasal dari pinjaman.
Usahanya gagal.
Utang bertambah.
Untuk menutup cicilan pertama, dia mengambil uang tabungan kami.
Ketika uang itu tidak cukup, dia meminjam lagi.
Putri menjadi perantara karena pamannya memiliki perusahaan properti yang bersedia membeli tanahku dengan cepat.
“Jadi kalian tidak selingkuh?” tanyaku.
Putri menggeleng cepat.
“Tidak, Kak. Demi Tuhan, tidak.”
Aku hampir ingin mempercayainya.
Sampai Pak Hendra yang sejak tadi diam membuka satu lembar dokumen lain.
“Kalau begitu, mungkin Saudari Putri bisa menjelaskan ini.”
Dia meletakkan salinan formulir pengajuan kredit.
Aku membacanya.
Nama pemohon adalah Budi Santoso.
Status perkawinan tertulis belum menikah.
Kontak darurat tercantum Putri Anggraeni.
Hubungan dengan pemohon tertulis calon istri.
Aku mengangkat kepala.
Putri membeku.
Budi memejamkan mata.
Aku tersenyum kecil.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena ternyata kebohongan memang selalu memiliki lapisan berikutnya.
“Mas?” suara Putri bergetar. “Kamu bilang sudah mengurus perceraian.”
Sekarang giliranku yang terdiam.
Putri menatapku dengan mata membesar.
“Kak Sari… Mas Budi bilang kalian sudah pisah rumah sejak tahun lalu.”
Aku melihat Budi.
Dia tidak mampu menatap salah satu dari kami.
Dalam beberapa detik, semuanya menjadi jelas.
Budi berbohong kepadaku.
Berbohong kepada Putri.
Berbohong kepada bank.
Berbohong kepada keluarganya.
Bahkan kemungkinan besar berbohong kepada dirinya sendiri.
Putri tiba-tiba mengambil tasnya.
“Kamu bilang uang tanah itu bagianmu setelah perceraian.”
“Putri, dengar dulu.”
“Jangan sentuh aku!”
Suara Putri menggema sampai beberapa perawat menoleh.
“Jadi selama ini aku pikir aku membantu kamu menyelesaikan masalah dengan mantan istrimu, ternyata kamu masih tinggal serumah dengannya?”
Aku hampir tertawa mendengar kata mantan istri.
“Aku bahkan masih memasakkan ayam kecap untuk dia tadi malam.”
Putri menutup mulutnya.
Air matanya jatuh.
Kali ini aku tahu tangisannya bukan sandiwara.
Dia memang bersalah karena menerima uang dan menjalin hubungan dengan pria yang dikiranya sedang dalam proses bercerai.
Tetapi ternyata dia juga sedang dimainkan.
Budi turun dari ranjang.
“Sari, aku panik. Semua utang itu mengejarku. Aku cuma ingin menyelesaikannya.”
Aku menatap lelaki yang sudah tiga tahun menjadi suamiku.
Aneh.
Semalam aku mengira melihatnya bersama wanita lain adalah hal paling menyakitkan yang mungkin terjadi.
Ternyata tidak.
Yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa seseorang yang tidur di sampingmu setiap malam bisa perlahan-lahan membongkar hidupmu tanpa membuat suara.
“Aku pernah bilang kepadamu,” kataku pelan, “kalau kamu punya masalah uang, kita hadapi bersama.”
“Aku malu.”
“Jadi karena malu, kamu mencuri?”
“Aku tidak mencuri!”
Aku menunjuk surat kuasa palsu.
“Lalu ini apa?”
Dia tidak menjawab.
Pak Hendra menyentuh lenganku.
“Kita sebaiknya pergi. Ada beberapa langkah hukum yang harus segera dilakukan untuk menghentikan transaksi tanah.”
Aku mengangguk.
Ketika hendak berjalan keluar, ibu mertua memanggilku.
“Sari.”
Aku berhenti.
“Kalau kamu melaporkan Budi, hidupnya bisa hancur.”
Aku menoleh.
“Bu, hidup saya hampir dihancurkan lebih dulu.”
“Dia suamimu.”
“Justru karena dia suami saya, dia tahu persis tanah itu peninggalan terakhir Ayah.”
Tidak ada lagi yang bisa beliau katakan.
Dua minggu berikutnya menjadi hari-hari paling melelahkan dalam hidupku.
Transaksi tanah berhasil diblokir sebelum proses balik nama selesai.
Melalui pemeriksaan dokumen, ditemukan bahwa tanda tanganku pada surat kuasa memang bukan tanda tangan asli.
Budi akhirnya mengakui pemalsuan itu.
Aku juga mengetahui sesuatu yang membuatku semakin yakin untuk berhenti menyelamatkan orang yang terus-menerus menenggelamkanku.
Utang Budi bukan hanya untuk bisnis.
Selama hampir setahun dia menggunakan pinjaman untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu kami biayai.
Hotel.
Hadiah.
Perjalanan.
Investasi gagal.
Bahkan sebagian transfer kepada Putri ternyata digunakan sebagai uang muka rencana pernikahan mereka.
Putri memutus semua hubungan dengannya setelah mengetahui kebenaran.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Yogyakarta.
Bukan untuk menjual tanah Ayah.
Aku membangun sebuah rumah kecil di atas sebagian tanah itu.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar, halaman sederhana, dan pohon mangga yang kutanam sendiri di depan teras.
Pada hari pertama rumah itu selesai, aku menemukan sebuah amplop lama di antara barang-barang peninggalan Ayah yang dibawa Ibu dari gudang.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Untuk Sari, kalau suatu hari kamu membaca ini saat hidup sedang terasa berat, ingat satu hal. Rumah bukan selalu tempat yang kamu bangun bersama seseorang. Kadang rumah adalah sesuatu yang tersisa ketika kamu akhirnya berani meninggalkan tempat yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Kemudian menangis.
Bukan karena Budi.
Bukan karena Putri.
Bukan pula karena uang yang hampir hilang.
Aku menangis karena akhirnya mengerti mengapa Ayah begitu keras melarangku menjual tanah itu.
Sore itu ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.
Budi.
Sari, aku sudah menjual mobil. Sebagian utang sudah lunas. Aku tahu semuanya terlambat. Aku cuma ingin minta maaf. Kalau suatu hari kamu bisa memaafkanku, kabari aku.
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Lalu menghapusnya tanpa membalas.
Dari teras, aku memandang matahari turun di balik pepohonan.
Dulu aku mengira kemenangan terbesar adalah menangkap suami yang sedang berbohong.
Ternyata bukan.
Kemenangan terbesar adalah ketika aku tidak lagi membutuhkan pengakuannya untuk mengetahui bahwa aku pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Malam ketika Budi bersumpah agar dirinya dan wanita lain tertangkap bersama, dia memang mendapatkan persis apa yang dia minta.
Tetapi orang yang akhirnya terbebas dari semua kebohongan itu bukan dia.
Melainkan aku.
