Pesan dari Sari itu hanya muncul beberapa detik di layar ponsel Arjuna, tetapi rasanya cukup untuk menghancurkan enam tahun hidupku.
“Mas, pengacara sudah menyiapkan dokumennya. Begitu Indah tanda tangan, urusan rumah bisa segera dibereskan. Setelah itu kita tidak perlu pura-pura terlalu lama lagi.”
Aku membacanya sekali.
Lalu sekali lagi.
Suara air dari kamar mandi masih terdengar. Aku tidak tahu berapa lama Arjuna akan berada di sana. Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponselku sendiri dan memotret layar itu.
Setelahnya, aku meletakkan ponsel Arjuna persis seperti semula.
Aku baru saja duduk ketika pintu kamar mandi terbuka.
Arjuna keluar sambil mengeringkan rambutnya.
“Kamu belum tidur?”
“Belum mengantuk.”
Tatapannya jatuh ke ponsel di meja, lalu berpindah kepadaku.
Entah kenapa, malam itu untuk pertama kalinya aku menyadari betapa sedikitnya aku mengenal laki-laki yang tidur di sebelahku selama enam tahun.

Aku tahu dia tidak suka daun bawang.
Aku tahu dia selalu mengatur alarm pukul enam pagi.
Aku tahu dia akan sakit kepala jika kurang tidur.
Namun aku tidak tahu berapa banyak perusahaan yang dimilikinya.
Aku tidak tahu berapa harga mobil yang sebenarnya bisa dia beli.
Aku bahkan tidak tahu apakah dia pernah mencintaiku.
Keesokan paginya, Arjuna bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Sebelum berangkat, dia meletakkan sebuah map cokelat di meja makan.
“Ada dokumen dari bank. Rumah kita mau direstrukturisasi kreditnya supaya cicilannya lebih ringan. Nanti tanda tangan saja.”
Aku menatap map itu.
Rumah kecil yang kami tinggali dibeli dua tahun setelah menikah. Selama ini Arjuna mengatakan uang mukanya berasal dari bonus kantor, sedangkan cicilan bulanannya kami bayar bersama.
Bahkan aku sering membayar lebih banyak ketika dia mengaku sedang membantu keluarganya.
“Kenapa harus hari ini?”
“Biar cepat selesai.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Aku tersenyum tipis.
“Baik.”
Dia mendekat dan mengecup keningku sebelum pergi.
Sentuhan itu membuatku hampir muntah.
Begitu mobilnya menghilang, aku membuka map tersebut.
Aku membaca setiap halaman dengan hati-hati.
Aku memang bukan ahli hukum, tetapi ada satu kalimat yang langsung membuat darahku terasa dingin.
Dokumen itu bukan sekadar restrukturisasi cicilan.
Ada persetujuan pengalihan hak dan pelepasan klaim atas properti tertentu yang tercatat atas namaku.
Aku segera memotret semuanya.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun, aku tidak pergi bekerja.
Aku menelepon kantor dan meminta izin sakit, lalu pergi menemui seorang pengacara bernama Maya Prameswari yang direkomendasikan teman lamaku.
Maya membaca dokumen itu hampir dua puluh menit.
Kemudian dia mengangkat wajah.
“Jangan tanda tangan.”
“Memangnya separah itu?”
“Kalau kamu menandatangani semuanya tanpa penjelasan tambahan, posisi hukummu bisa sangat lemah.”
Aku menelan ludah.
Maya kemudian memeriksa sertifikat dan dokumen lain yang kubawa.
Beberapa menit kemudian, ekspresinya berubah.
“Bu Indah, rumah ini bukan aset sederhana.”
“Maksudnya?”
“Tanah tempat rumah ini berdiri dibeli atas nama Anda sebelum bangunan didirikan. Ada akta hibah lama yang menjadi dasar kepemilikannya.”
Aku benar-benar tidak mengerti.
“Aku tidak pernah membeli tanah.”
Maya memutar layar laptopnya.
Nama yang tertera pada dokumen itu membuatku tercekat.
Almarhum kakekku.
Ternyata bertahun-tahun sebelum meninggal, Kakek pernah memiliki sebidang tanah di Jakarta yang kemudian masuk ke dalam proyek pengembangan Grup Anugerah.
Setelah serangkaian transaksi dan perubahan administrasi, hak tertentu atas tanah tersebut diwariskan kepadaku.
Nilainya sekarang bukan ratusan juta.
Bahkan bukan beberapa miliar.
“Perkiraan kasarnya puluhan miliar rupiah,” kata Maya.
Aku hanya bisa menatapnya.
Tiba-tiba pesan Sari menjadi masuk akal.
Urusan rumah.
Dokumen.
Tanda tangan.
Mereka tidak sedang berusaha mengurangi cicilan.
Mereka ingin mengambil sesuatu yang selama ini bahkan tidak kuketahui sebagai milikku.
“Kenapa Arjuna membutuhkan tanda tanganku?”
Maya terdiam sejenak.
“Karena perusahaan keluarganya sedang merencanakan pengembangan besar di kawasan itu. Tanah Anda berada di salah satu bagian strategis. Tanpa pelepasan hak dari Anda, prosesnya bisa terganggu.”
Aku tertawa kecil.
Namun air mataku jatuh.
Enam tahun lalu Arjuna menikahiku karena wasiat kakeknya.
Sekarang dia hendak mengambil warisan kakekku juga.
Malam itu Arjuna bertanya tentang dokumen.
“Sudah kamu tanda tangani?”
“Belum.”
Wajahnya berubah sedikit.
“Kenapa?”
“Aku capek. Besok saja.”
Dia memandangku cukup lama.
Kemudian tersenyum.
“Jangan terlalu lama. Itu penting.”
Aku mengangguk.
Selama tiga hari berikutnya, aku berpura-pura menjadi Indah yang sama.
Aku memasak sarapan.
Aku menanyakan pekerjaannya.
Aku bahkan mengingatkan Arjuna membawa payung ketika prakiraan cuaca mengatakan akan hujan.
Sementara diam-diam, bersama Maya, aku mengumpulkan semuanya.
Riwayat rekening.
Bukti cicilan.
Dokumen rumah.
Pesan Sari.
Catatan medis.
Dan satu hal yang paling sulit kulakukan adalah meminta Dokter Dwi bertemu denganku.
Ketika aku datang ke ruangannya, wajahnya langsung pucat.
“Bu Indah…”
“Saya mendengar percakapan Dokter dengan suami saya tiga hari lalu.”
Dia membeku.
Aku meletakkan kedua tangan di atas meja agar tidak terlihat gemetar.
“Saya hanya ingin tahu satu hal. Obat apa yang pernah diberikan Arjuna kepada saya?”
Dokter Dwi memejamkan mata sebentar.
“Aku seharusnya memberitahumu sejak dulu.”
Ternyata beberapa tahun lalu, Arjuna memang meminta obat hormonal dengan alasan kami ingin menunda kehamilan. Dokter Dwi menolak memberikannya tanpa pemeriksaan terhadapku.
Namun Arjuna mendapatkan obat serupa dari tempat lain.
Dwi mengetahuinya belakangan.
“Apakah obat itu menyebabkan kondisi kehamilanku sekarang?”
“Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan itu,” jawabnya tegas. “Aku tidak mau berbohong kepadamu. Kondisimu sekarang bisa dipengaruhi banyak faktor. Tetapi memberikan obat tanpa persetujuanmu tetap tindakan yang tidak bisa dibenarkan.”
Aku mengangguk.
Aneh sekali.
Setelah semua yang kudengar, justru jawaban jujur seperti itu terasa menenangkan.
Aku tidak membutuhkan kebohongan baru untuk membenarkan kemarahanku.
Yang sudah dilakukan Arjuna saja sudah cukup.
Hari kelima, Sari datang ke rumah.
Aku mengenal mobilnya karena pernah melihatnya menjemput Arjuna.
Dia turun dengan pakaian kantor yang elegan dan sebuah tas bermerek di tangan.
“Aku kebetulan lewat,” katanya sambil tersenyum.
Tentu saja dia berbohong.
Kami duduk di ruang tamu.
Sari memandang perutku yang belum terlalu terlihat.
“Kudengar kamu hamil. Selamat.”
“Terima kasih.”
“Akhirnya, ya. Setelah enam tahun.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku menatapnya.
Dia kemudian mengambil map cokelat dari meja.
“Mas Arjuna bilang kamu belum tanda tangan.”
Jadi dia datang untuk itu.
“Aku belum sempat.”
“Kalau boleh memberi saran, sebaiknya cepat. Arjuna sedang banyak urusan. Jangan membuat hal kecil menjadi beban tambahan.”
Aku hampir tersenyum.
“Hal kecil?”
Sari terdiam.
Aku memandang tasnya.
“Bagus tasnya.”
Tangannya refleks menyentuh pegangan tas.
“Hadiah perusahaan.”
“Mobil juga?”
Wajahnya berubah.
“Indah, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi hubungan aku dan Arjuna tidak seperti yang kamu bayangkan.”
“Aku belum mengatakan apa-apa soal hubungan kalian.”
Sari kehilangan kata-kata.
Aku tersenyum.
Saat itulah aku tahu satu hal.
Orang yang menyimpan rahasia sering kali takut bahkan pada pertanyaan yang belum ditanyakan.
Malamnya, Arjuna pulang dengan wajah keras.
“Kamu bicara apa dengan Sari?”
“Dia yang datang.”
“Dia cuma ingin membantu.”
Aku menatap suamiku.
“Kenapa kamu selalu membelanya?”
Arjuna menghela napas panjang.
“Indah, jangan mulai.”
Enam tahun lalu, mungkin aku akan diam.
Malam itu tidak.
“Kalau aku tidak mau tanda tangan dokumen itu bagaimana?”
Tatapannya berubah.
“Kenapa tidak mau?”
“Karena aku ingin membacanya dulu.”
“Untuk apa? Kamu tidak mengerti urusan hukum.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Bukan karena kasar.
Melainkan karena akhirnya aku mendengar bagaimana sebenarnya dia memandangku.
Bodoh.
Tidak tahu apa-apa.
Mudah diarahkan.
Aku tersenyum kecil.
“Benar. Aku memang tidak mengerti.”
Wajahnya sedikit melunak.
“Tanda tangan saja. Aku tidak mungkin merugikanmu.”
Aku hampir ingin bertanya apakah memberiku obat tanpa sepengetahuanku juga dilakukan demi kebaikanku.
Namun kutahan.
Belum waktunya.
Dua hari kemudian, Arjuna mengatakan kami harus menghadiri makan malam keluarga di sebuah hotel bintang lima Jakarta.
Katanya ibunya ingin membicarakan sesuatu.
Aku datang dengan gaun sederhana yang sudah kupakai beberapa kali.
Ketika memasuki ruangan privat, aku melihat Sari sudah duduk di sana.
Di sampingnya ada seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun yang langsung kukenali sebagai ibu Arjuna.
Selama enam tahun, perempuan itu selalu mengaku hidup sederhana di luar kota.
Malam itu, kalung berlian di lehernya menjelaskan semuanya.
Seorang pria berkacamata duduk di ujung meja dengan beberapa dokumen.
Pengacara.
Aku langsung mengerti.
Ini bukan makan malam keluarga.
Ini jebakan.
Arjuna menarik kursi untukku.
“Duduklah.”
Ibunya tidak membuang waktu.
“Kami sudah membicarakan semuanya. Karena sekarang kamu hamil, keluarga ingin memastikan urusan aset menjadi lebih jelas.”
Aku memandang Arjuna.
Dia menghindari mataku.
Pengacara itu mendorong dokumen ke arahku.
“Bu Indah hanya perlu menandatangani beberapa persetujuan.”
Aku membuka halaman pertama.
Dokumennya lebih lengkap daripada yang dibawa Arjuna sebelumnya.
Bukan hanya tanah.
Ada klausul tentang pelepasan beberapa tuntutan ekonomi dalam perkawinan jika terjadi perceraian.
Aku mengangkat wajah.
“Perceraian?”
Ruangan mendadak sunyi.
Arjuna menatap pengacaranya dengan marah.
Sari pucat.
Rupanya aku seharusnya tidak membaca sejauh itu.
Ibunya akhirnya berkata, “Itu hanya prosedur perlindungan aset.”
Aku tertawa pelan.
“Perlindungan aset siapa?”
“Indah,” Arjuna memperingatkan.
Aku membuka tas dan mengeluarkan map milikku sendiri.
“Aku juga membawa dokumen.”
Wajah Arjuna berubah.
Aku meletakkan salinan pesan Sari di meja.
Kemudian dokumen kepemilikan tanah.
Kemudian catatan transfer cicilan rumah.
Terakhir, surat dari Maya.
Sari langsung berdiri.
“Kamu membuka ponsel Arjuna?”
“Tidak. Pesanmu muncul di layar.”
Aku menatap Arjuna.
“Enam tahun kamu menunggu aku meminta uang kepadamu. Hari ini aku tidak akan meminta apa pun.”
“Indah, dengarkan dulu.”
“Tidak. Sekarang kamu yang dengarkan.”
Untuk pertama kalinya, suaraku tidak gemetar.
“Aku tahu siapa kamu. Aku tahu soal wasiat kakekmu. Aku tahu alasan kamu menikahiku. Aku tahu soal Sari. Dan aku tahu kamu pernah berusaha membuatku menunda kehamilan tanpa persetujuanku.”
Wajah ibu Arjuna langsung berubah.
Dia menoleh tajam kepada putranya.
“Kamu melakukan apa?”
Rupanya bahkan dia tidak tahu semuanya.
Arjuna berdiri.
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
“Aku belum siap punya anak waktu itu!”
“Jadi kamu memutuskan sendirian untuk tubuhku?”
Dia terdiam.
Aku mengusap air mata yang akhirnya jatuh.
“Enam tahun aku merasa bersalah karena tidak bisa hamil. Aku bertanya-tanya apa yang salah dengan tubuhku. Aku melihat teman-temanku punya anak dan pulang ke rumah sambil menangis diam-diam supaya kamu tidak merasa terbebani.”
Arjuna menunduk.
Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya kehilangan semua ketenangan.
“Aku memang menikahimu karena wasiat,” katanya akhirnya. “Tapi bukan berarti selama enam tahun aku tidak pernah…”
“Jangan.”
Aku menggeleng.
“Jangan gunakan kata cinta untuk menjelaskan sesuatu yang tidak pernah memberiku pilihan.”
Aku melepas cincin pernikahan dan meletakkannya di atas dokumen.
Sari tiba-tiba berkata, “Kalau kamu pikir Arjuna akan kehilangan semuanya hanya karena kamu pergi, kamu salah.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tidak ingin dia kehilangan semuanya.”
Sari tersenyum sinis.
Namun aku melanjutkan.
“Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang memang milikku.”
Aku menunjukkan surat terakhir.
Tanah warisan kakekku tidak akan dijual kepada Grup Anugerah.
Maya sudah mengajukan langkah hukum untuk mencegah pengalihan tanpa persetujuanku.
Rencana proyek mereka otomatis tertunda.
Wajah ibu Arjuna memucat.
Sari menatap Arjuna panik.
Namun kejutan terbesar justru datang dari pengacara keluarga.
Dia membersihkan tenggorokannya.
“Pak Arjuna, ada sesuatu yang tampaknya belum Anda ketahui.”
Semua mata beralih kepadanya.
Dia membuka salinan wasiat lama.
Syarat warisan kakek Arjuna ternyata tidak hanya mengharuskannya menikahiku.
Ada klausul kedua.
Pernikahan itu harus berlangsung tanpa paksaan, penipuan material mengenai tujuan pernikahan, ataupun tindakan yang secara sengaja merugikan hak cucu sahabatnya.
Jika terbukti sebaliknya, sebagian saham yang diperoleh Arjuna berdasarkan syarat tersebut dapat dipersoalkan oleh pengelola warisan.
Ruangan langsung sunyi.
Aku sendiri tidak tahu tentang klausul itu.
Arjuna menatap ibunya.
“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”
Ibunya tidak menjawab.
Pengacara itu berkata pelan, “Karena almarhum kakek Anda tampaknya sudah memperhitungkan kemungkinan ini.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa lelah.
Aku bangkit dan mengambil tasku.
Arjuna mengejarku sampai lorong hotel.
“Indah!”
Aku berhenti.
Dia berdiri beberapa langkah di belakangku.
“Kalau kamu pergi sekarang, semua yang kita punya selama enam tahun benar-benar selesai.”
Aku menatapnya.
Dulu kalimat itu mungkin akan menghancurkanku.
Sekarang aku justru memahami sesuatu.
“Bukan aku yang mengakhirinya malam ini, Jun.”
Aku meletakkan tangan di perutku.
“Kamu mengakhirinya sedikit demi sedikit setiap kali memilih kebohongan daripada memberiku kesempatan mengetahui kebenaran.”
Tiga bulan kemudian, aku tinggal di apartemen kecil dekat rumah sakit.
Proses hukum kami belum selesai.
Kehamilanku juga belum sepenuhnya aman.
Namun kondisinya membaik setelah pemantauan intensif.
Aku membayar biaya perawatan menggunakan uangku sendiri setelah mendapat fasilitas pembiayaan dengan jaminan aset warisan yang kini secara resmi berada dalam pengawasanku.
Suatu sore, Dokter Dwi menunjukkan hasil pemeriksaan terbaru.
Detak jantung bayi terdengar memenuhi ruangan.
Aku menangis.
Bukan karena takut.
Untuk pertama kalinya, aku menangis karena lega.
Ketika keluar dari rumah sakit, seseorang menungguku di lobi.
Arjuna.
Penampilannya berbeda.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada sopir.
Belakangan aku mengetahui dewan perusahaan menonaktifkannya sementara sampai sengketa warisan selesai.
Dia berdiri ketika melihatku.
“Aku tidak datang untuk memintamu kembali.”
Aku diam.
“Aku hanya ingin tahu apakah bayinya sehat.”
Aku mengangguk.
“Sehat.”
Matanya memerah.
“Bolehkah aku suatu hari nanti menjadi ayahnya?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
Aku tidak menjawab segera.
“Ayah bukan status yang kamu dapatkan karena namamu tercantum di akta kelahiran.”
Arjuna menunduk.
“Kamu harus membuktikannya.”
Aku berjalan melewatinya.
Namun sebelum mencapai pintu, dia memanggilku sekali lagi.
“Indah.”
Aku menoleh.
“Aku memang mengenalmu karena wasiat Kakek,” katanya. “Tapi ada satu hal yang tidak pernah kubohongi. Hari ketika aku menunggu dua jam di bawah hujan itu, tidak ada yang menyuruhku datang.”
Aku menatapnya cukup lama.
Mungkin itu benar.
Mungkin juga tidak.
Dulu aku akan menghabiskan berhari-hari mencari jawabannya.
Sekarang tidak lagi.
Karena akhirnya aku mengerti bahwa pertanyaan terpenting bukan apakah Arjuna pernah mencintaiku.
Melainkan apakah aku masih mau mengorbankan diriku untuk cinta yang membuatku kehilangan hak menentukan hidup sendiri.
Aku keluar dari rumah sakit.
Matahari sore Jakarta menyentuh wajahku.
Tanganku mengusap perut yang mulai membesar.
Enam tahun lalu aku menikah karena mengira telah menemukan sebuah keluarga.
Enam tahun kemudian aku kehilangan pernikahan itu, tetapi justru menemukan sesuatu yang selama ini jauh lebih kubutuhkan.
Diriku sendiri.
Dan beberapa bulan setelahnya, ketika seorang bayi perempuan akhirnya menangis keras di ruang bersalin dan diletakkan di dadaku, aku memberinya nama Anugerah.
Bukan karena perusahaan milik keluarga Arjuna.
Bukan pula karena warisan bernilai miliaran rupiah.
Aku memilih nama itu karena setelah bertahun-tahun hidup di antara kebohongan, akhirnya aku memahami bahwa anugerah terbesar bukanlah memiliki seseorang yang berjanji akan menjaga kita.
Melainkan memiliki keberanian untuk menjaga diri sendiri ketika orang yang paling kita percaya ternyata tidak melakukannya.
