Ketika semua orang pergi, seekor anjing bernama Bimo memilih untuk tetap tinggal.
Tak seorang pun di Rumah Sakit Umum Cempaka, Jakarta, mengetahui namanya saat itu. Mereka hanya mengenalnya sebagai anjing kecil berbulu hitam kecokelatan yang sejak subuh berbaring di depan pintu IGD.
Tubuhnya kurus. Bulunya kusut dan berdebu. Di samping kaki depannya tergeletak sebuah tas ransel tua, jaket abu-abu yang sudah pudar, dan sepasang sepatu usang.
Barang-barang itu milik seorang pria bernama Harun.
Dan bagi Bimo, Harun adalah seluruh keluarganya.
Pagi itu Harun ditemukan tidak sadarkan diri di dekat halte setelah mengeluh sesak napas. Seorang pengemudi ojek daring memanggil ambulans. Ketika paramedis mengangkat tubuh Harun ke atas tandu, Bimo berlari mengejar.
Ia mengikuti ambulans sejauh yang ia mampu.
Entah bagaimana, hampir dua kilometer kemudian, anjing kecil itu muncul di depan IGD dengan napas terengah-engah.

Tetapi pintu otomatis sudah menelan Harun ke dalam.
Sejak saat itulah Bimo tidak bergerak.
Matahari naik semakin tinggi.
Orang-orang keluar masuk rumah sakit. Seorang petugas keamanan bernama Pak Darto beberapa kali memperhatikannya.
“Kasihan juga,” gumamnya.
Seorang perawat muda bernama Sinta keluar membawa semangkuk air.
Ia meletakkannya tidak jauh dari Bimo.
“Minum dulu, ya.”
Bimo memandangnya sebentar, kemudian kembali menatap pintu.
Sinta menghela napas.
“Dia nunggu siapa, Pak?”
“Katanya punya bapak yang dibawa masuk tadi pagi.”
“Sudah berapa lama?”
Pak Darto melihat jam.
“Hampir sembilan jam.”
Sinta terdiam.
Ia kembali masuk.
Menjelang sore, kabar tentang anjing yang menunggu di depan IGD mulai menyebar di antara staf rumah sakit.
Ada yang membawakannya roti.
Ada yang menawarkan makanan anjing.
Ada pula seorang pengunjung yang mencoba mengelus kepalanya.
Namun Bimo hanya bergeser sedikit ketika tangan asing mendekat.
Ia tidak agresif.
Ia hanya tidak tertarik pada apa pun selain pintu itu.
Setiap kali pintu otomatis terbuka, telinganya berdiri.
Dokter keluar.
Bukan Harun.
Perawat keluar.
Bukan Harun.
Keluarga pasien keluar sambil menangis.
Bukan Harun.
Bimo kembali menundukkan kepala.
Menjelang pukul enam sore, hujan mulai turun.
Pak Darto memindahkan tas dan jaket Harun ke bagian yang terlindung atap. Anehnya, baru kali itu Bimo berdiri.
Ia mengikuti barang-barang tersebut.
Pak Darto baru mengerti.
“Jadi dari tadi kamu bukan cuma nunggu orangnya.”
Bimo duduk tepat di sebelah tas itu.
“Kamu juga jagain barang-barangnya.”
Hujan semakin deras.
Kemudian, sekitar pukul tujuh malam, pintu IGD terbuka.
Seorang pria kurus berjalan perlahan keluar ditemani perawat.
Wajahnya pucat. Sebuah gelang pasien masih melingkar di pergelangan tangannya.
Bimo membeku.
Kepalanya terangkat.
Untuk beberapa detik ia hanya menatap.
Seolah-olah setelah menunggu begitu lama, ia takut matanya sedang menipunya.
Pria itu juga berhenti.
“Bimo?”
Hanya satu kata.
Namun kata itu seperti mengembalikan seluruh tenaga yang telah hilang dari tubuh kecil tersebut.
Bimo berlari.
Kakinya terpeleset di lantai yang basah, tetapi ia bangkit lagi. Ia menghantam kaki Harun, melompat, merengek, mengibas-ngibaskan ekornya begitu keras sampai seluruh bagian belakang tubuhnya ikut bergerak.
Harun jatuh berlutut.
“Bimo…”
Tangannya gemetar ketika memeluk anjing itu.
Bimo menjilati wajahnya tanpa henti.
“Aku di sini,” bisik Harun. “Aku nggak ke mana-mana.”
Beberapa perawat yang berdiri di dekat pintu terdiam.
Pak Darto bahkan berpaling sebentar untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Namun pertemuan itu ternyata bukan akhir cerita.
Justru dari situlah semuanya bermula.
Sinta mendekati Harun.
“Pak, dokter sebenarnya belum menyarankan Bapak pergi jauh. Bapak masih harus kontrol.”
Harun mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Bapak punya keluarga yang bisa dihubungi?”
Pertanyaan itu membuat senyum Harun menghilang.
Ia menatap Bimo.
“Nggak ada.”
“Saudara?”
Harun menggeleng.
“Sudah lama putus kontak.”
“Lalu malam ini Bapak mau ke mana?”
Harun tidak menjawab.
Sinta melihat tas tua di samping Bimo, lalu jaket dan sepatu yang sejak pagi dijaganya.
Saat itulah ia mengerti.
Harun tidak memiliki rumah.
Pria itu tinggal berpindah-pindah di emperan toko, halte, atau bangunan kosong. Selama hampir tiga tahun, satu-satunya makhluk yang selalu bersamanya adalah Bimo.
Malam itu hujan belum berhenti.
Pak Darto akhirnya mengizinkan Harun duduk sementara di pos keamanan.
Sinta membawakan nasi hangat.
Harun membagi lauk ayamnya menjadi dua.
Separuh ia letakkan di depan Bimo.
“Makan.”
Untuk pertama kalinya sepanjang hari, Bimo menyentuh makanan.
Ia makan dengan rakus.
Sinta yang melihatnya dari kejauhan tiba-tiba memahami sesuatu.
Anjing itu sebenarnya lapar.
Sangat lapar.
Namun selama Harun belum kembali, ia memilih menahan lapar.
“Sudah berapa lama Bapak punya dia?” tanya Sinta.
Harun tersenyum tipis.
“Tiga tahun.”
“Bapak beli?”
Harun tertawa kecil.
“Saya bahkan buat beli makan sendiri kadang nggak punya.”
Ia mengelus kepala Bimo.
“Saya nemuin dia di bawah jembatan.”
Tiga tahun sebelumnya, Harun sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Dulu ia bukan tunawisma.
Ia pernah bekerja sebagai teknisi listrik di sebuah pabrik di Bekasi. Ia mempunyai istri dan seorang anak perempuan bernama Nadia.
Namun dalam waktu kurang dari dua tahun, hidupnya runtuh.
Istrinya meninggal karena sakit.
Harun kehilangan pekerjaan beberapa bulan kemudian.
Utang menumpuk.
Rumah kontrakan tidak mampu ia bayar.
Yang paling menyakitkan, hubungannya dengan Nadia ikut hancur.
Saat itu Nadia masih kuliah.
Harun malu mengakui bahwa dirinya tidak lagi mampu membiayai kehidupan mereka.
Mereka bertengkar.
“Ayah selalu kabur kalau ada masalah!”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Nadia sebelum meninggalkannya.
Harun tidak pernah melupakannya.
Setelah itu ia berpindah-pindah tempat.
Sampai suatu malam ia menemukan seekor anak anjing kurus bersembunyi di bawah jembatan.
Kakinya terluka.
Harun hanya mempunyai satu bungkus nasi.
Ia membaginya menjadi dua.
Sejak malam itu, anak anjing tersebut mengikutinya.
Harun menamainya Bimo.
“Lucunya,” kata Harun kepada Sinta, “waktu semua orang merasa saya sudah nggak berguna, dia malah memilih ikut saya.”
Sinta tersenyum.
“Mungkin dia tahu sesuatu yang orang lain nggak tahu.”
Harun menatap Bimo lama.
Malam semakin larut.
Tiba-tiba Sinta teringat sesuatu.
Saat Harun pertama kali dibawa masuk, petugas administrasi menemukan dompet kecil di sakunya. Di dalamnya tidak ada uang, tetapi terdapat sebuah foto lama dan secarik kertas berisi nomor telepon.
Nomor itu sempat dihubungi pihak rumah sakit.
Tidak aktif.
Namun seorang petugas kemudian mencoba mencari kontak darurat berdasarkan data lama Harun.
Mereka menemukan sebuah nama.
Nadia Prameswari.
Anaknya.
Tanpa sepengetahuan Harun, rumah sakit sudah berhasil menghubunginya.
“Pak Harun.”
Suara seorang perempuan terdengar dari belakang.
Tubuh Harun langsung kaku.
Ia tidak berani menoleh.
Bimo lebih dulu berdiri.
Di ujung lorong berdiri seorang perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Rambutnya basah terkena hujan. Napasnya terengah-engah seolah ia baru berlari dari tempat parkir.
Matanya langsung tertuju kepada Harun.
“Ayah?”
Harun perlahan berdiri.
“Nadia?”
Tiga tahun.
Selama tiga tahun mereka tidak pernah bertemu.
Nadia berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah di depan ayahnya.
Matanya turun ke pakaian Harun yang lusuh, sandal tipisnya, kemudian kepada Bimo.
“Kenapa Ayah nggak pernah cari aku?”
Harun membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Aku kira Ayah benci sama aku.”
“Nggak.”
“Terus kenapa?”
Harun menunduk.
“Karena Ayah malu.”
Nadia menggigit bibirnya.
“Malu karena apa?”
“Karena Ayah gagal.”
Hening.
“Setelah ibumu pergi, Ayah pikir Ayah harus bisa beresin semuanya sendiri. Ternyata nggak bisa. Ayah kehilangan kerja. Kehilangan rumah. Ayah nggak punya apa-apa lagi.”
Harun mengusap wajah.
“Ayah takut kalau datang ke kamu, Ayah cuma bakal jadi beban.”
Air mata Nadia jatuh.
“Jadi Ayah memilih hilang?”
Harun tidak mampu menjawab.
Bimo berdiri di antara mereka.
Ia memandang Harun.
Lalu Nadia.
Kemudian melakukan sesuatu yang membuat Sinta dan Pak Darto saling menatap.
Bimo berjalan mendekati Nadia.
Ia mengendus tangannya.
Nadia membiarkannya.
Beberapa detik kemudian Bimo kembali ke Harun, menggigit pelan ujung celananya, lalu menariknya ke arah Nadia.
Harun hampir kehilangan keseimbangan.
“Bimo, jangan.”
Namun anjing itu menarik lagi.
Nadia tiba-tiba tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Kayaknya dia lebih pintar dari kita.”
Harun tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Nadia kemudian memeluk ayahnya.
Harun membeku.
Tangannya sempat menggantung di udara, seolah ia lupa bagaimana rasanya memeluk anak sendiri.
Kemudian ia membalas pelukan itu.
Tangisnya pecah.
“Maafin Ayah.”
Nadia menggeleng di bahunya.
“Pulang, Yah.”
Harun melepaskan pelukan.
“Pulang ke mana?”
“Ke rumahku.”
Harun menatap Bimo.
Nadia mengikuti pandangannya.
“Dia juga.”
Harun tampak ragu.
“Dia biasa tidur di luar.”
Nadia mengusap air matanya.
“Mulai malam ini nggak lagi.”
Tiga bulan kemudian, Sinta hampir tidak mengenali pria yang datang ke rumah sakit untuk kontrol.
Harun mengenakan kemeja bersih. Rambutnya sudah dipotong rapi. Tubuhnya mulai berisi.
Dan tentu saja Bimo datang bersamanya.
Ternyata Nadia membantu ayahnya mendapatkan pekerjaan sebagai teknisi pemeliharaan di sebuah gedung apartemen milik temannya.
Harun tidak kembali menjadi orang kaya.
Tidak pula hidup mewah.
Namun ia memiliki kamar.
Pekerjaan.
Keluarga.
Dan tempat untuk pulang.
Suatu sore, setelah pemeriksaan selesai, Harun membawa Bimo ke depan pintu IGD yang dulu menjadi tempat anjing itu menunggu selama berjam-jam.
Bimo berhenti.
Ia mengendus lantai.
Kemudian memandang pintu otomatis.
Harun jongkok di sampingnya.
“Kamu masih ingat?”
Bimo mengibas-ngibaskan ekornya.
Harun tersenyum dan mengusap kepalanya.
Namun sebelum mereka pergi, Pak Darto memanggil.
“Pak Harun!”
Ia datang membawa sesuatu.
Tas ransel tua yang dulu dijaga Bimo.
“Ketinggalan di gudang barang waktu itu.”
Harun tertawa.
“Wah, saya kira hilang.”
Ia membuka tas tersebut.
Di dalamnya hanya ada beberapa pakaian lama dan sebuah kotak kecil.
Harun mengernyit.
Ia tidak mengenali kotak itu.
Ketika dibuka, terdapat sebuah amplop.
Di bagian depan tertulis nama Harun.
Tulisan tangan Nadia.
Harun menatap putrinya yang kebetulan sedang menunggu di dekat mobil.
“Kamu taruh ini?”
Nadia menggeleng.
Harun membuka amplop.
Di dalamnya terdapat sebuah surat lama.
Tanggalnya hampir tiga tahun lalu.
Surat itu ternyata pernah dikirim Nadia ke alamat kontrakan terakhir ayahnya, tetapi tidak pernah sampai karena Harun sudah pergi.
Ayah,
Aku marah waktu itu, tapi bukan berarti aku ingin Ayah menghilang.
Aku tidak peduli Ayah punya uang atau tidak.
Kalau suatu hari Ayah membaca surat ini, pulanglah.
Aku masih menunggu.
Tangan Harun gemetar.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun ia mengira dirinya tidak mempunyai siapa-siapa.
Padahal putrinya juga menunggu.
Surat itu entah bagaimana terselip di antara barang-barang lamanya tanpa pernah ia buka.
Harun duduk di bangku depan rumah sakit.
Bimo meletakkan kepalanya di atas lututnya.
Nadia mendekat.
“Ayah kenapa?”
Harun menyerahkan surat itu.
Nadia membaca beberapa baris dan langsung terdiam.
“Aku kira surat ini nggak pernah sampai.”
Harun tertawa kecil sambil menangis.
“Ternyata sampai. Ayahnya aja yang nggak pernah lihat.”
Nadia duduk di sampingnya.
Bimo kini berada di antara mereka.
Harun menatap anjing kecil itu.
Tiba-tiba ia memahami sesuatu.
Selama ini ia mengira kisah terbesar hari itu adalah tentang seekor anjing yang menunggu tuannya di depan rumah sakit.
Ternyata bukan.
Kisah itu adalah tentang tiga makhluk yang sama-sama menunggu.
Bimo menunggu Harun di depan sebuah pintu.
Nadia menunggu ayahnya selama tiga tahun.
Dan Harun, tanpa menyadarinya, sebenarnya menunggu keberanian untuk percaya bahwa dirinya masih layak dicintai.
Bimo berdiri dan berjalan menuju Nadia.
Lalu ia menoleh kepada Harun, seolah meminta pria itu ikut.
Harun tersenyum.
“Iya, iya. Kita pulang.”
Kali ini ia tidak perlu bertanya pulang ke mana.
Sebab rumah ternyata bukan selalu tempat yang memiliki dinding dan atap.
Kadang rumah adalah seseorang yang tetap membuka pintu setelah kita terlalu lama menghilang.
Dan terkadang, dibutuhkan seekor anjing kecil yang menolak pergi untuk mengingatkan manusia bahwa kesetiaan bukan sekadar menunggu.
Kesetiaan adalah tetap percaya bahwa orang yang kita cintai suatu hari akan kembali.
