“Simpan air matamu, Sayang. Mulai besok, bukan kamu yang akan jadi buruh cuci, tapi kitalah yang akan membuat mereka berlutut mengemis untuk memungut sampah di istana kita.”
Yuni membeku.
Tangannya yang masih menggenggam kain basah perlahan turun. Matanya membesar menatapku, seolah sedang melihat orang lain di balik wajah kusut yang sejak siang tadi ia yakini sebagai suaminya yang kehilangan akal.
“Mas…?”
Aku tersenyum tipis.

Bukan tawa cekikikan yang sejak tadi kumainkan.
Aku berdiri tegak dari dipan bambu, lalu membuka dua kancing kemeja lusuhku. Dari saku bagian dalam yang sengaja kujahit sendiri, kukeluarkan sebuah ponsel tipis yang sejak tadi dalam keadaan merekam.
Yuni semakin pucat.
“Mas Aji sebenarnya…”
“Aku sehat.”
Bibir Yuni bergetar.
“Jadi semua ini cuma pura-pura?”
Aku mengangguk.
Beberapa detik ia hanya menatapku tanpa bicara. Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.
Plak!
Telapak tangannya mendarat keras di pipiku.
Aku terpaku.
Yuni menangis lebih deras.
“Mas jahat!”
Ia memukul dadaku berkali-kali.
“Aku pikir Mas benar-benar sakit! Aku pikir selama lima tahun Mas sendirian di negeri orang sampai kehilangan pikiran! Aku sudah mikir bagaimana caranya cari uang buat berobat. Aku bahkan rela jual cincin nikah kita!”
Aku menangkap kedua tangannya.
“Yun, maaf.”
“Kenapa Mas harus menguji aku? Apa selama ini aku belum cukup membuktikan kalau aku istri Mas?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
Aku datang dengan niat menguji semua orang, tetapi baru saat itu kusadari bahwa orang yang benar-benar tulus justru paling terluka karena ujian tersebut.
“Aku salah.”
Aku memeluknya.
Awalnya Yuni berusaha melepaskan diri, tetapi beberapa saat kemudian tangannya melingkar di pinggangku.
“Aku nggak butuh Mas kaya,” bisiknya. “Aku cuma butuh Mas pulang dengan selamat.”
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan di dadaku.
Selama lima tahun di Jerman, aku hidup dikelilingi angka, kontrak, investor, dan orang-orang yang tersenyum karena tahu berapa nilai perusahaan yang kubangun. Aku mulai sulit membedakan mana ketulusan dan mana kepentingan.
Ternyata jawabannya justru menungguku di sebuah rumah tua berdinding papan.
Malam itu aku menceritakan semuanya kepada Yuni.
Perusahaan teknologi yang kurintis bersama dua rekanku berkembang jauh melampaui perkiraan. Tiga bulan sebelumnya, sebuah perusahaan investasi Eropa membeli sebagian saham kami. Nilai saham milikku setelah transaksi itu mencapai lebih dari satu triliun rupiah.
Namun aku sengaja merahasiakannya.
Selama bertahun-tahun, setiap kali menelepon Ibu, pertanyaan pertama yang kudengar hampir selalu sama.
“Kapan kirim uang?”
Bagas bahkan pernah meminta mobil dengan alasan membutuhkan kendaraan untuk bekerja.
Aku mengabulkannya.
Rumah besar tempat Ibu tinggal juga kubeli dengan uangku, tetapi sertifikatnya tetap atas namaku.
Aku ingin pulang tanpa membawa simbol kekayaan apa pun untuk melihat bagaimana mereka memperlakukanku ketika mengira aku sudah tidak berguna.
Jawabannya ternyata lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.
“Terus sekarang Mas mau balas dendam?” tanya Yuni.
Aku terdiam.
“Bukankah tadi Mas bilang mau bikin mereka berlutut?”
Aku menatap lantai.
“Aku marah.”
“Marah boleh. Tapi jangan sampai uang membuat Mas berubah jadi orang yang sama seperti mereka.”
Aku menatap istriku lama.
Bahkan ketika punya alasan untuk membencinya, Yuni masih mengingatkanku agar tidak menjadi kejam.
Keesokan paginya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah tua itu.
Pak Damar, pengacaraku di Jakarta, turun mengenakan setelan rapi.
Ia hampir tertawa melihat penampilanku.
“Pak Aji benar-benar total.”
Yuni melirik tajam.
“Jangan dipuji, Pak. Saya masih marah.”
Pak Damar langsung menahan senyum.
Aku mandi dan mengganti pakaian. Kemeja putih sederhana, celana hitam, sepatu yang kubeli di Frankfurt sebelum pulang.
Tak ada jam tangan mewah.
Tak ada perhiasan.
Aku tidak membutuhkannya.
Sebelum berangkat, aku meminta Pak Damar melakukan satu hal.
Menghubungi notaris dan bank.
Siang itu kami kembali ke rumah Ibu.
Dari dalam terdengar suara tawa.
Bagas sedang duduk di teras bersama beberapa temannya.
Begitu melihatku turun dari mobil, wajahnya berubah.
“Mas?”
Ibu keluar beberapa detik kemudian.
Tatapannya berpindah dari wajahku ke mobil, lalu kepada Pak Damar.
“Aji?”
Aku berdiri di depan pagar.
Tidak masuk.
Ibu buru-buru mendekat.
“Kamu sudah sembuh?”
Aku tersenyum.
“Cepat sekali Ibu mengakui saya sebagai anak.”
Wajahnya langsung kaku.
Bagas berdiri.
“Mas, kemarin kami cuma panik.”
“Panik?”
Aku menatapnya.
“Kamu bilang tidak mau ketularan sial.”
Bagas kehilangan kata-kata.
Ibu segera menggenggam lenganku.
“Aji, dengarkan Ibu. Kemarin Ibu emosi. Namanya juga orang tua. Melihat anak pulang seperti itu siapa yang nggak syok?”
Aku melepaskan tangannya perlahan.
“Kalau saya benar-benar sakit jiwa, apakah Ibu akan menerima saya?”
Ibu diam.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Pak Damar kemudian maju membawa sebuah map.
“Maaf, Bu. Saya Damar, kuasa hukum Pak Aji.”
Wajah Bagas berubah pucat.
“Kuasa hukum?”
Pak Damar membuka dokumen.
“Rumah dan tanah ini tercatat secara sah sebagai milik Pak Aji Prasetya. Seluruh cicilan dan pembayaran pembelian juga berasal dari rekening beliau.”
Ibu mundur satu langkah.
“Apa maksudnya?”
“Aku tidak akan mengusir Ibu,” kataku.
Mata Ibu langsung berkaca-kaca.
“Tapi mulai hari ini, aku berhenti membiayai gaya hidup kalian.”
Bagas langsung menyela.
“Mas, jangan bercanda. Aku masih punya cicilan mobil.”
“Itu mobilmu. Cicilanmu. Bayar dengan uangmu.”
“Gajiku nggak cukup!”
“Kalau begitu jual.”
Bagas mengepalkan tangan.
“Mentang-mentang sekarang kaya!”
Aku menatapnya tenang.
“Lucu. Kemarin ketika kamu mengira aku miskin dan gila, aku dianggap pembawa sial. Sekarang setelah tahu aku punya uang, tiba-tiba aku kakakmu lagi.”
Teman-teman Bagas mulai meninggalkan teras satu per satu.
Mukanya merah menahan malu.
Ibu menangis.
“Aji, Ibu yang melahirkanmu.”
“Dan saya tetap akan memenuhi kewajiban saya sebagai anak. Biaya makan, kesehatan, dan kebutuhan pokok Ibu akan saya tanggung. Tapi tidak ada lagi uang untuk gengsi, arisan mewah, perhiasan, atau menutup utang Bagas.”
Aku menatap adikku.
“Kamu sehat. Kamu sudah dewasa. Mulai sekarang berdiri di kakimu sendiri.”
Bagas mendadak tertawa sinis.
“Jadi semua ini gara-gara perempuan itu?”
Ia menunjuk Yuni.
“Sejak nikah sama dia, Mas berubah!”
Aku belum sempat menjawab ketika Yuni maju.
“Jangan salahkan saya, Gas. Kalau kemarin kamu memilih memeluk kakakmu daripada menghinanya, hari ini tidak akan ada pembicaraan seperti ini.”
Bagas terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tak mampu membalas.
Aku kemudian meminta Pak Damar menyerahkan sebuah dokumen lain.
“Ini apa?” tanya Ibu.
“Surat izin tinggal sementara. Ibu boleh tetap tinggal di rumah ini seumur hidup selama rumah tidak dialihkan, disewakan, atau dijadikan jaminan utang.”
Ibu menatapku tak percaya.
“Jadi kamu benar-benar nggak mengusir Ibu?”
“Tidak.”
Air matanya mengalir.
“Tapi hubungan kita tidak akan kembali seperti dulu hanya karena Ibu menangis hari ini.”
Aku berbalik.
Namun sebelum mencapai mobil, suara Ibu menghentikanku.
“Aji!”
Aku menoleh.
Perempuan yang sejak kecil terlihat begitu kuat itu kini berdiri dengan bahu gemetar.
“Maafkan Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Belum.
Karena ada luka yang bisa dimaafkan, tetapi tidak harus dilupakan dalam satu hari.
Aku menggandeng tangan Yuni dan pergi.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata tidak.
Tiga hari kemudian, Pak Damar menelepon.
“Ada masalah, Pak.”
“Apa?”
“Rekening perusahaan lama milik Bapak di Indonesia pernah digunakan sebagai jaminan pinjaman.”
Aku langsung berdiri.
“Siapa yang melakukannya?”
“Dokumennya menggunakan tanda tangan Bapak.”
Darahku terasa dingin.
“Aku tidak pernah menandatangani pinjaman apa pun.”
“Itulah masalahnya.”
Sore itu kami memeriksa dokumen.
Nilainya hampir enam miliar rupiah.
Peminjamnya adalah perusahaan bernama BGS Mandiri Utama.
Direkturnya Bagas Prasetya.
Adikku sendiri.
Tanda tanganku dipalsukan.
Lebih buruk lagi, sebagian dokumen menggunakan salinan identitasku yang dulu pernah kukirim kepada Ibu untuk mengurus pembelian rumah.
Yuni menutup mulut.
“Mas…”
Aku tidak marah.
Anehnya, justru terasa sangat tenang.
“Laporkan.”
Yuni menatapku.
“Mas yakin?”
Aku mengangguk.
“Kalau aku terus menyelamatkannya dari setiap kesalahan, dia tidak akan pernah belajar bertanggung jawab.”
Malam itu Bagas menelepon puluhan kali.
Aku tidak menjawab.
Keesokan paginya ia datang ke rumah tua tempat kami tinggal.
Kali ini tidak ada lagi kesombongan.
Bagas jatuh berlutut di depan pintu.
“Mas, tolong.”
Aku menatapnya.
“Bangun.”
“Aku bisa masuk penjara.”
“Kenapa kamu memalsukan tanda tanganku?”
Bagas menangis.
Bisnisnya gagal. Ia terjebak utang karena ingin mempertahankan gaya hidup yang selama ini dibangun dengan uang kirimanku.
“Aku takut dianggap gagal.”
Aku tertawa getir.
“Jadi kamu memilih menjadi penipu supaya terlihat sukses?”
Bagas menunduk.
Yuni keluar membawa air putih.
Ia meletakkannya di depan Bagas.
Aku menatap adikku lama.
“Aku tidak akan mencabut laporan.”
Bagas menangis semakin keras.
“Tapi aku juga tidak akan meninggalkanmu.”
Ia mendongak.
“Kamu harus bertanggung jawab secara hukum. Setelah itu, kalau masih mau memperbaiki hidupmu, aku akan bantu mencarikan pekerjaan. Bukan memberimu uang.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Bagas menangis bukan karena kehilangan kenyamanan, tetapi karena benar-benar merasa malu.
Beberapa bulan berlalu.
Kasus tersebut akhirnya diselesaikan melalui proses hukum dan kesepakatan pertanggungjawaban yang panjang. Bagas menjual mobilnya dan hampir seluruh barang mewah miliknya untuk membayar sebagian kewajibannya.
Ibu juga berubah.
Ia tidak lagi aktif memamerkan kehidupan di media sosial. Beberapa kali ia datang menemui kami, bukan meminta uang, melainkan membawa sayur dari pasar atau makanan yang dimasaknya sendiri.
Hubungan kami belum sempurna.
Namun perlahan, kami belajar berbicara sebagai keluarga tanpa menjadikan uang sebagai bahasa utama.
Aku sendiri membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang.
Aku tidak pindah ke rumah mewah.
Aku justru merenovasi rumah tua peninggalan ayah Yuni.
Bukan menjadi istana, melainkan rumah sederhana dengan halaman luas.
Di sampingnya, kami membangun sebuah tempat usaha laundry.
Saat papan namanya dipasang, Yuni tertawa.
“Katanya aku nggak boleh jadi buruh cuci?”
Aku memeluk bahunya.
“Makanya sekarang kamu pemiliknya.”
Yuni mencubit pinggangku.
Laundry itu kemudian berkembang menjadi tempat kerja bagi belasan perempuan di desa.
Setahun setelah kepulanganku, pada suatu sore aku duduk bersama Yuni di teras.
Sebuah sepeda motor berhenti di depan pagar.
Bagas turun mengenakan seragam kerja sederhana.
Tubuhnya lebih kurus, kulitnya lebih gelap.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih hidup.
Ia menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
“Apa ini?”
“Cicilan utangku.”
Aku hendak menolak.
Bagas menggeleng.
“Terima, Mas. Aku ingin suatu hari nanti bisa bilang kalau hidupku dibangun dari uangku sendiri.”
Aku menerima amplop itu.
Kemudian Bagas mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kemeja tua penuh sobekan.
Kemeja yang kupakai ketika berpura-pura gila.
Aku tertegun.
“Kok ada sama kamu?”
Bagas tersenyum kecil.
“Aku ambil dari halaman waktu itu. Tadinya mau kubuang.”
“Terus?”
“Sekarang kusimpan.”
“Buat apa?”
Bagas menatap kemeja itu lama.
“Biar aku ingat pernah jadi manusia yang menilai kakakku sendiri dari pakaian yang dia kenakan.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Bagas kemudian memelukku.
Pelukan pertama kami setelah bertahun-tahun.
Malamnya, setelah semua orang pulang, Yuni menemukan aku masih duduk sendirian sambil memandangi kemeja lusuh itu.
Ia duduk di sampingku.
“Mas menyesal pura-pura gila waktu itu?”
Aku tersenyum tipis.
“Menyesal.”
Yuni menatapku heran.
“Kenapa?”
“Karena ternyata untuk mengetahui siapa yang benar-benar mencintaiku, aku hampir menyakiti orang yang paling tulus mencintaiku.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kalau bisa mengulang waktu, aku nggak akan menguji kamu.”
Yuni menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Bagus. Karena kalau Mas coba lagi, bukan cuma ditampar.”
Aku tertawa.
“Mau diapakan?”
“Rahasia.”
Kami tertawa bersama.
Aku pernah mengira kekayaan terbesarku adalah perusahaan bernilai triliunan, rekening bank, saham, dan rumah yang bisa kubeli kapan saja.
Ternyata aku salah.
Uang hanya menunjukkan berapa banyak yang bisa kubeli.
Kemiskinan yang kupura-purakan justru menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu siapa yang tetap tinggal ketika mereka mengira aku tidak punya apa-apa.
Dan malam itu, ketika Yuni tertidur di bahuku di teras rumah sederhana kami, aku akhirnya memahami satu hal.
Kesetiaan memang bisa diuji ketika seseorang kehilangan segalanya.
Tetapi cinta yang benar-benar tulus seharusnya tidak perlu diuji.
Ia hanya perlu dihargai sebelum terlambat.
