Ketukan itu terdengar lagi.
Tiga kali.
Lebih keras daripada sebelumnya.
Sari berdiri membeku di samping meja makan. Wajahnya yang tadi pucat kini benar-benar kehilangan warna. Flashdisk hitam masih berada di antara jemarinya, sementara suara lelaki dari ponsel sudah terputus.
Nayla berdiri di ambang pintu kamar.
“Ma… itu orang yang kemarin mengikuti kita.”
Kalimat itu membuat darah saya serasa berhenti mengalir.
Saya menoleh kepada Sari.
“Mereka sudah mengikuti kalian sebelumnya?”
Sari tidak sempat menjawab.
Gagang pintu depan bergerak perlahan dari luar.

Saya langsung mengambil ponsel dan menghubungi kepala keamanan perusahaan saya.
“Budi, kirim dua orang ke alamat yang saya bagikan sekarang. Jangan telepon saya. Langsung datang.”
Ketukan berhenti.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah menjauh.
Saya mendekati jendela dan mengintip melalui celah tirai.
Seorang pria berjaket hitam berjalan cepat menuju sepeda motor yang terparkir di ujung gang. Helmnya sudah terpasang. Saya hanya sempat melihat sebagian pelat nomor sebelum motor itu melaju.
“Nayla, masuk kamar dulu,” kata Sari.
“Tapi Mama…”
“Sekarang, Sayang.”
Nayla menurut.
Begitu pintu kamar tertutup, saya menatap Sari.
“Berikan flashdisk itu kepada saya.”
Dia justru menggenggamnya semakin erat.
“Kalau sesuatu terjadi kepada Nayla bagaimana?”
“Kalau kita menyerah sekarang, mereka tahu ancaman seperti ini berhasil.”
“Bapak bisa bicara begitu karena Bapak punya pengawal, uang, perusahaan. Saya cuma punya anak saya.”
Ucapan itu menghantam saya lebih keras daripada yang saya duga.
Dia benar.
Bagi saya, ini masalah perusahaan.
Bagi Sari, ini masalah apakah putrinya pulang sekolah dengan selamat besok.
Saya menarik kursi dan duduk.
“Saya tidak akan mengambil flashdisk itu tanpa izin Ibu. Tapi saya ingin tahu satu hal. Mengapa Ibu menyimpannya selama ini?”
Sari menatap pintu kamar Nayla.
“Karena dulu suami saya meminta saya melakukannya.”
Saya terdiam.
“Suami Ibu?”
“Dimas.”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Sari bergetar.
“Dia teknisi di salah satu gedung yang kami kelola. Tiga tahun lalu dia menemukan ada pekerjaan perawatan yang hanya dilakukan di atas kertas. Penggantian panel, pemeriksaan pompa, servis sistem kebakaran. Tagihannya dibayar, tapi sebagian pekerjaannya tidak pernah dilakukan.”
“Dia melapor?”
Sari mengangguk.
“Seminggu kemudian dia mengalami kecelakaan.”
Saya menahan napas.
“Kecelakaan apa?”
“Mobilnya ditabrak truk saat pulang kerja.”
Tatapan Sari kosong.
“Polisi bilang kecelakaan lalu lintas biasa. Saya juga percaya. Sampai beberapa bulan kemudian saya menemukan pesan Dimas di laptop lama kami.”
Dia membuka lemari dan mengeluarkan laptop yang casing-nya sudah retak.
Setelah beberapa menit, sebuah surel lama muncul.
Pesannya pendek.
Jika sesuatu terjadi padaku, jangan percaya laporan perusahaan. Periksa vendor yang rekeningnya berulang.
Saya membaca kalimat itu dua kali.
Tiba-tiba persoalan invoice fiktif terasa jauh lebih gelap.
Malam itu saya membawa Sari dan Nayla keluar dari kontrakan. Mereka menolak hotel mewah, jadi saya menempatkan mereka di apartemen perusahaan yang biasa digunakan karyawan dari luar kota. Dua petugas keamanan berjaga di lantai bawah.
Saya sendiri kembali ke kantor.
Pukul sebelas malam, lantai tiga puluh delapan sudah hampir kosong.
Saya memanggil Rendra, kepala audit internal yang sudah bekerja bersama saya selama dua belas tahun.
Kami membuka isi flashdisk menggunakan laptop yang tidak terhubung ke jaringan perusahaan.
Ada ratusan file.
Invoice.
Kontrak.
Foto ruang mesin.
Laporan pemeriksaan.
Rekaman percakapan.
Dan satu spreadsheet yang membuat Rendra berhenti bernapas beberapa detik.
“Pak… lihat ini.”
Selama empat tahun, perusahaan saya membayar miliaran rupiah untuk pekerjaan perawatan yang sebagian besar tidak pernah dilakukan.
Vendor-vendornya berbeda.
PT Bina Sarana.
Mitra Teknik Nusantara.
Cipta Fasilitas Indonesia.
Namun setelah ditelusuri, rekening pembayaran akhirnya bermuara pada jaringan perusahaan yang sama.
Di tengah dokumen itu muncul satu nama berulang kali.
Hendra Gunawan.
Direktur Operasional perusahaan saya.
Orang yang sudah bekerja bersama saya selama sebelas tahun.
Orang yang mengetahui jadwal saya.
Orang yang tahu gedung mana yang akan diperiksa.
Orang yang sore tadi berkata kepada petugas keamanan agar Nayla tidak perlu menemui saya.
Saya menutup laptop.
“Jangan hubungi siapa pun dari tim hukum internal.”
Rendra mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena kita belum tahu siapa lagi yang terlibat.”
Pagi berikutnya saya bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.
Rapat direksi dimulai pukul sembilan.
Hendra duduk tiga kursi dari saya sambil menyeruput kopi.
“Dompetnya sudah ketemu, Pak?” tanyanya santai.
Saya menatapnya.
“Sudah.”
“Anak kecil kemarin?”
“Iya.”
Dia tersenyum tipis.
“Untung saja. Jakarta makin aneh. Anak kecil bisa berdiri berjam-jam cuma untuk mengembalikan dompet.”
Saya tidak menjawab.
Selama rapat, saya memperhatikan tangannya.
Ketika pembahasan beralih pada anggaran pemeliharaan gedung tahun berikutnya, Hendra mengetukkan pulpen ke meja berkali-kali.
Saya mengenal kebiasaan itu.
Dia selalu melakukannya saat gugup.
Siang harinya, saya meminta firma audit independen memeriksa seluruh kontrak melalui jalur yang tidak diketahui tim operasional.
Tiga hari kemudian, hasil awal keluar.
Temuannya lebih buruk daripada dugaan kami.
Bukan hanya uang perusahaan yang dicuri.
Beberapa gedung ternyata memiliki sertifikat pemeriksaan keselamatan yang tidak sesuai kondisi aktual.
Salah satunya adalah pusat perbelanjaan yang setiap hari dikunjungi ribuan orang.
Sistem pompa kebakarannya tercatat sudah diganti enam bulan sebelumnya.
Faktanya, pompa itu masih unit lama yang sudah bermasalah.
Saya merasakan kemarahan yang berbeda.
Ini bukan lagi soal kerugian finansial.
Jika kebakaran terjadi, orang bisa kehilangan nyawa.
Saya menyerahkan dokumen kepada pengacara eksternal dan melaporkan temuan itu kepada pihak berwenang.
Namun malam sebelum pemeriksaan resmi dimulai, telepon saya berdering.
Sari.
“Nayla hilang.”
Saya berdiri begitu cepat sampai kursi di belakang saya jatuh.
“Apa maksud Ibu?”
“Dia pulang sekolah, tapi tidak sampai apartemen.”
Petugas keamanan menemukan tas sekolah Nayla di dekat gerbang belakang sekolah.
Saya merasa dada saya sesak.
Foto Alya di dompet mendadak terlintas dalam pikiran.
Tiga tahun saya membiarkan hubungan dengan putri saya hancur karena selalu merasa pekerjaan lebih penting.
Sekarang seorang ibu mungkin kehilangan anaknya karena masalah yang berasal dari perusahaan saya.
Kami memeriksa rekaman CCTV sekolah.
Pada pukul 14.17, Nayla terlihat berjalan menuju sebuah mobil abu-abu.
Namun dia tidak diseret.
Dia masuk sendiri.
Sari hampir roboh ketika melihat rekaman itu.
“Kenapa dia masuk?”
Saya memperbesar gambar.
Seorang perempuan turun dari mobil sebelum Nayla masuk.
Saya mengenalinya.
Maya.
Sekretaris Hendra.
Polisi segera melacak kendaraan itu.
Sementara itu, saya mencoba menelepon Hendra.
Tidak aktif.
Maya juga tidak bisa dihubungi.
Dua jam kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Sari.
Jangan laporkan siapa pun. Datang sendiri ke gudang lama di Pulogadung.
Sari langsung berdiri.
“Saya pergi.”
“Tidak.”
“Itu anak saya!”
“Kita akan pergi, tapi bukan mengikuti aturan mereka.”
Polisi sudah menerima lokasi tersebut.
Kami menuju Pulogadung dengan kendaraan terpisah.
Gudang itu berada di kawasan industri lama. Sebagian lampunya mati. Hujan kembali turun, hampir sama derasnya dengan sore ketika Nayla mengembalikan dompet saya.
Sari masuk lebih dulu sesuai instruksi.
Saya menunggu di mobil bersama petugas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian terdengar suara dari radio.
“Target terlihat.”
Kami masuk.
Yang saya lihat di dalam gudang sama sekali tidak seperti bayangan saya.
Nayla duduk di sebuah kursi.
Tidak terikat.
Tidak terluka.
Di sampingnya berdiri Maya sambil menangis.
Sementara Hendra berdiri beberapa meter dari mereka.
“Nayla!”
Sari berlari memeluk putrinya.
Hendra mundur ketika petugas masuk.
“Ini salah paham!” teriaknya.
Maya tiba-tiba menunjuk Hendra.
“Dia menyuruh saya membawa anak itu!”
“Bohong!”
“Dia bilang cuma untuk menakut-nakuti ibunya!”
Hendra mencoba menuju pintu belakang, tetapi dua petugas sudah menunggu.
Saat borgol dipasang di tangannya, dia menatap saya.
“Adrian, pikirkan reputasi perusahaan. Kalau semua ini keluar, saham kita bisa jatuh.”
Saya menatapnya lama.
Bahkan pada saat seperti itu, yang dia pikirkan masih angka.
“Kalau perusahaan hanya bisa bertahan dengan menyembunyikan kejahatan, perusahaan itu memang pantas kehilangan reputasinya.”
Namun kejutan terbesar belum datang.
Saat polisi memeriksa mobil Maya, mereka menemukan sebuah ponsel lama.
Ponsel milik Dimas.
Suami Sari.
Maya akhirnya mengaku bahwa selama bertahun-tahun ponsel itu disimpan Hendra karena berisi rekaman percakapan tentang manipulasi kontrak.
Dalam salah satu rekaman, terdengar suara Hendra memerintahkan seseorang untuk “memberi pelajaran” kepada Dimas agar berhenti menyelidiki vendor.
Tidak ada perintah eksplisit untuk mencelakainya.
Namun bukti itu cukup untuk membuka kembali penyelidikan kecelakaan tiga tahun lalu.
Beberapa minggu berikutnya menjadi periode paling kacau dalam sejarah perusahaan saya.
Audit menemukan jaringan manipulasi yang melibatkan beberapa pegawai dan vendor eksternal. Sejumlah kontrak dihentikan. Pemeriksaan keselamatan dilakukan ulang di seluruh gedung.
Saya juga mengumumkan temuan audit kepada pemegang saham dan karyawan.
Nilainya besar.
Reputasi kami terpukul.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya merasa perusahaan itu mulai dibersihkan dari sesuatu yang selama ini tumbuh diam-diam di bawah kaki kami.
Sari tidak menerima uang ketika saya menawarkan bantuan.
“Saya tidak mau dibayar karena memberikan bukti.”
“Ini bukan pembayaran.”
“Saya tetap tidak mau.”
Saya tersenyum.
“Kalau begitu saya punya tawaran lain.”
Saya memberikan sebuah map kepadanya.
Di dalamnya ada surat penawaran kerja.
Manajer Kepatuhan Operasional.
Sari membaca jabatan itu beberapa kali.
“Kenapa saya?”
“Karena ketika sistem meminta Ibu berbohong, Ibu kehilangan pekerjaan tetapi tetap tidak menandatangani laporan palsu.”
Dia menatap saya.
“Saya tidak punya gelar tinggi.”
“Saya punya banyak orang bergelar tinggi. Beberapa dari mereka justru alasan kita berada dalam masalah ini.”
Untuk pertama kalinya saya melihat Sari tertawa.
Enam bulan kemudian, keadaan berubah.
Sari memimpin tim kecil yang bertugas memeriksa langsung laporan operasional gedung.
Tunggakan kontrakannya sudah selesai dari gajinya sendiri.
Nayla pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan tempat kerja ibunya melalui program beasiswa perusahaan yang tidak dibuat khusus untuknya, tetapi dibuka bagi anak-anak karyawan yang memenuhi kriteria.
Suatu sore Nayla datang ke kantor.
Dia membawa sesuatu.
Dompet kulit cokelat saya.
“Pak Adrian masih pakai ini?”
“Masih.”
“Foto anak Bapak masih ada?”
Pertanyaan itu membuat saya diam.
Saya membuka dompet.
Foto Alya masih di sana.
Nayla menatapnya.
“Bapak kangen?”
Saya tersenyum tipis.
“Setiap hari.”
“Kalau begitu telepon.”
“Dia tidak pernah mengangkat.”
Nayla mengerutkan kening seperti saya baru mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.
“Kalau tidak diangkat, telepon lagi besok.”
Saya tertawa kecil.
Logika anak delapan tahun memang sederhana.
Malam itu saya menelepon Alya.
Tidak diangkat.
Besoknya saya menelepon lagi.
Tidak diangkat.
Hari ketiga saya hanya mengirim pesan.
Ayah tidak akan memaksamu menjawab. Ayah cuma ingin bilang bahwa selama ini Ayah terlalu sibuk membangun banyak gedung sampai lupa menjaga rumah sendiri. Maaf.
Dua hari tidak ada balasan.
Pada malam ketiga, ponsel saya berbunyi.
Satu pesan.
Aku belum siap pulang. Tapi kita bisa minum kopi hari Minggu.
Saya membaca pesan itu berulang kali.
Mata saya panas.
Hari Minggu saya tiba tiga puluh menit lebih awal.
Alya datang mengenakan kaus putih sederhana dan celana jeans.
Dia berhenti beberapa langkah dari meja.
Kami saling menatap seperti dua orang asing yang kebetulan memiliki terlalu banyak kenangan bersama.
“Hai, Yah.”
“Hai.”
Percakapan pertama kami terasa canggung.
Namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kami benar-benar berbicara.
Bukan sebagai direktur dan anak yang kecewa.
Hanya sebagai ayah dan putrinya.
Beberapa bulan kemudian, ketika kasus Hendra mulai masuk persidangan, saya menerima sebuah amplop kecil di kantor.
Pengirimnya Nayla.
Di dalamnya ada gambar buatan tangan.
Seorang anak perempuan memakai jaket hijau berdiri di tengah hujan sambil memegang dompet.
Di sampingnya ada seorang pria membawa payung.
Di bagian bawah gambar, Nayla menulis satu kalimat dengan pensil warna.
Kadang-kadang barang yang hilang harus ditemukan oleh orang lain supaya kita sadar apa yang sebenarnya sudah lama kita kehilangan.
Saya menyimpan gambar itu di meja kerja.
Bukan di laci.
Bukan di dalam map.
Tetapi tepat di samping foto Alya.
Sampai sekarang, orang-orang mengira Nayla mengubah hidup saya karena mengembalikan sebuah dompet berisi hampir sepuluh juta rupiah.
Mereka salah.
Uang di dalam dompet itu bahkan tidak penting.
Anak delapan tahun yang rela berdiri hampir dua jam di tengah hujan itu mengembalikan sesuatu yang jauh lebih mahal.
Dia mengembalikan keberanian seorang ibu yang pernah dibungkam.
Dia membantu membuka kebohongan yang hampir membahayakan ribuan orang.
Dan tanpa pernah menyadarinya, dia memaksa seorang ayah yang terlalu sibuk mengejar keberhasilan untuk melihat foto kecil di dalam dompetnya dan bertanya kepada dirinya sendiri mengapa orang yang paling dia cintai sudah tiga tahun tidak mau berbicara dengannya.
Hari itu Nayla memang menemukan dompet saya.
Tetapi pada akhirnya, sayalah yang ditemukan olehnya.
