Nama itu keluar dari bibir Surya Wijaya begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat istrinya yang baru saja tiba di tepi kolam membeku.
“Anindya…”
Ratna Wijaya menatap suaminya dengan wajah tegang.
“Apa yang kamu katakan?”
Surya tidak menjawab.
Matanya terpaku pada gelang perak di pergelangan tangan Ayu.
Gelang itu kusam dan sederhana. Sama sekali tidak cocok dengan kemewahan pesta malam itu. Namun Surya mengenali setiap lekuknya.
Dua puluh lima tahun lalu, dialah yang memesan gelang itu.
Huruf A.S.W. merupakan singkatan dari Anindya Sekar Wijaya.
Nama seorang bayi yang selama bertahun-tahun diyakininya telah meninggal.
Suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan.
Petugas medis segera mengambil alih. Setelah memberikan pertolongan darurat, mereka membawa Ayu menuju rumah sakit.
“Ayah, siapa Anindya?” tanya Celine dengan suara gemetar.

Surya berdiri tanpa menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Celine melihat ayahnya ketakutan.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Ketakutan.
“Ayah!”
Surya akhirnya menoleh.
“Kita ke rumah sakit.”
“Tapi pesta aku…”
Surya menatap putrinya tajam.
“Seorang perempuan hampir mati karena perbuatanmu, Celine. Dan kamu masih memikirkan pesta?”
Celine terdiam.
Semua tamu memandangnya.
Beberapa ponsel masih merekam.
Malam yang seharusnya menjadi pesta ulang tahun paling mewah dalam hidup Celine berubah menjadi mimpi buruk hanya dalam hitungan menit.
Di rumah sakit, Ayu berhasil diselamatkan.
Dokter mengatakan paru-parunya sempat kemasukan cukup banyak air, tetapi kondisinya sudah stabil.
Surya menunggu di depan ruang perawatan selama hampir dua jam.
Ratna duduk beberapa meter darinya dengan tangan terlipat.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya akhirnya.
Surya menunduk.
“Bukan sekarang.”
“Justru sekarang.”
Ratna berdiri.
“Siapa Anindya?”
Surya memejamkan mata.
Sebelum sempat menjawab, seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun berlari di lorong rumah sakit.
“Kak Ayu!”
Pemuda itu bernama Dimas.
Adik Ayu.
Ia terlihat panik dan langsung mendekati perawat.
“Saya keluarganya. Kakak saya bagaimana?”
Surya memperhatikan wajah pemuda itu.
Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Bentuk mata.
Garis rahang.
Bahkan cara Dimas mengernyitkan dahi mengingatkannya pada seseorang.
Seorang perempuan bernama Maya.
Perempuan yang pernah ia cintai sebelum menikah dengan Ratna.
Surya berdiri perlahan.
“Nama ibumu siapa?”
Dimas menoleh bingung.
“Bapak siapa?”
“Saya Surya Wijaya.”
Wajah Dimas berubah.
Ia langsung mundur selangkah.
Reaksi itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Surya mendekat.
“Kamu mengenal nama saya?”
Dimas tidak menjawab.
“Dimas.”
Suara Ayu terdengar lemah dari dalam ruang perawatan.
Semua orang menoleh.
Ayu sudah sadar.
Dimas segera masuk dan menggenggam tangan kakaknya.
Surya ikut mendekat, tetapi Ayu menatapnya dengan bingung.
“Pak Surya?”
Tatapan Surya turun ke gelang di tangannya.
“Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?”
Ayu melihat gelang tersebut.
“Dari ibu saya.”
“Namanya Maya?”
Ayu terdiam.
Dimas langsung memotong.
“Kak, jangan jawab.”
Surya merasa jantungnya semakin berdegup kencang.
“Jadi benar.”
Ayu menatap adiknya.
“Kamu tahu sesuatu?”
Dimas menunduk.
Ayu menatapnya semakin tajam.
“Dimas?”
Pemuda itu akhirnya mengeluarkan ponsel.
“Sebelum Ibu meninggal, Ibu kasih aku satu rekaman. Katanya jangan pernah tunjukkan ke Kak Ayu kecuali keluarga Wijaya menemukan Kakak lebih dulu.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Ratna masuk.
Wajahnya pucat.
“Rekaman apa?”
Dimas menatap perempuan itu lama.
“Sepertinya Ibu saya tahu hari ini akan datang.”
Ia membuka sebuah berkas video.
Seorang perempuan kurus berusia sekitar lima puluh tahun muncul di layar.
Maya.
Video itu tampaknya direkam beberapa minggu sebelum kematiannya.
“Ayu,” suara Maya terdengar pelan, “kalau kamu melihat rekaman ini, berarti rahasia yang Ibu simpan selama bertahun-tahun akhirnya terbuka.”
Ayu menutup mulutnya.
“Ibu minta maaf.”
Maya berhenti beberapa detik.
“Kamu bukan anak kandung Ibu.”
Ayu membeku.
Dimas menggenggam tangannya lebih erat.
“Kamu lahir dengan nama Anindya Sekar Wijaya.”
Celine yang berdiri di ambang pintu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan berpegangan pada dinding.
Surya menutup matanya.
Sedangkan Ratna terlihat seperti baru saja melihat hantu.
Video berlanjut.
“Dua puluh lima tahun lalu, Ibu bekerja sebagai perawat di sebuah klinik bersalin di Jakarta. Malam kamu lahir, terjadi kekacauan. Ada seseorang yang membayar pegawai klinik untuk mengatakan kepada ayahmu bahwa bayinya tidak selamat.”
Ayu mulai menangis.
“Kenapa?”
Suara Maya dalam rekaman bergetar.
“Karena kelahiranmu dianggap akan menghancurkan pernikahan dan masa depan keluarga Wijaya.”
Surya langsung menatap Ratna.
Ratna mundur.
“Jangan lihat aku seperti itu.”
Namun rekaman belum selesai.
“Ibu diperintahkan membawa bayi itu pergi. Awalnya Ibu diberi uang untuk menyerahkanmu kepada seseorang. Tapi ketika melihatmu menangis dalam pelukan Ibu, Ibu tidak sanggup. Ibu membawa kamu pulang dan membesarkanmu sebagai anak sendiri.”
Air mata Ayu jatuh tanpa suara.
“Siapa yang menyuruh Ibu?” bisiknya.
Maya seolah menjawab pertanyaan itu dari masa lalu.
“Orang itu bukan Ratna Wijaya.”
Semua orang terdiam.
Ratna menatap layar.
Surya mengernyit.
“Lalu siapa?”
Maya menarik napas panjang dalam rekaman.
“Orang itu adalah ayah Surya sendiri, Bapak Hartono Wijaya.”
Surya terduduk.
Hartono Wijaya telah meninggal sebelas tahun sebelumnya.
Selama hidupnya, ia dikenal sebagai pendiri kerajaan bisnis keluarga Wijaya dan sosok yang sangat menjaga nama besar keluarga.
Maya menjelaskan semuanya.
Dua puluh enam tahun lalu, Surya menjalin hubungan dengan Maya ketika keduanya masih muda. Namun Hartono menentang hubungan tersebut karena Maya berasal dari keluarga sederhana.
Surya kemudian dipaksa bertunangan dengan Ratna, putri seorang rekan bisnis penting.
Maya pergi tanpa memberi tahu bahwa dirinya hamil.
Beberapa bulan kemudian, Hartono mengetahui kehamilan itu.
Ia takut kelahiran seorang anak akan membuat Surya membatalkan pernikahan.
Maka ia mengatur semuanya.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui Hartono.
Maya tidak pernah menyerahkan bayi itu.
Ia membesarkannya sendiri.
Ayu.
“Jadi…” suara Ayu hampir tidak terdengar, “Ibu Maya sebenarnya ibu kandung saya?”
Surya menggeleng perlahan.
“Bukan.”
Ayu menatapnya.
Surya menelan ludah.
“Ibu kandungmu bernama Laras.”
Ruangan kembali sunyi.
Surya kemudian menceritakan bagian yang bahkan Maya tidak ketahui sepenuhnya.
Laras adalah perempuan yang dicintainya sebelum pernikahan dengan Ratna. Ketika mengetahui dirinya hamil, Laras pergi karena mendapat tekanan dari Hartono.
Setelah melahirkan, kondisinya memburuk dan ia meninggal beberapa hari kemudian.
Hartono lalu menyembunyikan keberadaan bayi itu dari Surya.
Surya diberi tahu bahwa Laras dan bayinya sama-sama meninggal.
Maya, yang saat itu bekerja di klinik, menyelamatkan bayi tersebut dan kemudian membesarkannya.
“Aku mencari kalian selama bertahun-tahun,” kata Surya.
Suaranya pecah.
“Tapi Ayahku sudah menghapus hampir semua jejak.”
Ayu memandang laki-laki di depannya.
Selama tiga bulan bekerja di rumah keluarga Wijaya, ia mengenal Surya hanya sebagai majikannya.
Laki-laki yang terkadang menyapanya saat sarapan.
Yang pernah memberinya bonus karena bekerja pada hari libur.
Yang beberapa kali mengatakan wajah Ayu terasa tidak asing.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa laki-laki itu mungkin ayah kandungnya.
Celine tiba-tiba tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Ia seperti tidak mampu menerima kenyataan.
“Jadi dia kakakku?”
Tidak ada yang menjawab.
Celine menatap Ayu.
Perempuan yang selama berbulan-bulan ia perintah mengambilkan kopi, membersihkan kamar, membawa pakaian ke laundry, bahkan beberapa jam lalu ia dorong ke kolam hanya untuk membuat teman-temannya tertawa.
Ternyata perempuan itu adalah saudara seayahnya.
Celine mulai menangis.
“Aku nggak tahu.”
Ayu menatapnya.
“Kalau saya bukan kakak kamu, apakah yang kamu lakukan tadi jadi boleh?”
Pertanyaan itu membuat Celine terdiam.
Ayu melanjutkan dengan suara lemah.
“Saya sudah bilang saya tidak bisa berenang.”
Celine menunduk.
Untuk pertama kalinya, tidak ada alasan yang bisa menyelamatkannya.
“Aku minta maaf.”
Ayu tidak menjawab.
Surya berdiri.
“Kita lakukan tes DNA.”
Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis antara Surya dan Ayu lebih dari 99,9 persen.
Ayu memang putrinya.
Namun kejutan terbesar justru datang setelah itu.
Pengacara keluarga Wijaya menemukan sebuah dokumen lama di brankas pribadi Hartono.
Dokumen itu merupakan lampiran wasiat yang selama bertahun-tahun tidak pernah dibuka karena disimpan atas nama seorang ahli waris yang dianggap telah meninggal.
Anindya Sekar Wijaya.
Hartono rupanya mengetahui bahwa cucunya masih hidup.
Bahkan bertahun-tahun sebelum meninggal, ia sudah mengetahui Maya membawa bayi tersebut pergi.
Namun ia tidak pernah memberitahu Surya.
Sebagai bentuk penyesalan, Hartono menyisihkan sebagian saham pribadinya untuk Anindya apabila suatu hari identitasnya terbukti.
Nilainya sangat besar.
Namun ketika pengacara menjelaskan angka tersebut, Ayu hanya diam.
“Aku tidak mengerti,” kata Surya. “Kamu tidak senang?”
Ayu tersenyum tipis.
“Saya tumbuh menghitung uang untuk bayar kontrakan, Pak. Tiba-tiba orang bilang saya punya saham miliaran. Saya bahkan belum tahu harus merasa apa.”
Surya menatapnya lama.
“Kamu tidak perlu memanggilku Pak.”
Ayu menunduk.
“Saya juga belum bisa memanggil Bapak dengan sebutan lain.”
Surya mengangguk.
Ia tidak memaksa.
Sebulan kemudian, Ayu memutuskan keluar dari rumah keluarga Wijaya.
Bukan karena membenci mereka.
Ia hanya membutuhkan jarak.
Ia tetap tinggal bersama Dimas di rumah sederhana mereka di Depok dan memilih menyelesaikan kehidupan yang sudah ia bangun sendiri.
Surya mulai datang setiap akhir pekan.
Kadang membawa makanan.
Kadang hanya duduk di teras.
Mereka perlahan belajar menjadi ayah dan anak tanpa berpura-pura bahwa dua puluh lima tahun yang hilang dapat diperbaiki dalam semalam.
Perubahan paling besar justru terjadi pada Celine.
Video ketika ia mendorong Ayu ke kolam tersebar di media sosial.
Nama keluarga Wijaya menjadi bahan pembicaraan.
Beberapa temannya menjauh.
Untuk pertama kalinya, Celine merasakan hidup tanpa perlindungan reputasi ayahnya.
Ia datang menemui Ayu tiga bulan kemudian.
Tanpa sopir.
Tanpa tas mahal.
Tanpa teman.
“Aku datang bukan untuk minta kamu melupakan semuanya,” katanya.
Ayu menatapnya.
“Lalu?”
“Aku cuma mau bilang sesuatu yang seharusnya aku pahami dari dulu.”
Celine menarik napas.
“Aku salah bukan karena ternyata kamu kakakku. Aku salah karena aku memperlakukan seseorang seperti dia lebih rendah hanya karena dia bekerja di rumahku.”
Ayu terdiam.
Itulah permintaan maaf pertama dari Celine yang tidak berisi alasan.
Ayu akhirnya mempersilahkannya masuk.
Mereka belum menjadi saudara yang akrab.
Belum.
Namun setidaknya hari itu mereka duduk di meja yang sama.
Beberapa bulan kemudian, Ayu menggunakan sebagian dividen saham peninggalan Hartono untuk mendirikan program beasiswa bagi anak-anak pekerja rumah tangga.
Surya bertanya mengapa ia memilih hal tersebut.
Ayu hanya tersenyum.
“Karena hidup saya berubah setelah orang mengetahui siapa ayah kandung saya.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi seharusnya seseorang tidak perlu menjadi anak miliarder dulu supaya pantas dihormati.”
Surya tidak mampu menjawab.
Di pergelangan tangan Ayu, gelang perak tua itu masih terpasang.
Ia tidak menggantinya dengan gelang emas atau berlian.
Baginya, tiga huruf kecil yang terukir di sana bukan lagi lambang keluarga kaya.
A.S.W.
Anindya Sekar Wijaya.
Itu adalah bukti bahwa identitas seseorang mungkin dapat disembunyikan selama puluhan tahun, tetapi nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh nama keluarga, pekerjaan, ataupun jumlah uang yang dimilikinya.
Dan ironisnya, rahasia terbesar keluarga Wijaya tidak terbongkar di ruang rapat, di kantor pengacara, atau di dalam brankas berisi dokumen bernilai miliaran.
Rahasia itu muncul dari dasar sebuah kolam renang.
Pada malam ketika seorang perempuan yang dianggap tidak penting hampir kehilangan nyawanya hanya karena seseorang yang merasa lebih tinggi darinya ingin tertawa.
