Pesawat ID-572 baru mengudara selama 27 menit ketika seorang anak kecil tiba-tiba memukul-mukul kaca jendela dan berteriak, “Ada orang di luar…”

“Ma… Raka melihatnya lagi.”

Suara bocah delapan tahun itu nyaris tenggelam di antara jeritan penumpang dan dentuman aneh dari atas kabin.

Maya menatap putranya dengan napas memburu.

“Melihat siapa, Nak?”

Raka tidak menjawab.

Telunjuknya yang gemetar perlahan terangkat, bukan menunjuk ke jendela seperti sebelumnya, melainkan ke arah langit-langit kabin.

Duk.

Duk.

Duk.

Suara itu berhenti tepat di atas baris 15.

Semua orang mendadak diam.

Keheningan yang muncul justru terasa jauh lebih menakutkan daripada jeritan beberapa detik sebelumnya.

Kemudian terdengar suara seperti kuku menggores permukaan logam.

Kreeeek…

Seorang perempuan di baris belakang langsung menangis.

“Ya Allah… itu apa?”

“Semua tetap duduk dan kenakan sabuk pengaman!” teriak Laras melalui pengeras suara. “Jangan meninggalkan kursi!”

Namun kepanikan sudah terlanjur menyebar.

Beberapa penumpang mengeluarkan ponsel. Ada yang merekam jendela, ada yang mencoba menghubungi keluarga meski tidak mendapatkan sinyal.

Di kokpit, situasinya bahkan lebih buruk.

“Transponder masih mati,” kata Arga.

Kapten Dimas menatap panel instrumen.

“Radio?”

“Frekuensi utama tidak merespons. Darurat juga cuma statis.”

“Navigasi?”

Arga menelan ludah.

“GPS kehilangan posisi.”

Dimas menoleh tajam.

Kehilangan transponder masih mungkin terjadi karena gangguan elektronik. Radio gagal masih bisa dijelaskan. Namun ketika beberapa sistem yang berdiri sendiri mengalami gangguan hampir bersamaan, kemungkinan yang mereka hadapi jauh lebih serius.

“Pertahankan heading. Jangan ubah apa pun tanpa instruksi saya.”

“Siap.”

Dimas mencoba radio sekali lagi.

“Jakarta Control, Batik lima tujuh dua, do you copy?”

Hanya suara desis.

Kemudian, di sela-sela statis, muncul sesuatu.

Suara anak kecil.

Sangat pelan.

“Kapten…”

Dimas dan Arga saling menatap.

“Kapten…”

Arga buru-buru mematikan radio.

Wajahnya pucat.

“Itu bukan dari ATC.”

Dimas tidak menjawab.

Karena ia mengenali suara itu.

Suara tersebut sangat mirip dengan suara Raka yang beberapa menit sebelumnya dilaporkan Laras melalui interkom.

Padahal Raka berada di kabin.

Pada saat bersamaan, Raka menutup kedua telinganya.

“Jangan dengarkan dia, Ma.”

Maya semakin panik.

“Siapa?”

“Orang di luar.”

Ardi yang sejak tadi berusaha terlihat tenang akhirnya memegang kedua bahu putranya.

“Raka, dengarkan Papa. Apa yang kamu lihat sebenarnya?”

Mata Raka berkaca-kaca.

“Dia bukan mau masuk.”

Ardi terdiam.

“Terus?”

Raka menunjuk ke depan pesawat.

“Dia mau kita lihat ke bawah.”

Belum sempat Ardi bertanya lagi, pesawat mendadak berguncang keras.

Gelas plastik beterbangan. Troli makanan menghantam kursi. Beberapa penumpang menjerit ketika pesawat miring beberapa derajat ke kiri.

Lampu sabuk pengaman menyala.

Di kokpit, alarm berbunyi.

“Kapten!”

Arga menunjuk indikator tekanan kabin.

Dimas segera memeriksa.

Tekanan masih normal.

Mesin normal.

Kecepatan normal.

Namun kompas magnetik menunjukkan arah berbeda hampir dua puluh derajat dari sistem navigasi inersial.

“Tidak mungkin,” gumam Arga.

Dimas melihat ke depan.

Awan tebal membentang seperti dinding kelabu.

Padahal berdasarkan laporan cuaca sebelum keberangkatan, jalur mereka seharusnya relatif bersih.

“Jangan masuk awan itu,” kata Dimas.

Ia mulai membelokkan pesawat.

Namun kontrol terasa berat.

Seolah pesawat sedang ditarik menuju kumpulan awan tersebut.

Dimas menambah tenaga.

“Arga, bantu saya.”

Keduanya menarik kendali.

Perlahan hidung pesawat bergerak.

Lalu kamera eksternal yang sejak tadi mati tiba-tiba menyala sendiri.

Monitor berkedip.

Gambar sayap kiri muncul.

Arga membeku.

“Pak…”

Di layar tidak ada manusia.

Tidak ada makhluk.

Yang terlihat adalah sepotong material hitam panjang tersangkut di dekat panel akses bagian bawah sayap.

Material itu berkibar hebat diterpa angin.

Dari sudut kamera tertentu, bentuknya memang menyerupai tubuh manusia yang sedang bergelantungan.

Dimas mengembuskan napas.

“Bukan orang.”

Tetapi kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena benda hitam tersebut tampak memiliki tulisan putih.

Arga memperbesar gambar.

Tulisan itu terbalik, tetapi masih bisa dibaca.

ID-572.

Dimas menatapnya lama.

“Itu bagian dari pesawat kita?”

“Sepertinya penutup panel.”

“Kalau panel terlepas, kenapa sistem tidak memberi peringatan?”

Arga tidak mampu menjawab.

Dimas segera meminta Laras memeriksa kondisi kabin bagian belakang dan meminta penumpang memperhatikan apakah ada suara atau getaran tidak biasa.

Ketika pesan itu disampaikan, Raka tiba-tiba berdiri.

“Bukan di belakang!”

Maya menarik tangannya.

“Raka, duduk!”

“Di bawah, Ma!”

Raka menunjuk lantai.

“Suara orangnya dari bawah!”

Ardi teringat sesuatu.

Sejak awal penerbangan, sebelum Raka melihat sosok di luar jendela, putranya beberapa kali mengatakan mendengar suara ketukan dari bawah kursinya.

Saat itu Ardi menganggapnya suara roda troli atau getaran pesawat.

Kini ia berjongkok.

Ia menempelkan telinganya ke lantai.

Tidak terdengar apa-apa.

Lalu…

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga ketukan.

Ardi membeku.

Ia membalas mengetuk lantai tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Beberapa detik kemudian terdengar jawaban.

Tok.

Tok.

Tok.

“Laras!”

Ardi berteriak begitu keras hingga pramugari itu berlari mendekat.

“Ada seseorang di bawah lantai!”

“Pak, di bawah kabin ada ruang kargo dan kompartemen sistem. Penumpang tidak mungkin berada di sana.”

“Coba dengar!”

Laras berjongkok.

Tok.

Tok.

Tok.

Wajahnya berubah.

Ia segera menghubungi kokpit.

Laporan itu membuat Dimas terdiam beberapa detik.

“Ruang kargo depan atau belakang?”

“Suara paling jelas sekitar baris lima belas sampai delapan belas.”

Dimas membuka diagram pesawat.

Di bawah area tersebut terdapat beberapa instalasi elektronik dan ruang kargo.

Kemudian sebuah kemungkinan mengerikan muncul.

“Arga, periksa log pintu sebelum keberangkatan.”

Arga membuka data sistem.

Beberapa detik kemudian ia mengernyit.

“Cargo door tercatat tertutup pukul 07.16.”

“Siapa yang melakukan pemeriksaan terakhir?”

“Ground engineer.”

“Nama?”

Arga membaca.

“Bima Santoso.”

Dimas langsung menoleh.

Ia mengenal nama itu.

Bima adalah teknisi senior yang pernah bekerja bersamanya beberapa kali.

Malam sebelumnya, Bima bahkan mengirim pesan kepada Dimas tentang anomali kecil pada sistem komunikasi ID-572 dan meminta pesawat menjalani pemeriksaan tambahan.

Namun menurut catatan operasional pagi itu, pemeriksaan tersebut dinyatakan selesai.

Dimas segera memahami sesuatu.

“Kalau ada orang terjebak di kompartemen avionik…”

Arga menyambung, “Dia bisa merusak atau memperbaiki sistem dari dalam.”

“Dan kalau dia masih hidup, berarti bagian itu bertekanan.”

Dimas mengaktifkan interkom.

“Laras, dengarkan baik-baik. Cari sesuatu untuk membuat pola ketukan. Tanyakan siapa pun di bawah sana apakah dia bisa mendengar.”

Laras mengambil gagang senter logam.

Ia mengetuk tiga kali, berhenti, lalu dua kali.

Jawaban datang.

Tiga kali.

Berhenti.

Dua kali.

Kabin mendadak sunyi.

Itu bukan suara benda lepas.

Ada manusia di bawah mereka.

Dengan instruksi dari kokpit, Laras menggunakan pola ketukan sederhana untuk berkomunikasi.

Satu ketukan berarti ya.

Dua berarti tidak.

“Apakah Anda awak pesawat?”

Tok.

Ya.

“Apakah pesawat dalam bahaya?”

Tok.

Seluruh kabin terasa membeku.

“Apakah Anda bisa memperbaikinya?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar dua ketukan.

Tidak.

Maya memeluk Raka semakin erat.

Kapten Dimas segera mengambil keputusan.

Mereka harus turun.

Tanpa GPS dan radio yang dapat dipercaya, ia menggunakan navigasi inersial, kompas cadangan, waktu penerbangan, serta perkiraan posisi terakhir sebelum sistem gagal.

“Turun ke dua puluh ribu kaki,” katanya.

“Terrain aman?”

“Kita masih di atas Laut Jawa. Kalau estimasi posisi kita benar, aman.”

“Kalau salah?”

Dimas menatap lurus.

“Makanya jangan sampai salah.”

Pesawat mulai turun.

Ketika ketinggian melewati sekitar tujuh ribu meter, radio mendadak mengeluarkan suara.

“ID-572… Jakarta Control…”

Arga hampir berteriak lega.

“Jakarta Control, ID-572, kami menerima!”

Suara terputus-putus.

“…radar contact lost… identifikasi posisi…”

Komunikasi kembali.

Transponder menyala.

Titik ID-572 muncul lagi di radar.

Namun masalah belum selesai.

ATC memberi tahu bahwa pesawat telah menyimpang hampir 80 kilometer dari jalur seharusnya.

Lebih mengejutkan lagi, radar primer sempat menangkap ID-572 terus terbang lurus selama tujuh belas menit, meskipun sistem di kokpit menunjukkan mereka telah melakukan dua kali perubahan arah.

Dimas langsung memahami.

Data navigasi mereka telah dimanipulasi.

Seseorang atau sesuatu di sistem avionik membuat instrumen memberikan informasi palsu.

ATC mengarahkan mereka menuju Bandara Internasional Yogyakarta sebagai pilihan pendaratan terdekat yang aman.

Saat ketinggian semakin rendah, gangguan listrik perlahan menghilang.

Suara benturan juga berhenti.

Raka akhirnya berani melihat keluar jendela.

“Orangnya sudah tidak ada, Ma.”

Maya mencium keningnya.

“Memang dari awal tidak ada orang, Nak. Mungkin cuma bagian pesawat.”

Raka menggeleng.

“Bukan yang itu.”

Maya menatapnya.

“Ada satu lagi.”

Pesawat mendarat dengan selamat kurang dari satu jam kemudian.

Begitu berhenti di apron yang telah dikelilingi petugas bandara, polisi, pemadam kebakaran, dan teknisi, seluruh penumpang dievakuasi.

Tim teknis segera membuka panel akses di bagian bawah badan pesawat.

Mereka menemukan seorang pria dalam kondisi lemas dan mengalami dehidrasi ringan.

Bima Santoso.

Teknisi yang tercatat melakukan pemeriksaan terakhir.

Ia masih hidup.

Setelah mendapat oksigen dan pertolongan medis, Bima memberikan penjelasan yang membuat semua orang terdiam.

Sekitar empat puluh menit sebelum keberangkatan, ia menemukan perangkat ilegal dipasang pada jalur komunikasi avionik.

Perangkat tersebut dirancang untuk mengganggu transponder, komunikasi, dan memberikan data navigasi palsu setelah pesawat mencapai ketinggian tertentu.

Bima mencoba melepasnya.

Namun seseorang memukulnya dari belakang.

Ketika sadar, ia sudah terkunci di kompartemen servis.

Ia mencoba memberi peringatan dengan memukul struktur pesawat.

“Kalau anak itu tidak mendengar ketukan saya,” katanya kepada polisi, “mungkin tidak ada yang tahu saya berada di sana.”

Penyelidikan kemudian menemukan bahwa perangkat tersebut bukan ditujukan untuk menjatuhkan pesawat.

Tujuannya adalah memaksa ID-572 keluar dari jalur komunikasi selama beberapa menit agar sebuah pengiriman ilegal yang menggunakan kode penerbangan palsu dapat melewati wilayah udara tertentu tanpa segera terdeteksi.

Pelaku ternyata bagian dari jaringan penyelundupan yang melibatkan seorang kontraktor teknis bandara.

Beberapa orang ditangkap dalam penyelidikan berikutnya.

Namun masih ada satu pertanyaan yang tidak pernah terjawab.

Siapa sosok yang dilihat Raka di luar jendela?

Teknisi memastikan panel hitam yang terlepas memang dapat terlihat seperti manusia dari sudut tertentu.

Semua orang menerima penjelasan itu.

Semua kecuali Raka.

Tiga hari kemudian, keluarga Ardi kembali ke Jakarta menggunakan kereta.

Raka tidak mau naik pesawat.

Malam itu, Maya sedang membongkar foto dan video dari ponselnya.

Ia menemukan sebuah video berdurasi sebelas detik yang direkam tanpa sengaja ketika kepanikan terjadi di kabin.

Gambarnya berguncang.

Terdengar orang berteriak.

Kemudian kamera sempat mengarah ke jendela kursi 15A.

Maya menghentikan video.

Memperbesar gambar.

Panel hitam memang terlihat berkibar di dekat badan pesawat.

Ia hampir tersenyum lega.

Sampai matanya melihat sesuatu di pantulan kaca.

Di belakang Raka, berdiri seorang pria mengenakan seragam teknisi bandara.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tangannya terangkat.

Telunjuknya menunjuk ke bawah.

Maya merasakan darahnya seperti berhenti mengalir.

Ia memutar video lagi.

Di detik berikutnya, sosok itu menghilang.

Maya segera memperlihatkannya kepada Ardi.

Mereka mengirim tangkapan layar tersebut kepada Bima.

Lima menit kemudian Bima menelepon.

Suaranya gemetar.

“Bu Maya… dari mana Ibu dapat foto ini?”

“Kenapa, Pak?”

Bima terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata,

“Orang itu namanya Pak Hendra.”

“Siapa?”

“Teknisi yang mengajari saya sejak pertama bekerja.”

Maya merasa tengkuknya dingin.

“Sekarang dia bekerja di mana?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Ketika Bima akhirnya berbicara, suaranya nyaris seperti bisikan.

“Pak Hendra meninggal tujuh tahun lalu.”

Maya perlahan menoleh ke kamar Raka.

Putranya sudah tertidur.

Di meja samping tempat tidur terdapat sebuah gambar yang dibuatnya sore tadi.

Sebuah pesawat.

Awan.

Dan seorang pria berdiri di sampingnya.

Di bawah gambar itu, Raka menulis dengan pensil warna biru.

Om itu tidak mau pesawatnya jatuh.

Maya berdiri lama di depan gambar tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian ID-572, ia tidak merasa takut.

Entah yang dilihat Raka benar-benar seseorang, pantulan cahaya, atau hanya cara pikiran seorang anak memahami situasi yang terlalu menakutkan baginya, Maya tidak pernah mencoba mencari jawabannya lagi.

Sebab satu hal sudah cukup baginya.

Di tengah 176 orang dewasa yang sibuk mencari penjelasan paling masuk akal, justru seorang anak kecil yang pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Dan karena seseorang akhirnya memilih untuk mempercayainya, 176 orang berhasil pulang ke rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang