SAYA MEMERGOKI IBU MERTUA DAN KERABATNYA MENGUASAI VILA WARISAN IBU SAYA DI BALI, MENGAMBIL LUKISAN BERHARGA, DAN DIAM-DIAM BERENCANA MENYEWAKANNYA!

Kirana menatap wajah Bu Ratna tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal perempuan itu delapan tahun lalu, ibu mertuanya terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.

“Siapa wanita itu?” Kirana mengulangi pertanyaannya. “Dan kenapa dia mengukur kamar tidur saya?”

Maya menggigit bibir. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar.

“Bu…” bisiknya.

“Diam!” bentak Bu Ratna.

Satu kata itu justru membuat Kirana semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.

Dari pengeras suara ponselnya terdengar petugas kepolisian meminta alamat lengkap. Kirana menyebutkan lokasi vila dengan tenang, lalu menjelaskan bahwa ia memiliki rekaman orang memasuki properti tanpa izin dan membawa sejumlah barang keluar.

Bu Ratna langsung berubah panik.

“Kirana, matikan telepon itu. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Sejak kapan?”

“Apa?”

“Sejak kapan Ibu menggunakan vila ini tanpa sepengetahuan saya?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Kirana beralih kepada Maya.

“Maya?”

Perempuan itu menatap ibunya, lalu Kirana.

“Sejak… sekitar enam bulan lalu.”

Dada Kirana terasa sesak.

Enam bulan.

Artinya selama setengah tahun, ketika ia sibuk bekerja di Jakarta dan hanya sesekali datang ke Bali, keluarga suaminya telah menggunakan rumah peninggalan ibunya sesuka hati.

“Untuk apa?”

Maya kembali terdiam.

Kirana mengangkat ponselnya.

“Saya bisa menunggu polisi datang.”

“Untuk disewakan!”

Suara Maya pecah.

Bu Ratna menoleh tajam.

“Maya!”

“Sudah, Bu! Aku tidak mau ikut terseret lebih jauh.”

Kirana merasa seolah lantai di bawah kakinya bergeser.

“Disewakan?”

Maya mengangguk perlahan.

“Awalnya cuma teman-teman Mama. Mereka mau liburan ke Bali dan hotel sedang mahal. Mama bilang vila ini kosong hampir sepanjang tahun.”

Bu Ratna segera menyela.

“Kami cuma membantu menjaga rumah!”

“Menjaga rumah dengan menyewakannya?”

“Kami tidak mengambil keuntungan sebesar yang kamu bayangkan.”

Jawaban itu membuat Kirana tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Justru karena akhirnya semuanya menjadi jelas.

Wanita yang datang membawa pita pengukur bukan tamu biasa.

“Kalian berencana menjadikan vila ini penginapan?”

Tidak ada jawaban.

Kirana membuka rekaman lain.

Ia memperhatikan wajah wanita yang sebelumnya berkeliling rumah bersama Bu Ratna. Kemudian ia teringat sesuatu.

Beberapa hari lalu, seorang rekan kerjanya pernah mengirimkan tautan vila di Sanur yang dianggap memiliki desain menarik.

Saat itu Kirana tidak sempat membukanya.

Ia mencari pesan tersebut.

Begitu foto pertama muncul, darahnya seperti berhenti mengalir.

Itu rumahnya.

Foto kolam renangnya.

Ruang makan ibunya.

Teras tempat ia biasa duduk bersama ibunya setiap sore.

Nama vila memang telah diganti, tetapi tidak ada keraguan sedikit pun.

Properti itu dipasarkan sebagai vila privat eksklusif dengan empat kamar tidur, kolam renang pribadi, taman tropis, dan koleksi seni autentik Bali.

Kirana membaca tarifnya.

Hampir tujuh juta rupiah per malam.

Sudah ada beberapa ulasan.

Artinya tempat itu bukan baru akan disewakan.

Vila itu sudah pernah disewakan.

Kirana menunjukkan layar kepada Bu Ratna.

“Berapa banyak uang yang sudah Ibu dapat?”

“Kirana, dengarkan dulu.”

“Berapa?”

Bu Ratna mengatupkan rahang.

“Uangnya dipakai untuk keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Nada suara Kirana tetap rendah, tetapi justru itulah yang membuat ruangan terasa semakin dingin.

Bu Ratna akhirnya kehilangan kesabaran.

“Rian tahu!”

Kirana terdiam.

Hanya dua kata.

Namun rasanya jauh lebih menyakitkan daripada semua barang yang hilang.

“Apa?”

“Suamimu tahu semuanya.”

Kirana memandang Maya.

Maya tidak membantah.

Saat itulah sebuah mobil memasuki halaman.

Kirana sempat berpikir polisi sudah datang, tetapi yang turun justru Rian.

Suaminya.

Pria itu berjalan cepat menuju pintu dengan wajah tegang.

“Kir!”

Kirana menatapnya.

Tidak ada kemarahan di wajahnya sekarang.

Hanya kekecewaan.

Dan Rian langsung tahu keadaan sudah jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

“Kamu tahu?”

Rian berhenti beberapa langkah darinya.

“Kirana, aku bisa jelaskan.”

Kalimat itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Kamu memberikan kode darurat kepada ibumu.”

“Aku cuma berpikir rumah ini kosong dan Mama kadang butuh tempat kalau ke Bali.”

“Kamu tahu mereka menyewakannya?”

Rian mengusap wajah.

“Awalnya tidak.”

“Lalu?”

“Setelah beberapa kali, aku tahu.”

Kirana mengangguk perlahan.

“Dan kamu membiarkannya.”

“Aku minta Mama berhenti.”

Bu Ratna mendengus.

“Jangan sekarang pura-pura suci. Kamu juga menerima uangnya.”

Kirana menoleh kepada suaminya.

Rian membeku.

“Apa maksudnya?”

“Kir, jangan dengarkan Mama.”

Namun Bu Ratna sudah terlanjur marah.

“Dua ratus juta yang kamu pakai untuk menutup utang investasi itu datang dari mana?”

Wajah Rian kehilangan warna.

Kirana merasa tubuhnya dingin.

Beberapa bulan terakhir Rian memang mengalami masalah dengan bisnis konsultasinya. Ia mengatakan telah menyelesaikannya dengan menjual sebagian investasi pribadi.

Ternyata tidak.

“Berapa banyak?”

Rian tidak menjawab.

“Berapa banyak uang dari vila ibu saya yang kamu ambil?”

“Sekitar dua ratus juta.”

Kirana menutup mata sesaat.

Ia tidak menangis.

Anehnya, justru pada saat itu pikirannya menjadi sangat jernih.

Ia membuka aplikasi keamanan dan mencabut seluruh akses digital kecuali miliknya sendiri.

Kemudian ia menghubungi manajer keamanan kompleks vila.

“Mulai malam ini, hanya nama saya yang boleh masuk. Tidak ada pengecualian.”

Rian mendekat.

“Kirana, jangan seperti ini. Kita suami istri.”

Kirana mundur satu langkah.

“Justru karena kita suami istri, kamu seharusnya menjadi orang terakhir yang mengkhianati kepercayaan saya.”

Tak lama kemudian polisi datang.

Kirana menyerahkan rekaman, riwayat akses, dan daftar barang yang ia ketahui telah hilang.

Ketika petugas menanyakan lukisan milik ibunya, Maya akhirnya menangis.

“Lukisannya tidak dijual.”

Kirana menatapnya tajam.

“Lalu di mana?”

Maya menunjuk Bu Ratna.

“Mama yang menyuruh aku membawanya.”

“Untuk apa?”

Bu Ratna duduk kembali di sofa.

Kesombongannya sudah lenyap.

“Lukisan itu dinilai mahal.”

“Siapa yang menilai?”

“Seorang kolektor.”

Kirana merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

“Di mana lukisan itu sekarang?”

Bu Ratna terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Di galeri milik teman Mama di Denpasar.”

Kirana pergi ke galeri itu keesokan paginya bersama petugas dan seorang pengacara lokal.

Lukisan tersebut masih ada.

Namun sesuatu yang tidak pernah ia duga muncul ketika pemilik galeri memperlihatkan dokumen penilaian.

“Bu Kirana tahu siapa pelukisnya?”

“Ibu saya.”

Pemilik galeri menatapnya heran.

“Nama lengkap beliau?”

“Sekar Ayuningtyas.”

Pria itu terdiam.

Kemudian ia membuka komputer dan menunjukkan arsip lama.

Sekar Ayuningtyas ternyata pernah mengikuti sejumlah pameran kecil pada akhir 1990-an sebelum berhenti melukis secara profesional setelah menikah.

Beberapa karyanya belakangan mulai dicari kolektor karena jumlahnya sangat sedikit.

Lukisan pantai yang hampir dibawa Bu Ratna untuk dijual diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah.

Namun bukan angka itu yang membuat Kirana menangis.

Di bagian belakang kanvas terdapat sebuah amplop tipis yang selama ini tersembunyi di balik lapisan pelindung bingkai.

Namanya tertulis di sana.

Untuk Kirana.

Tulisan tangan ibunya.

Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.

Surat tersebut ditulis sebelas tahun lalu, beberapa bulan sebelum ibunya meninggal.

Ibu menulis bahwa rumah itu bukan sekadar investasi.

Vila tersebut adalah tempat pertama yang dibelinya menggunakan uang hasil pekerjaannya sendiri.

Tempat ia belajar bahwa seorang perempuan harus memiliki ruang yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

Pada baris terakhir tertulis sesuatu yang membuat air mata Kirana akhirnya jatuh.

Kalau suatu hari rumah ini terasa terlalu sunyi, jangan buru-buru menjualnya. Isi kembali dengan sesuatu yang membuatmu merasa hidup. Rumah tidak selalu membutuhkan keluarga besar. Kadang rumah hanya membutuhkan orang-orang yang tahu cara menghargainya.

Kirana duduk lama di depan lukisan itu.

Selama bertahun-tahun ia mempertahankan vila tersebut karena merasa itulah caranya menjaga kenangan tentang ibunya.

Namun baru sekarang ia memahami pesan yang sebenarnya.

Warisan bukan benda yang harus disimpan mati-matian.

Warisan adalah sesuatu yang harus dijaga nilainya.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Kirana mengambil keputusan yang mengubah hidupnya.

Ia memproses persoalan penggunaan vila dan barang-barang yang hilang melalui jalur hukum serta menyerahkan seluruh bukti kepada pengacaranya.

Rian berkali-kali meminta kesempatan untuk memperbaiki pernikahan mereka.

Kirana tidak langsung menjawab.

Baginya, masalah terbesar bukan uang dua ratus juta rupiah.

Bukan pula vila yang disewakan tanpa izin.

Masalah sebenarnya adalah seseorang yang seharusnya melindungi batasnya justru memberikan kunci kepada orang lain untuk melewatinya.

Tiga bulan kemudian, Kirana kembali ke Sanur.

Namun vila itu terlihat berbeda.

Ruang tamu direnovasi tanpa menghilangkan desain asli ibunya.

Lukisan pantai tergantung di dinding utama, kali ini dilindungi kaca khusus.

Beberapa ruangan diubah menjadi studio kecil.

Kirana tidak menjual vila tersebut.

Ia juga tidak menjadikannya penginapan mewah.

Ia membuka program residensi kecil bagi arsitek muda dan seniman perempuan Indonesia yang membutuhkan tempat untuk mengembangkan karya.

Namanya Rumah Sekar.

Pada hari pembukaan, Kirana berdiri di taman sambil memandangi bunga-bunga yang kembali bermekaran.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari Rian.

Aku sudah menandatangani semua dokumen yang diminta pengacaramu. Aku tahu permintaan maaf tidak akan mengembalikan kepercayaanmu. Tapi aku benar-benar menyesal.

Kirana membaca pesan itu sekali.

Lalu mengunci layar.

Ia tidak merasa menang.

Tidak juga merasa perlu membalas dendam.

Ia hanya merasa bebas.

Seorang perempuan muda peserta residensi menghampirinya.

“Mbak Kirana, boleh saya tanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Kenapa namanya Rumah Sekar?”

Kirana menoleh ke arah lukisan ibunya.

“Karena tempat ini dibangun oleh seorang perempuan yang mengajarkan saya bahwa rumah bukan sekadar bangunan.”

Perempuan muda itu tersenyum.

Kirana melanjutkan dengan pelan.

“Rumah adalah batas. Siapa pun yang benar-benar menyayangi kita akan mengetuk pintunya, bukan mencuri kuncinya.”

Angin dari arah laut bergerak melewati taman.

Untuk sesaat, aroma bunga yang dulu ditanam ibunya memenuhi udara.

Kirana tersenyum.

Enam bulan lalu, orang-orang datang ke rumah itu karena mengira sebuah vila kosong adalah sesuatu yang bisa mereka kuasai.

Mereka mengambil gelas, lampu, lukisan, bahkan mencoba mengambil keuntungan dari setiap kamar di dalamnya.

Namun tanpa mereka sadari, tindakan itu justru membuat Kirana menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua benda yang hampir hilang.

Sebuah surat.

Sebuah keberanian.

Dan batas yang seharusnya sudah ia bangun sejak lama.

Di balik kaca ruang utama, lukisan pantai karya Sekar Ayuningtyas terkena cahaya matahari sore.

Pada sudut bawah kanvas terdapat tulisan kecil yang selama bertahun-tahun tidak pernah diperhatikan Kirana.

Ia baru menyadarinya setelah lukisan itu dikembalikan.

Untuk Kirana, agar suatu hari kamu selalu tahu jalan pulang.

Kirana menatap tulisan itu cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasa benar-benar sudah pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang