Rian tidak menjatuhkan gelas sampanye di tangannya.
Namun jemarinya mencengkeram batang gelas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Maya?”
Satu kata itu cukup membuat Clara menoleh.
Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya langsung menghilang.
Para tamu yang berdiri di sekitar panggung ikut mengikuti arah pandangan Rian. Dalam hitungan detik, perhatian seluruh ballroom beralih kepada perempuan sederhana yang berdiri sendirian di dekat pintu masuk.
Maya tidak bergerak.

Gaunnya bahkan jauh lebih sederhana dibandingkan pakaian para tamu malam itu. Tidak ada perhiasan mencolok di lehernya. Tidak ada tas bermerek yang sengaja dipamerkan.
Namun ketenangannya membuat ruangan terasa berbeda.
Direktur Keuangan mendekati Rian dan berbisik cepat.
“Pak, bukan cuma rekening penampungan. Fasilitas kredit untuk ekspansi Surabaya juga ditangguhkan. Arka meminta seluruh transaksi material dihentikan sampai audit selesai.”
“Telepon mereka.”
“Sudah.”
“Lalu?”
Direktur itu menelan ludah.
“Mereka bilang keputusan datang langsung dari pemegang kewenangan investasi keluarga Prasetya.”
Rian membeku.
Nama itu bukan nama asing.
Semua pengusaha besar di ruangan tersebut mengenal keluarga Prasetya.
Tetapi Rian tidak pernah menghubungkan nama itu dengan Maya.
Selama sembilan tahun, istrinya hanya memperkenalkan diri sebagai Maya.
Tidak pernah Maya Prasetya.
Rian meletakkan gelasnya.
“Apa hubunganmu dengan Arka?”
Maya tersenyum tipis.
“Lucu.”
“Apa?”
“Sembilan tahun menikah denganku dan itu pertanyaan pertama yang kamu ajukan setelah melihatku di sini.”
Wajah Rian menegang.
Clara buru-buru melepaskan tangan Rian dari pinggangnya.
“Rian, siapa dia?”
Maya memandang perempuan itu.
Kini giliran Maya yang terkejut.
Bukan karena kecantikan Clara.
Bukan pula karena gaun mahalnya.
Melainkan karena ekspresi Clara terlihat benar-benar kebingungan.
Rian cepat menyela.
“Clara, masuk ke ruang VIP dulu.”
“Tidak.”
Clara menatap Maya.
“Siapa Anda?”
Maya tidak menjawab langsung.
Dia justru menatap cincin berlian di jari manis Clara.
Cincin itu tampak sangat mirip dengan cincin yang pernah Rian tunjukkan kepadanya beberapa bulan lalu melalui foto, sambil berkata bahwa cincin tersebut adalah hadiah untuk seorang klien penting.
Maya hampir tertawa.
“Saya Maya,” katanya akhirnya.
“Istri sah Rian.”
Suara gaduh kecil langsung memenuhi ballroom.
Beberapa kamera wartawan terangkat.
Wajah Clara kehilangan warna.
Dia mundur selangkah.
“Tidak mungkin.”
Maya menatapnya tanpa kebencian.
“Kami menikah sembilan tahun lalu. Kami punya seorang putri berusia enam tahun.”
Clara menoleh tajam kepada Rian.
“Kamu bilang istrimu meninggal.”
Kalimat itu menghantam Maya lebih keras daripada yang dia duga.
Rian langsung berbisik, “Clara, dengarkan aku.”
Tetapi Clara sudah menjauh.
“Kamu bilang kamu duda.”
“Ini bukan tempatnya.”
“Dan kamu bilang Alya itu keponakanmu!”
Maya merasa darahnya membeku.
Jadi Clara tahu tentang Alya.
Hanya saja dengan kebohongan yang berbeda.
Maya akhirnya memahami betapa rumit jaring yang dibangun suaminya.
Rian bukan sekadar menyembunyikan Clara dari Maya.
Dia menciptakan dua kehidupan yang sama sekali berbeda.
Maya menarik napas.
“Anak laki-laki itu siapa?”
Clara refleks merangkul bahu bocah berusia delapan tahun di sampingnya.
“Dimas anak saya.”
“Anak Rian?”
Clara menggeleng cepat.
“Bukan. Ayah Dimas meninggal lima tahun lalu.”
Semua mata kembali tertuju kepada Rian.
Maya hampir tidak percaya.
Bahkan penghinaan yang dia lihat dari lantai bawah ternyata dibangun di atas kebohongan lain.
Rian menggertakkan gigi.
“Cukup!”
Suara kerasnya membuat ruangan terdiam.
Dia menatap para wartawan.
“Matikan kamera. Ini masalah keluarga.”
Tidak seorang pun bergerak.
Salah satu komisaris justru berjalan mendekati Maya.
Namanya Surya Halim, investor senior yang sejak awal membantu perusahaan Rian.
“Bu Maya,” katanya hati-hati, “apakah benar penghentian transaksi ini atas instruksi Anda?”
Rian langsung menoleh.
“Pak Surya, jangan ikut campur.”
Maya menjawab tenang.
“Bukan atas instruksi pribadi saya. Saya meminta Arka menjalankan hak yang sudah tercantum dalam perjanjian investasi.”
“Investasi apa?” bentak Rian.
Maya menatap suaminya.
“Dua putaran pendanaan yang menyelamatkan perusahaanmu enam tahun dan tiga tahun lalu.”
Wajah Rian berubah.
“Itu dana dari Northbridge Capital.”
“Northbridge merupakan kendaraan investasi yang dikelola Arka.”
Beberapa direktur saling berpandangan.
Maya melanjutkan.
“Gedung kantor pusatmu juga milik anak perusahaan Arka Property.”
Rian terdiam.
“Lini kredit yang kamu gunakan untuk ekspansi ke Surabaya dan Makassar dijamin aset Arka Infrastructure.”
“Tidak mungkin.”
“Kamu bisa membaca dokumennya sendiri.”
Rian tertawa pendek, tetapi suaranya terdengar gugup.
“Jadi selama ini kamu memata-mataiku?”
Maya menggeleng.
“Tidak. Justru aku terlalu lama memilih tidak melihat.”
Rian mendekat.
“Cabut perintah itu.”
“Tidak.”
“Maya.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun pernikahan, Maya melihat suaminya kehilangan kendali di depan banyak orang.
“Kamu tidak tahu akibatnya. Besok pagi saham perusahaan bisa jatuh. Investor bisa menarik diri. Ratusan karyawan bisa kehilangan pekerjaan!”
Maya tidak terpancing.
“Karena itu aku meminta audit, bukan membubarkan perusahaan.”
“Ini karena Clara?”
“Bukan.”
Jawaban Maya membuat Rian terdiam.
Maya mengeluarkan ponselnya.
“Ini karena tiga transfer senilai total dua puluh tujuh miliar rupiah dari rekening anak perusahaan ke perusahaan bernama Cendana Advisory selama delapan belas bulan terakhir.”
Direktur Keuangan langsung menoleh.
“Bagaimana Ibu tahu?”
“Tim audit menemukan anomali itu sembilan menit lalu.”
Rian terlihat pucat.
Clara memandangnya.
“Apa itu Cendana Advisory?”
Rian tidak menjawab.
Maya memperhatikan perubahan wajah suaminya.
Saat itulah dia sadar perselingkuhan mungkin bukan masalah terbesar malam ini.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Rendy masuk.
Jangan tinggalkan hotel. Ada sesuatu yang lebih besar. Aku naik.
Tiga menit kemudian, pintu ballroom terbuka.
Rendy Prasetya masuk bersama dua orang anggota tim legal Arka Holding.
Rian mengenal wajah Rendy.
Mereka pernah bertemu dalam dua rapat investasi, tetapi Rendy selalu diperkenalkan sebagai perwakilan pemegang dana.
Rendy berjalan lurus kepada Maya.
“Kamu baik-baik saja?”
Maya mengangguk.
Rendy kemudian memandang Rian.
“Pak Rian.”
Nada suaranya berubah menjadi formal.
“Mulai malam ini, sesuai klausul perlindungan investasi, audit forensik akan dilakukan terhadap seluruh transaksi afiliasi selama tiga tahun terakhir.”
Rian mencoba tersenyum.
“Pak Rendy, saya yakin ini hanya kesalahpahaman keluarga.”
“Bukan lagi.”
Rendy menyerahkan sebuah tablet kepada Maya.
“Lihat pemilik Cendana Advisory.”
Maya membaca nama di layar.
Siska Permatasari.
Maya perlahan mengangkat wajah.
“Siska?”
Rian langsung pucat.
Pada saat yang sama, keributan terdengar dari pintu ballroom.
Siska baru saja tiba.
Sepertinya dia naik setelah menyadari situasi di lantai bawah berubah kacau.
Begitu melihat Rendy dan tim legal, langkahnya berhenti.
Maya menatapnya.
“Kamu pemilik Cendana Advisory?”
Siska tidak menjawab.
Rian langsung memotong.
“Perusahaan itu vendor konsultan.”
Rendy tersenyum dingin.
“Vendor yang alamat kantornya sebuah apartemen milik Anda?”
Ruangan kembali gaduh.
“Dan yang menarik,” lanjut Rendy, “tujuh belas miliar dari dana yang diterima Cendana dipindahkan lagi ke rekening pribadi atas nama Siska.”
Clara menutup mulutnya.
Maya memandang Rian.
Kini semua potongan mulai tersusun.
Clara bukan satu-satunya perempuan.
Mungkin bahkan bukan perempuan yang sebenarnya harus dia curigai.
Siska tiba-tiba berbalik hendak pergi.
“Berhenti.”
Suara Maya membuatnya membeku.
Siska menoleh.
Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya hilang.
“Kamu menikmati mempermalukanku di bawah tadi,” kata Maya. “Sekarang jelaskan. Untuk apa uang itu?”
Siska tertawa gugup.
“Tanya suami Anda.”
Rian membentak.
“Siska!”
Namun perempuan itu justru menatapnya dengan mata merah.
“Kenapa? Sekarang kamu takut?”
Rian bergerak maju, tetapi dua petugas keamanan hotel segera berdiri di antara mereka.
Siska mengambil ponselnya.
“Dia menyuruh saya membuat perusahaan itu.”
“Bohong!”
“Semua instruksi ada di sini.”
Siska mengangkat ponselnya.
“Transfer, percakapan, dokumen. Semuanya.”
Maya terdiam.
“Tapi kenapa uangnya masuk ke rekeningmu?”
Siska menatap Rian lama.
“Karena dia berjanji menikahi saya setelah menceraikan Anda.”
Clara mengeluarkan suara kecil seperti tercekat.
Rian menutup mata.
Dalam satu malam, tiga perempuan menyadari bahwa mereka hidup di dalam tiga versi kebohongan lelaki yang sama.
Clara tiba-tiba melepaskan cincin dari jarinya.
Dia meletakkannya di meja.
“Jadi aku bukan satu-satunya.”
Siska tertawa getir.
“Kamu pikir kamu istimewa?”
Clara menamparnya.
“Jangan salahkan saya atas kebohongan dia.”
Dimas mulai menangis.
Clara segera berlutut dan memeluk putranya.
Melihat itu, amarah Maya mendadak mereda.
Dia teringat Alya di lantai bawah.
Anak-anak mereka tidak seharusnya membayar kesalahan orang dewasa.
Maya mendekati Clara.
“Bawa Dimas pulang.”
Clara mendongak dengan mata basah.
“Kenapa Anda tidak marah kepada saya?”
“Saya marah. Tapi bukan kepada orang yang dibohongi dengan cerita bahwa saya sudah meninggal.”
Clara menangis.
“Saya benar-benar tidak tahu.”
“Aku percaya.”
Rian memandang Maya seolah tidak mengenal perempuan di depannya.
“Maya, kita bisa menyelesaikan ini di rumah.”
Maya menatapnya.
“Rumah?”
Rian mengangguk cepat.
“Demi Alya.”
Nama putri mereka membuat wajah Maya berubah.
“Jangan gunakan nama Alya untuk menyelamatkan dirimu.”
“Maya…”
“Dia datang malam ini membawa gelang yang dibuatnya sendiri.”
Rian terdiam.
“Dia menunggu seharian karena ingin melihat papanya memakai gelang itu di panggung.”
Maya menahan air mata.
“Lalu di bawah, sekretarismu mengatakan di depan anak enam tahun bahwa papanya datang bersama keluarga yang lain.”
Rian menunduk.
“Di mana Alya?”
“Aman.”
“Aku mau melihatnya.”
“Tidak malam ini.”
“Maya, aku ayahnya.”
“Dan justru karena kamu ayahnya, kamu seharusnya berpikir sebelum membuat dia merasa dirinya bukan keluarga.”
Tidak ada seorang pun di ruangan itu berbicara.
Rendy mendekati Maya.
“Polisi belum dilibatkan. Tim hukum menyarankan seluruh bukti transaksi diamankan lebih dulu.”
Maya mengangguk.
“Aku tidak ingin perusahaan hancur.”
Rian menatapnya dengan harapan.
Namun Maya melanjutkan.
“Perusahaan itu memberi makan ratusan keluarga. Kesalahan Rian bukan alasan mereka kehilangan pekerjaan.”
Harapan di wajah Rian hilang.
“Jadi audit tetap berjalan. Kalau ditemukan pelanggaran, serahkan semuanya sesuai prosedur hukum.”
Rendy mengangguk.
Rian menatap Maya tidak percaya.
“Kamu benar-benar mau menghancurkanku?”
Maya menggeleng.
“Tidak, Rian.”
Dia mendekat beberapa langkah.
“Kamu menghancurkan dirimu sendiri. Aku hanya berhenti melindungimu dari akibatnya.”
Malam itu gala berakhir lebih cepat.
Maya turun ke lantai bawah.
Begitu pintu ruang bermain terbuka, Alya berlari memeluknya.
“Ibu!”
Maya berlutut dan memeluk putrinya erat.
Alya melepas earphone.
“Papa sudah selesai kerja?”
Maya menahan napas.
Belum saatnya seorang anak enam tahun mengetahui seluruh kebenaran.
“Papa masih punya urusan yang harus diselesaikan.”
Alya melihat kotak karton di tangannya.
“Gelangnya belum aku kasih.”
Maya tersenyum tipis.
“Kita simpan dulu.”
“Tapi aku bikin buat Papa.”
Maya mengusap rambutnya.
“Kalau begitu, nanti kamu sendiri yang memutuskan kapan mau memberikannya.”
Enam bulan kemudian, audit selesai.
Rian diberhentikan dari posisi direktur utama setelah penyelidikan internal menemukan serangkaian transaksi yang melanggar tata kelola perusahaan. Kasus terkait aliran dana Cendana Advisory diserahkan kepada pihak berwenang untuk diproses sesuai hukum.
Maya mengajukan perceraian.
Dia tidak mengambil alih perusahaan Rian.
Sebaliknya, Arka Holding menunjuk manajemen profesional baru agar perusahaan tetap berjalan dan para karyawan tidak kehilangan mata pencaharian akibat kesalahan satu orang.
Clara tidak pernah kembali kepada Rian.
Siska menjadi saksi penting dalam penyelidikan setelah menyerahkan seluruh percakapan dan dokumen yang disimpannya.
Namun kejutan terbesar justru datang pada suatu sore ketika Rendy menyerahkan sebuah amplop kepada Maya.
“Ada sesuatu yang perlu kamu tahu.”
Maya membuka dokumen di dalamnya.
Itu salinan perjanjian investasi pertama Arka Holding ke perusahaan Rian, enam tahun lalu.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah catatan persetujuan tulisan tangan.
Maya mengenali tulisan itu.
Tulisan ayahnya.
Jangan beritahu Maya. Dia ingin suaminya berhasil dengan usahanya sendiri. Pastikan perusahaan ini mendapat kesempatan, tetapi jangan pernah mengambil harga dirinya.
Mata Maya memanas.
Selama bertahun-tahun dia mengira keluarganya diam-diam membantu Rian karena ingin melindunginya.
Ternyata bukan itu seluruh alasannya.
Ayahnya sedang melindungi pilihan hidup Maya.
Bukan dengan mengendalikan.
Bukan dengan melarang.
Melainkan dengan berdiri cukup jauh agar putrinya bisa menjalani keputusan sendiri dan cukup dekat untuk menangkapnya jika suatu hari dia jatuh.
Malam itu Maya pulang dan menemukan Alya sedang duduk di meja belajar.
Kotak gelang itu masih tersimpan di sana.
“Ibu.”
“Ya?”
“Kalau seseorang berbuat salah, apa kita harus berhenti sayang sama dia?”
Maya terdiam cukup lama.
Kemudian dia duduk di sebelah putrinya.
“Tidak selalu.”
“Jadi Alya masih boleh sayang Papa?”
Maya menelan rasa sakit di tenggorokannya.
“Tentu.”
“Walaupun Papa bikin Ibu sedih?”
Maya mengangguk.
“Kamu boleh menyayangi Papa. Tapi kamu juga harus belajar bahwa menyayangi seseorang bukan berarti membiarkan dia menyakiti kita.”
Alya memandang gelang itu, kemudian memasukkannya kembali ke kotak.
“Kalau begitu aku simpan dulu sampai Papa jadi lebih baik.”
Maya tersenyum sambil memeluknya.
Saat itulah Maya akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dia pelajari selama sembilan tahun pernikahan.
Kekuatan bukan tentang seberapa banyak uang yang dimiliki keluarganya.
Bukan tentang berapa banyak perusahaan yang bisa dibekukan dalam satu telepon.
Kekuatan adalah keberanian untuk berhenti mempertahankan sesuatu hanya karena kita pernah sangat mencintainya.
Dan terkadang, kejutan terbesar dalam hidup bukanlah menemukan siapa yang telah mengkhianati kita.
Melainkan menemukan bahwa setelah semuanya runtuh, kita ternyata masih mampu berdiri dengan kaki sendiri.
