Bu Nur menatap putranya cukup lama sebelum akhirnya berbalik ke arah Rina.
Ada sesuatu dalam tatapan perempuan berusia enam puluh dua tahun itu yang membuat Rina sadar bahwa persoalan malam itu jauh lebih besar daripada perselingkuhan Danu.
“Rina,” katanya pelan. “Maafkan Ibu karena baru mengatakan ini sekarang.”
Danu mengernyit.
“Mengatakan apa?”

Bu Nur berjalan menuju lemari kecil di samping ruang makan. Dari laci paling bawah, ia mengambil sebuah map cokelat yang tampaknya sudah disiapkan sebelumnya.
Danu langsung terlihat gelisah.
“Ibu, jangan membuat masalah ini semakin besar.”
“Yang membuatnya besar adalah kamu sendiri.”
Bu Nur membuka map itu.
“Rumah ini memang atas nama Ibu. Tapi itu bukan rahasia yang sebenarnya.”
Semua tamu terdiam.
Rina bahkan bisa mendengar detik jam dinding.
Bu Nur mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan meletakkannya di meja, tepat di samping kue yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan malam itu.
“Delapan tahun lalu, ketika perusahaan tempatmu bekerja hampir memecatmu karena restrukturisasi, siapa yang membantumu?”
Danu menghela napas kesal.
“Kenapa membicarakan itu sekarang?”
“Jawab.”
“Ayah.”
Bu Nur menggeleng.
“Bukan.”
Danu menatap ibunya.
Bu Nur kemudian menunjuk Rina.
“Istrimu.”
Rina sendiri terkejut.
Danu tertawa pendek.
“Rina bahkan sudah berhenti bekerja waktu itu.”
“Justru karena kamu tidak pernah tahu apa yang dia lakukan.”
Bu Nur mengambil satu dokumen.
Delapan tahun sebelumnya, perusahaan Danu memang mengalami restrukturisasi besar. Posisi Danu saat itu terancam karena divisinya dianggap tidak menghasilkan performa yang cukup baik.
Pada waktu bersamaan, perusahaan membutuhkan kampanye pemasaran untuk mempertahankan salah satu klien terbesar mereka.
Rina, yang sebelumnya bekerja sebagai copywriter senior di sebuah agensi periklanan, mengetahui masalah tersebut dari suaminya.
Diam-diam, Rina menghubungi mantan atasannya.
Ia membantu menyusun konsep kampanye tanpa mencantumkan namanya.
Konsep itu berhasil.
Klien bertahan.
Divisi Danu selamat.
Dan beberapa bulan kemudian, justru Danu yang mendapat promosi.
“Itu cuma satu proyek,” kata Danu.
“Benar,” jawab Bu Nur. “Lalu bagaimana dengan uang dua ratus delapan puluh juta rupiah yang kamu gunakan sebagai modal investasi pertamamu?”
Danu mendadak diam.
Rina menatap ibu mertuanya.
Ia tahu uang itu.
Tetapi Danu selama ini mengatakan bahwa uang tersebut berasal dari pinjaman keluarga.
Bu Nur kembali menggeleng.
“Bukan uang Ibu. Bukan uang almarhum ayahmu.”
Ia mengeluarkan bukti transfer lama.
“Tabungan Rina.”
Wajah Danu berubah.
Rina merasa dadanya sesak.
Bukan karena kehilangan uang itu. Ia memang pernah memberikan tabungannya kepada Danu.
Yang membuatnya terpukul adalah kenyataan bahwa selama bertahun-tahun Danu menceritakan kepada orang lain seolah keberhasilannya dibangun sendirian.
Siska mulai melepaskan genggamannya dari tangan Danu.
“Dan,” bisiknya, “kamu bilang semua investasimu berasal dari keluargamu.”
Danu menoleh tajam.
“Ini bukan urusanmu.”
Kalimat itu membuat Siska terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, Rina melihat keraguan muncul di wajah perempuan tersebut.
Bu Nur belum selesai.
“Rina berhenti bekerja bukan karena dia tidak punya ambisi. Dia melakukannya karena saat itu kamu memintanya.”
Danu membantah.
“Aku tidak pernah memaksa.”
“Tidak dengan ancaman,” jawab Rina akhirnya.
Semua mata beralih kepadanya.
Rina menatap Danu.
“Tapi setiap kali aku mendapat kesempatan, kamu selalu bilang kita harus memilih prioritas. Ketika aku diterima S2, kamu bilang waktunya tidak tepat. Ketika kantor menawariku pindah ke Surabaya, kamu bilang pernikahan kita bisa hancur kalau aku pergi.”
Suara Rina tetap tenang.
“Lucunya, ternyata aku mengorbankan semua itu untuk menyelamatkan pernikahan yang hanya aku pertahankan sendirian.”
Danu menunduk beberapa detik.
Namun kemudian egonya kembali mengambil alih.
“Baik. Kalau kalian mau menghitung semua yang pernah dilakukan Rina, silakan. Aku bisa mengembalikan uangnya.”
Rina tersenyum tipis.
“Dengan apa?”
Danu mengangkat wajah.
“Maksudmu?”
Rina mengambil ponselnya dari meja.
“Aku tahu tentang utangmu.”
Wajah Danu seketika pucat.
Siska menoleh cepat.
“Utang apa?”
Danu langsung memotong.
“Rina, cukup.”
“Dua bulan lalu aku menemukan surat dari bank.”
Rina tidak pernah berniat membicarakannya malam itu.
Ia sebenarnya telah mengetahui bahwa Danu mengambil beberapa pinjaman untuk membiayai investasi yang gagal. Total kewajibannya hampir satu miliar rupiah.
Namun Rina belum tahu bagaimana harus menghadapi suaminya.
Ia menunggu.
Berharap Danu akan jujur.
Ternyata Danu justru membawa pulang perempuan lain.
Siska melepaskan tangan Danu sepenuhnya.
“Kamu bilang kondisi keuanganmu sangat baik.”
Danu menatapnya kesal.
“Memang baik.”
“Hampir satu miliar itu baik?”
“Ini sementara.”
Bu Nur tertawa hambar.
“Kamu tahu apa masalah terbesar kamu, Danu?”
Danu tidak menjawab.
“Kamu terlalu lama hidup dengan orang-orang yang membereskan kekacauanmu sampai kamu mengira dirimu tidak pernah membuat kesalahan.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Danu meraih koper.
“Aku tidak perlu mendengarkan semua ini.”
Ia berbalik menuju pintu.
Namun Siska tidak ikut bergerak.
Danu berhenti.
“Siska?”
Perempuan itu menatapnya.
“Apartemenku bukan tempat kamu tinggal.”
Danu terbelalak.
“Apa?”
“Kamu bilang kamu sedang mengurus perceraian. Kamu bilang rumah ini milikmu. Kamu bilang Rina sudah tahu tentang hubungan kita.”
Rina menatap Siska.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari perempuan itu tampak benar-benar terguncang.
“Aku tidak pernah tahu,” kata Rina.
Mata Siska mulai berkaca-kaca.
Danu mendekatinya.
“Aku akan menjelaskan.”
“Jangan.”
Siska mundur satu langkah.
“Enam bulan lalu kamu bilang kalian hanya tinggal serumah karena urusan keluarga.”
Danu mencoba menggenggam tangannya.
Siska menepis.
“Aku salah karena tetap menjalin hubungan dengan laki-laki yang belum resmi bercerai. Tapi aku tidak mau melanjutkan hubungan dengan seseorang yang berbohong tentang hampir semuanya.”
Siska mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia berhenti di hadapan Rina.
“Maaf.”
Rina tidak menjawab.
Siska kemudian berjalan keluar.
Pintu tertutup.
Danu berdiri sendirian dengan koper di tangannya.
Tiga puluh orang yang beberapa menit sebelumnya datang untuk merayakan keberhasilannya kini menjadi saksi bagaimana seluruh kebohongannya terbongkar satu demi satu.
Danu menatap Rina.
“Apa kamu puas?”
Pertanyaan itu justru membuat sesuatu dalam diri Rina akhirnya pecah.
Bukan kemarahan.
Melainkan rasa iba.
“Aku menyiapkan pesta ini sejak tiga minggu lalu, Danu.”
Rina menunjuk spanduk emas di dinding.
“Aku menelepon teman-temanmu. Menghubungi keluargamu. Memesan makanan kesukaanmu. Bahkan tadi pagi aku masih berkeliling mencari lilin yang cocok untuk kue itu.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Rina.
“Tapi setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih berpikir malam ini tentang menang dan kalah.”
Danu terdiam.
“Pergilah.”
Danu menatap ibunya, berharap perempuan itu akan membelanya.
Bu Nur justru membuka pintu.
“Pergi, Danu.”
“Ibu mengusir anak sendiri?”
“Tidak.”
Bu Nur menatapnya dengan mata basah.
“Ibu sedang berhenti menyelamatkan anak Ibu dari akibat perbuatannya sendiri.”
Danu berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Beberapa tamu mulai berpamitan setelah keadaan sedikit tenang.
Ayah dan ibu Rina ingin membawanya pulang, tetapi Rina meminta mereka membiarkannya tinggal bersama Bu Nur malam itu.
Menjelang tengah malam, rumah akhirnya sepi.
Spanduk emas masih tergantung di dinding.
Makanan hampir tidak tersentuh.
Rina duduk di meja makan bersama Bu Nur.
Kue masih berada di antara mereka.
“Ada satu hal lagi,” kata Bu Nur.
Rina menatapnya.
Bu Nur mengeluarkan sebuah amplop putih dari map cokelat.
“Sebenarnya Ibu berencana memberikannya kepada kalian malam ini sebagai hadiah promosi Danu.”
Ia menyerahkan amplop itu kepada Rina.
Di dalamnya terdapat salinan akta hibah.
Rina membaca nama penerimanya dua kali.
Namanya sendiri.
“Ibu?”
“Dua minggu lalu Ibu sudah mengurus pengalihan rumah ini kepadamu.”
Rina terpaku.
“Kenapa?”
Bu Nur tersenyum getir.
“Karena tiga bulan lalu Ibu sudah tahu tentang Siska.”
Rina membeku.
Bu Nur ternyata pernah melihat Danu bersama Siska di sebuah restoran di Jakarta Selatan.
Ia tidak langsung memberi tahu Rina karena ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Kemudian ia mengetahui hubungan itu memang sudah berlangsung beberapa bulan.
“Kenapa Ibu diam?”
“Karena Ibu pengecut.”
Air mata mengalir di pipi Bu Nur.
“Ibu berharap Danu akan sadar sendiri. Ibu pikir kalau Ibu bicara terlalu cepat, keluarga kalian akan hancur.”
Rina menggenggam tangannya.
“Tapi kemudian Ibu sadar, keluarga ini bukan hancur karena kebenaran. Keluarga ini sudah retak karena kebohongan.”
Bu Nur menarik napas.
“Itulah sebabnya rumah ini Ibu hibahkan kepadamu. Bukan sebagai ganti rugi. Bukan juga karena kamu istri Danu.”
Ia menatap Rina.
“Tapi karena selama sembilan tahun, kamulah yang benar-benar membuat tempat ini menjadi rumah.”
Rina tidak sanggup menahan tangis.
Enam bulan berikutnya menjadi masa paling berat sekaligus paling menentukan dalam hidupnya.
Rina mengajukan gugatan cerai.
Ia juga kembali menghubungi mantan atasannya.
Awalnya ia hanya berniat bertanya tentang peluang pekerjaan.
Namun mantan atasannya justru menawarkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sebuah posisi sebagai Creative Strategy Lead di agensi tempat ia pernah bekerja.
“Kamu memang sembilan tahun tidak bekerja penuh waktu,” kata mantan atasannya ketika wawancara. “Tapi kemampuanmu tidak hilang. Portofolio lama kamu masih lebih kuat daripada banyak kandidat yang kami temui.”
Rina menerima pekerjaan itu.
Ia juga kembali mendaftar program S2 yang pernah ditundanya.
Sementara itu, kehidupan Danu berubah cepat.
Utangnya semakin sulit ditutupi.
Promosi Regional Director yang seharusnya menjadi puncak kariernya justru tidak bertahan lama setelah audit internal menemukan sejumlah keputusan investasi operasional yang tidak sesuai prosedur.
Ia tidak dipecat karena perselingkuhan.
Perusahaan tidak mencampuri kehidupan pribadinya.
Namun beberapa bulan kemudian, Danu mengundurkan diri setelah posisinya diturunkan akibat hasil audit.
Suatu sore, hampir setahun setelah pesta kejutan itu, Rina pulang dari kantor dan menemukan sebuah paket kecil di depan rumah.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak.
Rina membukanya.
Isinya lilin angka yang sama seperti yang pernah ia beli untuk pesta Danu.
Di bawahnya terdapat secarik kertas.
Tulisan tangan Danu.
“Aku baru mengerti sesuatu setelah kehilangan hampir semuanya. Selama bertahun-tahun aku mengira kamu hidup di bawah bayanganku. Ternyata akulah yang berdiri di atas pengorbananmu.”
Rina membaca surat itu sampai selesai.
Danu tidak meminta kembali.
Tidak meminta maaf agar dimaafkan.
Ia hanya mengakui kesalahannya.
Rina melipat surat tersebut dan menyimpannya ke dalam laci.
Bukan karena masih mencintainya.
Bukan pula karena ingin kembali.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, Danu akhirnya mengatakan kebenaran tanpa meminta sesuatu sebagai imbalannya.
Malam itu Bu Nur datang membawa makan malam.
Hubungan mereka tidak berakhir bersama pernikahan Rina dan Danu.
Bu Nur tetap memanggilnya setiap beberapa hari, dan Rina masih memanggil perempuan itu Ibu.
Ketika mereka sedang makan, Bu Nur melihat lilin yang tergeletak di meja.
“Dari Danu?”
Rina mengangguk.
“Kamu mau membalasnya?”
Rina tersenyum.
“Tidak.”
Ia mengambil lilin itu lalu menaruhnya di atas sebuah kue kecil yang dibawa Bu Nur.
“Hari ini tepat satu tahun sejak malam itu.”
Bu Nur terdiam.
Rina menyalakan lilinnya.
Setahun sebelumnya, ia berdiri di ruangan yang sama sambil menunggu seorang suami pulang agar mereka bisa merayakan keberhasilannya.
Sekarang ia duduk di rumah yang sama sebagai pemilik hidupnya sendiri.
Rina memejamkan mata sebentar.
“Apa permintaanmu?” tanya Bu Nur.
Rina membuka mata dan tersenyum.
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
Rina menggeleng.
“Aku sudah mendapatkannya.”
Ia meniup lilin.
Api kecil itu padam.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rina tidak sedang merayakan jabatan seseorang, pernikahan seseorang, atau keberhasilan seseorang.
Ia sedang merayakan dirinya sendiri.
