Empat bulan setelah aku meninggalkan rumah itu, telepon dari Budi datang pukul dua lewat tujuh belas menit dini hari.
Aku masih mengingat jamnya karena malam itu Rizky baru saja bisa tidur tanpa obat penambah nafsu makan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.
Rumah kecil kami di pinggiran Yogyakarta sunyi. Hujan turun tipis di luar jendela ketika ponselku bergetar berkali-kali di atas meja.
Nama Budi muncul di layar.
Aku hampir membiarkannya.

Selama empat bulan, laki-laki itu hanya menghubungiku untuk menyuruh pulang, bukan meminta maaf.
Namun entah mengapa malam itu aku mengangkat telepon.
“Nabila…”
Suara Budi terdengar aneh.
Serak.
Lalu terdengar isakan.
“Dapur Ibu kosong.”
Aku terdiam beberapa detik.
“Apa?”
“Dapur Ibu benar-benar kosong, Bil. Beras habis. Minyak nggak ada. Telur nggak ada. Tadi Ibu mau masak mi instan, ternyata gas juga habis.”
Aku memejamkan mata.
Aneh sekali.
Empat bulan lalu, mereka mengusirku seolah keberadaanku tidak memberikan apa pun bagi rumah itu.
Sekarang Budi menelepon hanya karena dapur kosong.
“Terus kamu ingin aku bagaimana?”
“Transfer uang dulu. Besok aku ganti.”
Aku hampir tertawa.
“Berapa?”
“Sekitar tiga juta.”
“Tiga juta untuk apa?”
Budi diam.
Kemudian suara lain terdengar dari belakang.
Suara Ibu Sulastri.
“Katakan sama istrimu jangan pura-pura nggak peduli! Bagaimanapun dia masih menantu Ibu!”
Dadaku terasa dingin.
Empat bulan tidak mengubah apa pun.
Bukan kerinduan yang membuat mereka menelepon.
Bukan Rizky.
Bukan penyesalan.
Mereka hanya kehilangan dompet berjalan yang selama enam tahun mereka panggil keluarga.
“Aku tidak akan transfer.”
“Nabila, jangan begini.”
“Aku sudah tidak tinggal di sana.”
“Tapi aku suamimu!”
“Dan selama empat bulan terakhir, berapa rupiah yang kamu kirim untuk kebutuhan Rizky?”
Budi langsung terdiam.
Itulah jawaban yang kubutuhkan.
Aku memutus sambungan.
Namun lima menit kemudian sebuah pesan masuk.
Foto Ibu Sulastri sedang duduk di dapur. Di depannya hanya ada wadah beras kosong.
Di bawah foto itu, Budi menulis satu kalimat.
Kamu puas sekarang?
Tanganku gemetar.
Bukan karena bersalah.
Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Selama ini mereka benar-benar percaya bahwa aku bertanggung jawab atas semua kebutuhan mereka.
Keesokan paginya aku mengantar Rizky ke sekolah.
Empat bulan tinggal di rumah baru membuat perubahan besar pada anakku. Berat badannya naik hampir tiga kilogram. Ia tidak lagi terbangun karena mendengar suara orang bertengkar. Ia mulai berani meminta makanan tanpa melihat wajahku terlebih dahulu seolah takut permintaannya akan dianggap merepotkan.
Sebelum masuk gerbang sekolah, Rizky memeluk pinggangku.
“Mama.”
“Hm?”
“Kita nggak akan balik ke rumah Nenek, kan?”
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat.
Aku berjongkok.
“Kenapa Rizky tanya begitu?”
Ia memainkan tali tasnya.
“Karena dulu kalau Tante Indah datang, makanan Rizky selalu dibawa. Kalau Rizky bilang lapar, Nenek bilang Rizky manja.”
Aku menatap wajah anakku lama.
Barulah aku sadar bahwa luka yang kuanggap hanya milikku ternyata selama ini ikut diserap oleh anak enam tahun.
“Tidak,” bisikku. “Kita tidak akan kembali ke sana.”
Rizky tersenyum.
Sore harinya, telepon datang lagi.
Kali ini dari tetangga lama kami, Bu Yuni.
“Nabila, kamu sudah dengar?”
“Dengar apa, Bu?”
“Rumah mertuamu didatangi penagih utang.”
Aku langsung berdiri.
“Utang siapa?”
“Katanya utang Indah.”
Nama itu membuatku terdiam.
Bu Yuni kemudian menceritakan semuanya.
Setelah aku pergi, Indah masih datang setiap Minggu seperti biasa. Bedanya, tidak ada lagi belanjaan yang bisa ia bawa pulang.
Budi hanya mampu membeli kebutuhan dasar. Gajinya bahkan tidak cukup untuk listrik, kebutuhan orang tuanya, cicilan kulkas, dan biaya rumah.
Indah mulai marah.
Ia menuduh Budi berubah sejak aku pergi.
Kemudian perlahan sesuatu terbongkar.
Ternyata selama bertahun-tahun, Indah bukan mengambil sembako karena keluarganya kekurangan makanan.
Sebagian besar barang itu dijual kembali.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Dijual?”
“Iya. Ada warung kecil dekat rumahnya. Katanya beras, minyak, gula, susu, bahkan daging yang dia ambil dari rumah kalian sering dijual ke sana.”
Aku merasa seluruh darah di tubuhku berhenti mengalir.
Potongan-potongan kejadian lama mendadak menyatu.
Indah selalu mengambil barang dalam jumlah banyak.
Ia tidak pernah mau membawa makanan yang sudah dimasak.
Ia lebih memilih beras yang masih tersegel, minyak kemasan, susu kardus, gula, dan telur utuh.
Barang-barang yang mudah dijual.
Malam itu aku membuka laptop dan mencari sebuah folder lama.
Catatan keuangan rumah tangga.
Aku memang terbiasa mencatat semua pengeluaran.
Selama dua tahun terakhir sebelum pindah, biaya belanja dapur kami meningkat hampir dua kali lipat.
Dari sekitar tiga juta rupiah menjadi enam sampai tujuh juta rupiah per bulan.
Padahal hanya ada empat orang dewasa dan satu anak di rumah itu.
Tanganku menjadi dingin.
Kalau dihitung selama dua tahun, puluhan juta rupiah telah menghilang dalam bentuk sembako.
Tapi ternyata itu baru permulaan.
Dua minggu kemudian, Budi datang ke Yogyakarta tanpa memberitahuku.
Saat membuka pintu, aku hampir tidak mengenalinya.
Tubuhnya lebih kurus. Rambutnya berantakan. Wajahnya tampak jauh lebih tua.
“Aku mau bicara.”
“Ada Rizky di rumah.”
“Aku nggak akan bikin keributan.”
Aku membiarkannya masuk.
Budi duduk di ruang tamu dan meletakkan sebuah tas hitam di meja.
Kemudian ia menangis.
Bukan tangisan seperti malam ketika dapur mereka kosong.
Tangisan kali ini berbeda.
Seperti seseorang yang baru mengetahui bahwa hidupnya selama ini dibangun di atas kebohongan.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Indah kabur.”
“Ke mana?”
“Nggak tahu.”
“Lalu?”
Budi membuka tas itu.
Di dalamnya terdapat puluhan lembar fotokopi dokumen.
Pinjaman daring.
Tagihan kartu kredit.
Bukti transfer.
Surat utang.
Dan satu dokumen yang membuat jantungku hampir berhenti.
Fotokopi KTP-ku.
“Apa ini?”
“Aku menemukannya di kamar Ibu.”
Aku membaca lembar berikutnya.
Ada pengajuan pinjaman atas namaku sebesar empat puluh juta rupiah.
Tanda tangannya menyerupai tanda tanganku.
Namun bukan milikku.
“Siapa yang melakukan ini?”
Budi menundukkan kepala.
“Indah.”
Aku langsung berdiri.
“Kamu tahu?”
“Nggak! Demi Tuhan, aku baru tahu!”
“Lalu kenapa fotokopi KTP-ku ada di kamar ibumu?”
Budi tidak menjawab.
Aku menatapnya.
“Budi.”
Bibirnya bergetar.
“Ibu yang kasih.”
Ruangan terasa seperti kehilangan udara.
Aku terduduk perlahan.
Ternyata dua tahun lalu, ketika aku menyerahkan fotokopi KTP dan slip gaji untuk mengurus administrasi sekolah Rizky, Ibu Sulastri diam-diam menyimpan salinannya.
Indah membutuhkan uang karena suaminya terlilit utang.
Awalnya hanya lima juta.
Lalu sepuluh juta.
Kemudian semakin besar.
Ketika pinjaman menumpuk, mereka menggunakan data orang lain.
Termasuk dataku.
“Kenapa Ibu melakukan itu?”
Budi menangis semakin keras.
“Karena Indah bilang cuma sementara. Katanya nanti dilunasi.”
Aku tertawa kecil.
Rasanya pahit.
“Jadi selama aku bekerja membayar listrik, makanan, obat Bapak, sekolah Rizky, dan kebutuhan rumah kalian, ibumu malah membantu Indah memakai identitasku untuk berutang?”
“Nabila…”
“Dan kalian masih menyebutku pelit?”
Budi menutup wajahnya.
Aku mengambil semua dokumen itu.
Besok paginya aku mendatangi kantor polisi dan berkonsultasi dengan pengacara.
Aku tidak lagi berniat menyelesaikan semuanya sebagai masalah keluarga.
Karena keluarga tidak mencuri identitas seseorang.
Keluarga tidak mengambil makanan anak kecil untuk dijual.
Keluarga tidak menjadikan pengorbanan seseorang sebagai kewajiban yang tidak pernah berakhir.
Penyelidikan berjalan lebih cepat dari dugaan.
Beberapa transaksi berhasil ditelusuri.
Indah ternyata memiliki utang jauh lebih besar daripada yang diketahui Budi.
Ia dan suaminya terjebak gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan. Ponsel baru, cicilan motor, belanja daring, liburan, hingga permainan daring berbayar menghabiskan uang mereka.
Sembako dari rumah kami dijual untuk mendapatkan uang tunai.
Ketika uang itu tidak cukup, mereka mulai meminjam.
Yang paling menyakitkan justru fakta berikutnya.
Ibu Sulastri tahu.
Bahkan selama hampir setahun, beliau membantu menutupi semuanya.
Alasannya sederhana.
“Kasihan Indah.”
Dua kata itu menghabiskan bertahun-tahun hidupku.
Kasihan Indah.
Karena itulah daging Rizky boleh diambil.
Kasihan Indah.
Karena itulah gajiku dianggap milik bersama.
Kasihan Indah.
Karena itulah identitasku boleh digunakan tanpa izin.
Sebulan kemudian, aku kembali ke rumah lama untuk mengambil beberapa dokumen Rizky yang masih tertinggal.
Begitu pintu terbuka, aku terdiam.
Rumah itu berubah total.
Kulkas yang dulu dibanggakan Ibu Sulastri sudah tidak ada.
Televisi di ruang tengah juga hilang.
Beberapa perabot dijual untuk membayar utang.
Ibu Sulastri duduk di kursi kayu dekat jendela.
Tubuhnya terlihat lebih kecil.
Ketika melihatku, beliau tidak lagi berteriak.
“Nabila…”
Aku mengangguk pelan.
“Aku cuma mengambil akta dan buku kesehatan Rizky.”
Beliau menunduk.
Beberapa detik kemudian, suara yang dulu begitu keras itu terdengar lirih.
“Ibu salah.”
Aku berhenti.
Itulah pertama kalinya selama enam tahun aku mendengar beliau mengucapkan kalimat itu.
“Ibu terlalu membela Indah.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau waktu bisa diulang…”
“Tidak bisa, Bu.”
Beliau menangis.
“Kamu masih mau memaafkan Ibu?”
Aku menatap perempuan itu lama.
“Aku bisa memaafkan supaya aku tidak membawa kebencian seumur hidup.”
Wajahnya sedikit terangkat.
“Tapi memaafkan bukan berarti aku kembali.”
Harapan di matanya langsung padam.
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan keyakinan bahwa menjadi istri yang baik berarti harus terus mengalah. Ternyata setiap kali aku mengalah, kalian hanya memindahkan batas sedikit lebih jauh.”
Aku mengambil dokumen Rizky.
Sebelum pergi, Ibu Sulastri memanggilku.
“Nabila.”
Aku menoleh.
“Rumah yang kamu beli itu… dari uang siapa?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum tipis.
“Dari bonus dan pekerjaan sampinganku.”
Beliau terdiam.
“Tidak ada uang Budi?”
“Tidak satu rupiah pun.”
Air matanya jatuh lagi.
Mungkin saat itulah beliau benar-benar memahami siapa yang selama ini menopang rumah mereka.
Beberapa bulan berikutnya, proses hukum terhadap penyalahgunaan identitasku tetap berjalan.
Indah akhirnya ditemukan tinggal bersama kerabat suaminya di kota lain. Setelah melalui proses panjang, ia mengakui sebagian perbuatannya dan diwajibkan bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan.
Hubunganku dengan Budi tidak pernah kembali seperti semula.
Kami akhirnya sepakat berpisah.
Anehnya, aku tidak merasa hancur ketika menandatangani dokumen terakhir.
Aku justru merasa seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas setelah bertahun-tahun hidup di ruangan tanpa jendela.
Budi mulai mengirim uang untuk Rizky secara rutin.
Tidak banyak.
Namun setidaknya untuk pertama kalinya ia memahami bahwa menjadi ayah bukan sekadar tinggal serumah dengan anak.
Suatu Minggu pagi, hampir setahun setelah aku meninggalkan rumah itu, Rizky membantuku membawa belanjaan dari mobil.
Ada beras.
Minyak.
Telur.
Susu.
Dan satu kilogram daging sapi.
Ia melihat semuanya lalu tertawa.
“Mama, besok dagingnya masih ada, kan?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam daripada yang ia sadari.
Aku mengusap rambutnya.
“Masih.”
“Nggak ada yang bawa?”
“Nggak ada.”
Rizky tersenyum lebar.
Malam itu aku memasak semur daging kesukaannya.
Ketika kami baru akan makan, bel rumah berbunyi.
Aku membuka pintu.
Seorang kurir berdiri sambil membawa sebuah kardus.
“Kiriman untuk Ibu Nabila.”
Aku menerima paket itu.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat beberapa botol minyak, gula, susu, dan satu amplop.
Tanganku bergetar ketika membuka surat di dalamnya.
Tulisan tangan itu langsung kukenal.
Tulisan Ibu Sulastri.
Nabila, Ibu tidak meminta kamu kembali. Ibu cuma ingin mengembalikan sedikit demi sedikit apa yang dulu kami ambil darimu. Mungkin tidak akan pernah cukup. Sisanya biarkan menjadi utang Ibu kepada Tuhan.
Aku membaca surat itu dua kali.
Kemudian di bagian paling bawah ada satu kalimat tambahan.
Dan sampaikan kepada Rizky, mulai sekarang tidak akan ada lagi yang mengambil makanannya.
Aku tidak tahu kenapa air mataku jatuh.
Mungkin bukan karena akhirnya mereka menyesal.
Mungkin karena aku sadar bahwa keputusan terbaik dalam hidupku ternyata bukan membeli rumah itu.
Bukan pula melaporkan Indah.
Keputusan terbaikku adalah hari ketika aku menggandeng tangan anakku, membawa dua koper, dan berjalan keluar dari rumah yang terus mengajarkanku bahwa cinta berarti mengorbankan diri tanpa batas.
Malam itu Rizky makan dua porsi semur.
Setelah selesai, ia menyandarkan kepala di bahuku.
“Mama.”
“Ya?”
“Rumah kita kecil, ya.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Tapi aku suka.”
“Kenapa?”
Ia menatap meja makan, lalu memeluk lenganku.
“Karena kalau aku lapar, aku nggak takut bilang.”
Aku tidak mampu menjawab.
Aku hanya memeluknya erat.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupahami.
Rumah bukan tempat yang paling besar.
Bukan tempat dengan kulkas paling mahal atau dapur paling penuh.
Rumah adalah tempat di mana seorang anak tidak perlu takut makan makanannya sendiri.
Dan tempat di mana seorang perempuan tidak harus kehilangan dirinya hanya untuk disebut istri dan menantu yang baik.
