AKU MENGALAMI KONDISI KRITIS SAAT MELAHIRKAN. IBU MENELEPON SUAMIKU AGAR SEGERA KEMBALI UNTUK MENANDATANGANI SURAT PERSETUJUAN OPERASI DARURAT, TAPI DIA MALAH MENJAWAB, “KAN SUDAH ADA DOKTER DI SANA!” — LIMA BELAS HARI KEMUDIAN, DIA PULANG MEMBAWA BUNGA DAN MENDAPATI RUMAH KAMI SUDAH KOSONG.

Ketika akhirnya membuka mata, hal pertama yang kudengar bukan tangisan bayi, melainkan suara mesin monitor yang berdetak pelan di sebelah ranjang.

Langit-langit putih rumah sakit tampak berputar di atas kepalaku. Tenggorokanku kering, tubuhku terasa seperti bukan milikku sendiri. Bahkan menggerakkan jari pun membutuhkan tenaga yang nyaris tak kupunya.

Lalu aku teringat semuanya.

Ruang bersalin.

Pendarahan.

Dokter yang berteriak memberi instruksi.

Dan Rizky yang tidak pernah kembali.

“Bayi saya…”

Suaraku hanya berupa bisikan.

Ibu yang tertidur di kursi samping ranjang langsung terbangun. Wajahnya sembap. Matanya merah seperti sudah menangis semalaman.

“Dita.”

Ibu menggenggam tanganku erat.

“Anakmu selamat.”

Aku menutup mata.

Air mata langsung mengalir ke pelipis.

“Laki-laki?”

Ibu mengangguk.

“Laki-laki. Sehat. Sempat harus mendapat penanganan khusus setelah lahir, tapi sekarang kondisinya stabil.”

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku merasa bisa bernapas.

Namun beberapa detik kemudian, pertanyaan yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya keluar dari mulutku.

“Rizky mana?”

Ibu tidak menjawab.

Tatapannya berpindah ke jendela.

Saat itulah aku mengerti.

Dia belum datang.

Suamiku bahkan tidak tahu apakah aku masih hidup atau sudah meninggal.

Aku menatap layar ponsel yang diletakkan Ibu di meja. Tidak ada pesan dari Rizky. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada satu kalimat pun menanyakan kondisiku atau anaknya.

Yang ada justru sebuah pesan terakhir darinya, dikirim sebelum operasi.

Aku buka perlahan.

Maaf, aku ada urusan mendadak. Jangan terlalu dipikirkan. Fokus lahiran dulu.

Aku membacanya tiga kali.

Anehnya, aku tidak menangis.

Ada sesuatu yang mati di dalam diriku saat membaca kalimat itu.

Bukan cinta.

Mungkin harapan.

Dua hari kemudian, kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa duduk meski masih sering merasa pusing.

Rizky akhirnya menelepon.

Aku menatap namanya cukup lama sebelum menjawab.

“Halo.”

“Dita? Kamu gimana?”

Nada suaranya terdengar santai.

Seolah dia hanya terlambat pulang dari rapat.

“Masih hidup.”

Dia terdiam.

“Jangan ngomong begitu.”

“Anakmu juga masih hidup.”

“Syukurlah.”

Hanya itu.

Syukurlah.

Tidak ada pertanyaan apakah bayinya membutuhkan sesuatu. Tidak ada permintaan maaf karena meninggalkan rumah sakit.

Kemudian dia berkata, “Aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan. Mungkin beberapa hari lagi baru pulang. Kamu sama Ibu dulu, ya.”

Aku menggenggam ponsel erat.

“Urusan kantor?”

“Iya.”

Aku hampir tertawa.

Aku sudah tahu dia berbohong.

Sebab pagi itu Ibu telah menemukan sesuatu.

Rizky ternyata lupa bahwa lokasi mobil kami masih terhubung dengan aplikasi keluarga di ponselku. Mobilnya tidak pernah berada di kantor sejak malam persalinan.

Selama dua hari terakhir, mobil itu berulang kali terdeteksi di sebuah apartemen di Kuningan.

Aku hanya menjawab, “Baik.”

Rizky terdengar lega.

Mungkin dia mengira aku masih menjadi Anindita yang sama.

Istri yang selalu memaafkan.

Istri yang selama empat tahun mengurus rumah, menyiapkan sarapan, mengingatkan jadwal obatnya, menemani orang tuanya saat sakit, dan menunggu ketika dia pulang tengah malam.

Dia tidak tahu perempuan itu sudah tidak ada.

Pada hari kelima, aku diperbolehkan pulang.

Aku tidak kembali ke rumah bersama Rizky.

Ibu membawaku dan bayiku ke rumahnya di Depok.

Malam pertama di sana, ketika anakku tertidur di sampingku, aku memandang wajah kecilnya lama sekali.

Aku memberinya nama Arka.

Tangannya menggenggam telunjukku.

Begitu kecil.

Begitu rapuh.

Dan malam itu aku membuat keputusan.

Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh dengan belajar bahwa seorang laki-laki boleh meninggalkan keluarganya ketika mereka paling membutuhkan dirinya.

Keesokan harinya aku menghubungi seorang pengacara keluarga bernama Maya, teman lama kakakku.

Aku menceritakan semuanya.

Maya mendengarkan tanpa memotong.

Setelah selesai, dia hanya bertanya, “Kamu yakin?”

Aku melihat Arka yang sedang tidur.

“Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku yakin.”

Selama beberapa hari berikutnya, kami mulai membereskan semuanya.

Rumah yang kutinggali bersama Rizky ternyata berdiri di atas tanah milik almarhum ayahku.

Ayah memberikannya kepadaku dua tahun sebelum aku menikah.

Rizky membiayai sebagian renovasi, tetapi kepemilikan tanah dan bangunan secara hukum tetap atas namaku.

Mobil keluarga dibeli menggunakan rekening bersama.

Sebagian besar furnitur justru berasal dari tabunganku sebelum menikah.

Aku tidak mengambil sesuatu yang bukan hakku.

Aku hanya mengambil milikku.

Pakaian.

Dokumen.

Barang-barang Arka.

Album keluarga milikku.

Perhiasan pemberian orang tuaku.

Dan beberapa perabot pribadi.

Sisanya kutinggalkan.

Aku bahkan meminta jasa pindahan membawa barang ketika Rizky masih sibuk menemani Indah.

Pada hari kesepuluh, aku mengetahui sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Seorang teman Rizky tanpa sengaja mengirim pesan kepadaku.

Dita, maaf kalau aku ikut campur. Tapi aku pikir kamu perlu tahu.

Di bawahnya ada sebuah foto.

Rizky dan Indah sedang makan malam di sebuah restoran di SCBD.

Foto itu diunggah Indah ke akun media sosial terbatasnya.

Aku memperbesar gambar tersebut.

Di pergelangan tangan Indah ada gelang berlian.

Aku mengenal gelang itu.

Aku pernah melihat kuitansinya terselip di laci meja kerja Rizky tiga bulan sebelumnya.

Ketika kutanya, Rizky mengatakan itu hadiah untuk klien.

Ternyata bukan.

Tanganku gemetar.

Namun yang paling menyakitkan justru tulisan di bawah foto.

Terima kasih karena selalu datang saat aku membutuhkanmu.

Aku menutup ponsel.

Malam itu aku menangis untuk terakhir kalinya karena Rizky.

Bukan karena aku ingin dia kembali.

Aku menangisi empat tahun hidup yang kuhabiskan untuk seseorang yang ternyata selalu menyediakan ruang bagi perempuan lain.

Hari kelima belas, Rizky akhirnya pulang.

Dia datang menjelang sore dengan sebuket bunga lili putih di tangannya.

Mungkin dia membayangkan akan menemukan aku sedang menggendong Arka di ruang tamu.

Mungkin dia sudah menyiapkan alasan.

Mungkin dia mengira beberapa tangkai bunga cukup untuk menutup luka yang hampir merenggut nyawaku.

Begitu membuka pintu, langkahnya berhenti.

Ruang tamu kosong.

Televisi tidak ada.

Rak buku kosong.

Foto pernikahan kami sudah diturunkan.

Kamar bayi bahkan lebih kosong.

Ranjang bayi, lemari pakaian, perlengkapan menyusui, semuanya sudah kubawa.

“Dita?”

Tidak ada jawaban.

“Dita!”

Rizky berlari dari satu ruangan ke ruangan lain.

Kemudian dia melihat amplop putih di atas meja.

Tangannya mulai gemetar ketika membuka surat di dalamnya.

Aku tidak menulis panjang.

Rizky, malam ketika aku hampir meninggal, aku menunggumu.

Anak kita juga menunggumu.

Tapi kamu memilih berada di tempat lain.

Aku tidak marah karena kamu punya masa lalu. Semua orang punya masa lalu. Aku pergi karena ketika harus memilih antara keluargamu dan masa lalumu, kamu menunjukkan dengan sangat jelas siapa yang lebih penting.

Jangan cari aku untuk meminta semuanya kembali seperti semula.

Karena aku tidak ingin kembali menjadi perempuan yang sama.

Di dalam amplop itu juga terdapat salinan surat dari pengacaraku.

Rizky langsung meneleponku.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon dua puluh tiga kali malam itu.

Baru pada panggilan kedua puluh empat aku menjawab.

“Dita, kamu di mana?”

“Aman.”

“Arka?”

Itulah pertama kalinya dia menyebut nama anaknya.

“Juga aman.”

“Kamu bawa semuanya pergi tanpa bicara sama aku?”

Aku hampir tidak percaya.

“Tanpa bicara?”

Suaraku tetap tenang.

“Aku hampir mati, Rizky.”

“Aku tahu, tapi waktu itu Indah benar-benar sendirian. Kondisi mentalnya sedang buruk setelah perceraian. Aku cuma mau bantu.”

“Selama lima belas hari?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Dan apartemen Kuningan itu?”

Keheningan di seberang berubah.

“Dari mana kamu tahu?”

“Jadi memang ada.”

“Dita, dengarkan dulu.”

“Gelang berlian itu juga untuk menolong orang yang sedang sedih?”

Tidak ada jawaban.

Aku tersenyum pahit.

Kadang-kadang diam adalah pengakuan paling jujur.

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

“Dita, jangan gila. Kita baru punya anak.”

“Justru karena aku baru punya anak, aku akhirnya sadar apa yang harus kulakukan.”

Aku memutus sambungan.

Namun Rizky tidak menyerah.

Keesokan harinya dia datang ke rumah Ibu.

Aku melihatnya melalui kamera depan rumah.

Wajahnya kusut. Dia berdiri di depan pagar hampir satu jam.

“Aku cuma mau lihat anakku!”

Ibu tidak membukakan pintu.

“Pulanglah, Rizky.”

“Bu, saya suaminya Dita!”

Ibu menatapnya dari balik pagar.

“Waktu anak saya hampir mati, kamu ingat kamu suaminya?”

Rizky tidak bisa menjawab.

Beberapa minggu berikutnya, kebenaran mulai terbuka satu per satu.

Indah ternyata tidak kembali ke Indonesia semata-mata karena perceraian.

Dia terlilit masalah keuangan setelah bisnis kecilnya di Melbourne gagal.

Dan Rizky sudah mengirim uang kepadanya selama hampir delapan bulan sebelum kepulangannya.

Aku mengetahuinya setelah laporan rekening yang relevan diperiksa dalam proses hukum.

Jumlahnya bukan sedikit.

Sebagian berasal dari rekening pribadi Rizky.

Namun beberapa transaksi ternyata berasal dari rekening bersama kami.

Ketika kutunjukkan bukti itu dalam pertemuan bersama pengacara, wajah Rizky berubah pucat.

“Aku berniat menggantinya.”

“Kapan?”

“Aku cuma membantu dia.”

“Dengan uang yang seharusnya kita gunakan untuk kelahiran anak kita?”

Rizky menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihat laki-laki itu kehabisan alasan.

Tapi kejutan terbesar justru datang dari Indah.

Dua bulan setelah aku pergi, dia menghubungiku.

Awalnya aku ingin mengabaikannya.

Namun pesannya membuatku berhenti.

Aku rasa kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Kami bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan.

Indah datang tanpa riasan. Wajahnya terlihat lelah.

“Aku mau minta maaf,” katanya.

Aku diam.

“Aku memang menelepon Rizky malam itu. Tapi aku nggak tahu kamu sedang melahirkan.”

Aku menatapnya tajam.

“Dia bilang sedang di kantor.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

Indah membuka ponselnya.

Dia menunjukkan percakapan mereka.

Rizky memang tidak pernah mengatakan bahwa aku berada di rumah sakit.

Bahkan ketika Ibu menelepon berkali-kali, dia mengatakan kepadanya bahwa itu hanya masalah keluarga kecil yang bisa diselesaikan nanti.

“Tapi setelah beberapa hari aku tahu,” ujar Indah pelan. “Aku suruh dia pulang.”

“Kenapa dia tidak pulang?”

Indah tersenyum pahit.

“Karena dia takut.”

“Takut apa?”

“Takut menghadapi kamu.”

Aku terdiam.

Ternyata selama lima belas hari itu Rizky tidak tinggal bersama Indah seperti yang kubayangkan.

Setelah hari ketiga, Indah memintanya pergi.

Rizky kemudian tinggal di hotel, terus menunda kepulangan karena semakin lama dia pergi, semakin sulit baginya menghadapi konsekuensinya.

Sebelum kami berpisah, Indah mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Aku pernah mencintai Rizky. Tapi malam itu aku sadar, laki-laki yang bisa meninggalkan istrinya saat melahirkan suatu hari juga bisa meninggalkan siapa pun.”

Enam bulan kemudian, proses perpisahan kami masih berjalan ketika Rizky meminta bertemu.

Kami bertemu di taman dekat rumah Ibu.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih tua.

Arka berada dalam gendonganku.

Untuk beberapa saat Rizky hanya menatap anaknya.

Matanya memerah.

“Boleh aku gendong?”

Aku menyerahkan Arka kepadanya.

Tangannya gemetar.

Arka menatap wajah ayahnya dengan mata bulat, lalu tiba-tiba tersenyum.

Rizky menangis.

Tangisan yang selama ini tidak pernah kulihat.

“Aku menghancurkan semuanya, ya?”

Aku tidak menjawab.

Dia menatapku.

“Kalau aku minta kesempatan lagi?”

Aku memandang laki-laki yang pernah sangat kucintai itu.

Aneh.

Tidak ada lagi kemarahan.

Yang tersisa hanya jarak.

“Aku sudah memaafkanmu, Rizky.”

Wajahnya sedikit terangkat.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Air matanya jatuh lagi.

Aku mengambil Arka dari pelukannya.

Sebelum pergi, Rizky memanggilku.

“Dita.”

Aku menoleh.

“Aku minta maaf.”

Aku mengangguk.

Kali ini aku percaya dia sungguh-sungguh.

Namun penyesalan yang tulus tetap tidak bisa menghapus akibat dari sebuah pilihan.

Setahun kemudian, aku kembali ke rumah lama kami.

Bukan untuk tinggal bersama Rizky.

Rumah itu tetap menjadi milikku, dan setelah semuanya selesai, aku memutuskan merenovasinya.

Aku mengganti warna dinding.

Mengubah kamar lama kami menjadi ruang kerjaku.

Dan di kamar sebelah, aku membuat kamar untuk Arka.

Suatu sore ketika sedang membereskan gudang, aku menemukan sesuatu di dalam sebuah kardus.

Sebuket bunga lili putih yang sudah mengering.

Bunga yang dibawa Rizky pada hari kelima belas.

Di sela-selanya terselip sebuah kartu kecil yang dulu tidak pernah kubaca.

Aku membukanya.

Maaf aku terlambat. Kita mulai lagi dari awal, ya?

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Kemudian Arka berlari kecil dari ruang tengah sambil memanggilku.

“Mama!”

Aku meletakkan kartu itu kembali.

Saat itulah aku menyadari sesuatu.

Rizky memang terlambat.

Tapi hidupku tidak.

Aku menggendong Arka dan membawanya ke halaman.

Di sana, di bawah cahaya matahari sore, anakku tertawa sambil mencoba menangkap gelembung sabun yang beterbangan.

Aku tidak pernah mendapatkan kembali keluarga yang dulu kubayangkan.

Namun ternyata kehilangan sesuatu tidak selalu berarti hidup kita menjadi lebih sedikit.

Kadang-kadang, kehilangan justru mengosongkan ruang untuk sesuatu yang jauh lebih penting.

Keberanian.

Harga diri.

Dan kesempatan untuk memulai kembali.

Bukan bersama orang yang meninggalkan kita ketika keadaan menjadi sulit.

Melainkan bersama versi diri kita yang akhirnya tahu bahwa cinta seharusnya tidak membuat seseorang memohon untuk dipilih.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang