“Aku mengatakan itu karena…” suaranya serak, “…bayi itu hidup… karena aku.”
Aku membeku.
“Apa maksudmu?”
Pria itu menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang yang mendengar.
“Namaku bukan orang gila,” katanya perlahan. “Namaku Daniel.”
Aku mengernyit.
“Kalau begitu kenapa semua orang memanggilmu orang gila?”
Ia tersenyum pahit.
“Karena lebih mudah bagi mereka menganggapku gila daripada mendengarkan kebenaran.”
Aku hendak pergi.
“Kalau kau hanya ingin bermain teka-teki, aku tidak punya waktu.”
“Lima tahun lalu…” katanya cepat. “Kamu pernah dirawat di Rumah Sakit St. Gabriel.”

Aku berhenti melangkah.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Benar.
Lima tahun lalu aku memang dirawat karena mengalami pendarahan hebat setelah keguguran pertamaku.
Tidak banyak orang yang tahu soal itu.
Bahkan sebagian besar tetangga mengira aku hanya sakit demam.
“Bagaimana kamu tahu?”
Daniel menarik napas panjang.
“Karena malam itu… aku berada di sana.”
Tubuhku mulai gemetar.
“Tidak mungkin…”
“Aku sedang mendonorkan darah.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Golongan darahmu sangat langka. Bank darah rumah sakit kosong. Dokter mencari pendonor ke mana-mana. Aku kebetulan datang mengantar seseorang yang kecelakaan. Setelah mengetahui golongan darahku sama, aku langsung mendonor.”
Air mukaku berubah.
Memang benar.
Aku pernah mendengar dokter berkata bahwa malam itu ada seorang pendonor tak dikenal yang menyelamatkan nyawaku.
Tetapi identitasnya tidak pernah diberitahukan.
“Kamu…”
“Aku tidak pernah bertemu denganmu. Aku hanya melihatmu dari jauh saat kamu dibawa ke ruang operasi.”
Ia menunduk.
“Sejak itu hidupku hancur.”
Aku bingung.
“Apa hubungannya dengan kehamilanku sekarang?”
Daniel tersenyum getir.
“Belum selesai.”
Ia membuka lengan bajunya.
Bekas luka panjang memenuhi lengannya.
“Setelah donor darah itu, dokter menemukan ada masalah serius pada tubuhku. Aku didiagnosis mengidap tumor otak stadium awal.”
Aku terdiam.
“Semua uangku habis untuk berobat.”
“Saya kehilangan pekerjaan.”
“Tunanganku meninggalkanku.”
“Orang tuaku meninggal dalam waktu berdekatan.”
“Aku akhirnya hidup di jalan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Orang-orang mengira aku gila karena aku sering bicara sendiri.”
“Padahal… aku hanya sering lupa.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Tapi itu tetap tidak menjelaskan kenapa kamu mengatakan bayi ini milikmu.”
Daniel mengusap wajahnya.
“Karena kalau malam itu aku tidak mendonorkan darah…”
“…kamu mungkin sudah meninggal.”
“Kalau kamu meninggal…”
“…bayi itu tidak akan pernah ada.”
Aku benar-benar kehilangan kata-kata.
“Jadi…”
“Aku bukan ayah biologisnya.”
“Aku hanya merasa Tuhan memberiku kesempatan melihat kehidupan yang dulu sempat kuselamatkan.”
“Aku berkata aku ayahnya… karena tanpa sadar aku menganggap anak itu juga bagian dari mukjizat yang lahir dari darahku.”
Air mataku mulai jatuh.
Aku memandang pria lusuh di depanku.
Semua orang menganggapnya gila.
Padahal selama ini ia hanya menyimpan rasa syukur dengan cara yang salah.
“Aku minta maaf,” bisikku.
Daniel tersenyum.
“Tidak perlu.”
“Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”
Aku kembali menegang.
“Apa?”
Ia menatap ke belakangku.
“Suamimu sudah berdiri di sana sejak lima menit yang lalu.”
Aku menoleh.
Hezekiah berdiri di depan minimarket.
Wajahnya pucat.
Entah sudah berapa lama ia mendengar percakapan kami.
Aku segera menghampirinya.
“Sayang, semuanya hanya salah paham—”
Namun ia memotongku.
“Aku tahu.”
“Aku sudah tahu siapa dia.”
Aku tercengang.
“Kamu mengenalnya?”
Hezekiah mengangguk pelan.
“Malam donor darah itu…”
“…akulah yang memohon kepadanya.”
Aku memandang suamiku tidak percaya.
“Apa?”
“Malam itu dokter mengatakan kamu akan meninggal kalau tidak segera mendapat darah.”
“Aku berlutut di lorong rumah sakit.”
“Aku memohon kepada setiap orang yang lewat.”
“Puluhan orang menolak.”
“Tapi dia…”
Hezekiah menunjuk Daniel.
“…langsung berdiri dan berkata, ‘Kalau darahku cocok, ambillah semuanya.’”
Air mataku pecah.
“Aku mencarinya setelah kamu sembuh.”
“Tapi dia sudah menghilang.”
“Bertahun-tahun aku mencoba menemukan namanya untuk mengucapkan terima kasih.”
“Tidak ada satu pun data yang tersisa.”
Daniel tertawa kecil.
“Aku memang sengaja pergi.”
“Aku tidak ingin dianggap pahlawan.”
Saat itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kami.
Seorang pria tua turun terburu-buru.
Begitu melihat Daniel, ia langsung memeluknya erat.
“Daniel!”
Daniel tampak terkejut.
“Paman…”
Pria tua itu menangis.
“Akhirnya aku menemukanmu.”
Aku dan Hezekiah saling berpandangan.
Pria tua itu ternyata pemilik salah satu perusahaan konstruksi terbesar di kota.
Lima tahun lalu Daniel menghilang setelah mengalami gangguan ingatan.
Keluarganya mencarinya ke seluruh negeri.
Mereka bahkan memasang hadiah besar bagi siapa pun yang menemukannya.
Daniel memandang pamannya dengan bingung.
“Aku… aku tidak ingat…”
Pamannya menggenggam bahunya.
“Tidak apa-apa.”
“Kami hanya ingin membawamu pulang.”
Beberapa hari kemudian aku dan Hezekiah mengunjungi rumah keluarga Daniel.
Dokter menjelaskan bahwa tumor yang dulu dideritanya ternyata menyebabkan gangguan memori dan perubahan perilaku.
Bukan kegilaan.
Operasi yang terlambat membuat kondisinya semakin buruk selama bertahun-tahun.
Namun kini, setelah mendapatkan perawatan terbaik, ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Saat kami berpamitan, Daniel memanggilku.
“Gift.”
Aku menoleh.
Ia mengeluarkan sebuah amplop tua.
“Ini milikmu.”
“Apa ini?”
“Surat yang kutulis lima tahun lalu.”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat.
“Aku tidak tahu siapa wanita yang kutolong malam ini. Tapi jika suatu hari dia hidup bahagia dan memiliki keluarga sendiri, itu sudah lebih dari cukup sebagai balasan bagiku.”
Tanganku bergetar.
Aku menangis tanpa suara.
Hezekiah merangkulku erat.
Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Saat upacara pemberian nama, kami mengejutkan semua tamu.
Hezekiah berdiri sambil menggendong bayi kami.
“Kami ingin memperkenalkan nama putra kami.”
“Samuel Daniel.”
Semua orang menoleh ke arah Daniel yang duduk di kursi roda di barisan depan.
Air matanya mengalir deras.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup sebagai “orang gila” di jalanan…
Seseorang akhirnya mengingatnya.
Bukan karena kegilaannya.
Melainkan karena kebaikan yang pernah ia lakukan tanpa mengharapkan balasan.
Namun saat semua orang mengira kisah itu telah berakhir…
Seorang perawat tua dari Rumah Sakit St. Gabriel perlahan menghampiri kami.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
“Ada… ada sesuatu yang selama lima tahun ini saya sembunyikan.”
Semua orang terdiam.
Perawat itu menatap Daniel, lalu menatapku.
Dengan suara bergetar ia berkata,
“Daniel bukan hanya menyumbangkan darah malam itu…”
“…dia juga diam-diam menandatangani persetujuan untuk prosedur lain yang tidak pernah kalian ketahui.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dan kalimat berikutnya membuat jantung kami semua seakan berhenti berdetak.
“Kalau saja Daniel tidak mengambil keputusan itu malam itu… Gift tidak akan pernah bisa hamil sampai kapan pun.”
