Aku masih ingat bagaimana rasanya berdiri di lorong rumah sakit sambil menghitung uang receh di dompet, berharap jumlahnya tiba-tiba bertambah.
Tidak bertambah.
Yang ada hanya tagihan operasi ibuku yang semakin besar, sementara napasnya semakin pendek dari hari ke hari.
Namaku Natalie Brooks. Aku berusia dua puluh delapan tahun dan bekerja sebagai asisten perawat di sebuah rumah sakit di Pittsburgh. Gajiku pas-pasan. Sebagian besar habis untuk biaya pengobatan ibu, sewa rumah kecil kami, makanan, dan kebutuhan sehari-hari.
Aku tidak pernah meminta hidup mewah.
Aku hanya ingin ibuku tetap hidup.
Namun malam ketika aku menerima tawaran dari keluarga Thornton, aku belum tahu bahwa untuk menyelamatkan ibuku, aku akan terpaksa menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak bisa membuka matanya.
Dan aku juga belum tahu bahwa pria itu ternyata mendengar setiap kata yang kuucapkan kepadanya.
Setelah Ethan membuka mata, seluruh ruangan mendadak kacau.

Perawat segera memanggil dokter. Gregory Thornton berdiri kaku di samping tempat tidur, wajahnya pucat karena terkejut.
Aku sendiri tidak mampu bergerak.
Ethan menatapku.
Bukan menatap kamera.
Bukan menatap ayahnya.
Tapi aku.
“Nona Brooks, mundur dulu,” kata seorang dokter.
Aku mundur beberapa langkah.
Ethan mencoba menggerakkan tangannya. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku melihatnya dengan dada berdebar.
Dia sadar.
Benar-benar sadar.
Beberapa jam kemudian, Ethan dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dokter mengatakan kondisinya masih sangat lemah dan dia membutuhkan waktu untuk memulihkan fungsi tubuhnya.
Gregory kemudian menghampiriku.
“Kau tidak mengatakan apa pun kepadanya.”
Aku mengernyit.
“Apa maksud Anda?”
“Tidak ada.”
Tatapannya membuatku tidak nyaman.
Claire segera menarikku menjauh.
“Pulanglah. Jangan bicara dengan siapa pun tentang apa yang terjadi malam ini.”
Aku menatapnya tajam.
“Kontraknya sudah selesai, bukan? Ibu saya sudah dibayar?”
Claire mengangguk.
“Rumah sakit menerima pembayaran sore tadi.”
Aku hampir menangis karena lega.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ibuku memiliki kesempatan untuk menjalani operasi tanpa kami harus memikirkan uang.
Aku pulang malam itu dengan perasaan campur aduk.
Namun keesokan paginya, sesuatu yang aneh terjadi.
Ketika aku tiba di rumah sakit untuk menemui ibuku, seorang pengacara keluarga Thornton sudah menungguku.
Dia membawa dokumen baru.
“Ethan ingin bertemu dengan Anda.”
Aku terdiam.
“Dia baru sadar.”
“Benar.”
“Dan dia tahu siapa saya?”
Pengacara itu tersenyum tipis.
“Dia tahu lebih banyak daripada yang Anda kira.”
Aku dibawa ke kamar Ethan.
Ketika pintu terbuka, aku melihat pria yang sehari sebelumnya hanya bisa terbaring tanpa bergerak kini duduk bersandar di tempat tidur.
Wajahnya masih pucat.
Ada selang infus di lengannya.
Tetapi matanya tajam.
Matanya sama sekali tidak terlihat seperti mata seseorang yang baru saja terbangun dari koma.
“Kau Natalie.”
Itu kalimat pertamanya.
Aku tercekat.
“Ya.”
Dia menatapku lama.
“Kau menciumku.”
Wajahku langsung panas.
“Itu bagian dari kontrak.”
“Aku tahu.”
Aku mengerutkan kening.
“Kau tahu?”
Ethan menarik napas pelan.
“Aku mendengar semuanya.”
Aku tidak percaya.
“Selama koma?”
Dia mengangguk.
“Aku tidak bisa membuka mata. Tidak bisa berbicara. Tapi aku mendengar suara orang-orang di sekitarku.”
Aku merasa tenggorokanku tercekat.
“Jadi kau mendengar ketika aku bicara?”
“Setiap kali.”
Aku terdiam.
“Bahkan saat aku mengatakan bahwa aku tidak ingin melakukan ini?”
“Ya.”
“Dan saat aku meminta maaf?”
Ethan menatapku.
“Itulah satu-satunya suara yang membuatku ingin kembali.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Selama beberapa detik kami hanya saling menatap.
Kemudian Ethan berkata pelan, “Ayahku mengatakan bahwa pernikahan ini adalah keputusan bersama.”
Aku langsung menggeleng.
“Bukan. Aku melakukannya karena ibuku membutuhkan operasi.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kau tahu aku tidak menikahimu karena uangmu.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa yang kau inginkan?”
Ethan tidak langsung menjawab.
“Aku ingin tahu kenapa ayahku begitu terburu-buru membuatku menikah saat aku bahkan tidak sadar.”
Pertanyaan itu membuatku merinding.
Malam itu, Ethan meminta Claire datang.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketegangan di wajah perempuan yang selama ini selalu tampak tenang.
Ethan bertanya, “Berapa banyak sahamku yang akan hilang kalau aku tetap dianggap tidak mampu mengambil keputusan?”
Claire terdiam.
“Jawab.”
“Empat belas persen.”
“Dan siapa yang akan mendapatkan hak suara itu?”
Gregory muncul sebelum Claire sempat menjawab.
“Cukup.”
Ethan menatap ayahnya.
“Ayah.”
“Aku melakukan semua ini untuk melindungi perusahaan.”
“Dengan menikahkanku saat aku koma?”
Gregory mengepalkan tangan.
“Kau tidak sadar. Dewan direksi akan mengambil alih semuanya. Aku harus bertindak.”
Ethan tertawa hambar.
“Jadi aku hanya perlu seorang istri untuk menyelamatkan kendali ayah atas perusahaan?”
“Pernikahan itu sah.”
“Tapi aku tidak pernah menyetujuinya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku mulai memahami bahwa kontrak yang awalnya kukira hanya tentang uang ternyata jauh lebih besar.
Ethan tidak hanya sedang berusaha memahami bagaimana dirinya bisa bangun.
Dia sedang mencari tahu siapa yang berusaha mengambil alih hidupnya.
Beberapa hari kemudian, ibu menjalani operasi.
Aku menunggu di luar ruang operasi selama hampir tujuh jam.
Ketika dokter akhirnya keluar dan mengatakan operasi berhasil, lututku langsung lemas.
Aku menangis.
Bukan karena sedih.
Karena untuk pertama kalinya aku merasa bisa bernapas lagi.
Ketika aku kembali ke kamar ibu, ada sebuah buket bunga di atas meja.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah kartu kecil.
Terima kasih karena menyelamatkanku.
Aku langsung tahu siapa pengirimnya.
Ethan.
Sejak hari itu, hubungan kami berubah.
Kami masih terikat kontrak.
Tetapi perlahan, kontrak itu terasa semakin tidak penting.
Ethan belajar berjalan kembali. Aku membantunya menjalani terapi ketika jadwal kerjaku memungkinkan.
Kami mulai berbicara tentang hal-hal sederhana.
Tentang makanan.
Tentang masa kecil.
Tentang ketakutan.
Aku baru tahu bahwa di balik kekayaan keluarga Thornton, Ethan tumbuh hampir tanpa kasih sayang seorang ayah.
Gregory selalu mengajarinya satu hal.
Jangan percaya siapa pun.
“Ayahmu benar dalam satu hal,” kataku suatu sore.
Ethan menatapku.
“Apa?”
“Orang memang bisa berubah ketika uang terlibat.”
Dia tersenyum tipis.
“Dan kau?”
“Aku tidak punya cukup uang untuk berubah.”
Dia tertawa.
Itu pertama kalinya aku melihat Ethan tertawa dengan tulus.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Suatu malam, Ethan menemukan sesuatu di arsip perusahaan.
Ada transaksi besar yang dilakukan beberapa hari sebelum kecelakaannya.
Dana dalam jumlah sangat besar dipindahkan ke sebuah perusahaan luar negeri yang tidak pernah tercatat sebagai mitra resmi Thornton Group.
Nama yang menyetujui transaksi itu adalah Gregory Thornton.
Ethan menatap layar lama sekali.
“Dia mencuri dari perusahaan.”
Aku menelan ludah.
“Apakah kau yakin?”
“Aku menandatangani sebagian dokumen sebelum kecelakaan. Tapi transaksi ini dibuat setelah aku dirawat.”
“Berarti seseorang menggunakan aksesmu.”
Ethan menatapku.
“Atau seseorang ingin memastikan aku tidak pernah bangun.”
Darahku terasa dingin.
Malam itu, Ethan meminta keamanan rumah sakit diperketat.
Tetapi terlambat.
Keesokan harinya, seorang perawat yang biasa merawat Ethan ditemukan tidak sadarkan diri di ruang staf.
Tidak ada yang tahu siapa pelakunya.
Polisi mulai menyelidiki.
Dan Gregory menghilang selama beberapa jam.
Ketika akhirnya kembali, dia langsung menemui Ethan.
“Kau harus berhenti menggali masalah ini.”
Ethan menatapnya tanpa berkedip.
“Kenapa?”
“Karena kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi.”
“Aku tahu sekarang.”
Gregory mendekat.
“Kau pikir dunia akan menjadi lebih baik kalau kau menghancurkan keluargamu sendiri?”
Ethan berdiri.
“Kalau keluarga berarti membunuh anak sendiri demi uang, mungkin yang perlu dihancurkan memang bukan keluarga.”
Gregory terdiam.
Aku melihat wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di sana.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan menemukan bukti bahwa kecelakaan Ethan bukan kecelakaan biasa.
Rem mobilnya telah dimanipulasi.
Namun orang yang melakukannya bukan Gregory.
Semua bukti justru mengarah kepada seorang anggota dewan yang diam-diam bekerja sama dengan pihak luar untuk mengambil alih Thornton Group.
Gregory memang melakukan transaksi ilegal untuk menutupi kerugian perusahaan, tetapi dia tidak merencanakan kecelakaan Ethan.
Ironisnya, selama ini dia berusaha mempertahankan perusahaan dengan cara yang hampir menghancurkan keluarganya sendiri.
Gregory akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan menghadapi penyelidikan hukum.
Ethan mengambil kembali kendali perusahaan.
Beberapa bulan kemudian, kontrak pernikahan kami hampir berakhir.
Aku mengemasi barang-barangku.
Ethan berdiri di ambang pintu.
“Jadi kau benar-benar pergi?”
Aku tersenyum kecil.
“Kontraknya selesai.”
Dia menatapku.
“Kalau begitu aku punya satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Maukah kau menikah denganku lagi?”
Aku tertawa kecil.
“Kali ini tanpa kontrak?”
“Tanpa uang.”
“Tanpa kamera?”
“Tanpa kamera.”
“Dan tanpa keluarga Thornton?”
Ethan tersenyum.
“Kalau perlu, kita menikah di kantor catatan sipil.”
Aku menatap pria yang dulu kukira tidak akan pernah tahu namaku.
Pria yang awalnya hanya kutemui karena sebuah kesepakatan.
Pria yang ternyata mendengar suaraku ketika seluruh dunia mengira dia tidak bisa mendengar apa pun.
“Aku mau,” kataku.
Ethan menggenggam tanganku.
Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, ibuku masuk ke ruangan sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Natalie, ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah foto lama.
Foto seorang pria muda dan seorang perempuan yang sedang tersenyum di depan sebuah rumah sakit.
Aku mengenali perempuan itu.
Ibuku.
Tetapi pria di sebelahnya adalah ayah Ethan.
Aku menatap ibu dengan bingung.
“Ibu mengenal Gregory Thornton?”
Wajah ibu berubah pucat.
“Bukan hanya mengenalnya.”
Tangannya gemetar.
“Dulu, sebelum kau lahir, aku bekerja untuk keluarga Thornton.”
Ethan ikut terdiam.
Ibu menarik napas panjang.
“Dan ayahmu bukan pria yang selama ini kukatakan meninggal sebelum kau mengenalnya.”
Aku membeku.
“Siapa dia?”
Ibu menatap Ethan.
Lalu berkata dengan suara bergetar.
“Dia adalah saudara laki-laki Gregory Thornton.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku menatap Ethan.
Dia juga menatapku dengan wajah penuh keterkejutan.
Selama ini kami mengira pernikahan kami bermula dari sebuah kontrak.
Ternyata jauh sebelum kami bertemu, keluarga kami sudah terikat oleh sebuah rahasia yang telah disembunyikan selama hampir tiga puluh tahun.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa mungkin pertemuan kami bukan sekadar kebetulan.
Kadang-kadang, hidup membawa kita ke tempat yang paling tidak kita inginkan bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk mempertemukan kita dengan kebenaran yang selama ini tidak pernah kita ketahui.
Aku kehilangan hampir segalanya sebelum bertemu Ethan.
Tetapi pada akhirnya, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang.
Seseorang yang memilihku ketika tidak ada lagi kontrak yang mengharuskannya.
