“Rani?”
Suara Sutrisno terdengar lagi dari halaman.
“Kenapa pintunya terbuka?”
Wajah Ibu seketika kehilangan warna.
Tangannya refleks meraih lenganku. Dari kehidupan sebelumnya, aku tahu apa yang akan terjadi jika Sutrisno melihat pakaian yang dikenakannya sekarang.
Ibu sudah memakai sepatu.
Di balik bajunya tersimpan singkong rebus.
Dan pintu belakang tidak terkunci.

Cukup tiga hal itu untuk membuat Sutrisno mengerti bahwa Ibu sedang berusaha kabur.
Aku menatap dapur.
Buku catatan yang kami butuhkan ada di kamar Sutrisno, di dalam peti kayu di bawah ranjang. Dalam kehidupan sebelumnya, aku menemukannya setelah ia meninggal bertahun-tahun kemudian.
Di sana tercatat nama-nama perempuan, kota asal mereka, jumlah uang, dan orang-orang yang terlibat.
Nama Ibu ada di halaman ketujuh.
Nadira Prameswari.
Solo.
Dua juta tujuh ratus ribu rupiah.
Aku masih mengingatnya.
Suara langkah mendekat.
Aku segera mendorong Ibu ke balik pintu dapur.
“Percaya sama Rani.”
“Rani, kamu mau apa?”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil mangkuk tanah liat di atas meja lalu menjatuhkannya.
Pecahannya berserakan.
Aku langsung menangis sekencang-kencangnya.
Sutrisno masuk beberapa detik kemudian.
“Kenapa?”
Aku menunjuk pecahan mangkuk sambil terisak.
“Rani lapar. Rani mau ambil singkong, terus jatuh.”
Matanya menyapu ruangan.
“Mana ibumu?”
“Di belakang.”
“Ngapain?”
Aku menelan ludah.
“Buang air.”
Sutrisno menatapku lama.
Aku baru enam tahun, tetapi di dalam tubuh kecil itu ada seorang perempuan berusia dua puluh enam tahun yang sudah menghabiskan dua dekade menyesali satu teriakan.
Kali ini aku tidak akan membuat kesalahan yang sama.
Sutrisno berjalan menuju dapur.
Jantungku berdegup keras.
Lalu dari luar terdengar suara seseorang memanggil.
“Tris! Jadi ke pasar enggak?”
Sutrisno berhenti.
Seorang lelaki bernama Pak Joko berdiri di halaman sambil menyalakan rokok.
Aku mengenalnya.
Dalam kehidupan sebelumnya, lelaki itu termasuk orang yang mengejar Ibu sampai ke pinggir hutan.
Sutrisno mengumpat pelan.
“Sebentar.”
Ia masuk ke kamar.
Inilah kesempatan kami.
Aku berlari mengikuti.
Sutrisno mengambil dompet dari lemari, memasukkannya ke saku, lalu keluar bersama Pak Joko.
Suara motor mereka semakin jauh.
Aku menunggu sampai benar-benar tidak terdengar lagi.
“Ibu!”
Nadira keluar dari persembunyian dengan tubuh gemetar.
“Kamu belajar berbohong dari siapa?”
“Dari orang-orang di desa ini.”
Ia terdiam.
Aku langsung masuk ke kamar Sutrisno.
Ranjang kayunya berat. Dengan tubuh kecil, aku tidak mungkin menggesernya sendiri.
“Ibu, bantu.”
Kami menariknya bersama.
Di bawahnya terdapat peti kayu.
“Petinya dikunci.”
“Ada kunci di atas kusen pintu.”
Nadira menatapku lagi.
Pertanyaan memenuhi wajahnya, tetapi ia menahannya.
Ia mengambil kunci itu.
Peti terbuka.
Di antara surat tanah, uang tunai, dan beberapa perhiasan perempuan, aku melihat buku bersampul hitam.
Tanganku bergetar ketika membukanya.
Halaman ketujuh.
Nama itu benar-benar ada.
Nadira Prameswari.
Di sampingnya tercatat sejumlah uang dan beberapa nama.
Pak Joko.
Karmin.
Hadi.
Lalu satu nama yang tidak pernah kulupakan.
Sutrisno.
Ibu membaca halaman itu berkali-kali.
“Jadi benar…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Aku dijual.”
Aku memeluk lengannya.
“Kita harus pergi sekarang.”
Namun Ibu justru membalik halaman demi halaman.
Wajahnya berubah semakin pucat.
“Bukan cuma aku.”
Ada sebelas nama perempuan lain.
Sebagian berasal dari Jawa Tengah. Ada yang dari Yogyakarta, Semarang, bahkan Surabaya.
Beberapa nama diberi tanda silang.
Aku tidak tahu apa artinya.
Aku juga tidak ingin tahu.
Ibu memasukkan buku itu ke dalam bajunya.
Kami keluar melalui pintu belakang.
Dalam kehidupan sebelumnya, Ibu berlari menuju hutan karena mengira jalan raya pasti dijaga.
Kali ini aku menariknya ke arah sebaliknya.
“Bukan lewat gunung.”
“Kenapa?”
“Mereka bakal cari Ibu ke sana.”
“Kita mau ke mana?”
“Puskesmas kecamatan.”
Ibu berhenti.
“Rani, kalau orang desa melihat kita…”
“Makanya kita jangan jalan kaki.”
Aku menunjuk ke sebuah rumah di ujung kebun.
Di sana tinggal Bu Sari, bidan desa.
Aku baru mengetahui bertahun-tahun kemudian bahwa Bu Sari bukan penduduk asli Wanasari. Ia pindah ke sana setelah menikah dan sering bertengkar dengan warga karena menolak berbagai kebiasaan mereka.
Dalam kehidupan sebelumnya, setelah Ibu meninggal, Bu Sari adalah satu-satunya orang yang pernah bertanya kenapa tubuh Ibu penuh memar.
Saat itu aku terlalu takut untuk menjawab.
Kami berlari menuju rumahnya.
Bu Sari sedang menyapu halaman ketika melihat kami.
“Nadira?”
Ia menatap kaki Ibu yang bengkak.
“Kamu kenapa?”
Ibu langsung berlutut.
“Tolong saya.”
Bu Sari membeku.
“Saya diculik.”
Kalimat itu membuat sapunya jatuh.
Sepuluh menit kemudian kami berada di dalam mobil tua miliknya.
Bu Sari tidak banyak bertanya.
Begitu melihat kartu mahasiswa dan buku catatan itu, ia mengunci pintu rumah lalu membawa kami menuju kecamatan.
Tetapi baru sekitar dua kilometer, sebuah pikap menghadang jalan.
Aku mengenali orang-orang di atasnya.
Pak Joko.
Karmin.
Dan Sutrisno.
“Mundur!” teriakku.
Bu Sari langsung menginjak rem.
Sutrisno turun.
“Nadira!”
Ibu gemetar.
Tanganku menggenggam tangannya erat.
“Jangan keluar.”
Sutrisno memukul kap mobil.
“Turun! Kamu mau bawa anakku ke mana?”
Bu Sari membuka sedikit jendela.
“Dia bilang dia diculik.”
Wajah Sutrisno berubah.
“Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!”
“Kalau istrimu bilang dia diculik, itu bukan lagi urusan rumah tangga.”
Beberapa lelaki mulai mengelilingi mobil.
Aku tahu kami tidak akan bisa melewati mereka.
Lalu terdengar suara sirene.
Semua orang menoleh.
Sebuah ambulans puskesmas muncul dari tikungan.
Bu Sari segera membunyikan klakson berkali-kali.
Ambulans berhenti.
Dua petugas turun.
Bu Sari membuka pintu dan berteriak.
“Tolong panggil polisi!”
Pak Joko langsung mundur.
Sutrisno mencoba menarik Ibu keluar, tetapi salah satu petugas menghalanginya.
Keributan semakin besar.
Warga berdatangan.
Sutrisno berteriak bahwa Ibu mengalami gangguan jiwa.
Katanya Ibu sering berhalusinasi.
Katanya ia hanya sedang membawa istri dan anaknya pulang.
Lalu Ibu melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam kehidupan sebelumnya.
Ia berdiri tegak.
Mengeluarkan kartu mahasiswa yang sudah rusak.
“Nama saya Nadira Prameswari.”
Suaranya bergetar, tetapi jelas.
“Saya bukan istri Sutrisno.”
Orang-orang mulai berbisik.
“Saya diculik tiga tahun lalu saat pulang dari kampus.”
Ia mengeluarkan buku hitam.
“Dan kalau saya bohong, biarkan polisi membaca ini.”
Wajah Sutrisno seketika berubah.
Ia menerjang.
Namun petugas ambulans dan beberapa warga menahannya.
Kami akhirnya sampai di kantor polisi kecamatan.
Awalnya seorang petugas tampak ragu.
Mungkin karena Ibu tidak memiliki identitas lengkap. Mungkin karena Sutrisno terus mengaku sebagai suaminya.
Sampai buku hitam itu dibuka.
Ruangan menjadi sunyi.
Polisi mulai menelepon beberapa nomor.
Nama-nama diperiksa.
Laporan orang hilang lama dicari.
Hampir tiga jam kemudian, seorang polisi masuk dengan wajah serius.
“Nadira.”
Ibu berdiri.
“Orang tuamu membuat laporan kehilangan tiga tahun lalu.”
Kaki Ibu langsung lemas.
“Nadira Prameswari, mahasiswa Universitas Negeri Surakarta, hilang tanggal tujuh belas Agustus.”
Ibu menangis.
Aku juga.
Tetapi mimpi buruk belum selesai.
Sutrisno ditahan sementara, tetapi berita tentang buku hitam menyebar cepat.
Beberapa orang yang namanya tercatat di sana menghilang malam itu.
Polisi kemudian menemukan bahwa jaringan tersebut jauh lebih besar daripada yang diduga.
Perempuan-perempuan muda dibawa dari terminal, jalan sepi, bahkan ditipu dengan tawaran pekerjaan.
Sebagian dipindahkan dari satu kota ke kota lain agar sulit dilacak.
Desa Wanasari hanya salah satu tempat terakhir.
Tiga hari kemudian, sebuah mobil berhenti di depan kantor polisi.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun turun sambil berlari.
“Nadira!”
Ibu yang sedang duduk di bangku langsung berdiri.
Perempuan itu memeluknya begitu erat sampai keduanya hampir jatuh.
“Nak…”
“Nak, Ibu cari kamu ke mana-mana…”
Di belakangnya, seorang lelaki berambut putih menangis tanpa suara.
Prasetyo dan Ratna Wulandari.
Kakek dan nenekku.
Untuk pertama kalinya, aku melihat keluarga Ibu.
Mereka bukan orang yang membuangnya.
Mereka tidak pernah berhenti mencari.
Nenek kemudian menatapku.
“Ini…”
Ibu memegang bahuku.
“Ini Rani.”
Wajah Nenek berubah.
Aku menunduk.
Aku tidak tahu apakah mereka akan membenciku karena aku adalah anak dari lelaki yang membeli putri mereka.
Namun Nenek justru berlutut dan memelukku.
“Kamu juga cucu Nenek.”
Aku menangis lebih keras daripada siapa pun hari itu.
Kami meninggalkan Wanasari.
Sutrisno dan beberapa orang lain akhirnya diadili. Buku hitam tersebut membantu polisi mengungkap beberapa korban lain.
Tidak semuanya ditemukan.
Namun beberapa perempuan berhasil pulang.
Aku pikir setelah itu hidup kami akan langsung bahagia.
Ternyata tidak.
Ibu sering terbangun sambil menjerit.
Ia takut pada suara motor yang berhenti di depan rumah.
Ia tidak mau berada sendirian di ruangan gelap.
Dan selama berbulan-bulan, ia tidak sanggup kembali ke kampus.
Aku pun hidup dengan ketakutan yang berbeda.
Setiap pagi aku memeriksa wajah Ibu.
Setiap malam aku memastikan ia masih bernapas.
Aku takut sejarah akan menemukan cara lain untuk mengulang dirinya.
Suatu malam, Ibu menemukanku duduk di depan kamarnya.
“Kenapa belum tidur?”
“Aku takut Ibu pergi.”
Ia terdiam.
Kemudian duduk di sampingku.
“Rani.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu sesuatu yang seharusnya tidak diketahui anak enam tahun.”
Dadaku menegang.
Aku selalu tahu hari ini akan datang.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Aku menangis.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, aku menceritakan semuanya.
Tentang kehidupan sebelumnya.
Tentang pelariannya.
Tentang teriakanku.
Tentang gudang belakang.
Tentang dua puluh tahun yang kuhabiskan dengan rasa bersalah.
Ibu tidak menyela.
Setelah aku selesai, ia memelukku.
“Jadi selama dua puluh tahun kamu pikir kematianku salahmu?”
Aku mengangguk.
Ibu mengusap rambutku.
“Dengar baik-baik.”
Suaranya lembut.
“Anak enam tahun tidak bertanggung jawab atas kejahatan orang dewasa.”
Aku menangis di dadanya.
“Aku yang membuat mereka menemukan Ibu.”
“Tidak.”
Ia memegang wajahku.
“Yang membuat mereka mengejar Ibu adalah pilihan mereka sendiri.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Sesuatu yang kubawa bahkan melewati kematian dan waktu.
Tahun-tahun berlalu.
Ibu akhirnya kembali kuliah.
Ia lulus.
Kemudian menjadi guru.
Aku tumbuh di rumah kecil milik Kakek dan Nenek, jauh dari Wanasari.
Ketika usiaku kembali mencapai dua puluh enam tahun, aku sengaja datang ke kampus tempat kehidupan pertamaku berakhir.
Aku berdiri di bawah pengeras suara yang dulu mengumumkan nama Ibu sebagai orang hilang.
Kali ini tidak ada pengumuman.
Ponselku berdering.
“Ibu” tertulis di layar.
Aku menjawab.
“Kamu di mana?”
“Di kampus.”
“Pulang jangan malam-malam. Besok Ibu mau masak soto.”
Aku tersenyum.
“Iya, Bu.”
Sebelum menutup telepon, Ibu berkata sesuatu yang membuatku diam.
“Oh iya, ada surat buat kamu. Dari kepolisian.”
“Surat apa?”
“Korban terakhir dari buku hitam itu ditemukan.”
Aku menahan napas.
“Masih hidup?”
“Masih.”
Mataku langsung panas.
Dua puluh tahun lalu, aku berdiri di tempat yang sama sambil berharap bisa memutar waktu demi menyelamatkan satu orang.
Ternyata ketika waktu benar-benar memberiku kesempatan kedua, yang berubah bukan hanya nasib Ibu.
Satu buku hitam telah membuka jalan pulang bagi banyak perempuan.
Aku mendongak ke langit.
Dulu aku mengira kesempatan kedua diberikan agar aku bisa memperbaiki kesalahanku.
Sekarang aku mengerti.
Aku tidak pernah kembali untuk menebus dosa seorang anak berusia enam tahun.
Aku kembali untuk menghentikan kejahatan orang-orang dewasa yang selama ini membuat anak kecil percaya bahwa semuanya adalah kesalahannya.
Dan kali ini, ketika aku pulang, Ibu menungguku di rumah.
