Dua jam setelah aku meninggalkan suamiku yang sedang berjuang di kamar mandi, aku pulang dengan perasaan puas. Namun, begitu melihat tiga mobil polisi terparkir di depan rumah, senyumku langsung lenyap.
Jantungku serasa berhenti berdetak.
Pintu pagar terbuka lebar. Beberapa tetangga berdiri di seberang jalan, berbisik sambil sesekali melirik ke arah rumahku.
Aku segera memarkir mobil dan berlari masuk.
Di ruang tamu, suamiku, Adrian, duduk dengan wajah pucat. Kemeja mahal yang tadi pagi dikenakannya sudah berganti menjadi kaus lusuh. Di sebelahnya duduk seorang perempuan muda berambut panjang yang langsung kukenali dari foto profil WhatsApp.
Camille.
Perempuan yang selama ini kuduga menjadi selingkuhan suamiku.
Namun, bukan kehadirannya yang membuat kakiku gemetar.
Melainkan darah yang mengering di lengan bajunya.
“Adrian, apa yang terjadi?” tanyaku.
Suamiku menatapku dengan sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kamu puas sekarang, Rina?”

Aku terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Kalau kamu tidak mencampurkan sesuatu ke kopiku tadi pagi, semua ini tidak akan terjadi!”
Seorang polisi yang berdiri di dekat jendela segera mendekat.
“Ibu Rina Prameswari?”
Aku mengangguk.
“Saya Inspektur Dimas. Kami perlu meminta keterangan Ibu mengenai kejadian pagi ini.”
Aku menatap Adrian, lalu Camille.
“Kejadian apa?”
Polisi itu menarik napas.
“Seorang perempuan ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah apartemen kawasan Kuningan. Dia mengalami luka serius dan sekarang berada di rumah sakit.”
Aku merasa tenggorokanku mengering.
“Apa hubungannya dengan suami saya?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Dia justru mengeluarkan sebuah foto dari map.
Dalam foto itu terlihat seorang perempuan terbaring di lantai apartemen dengan darah di sekitar kepalanya.
Aku menutup mulut.
“Siapa dia?”
“Namanya Nadine.”
Nama itu asing bagiku.
Namun ketika kulirik Adrian, wajahnya semakin pucat.
Camille mulai menangis.
“Pak Adrian, sebaiknya Bapak mengatakan semuanya sekarang.”
“Diam!” bentak suamiku.
Inspektur Dimas langsung menoleh.
“Pak Adrian, saya sarankan Anda tidak menghalangi saksi memberikan keterangan.”
Aku berdiri mematung.
Saksi?
Camille adalah saksi?
Lalu siapa sebenarnya Nadine?
Dimas mempersilakanku duduk sebelum menjelaskan bahwa sekitar pukul sepuluh pagi, seorang petugas kebersihan mendengar suara benturan keras dari sebuah unit apartemen. Ketika pintu dibuka menggunakan kunci cadangan bersama petugas keamanan, mereka menemukan Nadine tergeletak di dekat meja makan.
Di samping tubuhnya terdapat sebuah vas bunga pecah.
Dan di meja makan ada dua cangkir kopi.
Salah satunya memiliki bekas lipstik.
“Menurut catatan keamanan, suami Ibu dijadwalkan mengunjungi apartemen tersebut pagi ini,” kata Dimas.
Aku menoleh kepada Adrian.
“Jadi rapat pentingmu di apartemen perempuan lain?”
Adrian mengusap wajah.
“Rina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa hambar.
“Kalimat itu lagi?”
Camille tiba-tiba berdiri.
“Bu Rina, saya harus menjelaskan sesuatu.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu sudah cukup menjelaskan lewat pesan yang kamu kirim tadi malam.”
Camille terlihat bingung.
“Pesan apa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan tangkapan layar percakapan yang sempat kubaca dari ponsel Adrian.
Camille mengamati layar itu beberapa detik.
Kemudian wajahnya berubah.
“Itu bukan nomor saya.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Nomor saya berakhiran 7281. Yang ini 7821.”
Aku memperbesar gambar.
Benar.
Dua angka terakhir sebelum angka satu memang tertukar dari nomor yang tersimpan dalam kontak kantornya.
“Tapi namanya Camille,” kataku.
“Siapa pun bisa menggunakan nama saya.”
Aku menatap Adrian.
Dia menunduk.
Saat itulah sesuatu yang jauh lebih mengerikan mulai terasa.
Selama berbulan-bulan, aku mengira suamiku berselingkuh dengan sekretarisnya.
Namun mungkin aku hanya melihat bagian kecil dari kebohongan yang jauh lebih besar.
Dimas meminta Camille melanjutkan keterangannya.
Perempuan itu menarik napas gemetar.
“Saya memang sekretaris Pak Adrian. Tapi tiga minggu lalu, saya menemukan transaksi mencurigakan dalam laporan keuangan perusahaan.”
Adrian langsung mengangkat kepala.
“Camille!”
“Saya sudah terlalu lama diam, Pak!”
Suaranya bergetar, tetapi kali ini dia tidak mundur.
“Ada dana perusahaan sebesar dua belas miliar rupiah yang dipindahkan secara bertahap ke rekening sebuah perusahaan konsultan. Semua transaksi disetujui menggunakan akses direktur keuangan.”
Aku menatap Adrian.
Dia adalah direktur keuangan sebuah perusahaan properti besar di Jakarta.
Selama ini dia selalu membanggakan integritasnya.
Bahkan pernah mengatakan bahwa orang miskin bisa menjadi kaya dengan bekerja keras, tetapi orang tidak jujur akan selalu miskin secara moral.
Betapa ironisnya.
“Perusahaan konsultan itu milik siapa?” tanyaku.
Camille menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Milik Nadine.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Nadine itu siapa sebenarnya?”
Tidak seorang pun langsung menjawab.
Sampai akhirnya Adrian berkata lirih.
“Dia mantan tunanganku.”
Aku merasa seolah seseorang baru saja menampar wajahku.
“Mantan tunangan?”
“Kami berpisah sebelum aku mengenalmu.”
“Dan sekarang kamu mentransfer miliaran rupiah kepadanya?”
Adrian tidak menjawab.
Camille menggeleng pelan.
“Masalahnya bukan cuma itu, Bu.”
Dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Seminggu lalu, Nadine menghubungi saya. Dia mengaku ingin mengembalikan uang perusahaan dan meminta bantuan untuk bertemu auditor independen.”
“Kenapa dia menghubungimu?”
“Karena dia takut kepada Pak Adrian.”
Adrian berdiri dengan wajah merah.
“Itu fitnah!”
Dimas memintanya duduk kembali.
Camille melanjutkan dengan suara pelan.
“Menurut Nadine, dia awalnya diminta membantu mendirikan perusahaan konsultan untuk proyek tertentu. Tetapi setelah mengetahui ada transaksi fiktif, dia ingin berhenti. Pak Adrian mengancam akan menyerahkan semua kesalahan kepadanya.”
Aku merasa mual.
Bukan karena obat pencahar.
Melainkan karena setiap kata yang kudengar perlahan menghancurkan sosok lelaki yang selama ini kupanggil suami.
“Lalu kenapa kamu datang ke rumah kami?” tanyaku kepada Camille.
“Karena saya yang menelepon polisi setelah mengetahui Nadine ditemukan terluka. Saya takut bukti-buktinya dihilangkan.”
Aku menatap Adrian.
“Dan pesan tadi malam?”
Dimas mengambil alih pembicaraan.
“Kami masih menyelidiki siapa yang mengirimnya. Tetapi ada kemungkinan pesan itu sengaja dibuat agar terlihat berasal dari Camille.”
Aku terdiam.
Tiba-tiba teringat sesuatu.
Dua bulan lalu, Adrian pernah mengatakan bahwa Camille terlalu agresif dan sering mencari perhatiannya.
Dia bahkan menunjukkan beberapa pesan mesra.
Aku marah.
Kami bertengkar.
Dan sejak saat itu, setiap kali Adrian pulang terlambat, aku selalu membayangkan Camille.
Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah semua itu memang sengaja dirancang.
Agar aku sibuk cemburu.
Agar aku tidak pernah mempertanyakan uang, proyek, dan rapat rahasianya.
“Adrian,” kataku perlahan, “apa kamu sengaja membuatku membenci Camille?”
Dia tidak menjawab.
“Jawab aku!”
“Aku hanya ingin melindungi rumah tangga kita.”
Aku tertawa pahit.
“Melindungi dengan kebohongan?”
“Rina, kamu tidak mengerti tekanan pekerjaanku!”
“Tidak. Yang tidak kumengerti adalah bagaimana kamu bisa tidur di sampingku setiap malam sambil menyembunyikan semua ini.”
Dimas kemudian menjelaskan bahwa polisi belum menetapkan penyebab luka Nadine. Mereka sedang memeriksa rekaman kamera pengawas dan meminta keterangan sejumlah orang yang memiliki akses ke apartemen.
Adrian bersikeras bahwa dia tidak pernah tiba di sana.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Aku memang berencana menemui Nadine pagi ini. Tapi karena sakit perut, aku tidak pernah keluar dari kompleks perumahan.”
Aku menatapnya.
Tiba-tiba teringat bagaimana dia berlari kembali ke rumah sambil memegangi perut.
“Aku bisa membuktikannya,” lanjut Adrian. “Rekaman kamera gerbang menunjukkan mobilku tidak pernah keluar.”
Dimas mengangguk.
“Kami sudah memeriksa rekaman awal. Keterangan itu sesuai.”
Aku tidak tahu harus merasa lega atau takut.
Tindakan bodohku ternyata membuat Adrian tetap berada di rumah pada waktu Nadine diserang.
Namun jika bukan Adrian yang melakukannya, siapa?
Pertanyaan itu belum terjawab ketika ponsel Dimas berdering.
Dia menjauh beberapa langkah untuk menerima panggilan.
Ekspresinya berubah serius.
Setelah menutup telepon, dia menatap kami.
“Nadine sudah sadar.”
Adrian langsung berdiri.
“Dia bilang apa?”
Dimas menatapnya lama.
“Dia menyebut sebuah nama.”
Jantungku berdegup kencang.
“Nama siapa?”
Dimas menghela napas.
“Rina Prameswari.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Nama saya?”
“Ya.”
“Tapi saya bahkan tidak mengenal perempuan itu!”
Dimas mengeluarkan ponselnya.
“Menurut keterangan awal Nadine, sebelum kehilangan kesadaran, dia melihat seorang perempuan masuk ke apartemennya. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai istri Adrian.”
Aku mundur selangkah.
“Itu mustahil!”
“Karena itulah kami perlu memeriksa beberapa hal.”
Aku merasa tangan dan kakiku dingin.
Seseorang telah menggunakan namaku.
Seseorang yang mengetahui identitasku.
Seseorang yang mungkin sengaja ingin menjebakku.
Lalu Camille tiba-tiba berbisik.
“Pak Dimas… saya rasa saya tahu siapa orangnya.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Camille membuka ponsel dan menunjukkan sebuah foto.
Dalam foto itu, seorang perempuan berambut sebahu sedang berdiri di samping Adrian dalam sebuah acara perusahaan.
Aku langsung mengenalinya.
Siska.
Sahabatku sendiri.
Perempuan yang baru dua jam lalu duduk bersamaku di sebuah kafe, memesan es kopi susu dan menertawakan nasib Adrian.
Perempuan yang paling keras menyuruhku menceraikan suamiku.
Perempuan yang selama enam bulan terakhir selalu memberitahuku setiap kali Adrian terlihat bersama Camille.
“Kenapa ada foto Siska?” tanyaku dengan suara nyaris tak terdengar.
Camille menelan ludah.
“Dia konsultan eksternal yang membantu mengurus administrasi perusahaan Nadine.”
Aku memejamkan mata.
Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.
Siska selalu tahu jadwal Adrian.
Dia tahu nama Camille.
Dia bahkan pernah memberiku nomor telepon yang katanya milik sekretaris itu.
Nomor yang sekarang terbukti palsu.
“Bu Rina,” kata Dimas, “apakah Anda bersama Siska sepanjang dua jam tadi?”
Aku menggeleng perlahan.
“Tidak. Dia datang terlambat sekitar empat puluh menit. Katanya terjebak macet.”
“Apakah Anda tahu dari mana dia datang?”
“Tidak.”
Dimas segera menghubungi rekannya.
Beberapa menit kemudian, dia mendapat informasi bahwa sebuah mobil yang terdaftar atas nama Siska terlihat memasuki area parkir apartemen Nadine pada pagi hari.
Aku terduduk lemas.
Orang yang selama ini kupikir membantuku menghadapi pengkhianatan ternyata mungkin sedang memanfaatkanku.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Ketika polisi meminta Adrian menjelaskan hubungannya dengan Siska, suamiku akhirnya menangis.
Bukan tangisan marah.
Melainkan tangisan seorang lelaki yang sadar bahwa kebohongannya telah menghancurkan segalanya.
“Siska yang pertama kali mengusulkan perusahaan konsultan itu,” katanya.
Aku menatapnya.
“Sejak kapan kamu mengenalnya?”
Adrian menutup wajah dengan kedua tangan.
“Empat tahun lalu.”
Empat tahun.
Padahal aku baru mengenalkan Siska sebagai sahabatku kepada Adrian tiga tahun lalu.
“Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?”
Adrian mengangguk.
“Kami pernah menjalin hubungan.”
Aku merasa seluruh udara di ruangan menghilang.
“Jadi selama ini…”
“Hubungan itu sudah berakhir sebelum kamu mengenalkannya kepadaku. Aku tidak tahu dia sahabatmu sampai kalian bertemu lagi.”
“Tapi kamu tidak pernah memberitahuku?”
“Aku takut kehilanganmu.”
Aku menatap lelaki itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Dia tidak sekadar menyembunyikan masa lalunya.
Dia membiarkan mantan kekasihnya masuk ke rumah kami, makan bersama kami, bahkan mendengarkan semua keluhanku tentang pernikahan kami.
Dan Siska menggunakan kepercayaan itu untuk menghancurkanku sedikit demi sedikit.
Malam itu, polisi menemukan Siska di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno-Hatta.
Dia sedang bersiap meninggalkan Jakarta.
Di dalam kopernya ditemukan sejumlah dokumen perusahaan dan sebuah ponsel yang digunakan untuk mengirim pesan kepada Adrian dengan nama Camille.
Penyelidikan selanjutnya mengungkap bahwa Siska terlibat dalam pengaturan transaksi fiktif bersama Adrian dan Nadine. Ketika Nadine berniat mengungkap semuanya, Siska mendatanginya untuk mengambil dokumen asli.
Pertengkaran terjadi.
Nadine berusaha merebut kembali tas berisi dokumen, lalu terjatuh dan kepalanya membentur sudut meja.
Siska panik dan melarikan diri tanpa meminta pertolongan.
Namun ada satu hal yang membuatku semakin terguncang.
Siska ternyata telah merencanakan agar Adrian datang ke apartemen tepat ketika Nadine ditemukan terluka.
Pesan palsu atas nama Camille merupakan bagian dari rencananya untuk memancing Adrian ke lokasi itu.
Dia ingin Adrian menjadi orang pertama yang dicurigai.
Sementara dirinya pergi membawa dokumen dan sebagian uang yang telah dialihkan.
“Kenapa dia melibatkan saya?” tanyaku ketika Dimas menjelaskan hasil pemeriksaan awal.
“Karena dia mengetahui Anda sedang mencurigai suami Anda. Dia berharap keterangan Anda tentang perselingkuhan akan memperkuat dugaan bahwa Adrian memiliki motif untuk bertengkar dengan Nadine.”
Aku teringat semua percakapanku dengan Siska.
Setiap air mata.
Setiap rahasia.
Setiap kali dia memelukku sambil berkata bahwa aku pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik.
Ternyata dia bukan sedang menghiburku.
Dia sedang mengarahkan kemarahanku.
Beberapa hari kemudian, Adrian diperiksa lebih lanjut terkait transaksi keuangan perusahaan. Bukti yang ditemukan menunjukkan keterlibatannya dalam sejumlah persetujuan pembayaran yang tidak sah.
Dia akhirnya mengakui sebagian perbuatannya dan menghadapi proses hukum.
Siska juga ditetapkan sebagai tersangka atas keterlibatannya dalam penggelapan serta peristiwa yang menyebabkan Nadine terluka.
Sementara itu, aku harus memberikan keterangan mengenai obat pencahar yang kucampurkan ke kopi Adrian.
Aku tidak mencoba membenarkan tindakanku.
Aku mengakui semuanya.
Aku marah, terluka, dan ingin mempermalukannya.
Namun kemarahan tidak pernah memberiku hak untuk memasukkan obat ke minuman seseorang tanpa persetujuannya.
Untungnya Adrian mendapatkan pemeriksaan medis dan tidak mengalami komplikasi serius.
Meski begitu, aku sadar tindakanku tetap berbahaya dan dapat membawa konsekuensi hukum.
Sebulan setelah kejadian itu, aku mengunjungi Nadine di rumah sakit.
Lukanya mulai pulih.
Ketika melihatku, dia tersenyum lemah.
“Kamu Rina?”
Aku mengangguk.
“Aku ingin meminta maaf atas semua kekacauan yang melibatkan namamu.”
Nadine menggeleng.
“Kita berdua sama-sama dibohongi.”
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Kenapa kamu mau terlibat dalam urusan keuangan Adrian?”
Dia menatap jendela.
“Karena aku percaya kepadanya. Sama seperti kamu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat mataku panas.
Sebelum pulang, Nadine menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Ini ditemukan polisi di antara barang-barang yang dikembalikan kepadaku. Adrian pernah menitipkannya, tapi aku tidak tahu kenapa dia tidak memberikannya kepadamu.”
Di dalam amplop terdapat sebuah foto lama.
Foto aku dan Adrian pada hari pernikahan kami.
Di belakangnya tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan suamiku.
Jika suatu hari aku kehilangan segalanya, semoga Rina tidak kehilangan dirinya sendiri karena kesalahanku.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena marah.
Melainkan karena menyadari bahwa lelaki yang pernah kucintai mungkin memang pernah mencintaiku dengan tulus.
Tetapi cinta yang pernah tulus tidak bisa menghapus kebohongan yang dilakukan kemudian.
Tiga bulan berlalu.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Aku juga mulai bekerja kembali sebagai desainer interior, pekerjaan yang kutinggalkan setelah menikah karena Adrian mengatakan bahwa penghasilannya sudah lebih dari cukup.
Awalnya tidak mudah.
Aku harus membangun kembali kepercayaan diri, mencari klien, dan belajar mengurus semuanya sendiri.
Namun setiap pagi, ketika membuat kopi untuk diriku sendiri, aku merasakan ketenangan yang sudah lama hilang.
Tidak ada lagi telepon yang disembunyikan.
Tidak ada lagi alasan rapat mendadak.
Tidak ada lagi parfum asing yang membuat dadaku sesak.
Suatu sore, sebuah surat datang dari Adrian melalui pengacaranya.
Isinya tidak panjang.
Dia meminta maaf.
Bukan meminta kesempatan kedua.
Bukan meminta aku menunggunya.
Dia hanya menulis bahwa selama ini dia terlalu takut kehilangan kekayaan dan kedudukannya sampai akhirnya kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mempercayainya.
Di akhir surat, ada sebuah kalimat.
Rina, pagi itu aku mengira kamu sedang menghancurkan hidupku. Sekarang aku sadar, hidupku sudah kuhancurkan sendiri jauh sebelum kamu membuatkan kopi itu.
Aku melipat surat tersebut dan menyimpannya di laci.
Bukan sebagai kenangan indah.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa pengkhianatan tidak selalu dimulai dari perempuan lain.
Kadang dimulai dari kebohongan kecil yang dibiarkan tumbuh.
Dari keserakahan yang disembunyikan di balik jabatan terhormat.
Dari sahabat yang menggunakan kepercayaan sebagai senjata.
Dan dari kemarahan yang membuat seseorang hampir berubah menjadi pribadi yang tidak dikenalnya sendiri.
Setahun kemudian, aku membuka studio desain kecil di Jakarta Selatan.
Pada hari peresmian, Camille datang membawa bunga.
Kami sempat tertawa ketika mengingat betapa aku dahulu begitu membencinya tanpa pernah benar-benar mengenalnya.
“Kalau dipikir-pikir,” katanya sambil mengaduk kopi, “semuanya bermula dari secangkir kopi, ya?”
Aku tersenyum.
“Bukan. Semuanya bermula dari terlalu banyak kebohongan.”
Camille mengangguk.
Lalu dia bertanya sambil bercanda, “Kopiku aman, kan?”
Kami tertawa.
Untuk pertama kalinya, tawa itu terasa benar-benar ringan.
Ketika para tamu mulai pulang, aku berdiri di depan jendela studio, memandangi lampu-lampu Jakarta yang menyala satu per satu.
Dahulu aku mengira kemenangan terbesar adalah melihat suamiku menyesali pengkhianatannya.
Aku membayangkan dia berlutut, meminta maaf, lalu menyadari betapa berharganya perempuan yang telah disakitinya.
Namun ternyata aku salah.
Kemenangan terbesar bukanlah ketika orang yang menyakitiku akhirnya kehilangan segalanya.
Melainkan ketika aku tidak lagi membutuhkan kehancurannya untuk merasa berharga.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
“Selamat atas studio barumu. Aku bangga padamu.”
Tidak ada nama pengirim.
Tetapi aku mengenali gaya bahasanya.
Aku menatap pesan itu beberapa saat.
Kemudian kuhapus tanpa membalas.
Aku meletakkan ponsel, mengambil secangkir kopi hangat, dan berjalan menuju balkon.
Angin malam menyentuh wajahku.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak menunggu siapa pun pulang.
Aku tidak mencurigai siapa pun.
Aku tidak perlu membalas dendam kepada siapa pun.
Aku hanya berdiri di sana, menikmati kopi yang kubuat sendiri.
Tanpa campuran apa pun.
Kecuali sedikit gula.
Dan kebebasan yang akhirnya terasa begitu manis.
