Aku Mendonorkan Darah untuk Menyelamatkan Pacarku, Tapi Saat Keluar dari Klinik Aku Mendengar Mereka Tertawa—Ternyata Tiga Tahun Hubungan Kami Hanyalah Bagian dari 99 Rencana Balas Dendam

“Kalau Dinda sampai tahu apa yang akan terjadi pada ayahnya besok, mungkin dia tidak akan pernah berani menari lagi.”

Kalimat itu tertulis di bagian paling bawah dokumen nomor 99.

Aku membacanya berulang kali di dalam mobil, sementara hujan mulai membasahi kaca depan. Tiga jam sebelumnya, aku masih percaya bahwa Arga adalah lelaki yang akan kunikahi. Sekarang, aku baru mengetahui bahwa selama hampir tiga tahun, dia dan teman-temannya telah menyusun 99 cara untuk menghancurkan hidupku.

Dan rencana terakhir mereka melibatkan keluargaku.

Namaku Dinda Pramesti. Usiaku dua puluh enam tahun. Aku bekerja sebagai koreografer lepas di Jakarta, pekerjaan yang kucintai sejak kecil meskipun penghasilannya tidak selalu menentu.

Empat tahun lalu, aku memenangkan kompetisi tari antarkampus di Yogyakarta. Kemenangan itu seharusnya menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidupku.

Ternyata, bagi seseorang, kemenangan itu adalah penghinaan yang harus kubayar seumur hidup.

Aku kembali membuka folder bernama 99 yang tersinkron di laptopku.

Setiap nomor memiliki tanggal, instruksi, bukti pelaksanaan, dan laporan singkat.

Nomor 17 membuatku kehilangan pekerjaan pertamaku karena seseorang mengirimkan rekaman percakapan yang telah dipotong.

Nomor 38 membuatku dituduh mencuri gelang milik ibu Arga.

Nomor 61 membuatku hampir gagal menghadiri wawancara penting karena alamat yang diberikan Arga ternyata palsu.

Nomor 83 membuatku menjual kamera peninggalan kakek untuk membantu Arga melunasi utang yang sebenarnya tidak pernah ada.

Dan nomor 96 adalah donor darah palsu yang baru saja kualami.

Aku menatap bekas jarum di lenganku.

Bukan rasa sakitnya yang membuatku gemetar, melainkan kenyataan bahwa seseorang yang kupeluk setiap malam ternyata menghitung penderitaanku seperti menghitung skor permainan.

Aku menggulir dokumen hingga menemukan tiga rencana terakhir.

Nomor 97 bertuliskan bahwa aku harus datang ke sebuah restoran di kawasan Senopati untuk menerima hadiah ulang tahun hubungan kami. Di sana, Arga akan menuduhku berselingkuh di hadapan teman-temannya. Sebuah rekaman palsu sudah disiapkan.

Nomor 98 lebih kejam.

Mereka berencana mengirimkan dokumen palsu ke perusahaan tempat ayahku bekerja, menuduh beliau menerima uang dari pemasok ilegal.

Ayahku adalah kepala bagian pengadaan di sebuah perusahaan konstruksi. Selama tiga puluh tahun bekerja, beliau tidak pernah sekalipun tersangkut masalah hukum.

Nomor 99 membuat darahku terasa membeku.

Mereka akan memancing ayahku datang ke sebuah gudang di Bekasi dengan alasan menyelesaikan tuduhan tersebut. Setelah itu, sebuah kecelakaan akan direkayasa agar beliau terlihat mengemudi dalam keadaan mabuk.

Aku langsung menelepon Papa.

“Pa, besok jangan pergi ke mana-mana sendirian.”

“Dinda? Ada apa? Suaramu aneh.”

“Papa percaya sama aku?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, tolong dengarkan. Ada orang yang sedang merencanakan sesuatu terhadap Papa.”

Papa terdiam.

Aku menceritakan semuanya, mulai dari donor darah hingga dokumen yang kutemukan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar ayahku menangis melalui telepon.

“Dinda, kenapa kamu menanggung semua ini sendirian?”

Aku menggigit bibir.

“Karena selama ini aku terlalu sibuk mempertahankan orang yang salah, Pa.”

Malam itu, Papa dan Mama datang ke apartemenku bersama seorang pengacara bernama Ratna, sahabat lama Mama.

Bu Ratna membaca seluruh dokumen tanpa banyak bicara.

Setelah hampir satu jam, beliau menutup laptop.

“Dinda, kita tidak boleh gegabah. Berkas ini penting, tetapi kita harus memastikan keasliannya dan mengamankan bukti lain.”

Aku mengangguk.

“Besok mereka akan menjalankan rencana nomor 97.”

“Dan kamu ingin datang?”

“Iya.”

Mama langsung memegang tanganku.

“Jangan, Nak. Mama takut.”

Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun terakhir berkali-kali memintaku pulang ke Bandung.

“Ma, selama ini mereka membuat aku merasa bersalah atas hal-hal yang tidak kulakukan. Sekarang aku ingin mereka tahu bahwa aku sudah berhenti takut.”

Bu Ratna akhirnya menyetujui rencanaku dengan satu syarat.

Aku tidak boleh menghadapi mereka sendirian.

Keesokan malamnya, aku datang ke restoran sesuai undangan Arga.

Aku mengenakan gaun biru tua yang pernah dibelikannya saat ulang tahunku. Rambutku kusanggul sederhana. Wajahku tampak tenang, meskipun di dalam tas terdapat salinan dokumen yang telah diperiksa Bu Ratna.

Arga menyambutku dengan senyum hangat.

“Sayang, akhirnya datang juga.”

Dia mencium keningku.

Aku hampir muntah.

“Katanya ada kejutan?”

“Ada. Duduk dulu.”

Di meja panjang sudah menunggu Raka, Dion, dan beberapa teman lainnya.

Aku mengenali wajah-wajah yang selama ini berpura-pura menjadi sahabatku.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan masuk.

Saskia Mahendra.

Rambutnya panjang, pakaiannya mahal, dan senyumnya masih sama seperti saat kami berdiri di panggung kompetisi empat tahun lalu.

“Dinda,” sapanya manis. “Lama sekali kita tidak bertemu.”

Aku membalas senyumnya.

“Iya. Empat tahun ternyata cukup lama untuk menyimpan dendam.”

Senyumnya sedikit berubah.

Arga segera menyela.

“Kita makan dulu, ya.”

Namun sebelum makanan datang, Raka berdiri sambil mengangkat ponselnya.

“Sebentar. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”

Aku tahu pertunjukan mereka dimulai.

Raka memperlihatkan sebuah video. Di layar terlihat perempuan mirip diriku sedang memasuki hotel bersama lelaki asing.

“Dinda, kamu mau menjelaskan ini?” tanya Arga dengan suara keras.

Beberapa orang menoleh.

Aku memandang layar itu dengan tenang.

“Kapan video itu dibuat?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” bentak Arga.

Aku mengambil ponselku dan menunjukkan foto lain.

Foto asli yang digunakan untuk membuat video tersebut.

Di dalamnya, aku sedang berdiri bersama sepupuku di lobi hotel saat menghadiri acara pernikahan keluarga.

“Aku sudah memeriksa rekaman ini. Wajah sepupuku diganti menggunakan teknologi manipulasi video. Dan orang yang mengirimkan bahan aslinya kepada pembuat video adalah Raka.”

Wajah Raka langsung pucat.

“Ngaco kamu!”

Aku meletakkan sebuah map di meja.

“Kalau begitu, jelaskan pembayaran kepada editor video dengan keterangan Proyek 97.”

Arga membeku.

Saskia menatapku tajam.

“Kamu sebenarnya mau apa?”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Aku cuma ingin bertanya satu hal. Apa rasanya menghabiskan empat tahun hidup untuk membalas kekalahan dalam lomba tari?”

Keheningan menyelimuti meja.

Dion perlahan menurunkan ponselnya.

Arga mencoba meraih tanganku.

“Din, dengarkan dulu. Ini cuma salah paham.”

Aku menarik tanganku.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa ada folder berisi 99 rencana untuk menghancurkan hidupku.”

Wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.

Saskia berdiri mendadak.

“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Bagus. Berarti kamu tidak keberatan kalau semua dokumen ini diperiksa polisi.”

Aku menunjukkan tanda terima laporan yang telah dibuat bersama Bu Ratna pagi tadi.

Raka langsung menoleh kepada Saskia.

“Kamu bilang semuanya aman!”

Saskia membentaknya.

“Diam!”

Dan di situlah aku melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.

Arga bukan pemimpin permainan ini.

Dia bahkan terlihat ketakutan kepada Saskia.

Aku berdiri.

“Hubungan kita selesai, Arga.”

Dia mengejarku hingga pintu restoran.

“Dinda, tunggu!”

Aku berhenti.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Arga menunduk.

“Awalnya aku cuma ingin membantu Saskia. Dia hancur setelah kalah darimu.”

“Lalu?”

“Dia bilang kalau aku berhasil membuatmu jatuh cinta, semuanya akan selesai.”

Aku tertawa hambar.

“Tapi ternyata kamu menikmati permainannya.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Din.”

Aku memandangnya lama.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu tetap menghitung sampai 96?”

Arga tidak menjawab.

Aku meninggalkannya di depan restoran.

Namun kemenangan kecil itu tidak membuatku lega.

Karena rencana nomor 98 dan 99 masih menunggu.

Dua hari kemudian, Papa menerima surat elektronik dari bagian audit internal perusahaannya.

Ada laporan anonim yang menuduh beliau menerima suap dari pemasok.

Persis seperti dokumen nomor 98.

Beruntung, Papa sudah lebih dahulu menyerahkan seluruh catatan transaksi dan dokumen pengadaan kepada tim audit bersama pengacaranya.

Pemeriksaan awal menemukan bahwa beberapa dokumen tuduhan telah dimanipulasi.

Alamat pengirimnya menggunakan identitas palsu, tetapi salah satu lampiran masih menyimpan jejak akun perusahaan milik keluarga Saskia.

Bu Ratna menyerahkan temuan itu kepada penyidik.

Kami mengira semuanya mulai terkendali.

Sampai sebuah pesan masuk ke ponsel Papa.

“Kalau ingin nama Anda bersih, datang ke gudang Jalan Narogong besok pukul sembilan malam. Bawa dokumen asli. Jangan melibatkan polisi.”

Aku langsung mengenali alamat itu.

Lokasi rencana nomor 99.

Bu Ratna menghubungi penyidik yang menangani laporan kami. Papa diminta tidak mendatangi lokasi, sementara petugas melakukan pemeriksaan berdasarkan informasi yang kami serahkan.

Malam berikutnya, aku menunggu di rumah bersama Mama.

Pukul sepuluh lewat dua puluh, telepon Bu Ratna berdering.

Beliau mendengarkan beberapa saat sebelum menatap kami.

“Petugas sudah mengamankan dua orang di sekitar gudang. Mereka menemukan kendaraan yang telah disiapkan, beberapa botol minuman keras, dan perlengkapan untuk memalsukan keadaan kecelakaan.”

Mama langsung memeluk Papa.

Aku justru merasa semakin takut.

Karena orang yang ditangkap bukan Saskia.

Mereka adalah dua pekerja bayaran yang mengaku menerima instruksi melalui perantara.

Dan nama perantara itu membuatku terkejut.

Dion.

Keesokan harinya, Dion menghubungi Bu Ratna melalui pengacaranya. Dia ingin memberikan keterangan tambahan.

Dalam pemeriksaan, Dion mengakui keterlibatannya dan menyerahkan riwayat percakapan serta bukti pembayaran yang masih tersimpan.

Namun ada satu hal yang tidak sesuai dengan dugaanku.

Saskia ternyata bukan orang yang pertama kali mencetuskan 99 rencana itu.

Empat tahun lalu, setelah kompetisi tari di Yogyakarta, seseorang mengirimkan sebuah video kepada Saskia.

Video itu memperlihatkan pelatihnya menerima amplop dari seorang pria.

Pengirim video menuduh bahwa aku telah membeli kemenangan melalui pelatih tersebut.

Saskia mempercayainya.

Dia merasa seluruh hidupnya dihancurkan oleh kecurangan.

Karena itulah dia mulai membenciku.

“Tapi siapa yang mengirim video itu?” tanyaku kepada Bu Ratna.

Beliau menggeser sebuah foto ke hadapanku.

Aku hampir menjatuhkan gelas.

Pria dalam foto itu adalah Arga.

Bukan Arga yang kukenal tiga tahun lalu, melainkan Arga dengan rambut lebih panjang, berdiri di belakang panggung kompetisi Yogyakarta.

Aku tidak pernah tahu dia berada di sana.

Menurut keterangan Dion, Arga sudah mengenalku sebelum kompetisi berlangsung.

Dia adalah adik dari salah seorang peserta yang gagal masuk babak final.

Kakaknya, Nabila, mengalami cedera lutut saat latihan menjelang perlombaan. Setelah itu, Nabila kehilangan kesempatan mengikuti audisi sebuah kelompok tari profesional.

Arga menyalahkanku karena menurutnya panitia terlalu mengutamakan penampilanku, sehingga peserta lain dipaksa mengikuti jadwal latihan yang tidak adil.

Namun kenyataannya berbeda.

Aku bahkan tidak mengenal Nabila.

Bu Ratna kemudian menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Video yang dikirim kepada Saskia ternyata sudah dimanipulasi.

Amplop yang diterima pelatihnya bukan uang suap, melainkan dokumen kontrak sponsor kegiatan.

Dan orang yang mengedit video itu adalah Arga sendiri.

Aku duduk tanpa bergerak.

Selama ini, Saskia mengira dirinya sedang membalas dendam kepada perempuan yang mencuri kemenangannya.

Padahal kebencian itu sengaja diciptakan.

Arga menggunakan kemarahan Saskia untuk membiayai rencana-rencananya.

Sebagian besar uang berasal dari rekening perusahaan keluarga Saskia, disalurkan melalui beberapa vendor acara dan jasa kreatif.

Sementara Arga memegang kendali atas pelaksanaan seluruh rencana.

Dia menjadikan dua perempuan yang pernah bersaing di atas panggung sebagai alat untuk memenuhi dendam pribadinya.

Aku meminta Bu Ratna mempertemukanku dengan Nabila.

Perempuan itu kini mengajar tari anak-anak di sebuah studio kecil di Depok.

Ketika aku datang, dia sedang membantu seorang murid mengikat tali sepatu.

Nabila menyambutku dengan ramah.

Namun setelah mendengar namaku, wajahnya berubah.

“Dinda Pramesti?”

Aku mengangguk.

“Aku adiknya Arga,” katanya pelan. “Aku tahu.”

Aku menjelaskan alasan kedatanganku.

Nabila mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

“Arga selalu bilang kamu penyebab karierku berakhir. Padahal aku sudah berkali-kali menjelaskan bahwa cedera itu terjadi karena aku memaksakan latihan saat lututku belum pulih.”

Aku terdiam.

“Dia tidak mau menerima kenyataan,” lanjut Nabila. “Menurutnya, harus ada seseorang yang bertanggung jawab atas semua kegagalanku.”

“Kenapa kamu tidak menghentikannya?”

“Aku tidak tahu dia sampai melakukan semua ini. Dua tahun lalu aku bahkan memutus hubungan dengannya karena dia terus memaksaku membenci orang yang tidak pernah menyakitiku.”

Nabila membuka laci mejanya.

Dia mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto kami berdua di belakang panggung kompetisi.

Aku mengenakan kostum biru, sementara Nabila memakai jaket latihan.

Di belakang foto tertulis sebuah kalimat.

Semoga suatu hari kita bisa menari bersama.

Aku mengingatnya.

Nabila pernah meminjamkan peniti kepadaku ketika kostumku rusak beberapa menit sebelum tampil.

Aku tidak pernah tahu namanya saat itu.

“Nabila, kamu yang membantuku?”

Dia tersenyum sedih.

“Kamu bahkan sempat bilang akan mentraktirku bakso kalau menang.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama empat tahun, seseorang membangun kebencian dari sebuah kejadian yang sebenarnya penuh kebaikan.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan terhadap Arga, Saskia, dan orang-orang yang terlibat terus berjalan.

Arga diperiksa atas dugaan penipuan, pemalsuan dokumen, dan keterlibatannya dalam rencana yang membahayakan Papa.

Saskia juga harus mempertanggungjawabkan tindakan yang dilakukannya, meskipun dia mengaku telah dimanipulasi Arga.

Aku tidak merasa senang melihat mereka menghadapi proses hukum.

Aku hanya merasa lelah.

Suatu sore, Saskia meminta bertemu denganku melalui Bu Ratna.

Kami duduk di sebuah ruang pertemuan dengan pendamping masing-masing.

Wajah Saskia tampak jauh berbeda dari perempuan yang kutemui di restoran.

“Aku menghabiskan empat tahun membencimu,” katanya.

Aku diam.

“Setiap kali melihat fotomu, aku merasa hidupku dirampas. Arga terus menunjukkan kabar tentangmu. Katanya kamu bahagia karena sudah menghancurkanku.”

Dia menunduk.

“Aku tahu permintaan maaf tidak akan menghapus semuanya.”

“Memang tidak,” jawabku.

Saskia mengangguk sambil menangis.

“Aku akan memberikan semua bukti yang kumiliki. Termasuk transfer dan percakapan dengan Arga.”

Aku memandangnya.

“Lakukan itu bukan untuk mendapatkan maaf dariku. Lakukan karena kamu harus bertanggung jawab.”

Itulah pertemuan terakhir kami.

Sebulan kemudian, aku pindah ke Bandung bersama orang tuaku.

Aku meninggalkan apartemen, pekerjaan lama, dan hampir seluruh benda yang mengingatkanku kepada Arga.

Namun aku tidak meninggalkan dunia tari.

Dengan tabungan yang tersisa, aku menyewa sebuah ruangan kecil di lantai dua sebuah ruko.

Nabila membantuku menyusun program kelas untuk anak-anak dan remaja.

Kami menamai studio itu Langkah Baru.

Pada hari pembukaan, Mama datang membawa bunga. Papa memasang papan nama di depan pintu.

Aku menangis ketika melihat mereka berdiri bersama, sehat dan tersenyum.

Sore itu, setelah murid terakhir pulang, sebuah paket kecil tiba.

Pengirimnya Arga.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak dan sepucuk surat.

Gelang itu adalah gelang yang pernah kucari semalaman di tengah hujan.

Benda yang katanya hilang karena kecerobohanku.

Dalam suratnya, Arga mengaku menyimpan gelang itu selama tiga tahun.

Dia menulis bahwa pada awalnya semua memang hanya permainan. Namun setelah mengenalku, dia mulai mencintaiku sungguhan.

Dia meminta satu kesempatan lagi.

Aku membaca surat itu sampai selesai.

Lalu memasukkan gelang dan surat tersebut ke dalam amplop untuk diserahkan kepada Bu Ratna sebagai tambahan bukti.

Aku tidak membalasnya.

Beberapa hari kemudian, Bu Ratna menelepon.

“Dinda, ada satu dokumen yang belum pernah kamu lihat.”

“Apa itu?”

“Rencana nomor 100.”

Aku terdiam.

“Bukankah semuanya berhenti di 99?”

“Dokumen ini ditemukan dalam penyimpanan pribadi Arga. Tidak ada nama Saskia, Raka, ataupun Dion.”

Bu Ratna mengirimkan salinannya.

Aku membuka berkas itu dengan tangan dingin.

Hanya ada satu halaman.

Di bagian atas tertulis namaku.

Di bawahnya terdapat sebuah kalimat yang membuatku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

Setelah 99 kali disakiti, Dinda akan kehilangan kepercayaan kepada semua orang. Saat itulah aku akan datang sebagai satu-satunya orang yang masih mau menerimanya.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Tiba-tiba seluruh hubungan kami terlihat berbeda.

Arga bukan sekadar ingin membalas dendam.

Dia ingin menghancurkan kepercayaan diriku sampai aku merasa tidak memiliki siapa pun selain dirinya.

Setiap kali seseorang mempermalukanku, dialah yang datang membawa makanan.

Setiap kali aku kehilangan pekerjaan, dialah yang memelukku.

Setiap kali aku bertengkar dengan keluarga karena membelanya, dialah yang berkata bahwa hanya dia yang benar-benar memahamiku.

Semua pertolongan itu ternyata bagian dari perangkap yang sama.

Aku menutup laptop.

Di luar jendela studio, hujan turun perlahan.

Nabila sedang mengajari seorang anak perempuan melakukan putaran sederhana. Anak itu terjatuh, lalu tertawa sebelum mencoba lagi.

Aku memperhatikannya cukup lama.

Kemudian aku berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.

“Ayo, coba sekali lagi.”

Anak itu menggenggam tanganku.

“Kak Dinda, kalau jatuh lagi bagaimana?”

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kita belajar berdiri lagi.”

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Arga boleh saja memiliki seratus rencana untuk menghancurkanku.

Tetapi dia melupakan satu hal yang tidak pernah bisa dikendalikannya.

Keputusanku untuk bangkit.

Aku pernah mengira cinta berarti bertahan, bahkan ketika harus mengorbankan kebahagiaan sendiri.

Sekarang aku tahu, cinta yang sesungguhnya tidak membuat seseorang kehilangan harga diri, keluarga, dan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ketika aku menatap bayanganku di cermin studio, aku tidak lagi melihat perempuan yang berhasil mereka tipu sebanyak 96 kali.

Aku melihat seorang perempuan yang akhirnya memilih dirinya sendiri.

Kali ini, tidak ada rencana siapa pun yang menentukan langkahku berikutnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang